Istirahat yang Cerdas

Istirahat Jasmani dan Rohani

Istirahat adalah hal yang mutlak bagi manusia. Sudah amat banyak penelitian empiris yang membuktikan bahwa manusia harus beristirahat demi kesehatan fisiknya. Ada banyak nama dan bentuk istirahat: bisa refreshing, rekreasi, tidur-tiduran, menonton TV, mendengarkan radio, jalan-jalan, dan masih banyak lagi. Namun, seringkali kita mengalami bahwa saat beristirahat, pikiran kita justru sibuk sendiri. Bahkan kadang-kadang istirahat dianggap sebagai hambatan yang menunda penyelesaian tugas kita. Hal ini yang juga saya rasakan saat saya harus beristirahat dari rutinitas sehari-hari. Rasanya sungguh menyiksa karena istirahat itu harus saya ambil karena saya jatuh sakit, bahkan harus rawat inap di rumah sakit. Maka di awal mula saya harus dirawat di rumah sakit, saya menganggap bahwa istirahat saya ini adalah sebuah penundaan yang sia-sia. Penundaan yang cukup lama pertama-tama menimbulkan reaksi pada diri saya sebagai sebuah kemunduran, sebuah stagnasi yang mengakibatkan saya berhenti berproses dalam hidup.

Namun setelah merefleksikan lebih jauh, sepertinya saya menemukan bahwa masa istirahat ini juga membawa manfaat yang cukup banyak. Seperti Tuhan sendiri beristirahat di hari ketujuh setelah menciptakan dunia dan isinya selama enam hari, saya diberi anugerah oleh Tuhan untuk duduk sejenak, menjauh dari semua rutinitas dan pergulatan harian. Saya teringat dengan kisah seorang pelukis yang pernah saya baca di sebuah buku. Pelukis itu, di dalam proses membuat lukisannya, secara acak seringkali berhenti dan mundur dari lukisan yang sedang dibuatnya. Ia lalu mengambil jarak dan duduk dari kejauhan, mengamati lukisan yang sedang dibuatnya. Dengan berhenti dan mengambil jarak, pelukis itu mendapatkan perspektif baru yang sama sekali berbeda dalam memandang lukisannya dan dapat secara objektif mencari hal-hal yang perlu ia perbaiki. Dengan tidak secara konstan terus berada dalam posisi yang dekat dengan lukisan yang sedang ia kerjakan, ia justru membuat lukisan itu menjadi lebih sempurna. Hal inilah yang juga saya rasakan dalam masa istirahat di rumah sakit. Saya diajak oleh Tuhan untuk mengambil jarak dan mengamati dari kejauhan mengenai langkah-langkah dalam hidup saya.

Hal ini membuat saya teringat kepada hal lain. Sebenarnya corak hidup orang beriman Katolik juga menawarkan masa istirahat tersebut. Hari Minggu, yang setahu saya berasal dari bahasa Portugis “domingo” yang artinya “hari Tuhan”, adalah saat di mana kaum beriman sejenak menarik diri dari kesibukannya selama seminggu dan berkumpul bersama untuk memuji dan memuliakan Allah. Mungkin ini juga berakar dari tradisi orang Yahudi yang beristirahat pada hari Sabat. Puji Tuhan karena Indonesia mengikuti adat internasional untuk meliburkan hari Minggu.

Berbagai macam cara pengembangan iman dan kepribadian yang berkembang di kalangan umat seperti retret, rekoleksi, dan ziarah juga merupakan salah satu bentuk menarik diri dari hiruk-pikuk kehidupan duniawi dan sejenak “melarikan diri” ke pulau rohani terpencil yang menjadi semacam oase rohani. Seperti yang pernah diceritakan dalam suatu retret di Rawaseneng yang pernah saya ikuti bersama Romo Riyo Mursanto SJ, retret berasal dari kata retreat yang berarti “mundur sejenak”. Mundur dalam hal ini bukan berarti menyerah kalah, namun justru berarti untuk mengumpulkan kekuatan dan stamina serta menata ulang pikiran dan hati supaya lebih siap dalam menghadapi kerasnya gelombang hidup.

Istirahat Tidak Berarti Menjadi Beruang yang Berhibernasi

Beristirahat tidak berarti kita masuk ke dalam mode mati suri alias hibernasi total. Perlu diberi garis bawah bahwa pada saat istirahat, kita tidak boleh sampai putus hubungan dengan semua hal, apalagi bila sampai terputus hubungan dengan Tuhan. Justru pada saat beristirahat, kita memiliki kesempatan yang amat indah untuk kembali mengenal diri kita, mengenal hati kita, dan menjalin relasi dengan Tuhan secara lebih intim.

Salah satu hal yang dapat kita lakukan dalam saat beristirahat adalah melakukan refleksi atas hidup kita yang sudah kita jalani. Kita lihat perjalanan hidup harian kita. Kita lihat bagaimana Tuhan membantu kita dalam semua peristiwa besar dan kecil, dan melalui perantaraan orang-orang yang seringkali kita sepelekan. Seperti yang dikatakan guru agama SMA-ku dulu, setiap pengalaman biasa yang dilihat dengan kacamata iman akan menjadi pengalaman rohani. Jadi, kalau kita memakai kacamata iman dalam peristiwa hidup kita, tidak ada yang namanya peristiwa kebetulan. Semua terjadi sesuai dengan rencana Tuhan melalui Penyelenggaraan Ilahi. Meski sebuah peristiwa terlihat sepele, namun kita dapat melihatnya sebagai suatu pengalaman iman. Dengan berefleksi seperti itu, kita disadarkan bahwa Tuhan akan selalu menolong dan menyediakan jalan bagi mereka yang percaya pada-Nya.

Memang susah untuk menghargai hal-hal yang selama ini kita terima sebagai sesuatu yang biasa, yang tidak ada harganya. Kita dapat belajar untuk lebih bersyukur pada Tuhan dengan menghargai peristiwa hidup kita sehari-hari. Hal ini pula yang saya sadari selama istirahat karena sakit. Dengan pengalaman dipaksa istirahat karena sakit ini, saya belajar bahwa kesehatan itu mahal harganya. Kesehatan sebagai anugerah Tuhan seringkali diremehkan menjadi hal yang biasa. Ketika jatuh sakit, seseorang baru akan merasakan bahwa sungguh berharga semua anugerah Tuhan yang Ia berikan dengan cuma-cuma. Ada pepatah yang mengatakan bahwa kita baru akan merasakan berharganya sesuatu ketika kita kehilangan hal itu. Hal inilah yang saya coba untuk pahami dan resapi. Maka, beristirahat itu sangat penting. Tubuh dan jiwa kita sangat memerlukan istirahat. Jangan sampai kita justru menjadi sakit gara-gara kurang istirahat!

Ada hal lain lagi yang dapat kita lakukan saat kita beristirahat. Seorang bruder pernah bercerita tentang cara istirahat yang sering ia lakukan. Saat ia sedang suntuk, ia akan pergi ke sebuah bukit berumput di tanah lapang dekat tempat tinggalnya pada malam hari. Di sana, ia berbaring di lereng bukit itu dan memandang langit malam. Ia akan menatap bintang-bintang yang bertaburan di lautan angkasa nan maha luas. Di saat itu, sang bruder sering tanpa sadar berucap, “Tuhan, alangkah besarnya Diri-Mu, dan alangkah kecilnya diriku!”.

Ada beberapa hal yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari kisah sang bruder tersebut. Pertama, jelas sang bruder suka sekali membaca Mazmur bab 8 (kalau tidak paham, buka Alkitab ya!). Yang kedua, kita dapat beristirahat tapi juga sekaligus belajar untuk mengenali Tuhan dalam segala sesuatu dan segala sesuatu di dalam Tuhan. Kita belajar untuk mengenali sang Seniman Agung dalam semua karya-Nya.

Anthony de Mello, SJ menceritakan perumpamaan yang indah terkait Tuhan sebagai Sang Seniman Agung. Seringkali kita membayangkan Tuhan sebagai seorang seniman seni rupa seperti pelukis, perajin, pemahat, pematung, ataupun penjunan. Memang mudah dibayangkan seperti itu karena kita dapat dengan mudah melihat hasil karya tangan Tuhan di alam semesta ini. Namun dengan melihat karya Tuhan seperti itu, kita masih agak kesulitan untuk mengenal Penciptanya. Kita bisa melihat sebuah patung, lukisan, karya pahat maha indah; tapi belum tentu kita punya bayangan tentang seniman yang menciptakan. Maka de Mello mengajak kita melihat Tuhan sebagai seorang seniman yang lain. De Mello mengajak kita untuk melihat Tuhan sebagai seorang penari. Semua hal yang ada di alam ini adalah karya tarian Tuhan. Bisakah kita melihat sebuah tarian tanpa melihat seniman yang menarikannya? Dengan sudut pandang ini, kita bisa melihat Tuhan dengan lebih jelas dalam karya-Nya.

Tentu saja, semua hal yang dapat dilakukan saat beristirahat seperti yang sudah saya ceritakan di atas adalah tidak mutlak untuk dilakukan. Tentu Anda bebas memilih tentang bagaimana Anda mau beristirahat. Bahkan, Anda sebaiknya mencari dan menciptakan cara istirahat yang pas, khas, dan unik bagi pribadi Anda. Namun demikian, perlu Anda coba untuk beristirahat dengan cara yang cerdas. Jangan sampai tubuh Anda beristirahat, tapi hati dan jiwa Anda tetap tegang.

Selamat beristirahat dengan cerdas!

Berkah Dalem

Iklan
Dipublikasi di Tentang Hidup | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Renungan Natal 2011: Hosti Kudus dan Bayi Yesus

Dalam peristiwa Natal, kita menyambut Yesus yang hadir sebagai bayi imut yang tak berdaya. Walaupun Ia adalah Tuhan, tapi sebagai seorang bayi, Yesus tentu tidak bisa apa-apa, bahkan untuk mengurus diri-Nya sendiri. Yesus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus pun mirip dengan diri-Nya dulu yang hadir sebagai bayi mungil. Yesus yang hadir sebagai roti putih mungil, juga tidak berdaya. Ia hadir dalam keheningan, diam tidak banyak bicara dalam tabernakel ataupun di monstran.

Bagi orang-orang Katolik, mungkin analogi di atas sudah akrab. Namun tidak demikian halnya dengan orang luar. Pertanyaan dan penyangkalan yang mungkin timbul dalam benak orang-orang yang bukan Katolik adalah: mana mungkin Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Bisa, Maha Segalanya justru menjadi lemah tak berdaya? Mana mungkin bayi Yesus itu Tuhan? Lebih tidak mungkin lagi: kok bisa roti kecil disebut sebagai Tuhan?

Ada banyak alasan teologis yang bisa menjadi jawaban. Saya biasanya lebih condong ke alasan yang juga mencakup kelogisan di dalamnya. Menurut saya seperti ini:

Memang benar, manusia tidak bisa jadi Tuhan, apalagi roti, memang tidak bisa jadi Tuhan. Tapi bila berhenti di situ, maka logikanya jadi salah karena tidak komplit. Logika itu menjadi salah karena hanya memandang sisi profan atau sisi duniawinya dulu, baru ditarik ke arah sisi spiritual. Kalau dilihat dari sisi lain bagaimana?

Tuhan itu Maha Kuasa. Tuhan itu Maha Berkehendak Baik. Saya kira semua orang setuju dengan hal itu. Bagaimana jika dikatakan demikian: Karena Tuhan itu Maha Kuasa dan Maha Berkehendak, maka Tuhan bebas memilih untuk menjadi Maha Tidak Berkuasa, Maha Tidak Berdaya. Kalau Tuhan hanya bisa menjadi Maha Berkuasa saja, tidak bisa menjadi kebalikannya, maka Tuhan tidak bebas memilih, Tuhan tidak Maha Kuasa lagi. Dengan mengatakan Tuhan Maha Kuasa, justru kita mengamini bahwa Tuhan juga bisa menjadi Maha Tidak Berkuasa. Maka dapat kita katakan, Tuhan adalah Maha Bisa Menjadi Segalanya, Maha Bisa Menjadi Dalam Kondisi Apapun. Dalam bahasa alkitab, Tuhan telah menghampakan diri dalam rupa hamba, bahkan rela menderita sampai mati dengan hukuman sekelas penjahat.

Dengan demikian, maka bisa kita katakan bahwa bayi mungil tak berdaya bernama Yesus itu adalah Tuhan. Roti kecil putih yang tidak ada rasanya yang dipajang di monstran itu juga Tuhan.

Lalu, mengapa Tuhan mau menjadi tak berdaya seperti itu? Renungan pribadi saya membuahkan beberapa alasan.

Alasan pertama adalah supaya manusia tidak takut untuk mendekat pada-Nya. Ada cerita demikian: ketika para peneliti dan ahli satwa Cina akan mendekati bayi panda di hutan, mereka akan memakai kostum panda dan menyemprotkan badan mereka dengan bau khas panda sehingga bayi panda tidak akan takut ketika mereka mendekat. Demikian pula dengan Tuhan. Ketika akan mendekati manusia, Ia memilih menjadi hal yang akrab dengan manusia: bisa menjadi manusia sendiri, bisa menjadi roti. Karena manusia melihat Tuhan dalam wujud yang dikenali, maka manusia tidak takut mendekat.

Di masa Perjanjian Lama, manusia sangat takut untuk mendekat pada Tuhan. Mereka merasa begitu berdosa, sehingga bila manusia melihat Tuhan dalam segala keagungan-Nya, mereka pasti akan mati. Padahal, Tuhan sangat rindu supaya manusia mendekat pada-Nya dan mencapai kebahagiaan kekal. Maka di Perjanjian Lama, sering Tuhan berbicara tidak langsung, yaitu dengan perantaraan para nabi. Namun, manusia masih sering tidak mendengarkan para nabi. Manusia masih susah mendekat pada Tuhan. Maka, dengan segala kasih-Nya, Tuhan sendiri yang mendekat pada manusia dalam wujud yang akrab supaya manusia tidak takut. Tuhan kita begitu peduli dan solider pada kita. Manusia akrab dengan penderitaan, maka Tuhan pun rela menderita, bahkan sampai penderitaan yang paling hina!

Yang kedua, dengan menjadi tak berdaya, Tuhan mengajarkan kita supaya kita mau peduli terhadap sesama dan rela berkorban. Tuhan yang tak berdaya mengundang kita untuk merawat-Nya. Tidak hanya merawat bayi Yesus, tapi juga merawat orang-orang kecil yang menderita. Bukankah Tuhan sendiri yang berkata bahwa Ia juga hadir dalam sesama kita yang paling kecil?

Selain itu, Tuhan juga mengajar kita supaya rela berkorban dengan menjadi Hosti Suci. Seperti kata Mgr. Haryo, Hosti Suci yang telah dipilih dan diberkati, maka akan dipecah-pecahkan dan dibagi. Maka kita yang sudah terpilih dalam iman pembaptisan dan diberkati dengan Sakramen-Sakramen, harus siap dipecah dan dibagi di tengah dunia!

Berkah Dalem!
Selamat Natal dan Tahun Baru!

Dipublikasi di Renungan Natal dan Tahun Baru | Tag , , , , , | 3 Komentar

Usaha Manusia yang Mencoba Mengenal Tuhan

Pengantar

Manusia pada dasarnya adalah makhluk religius, dan dengan demikian manusia akan selalu terpacu untuk mengejar kebenaran Ilahi di luar dirinya. Maka sejak awal mula peradaban manusia, kehidupan manusia selalu diwarnai oleh ritual dan agama. Yang jadi masalah, apakah di luar sana memang benar-benar ada suatu kebenaran Ilahi yang kita puja dengan sebutan Tuhan? Kata Friedrich Nietzsche, Tuhan sudah mati. Kata Joseph Ratzinger, Tuhan itu pernah mati tapi lalu bangkit. Sebenarnya di mana Tuhan berada? Apa Dia diam saja di atas sana?

Tulisan ini tidak berusaha untuk menjawab dan mengakhiri diskursus di atas, namun berusaha menambahkan bahan diskusi untuk masalah-masalah di atas. Tulisan ini berusaha membahas mengenai hubungan komunikasi antara manusia dengan Allahnya. Tulisan ini membahas salah satu segi dari hubungan tersebut, yaitu dari segi usaha manusia yang berusaha mengenal Tuhannya. Pembahasan dari segi lain akan dimuat di tulisan terpisah dengan judul “Allah yang Menyapa dan Selalu Menyapa“.

Pembahasan mengenai manusia yang berusaha untuk mengenal Allah dan Allah yang mengenalkan diri-Nya pada manusia ini sebenarnya adalah bagian awal yang sangat penting dari Katekismus Gereja Katolik. Maka dari itu, untuk mendapatkan pembahasan yang lengkap dan menyeluruh, saya sarankan bagi Anda untuk membaca Katekismus Gereja Katolik, minimal Kompendiumnya (ringkasannya). Kerinduan manusia akan Allah dibahas dalam Katekismus Gereja Katolik nomor 27-49, sedangkan mengenai Allah yang mewahyukan diri-Nya dibahas dalam Katekismus Gereja Katolik nomor 50-73.

Dalam tulisan ini, saya hanya sebatas menyajikan prinsip-prinsip secara umum dan menambahkan beberapa pemikiran saya pribadi. Perlu diingat kembali, saya hanyalah seorang awam yang tidak berpendidikan teologi. Tujuan saya menulis di blog ini hanya sebagai sarana untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan, bukan untuk mengajar layaknya kuasa Magisterium Gereja. Jadi, sangatlah mungkin bahwa tulisan ini (dan tulisan-tulisan saya yang lain) mengandung kesalahan, apalagi karena saya berusaha membahas doktrin iman (lex credendi) di mana saya tidak memiliki pendidikan yang memadai. Koreksi, kritik, dan saran dari pembaca akan sangat saya hargai.

Manusia yang Bertanya dan Ingin Tahu

Manusia adalah makhluk yang selalu bertanya. Tindakan bertanya, dalam dirinya sendiri mengandung makna yang dalam. Tindakan bertanya menunjukkan rasa ingin tahu. Memang, rasa ingin tahu tidak mutlak hanya dimiliki oleh manusia. Banyak hewan lain yang juga memiliki rasa ingin tahu. Namun demikian, tidak ada hewan yang memiliki rasa ingin tahu seluas dan sedalam manusia. Hewan memiliki rasa ingin tahu yang cukup terbatas. Mereka hanya ingin tahu tentang lingkungan fisik yang mengelilinginya demi kepentingan diri mereka sendiri. Hal ini mungkin sekali didorong oleh insting dasar hewan mereka. Mereka hanya ingin tahu tentang lingkungannya untuk mencari kemungkinan adanya makanan, adanya pemangsa, adanya tempat berlindung, adanya lawan jenis untuk berkembangbiak, dan pada beberapa hewan dengan tingkat kecerdasan tinggi, adanya kesempatan untuk bermain-main.

Rasa ingin tahu manusia jauh lebih dalam dan luas dari hewan. Manusia tidak hanya ingin tahu tentang lingkungan fisiknya, tapi juga tentang lingkungan metafisiknya. Manusia, tidak seperti hewan, tidak hanya berhenti pada pertanyaan “apa gunanya ini bagiku?” saja dalam menghadapi lingkungan fisiknya. Manusia bertanya lebih jauh dengan memunculkan pertanyaan “mengapa hal ini ada di sini?”, “siapa yang meletakkan atau menaruhnya di sini”, dan “siapa yang menciptakan hal ini?”. Manusia juga mampu bertanya dalam kerangka dimensi waktu yang lebih luas daripada hewan. Manusia mampu bertanya “besok aku mau makan apa?”, “besok aku mau berbuat apa?”, dan “besok aku mau ke mana?”. Hal ini mengarahkan manusia lebih jauh dengan kemampuan untuk membuat perencanaan masa depan yang kompleks. Memang ada beberapa hewan yang juga terlihat seolah mampu berpikir tentang masa depan dan membuat perencanaan, misalnya pada hewan yang menumpuk persediaan makanan di musim panas untuk dikonsumsi di musim dingin. Namun demikian, hal ini sepertinya lebih didorong oleh insting hewan itu dan bukan merupakan hasil pemikiran hewan yang ingin tahu tentang masa depannya.

Yang lebih dalam lagi, manusia mampu untuk bertanya di luar dirinya sendiri, baik hal yang konkrit sampai pada hal yang abstrak yang hanya bisa dipikirkannya dalam benaknya semata. Manusia dapat bertanya tentang hal-hal konkrit di luar dirinya, misalnya bertanya tentang sesama dan lingkungan. Manusia dapat bertanya “apa efek perbuatanku bagi sesamaku?”, “bagaimana perasaan sesamaku atas perbuatanku?”, “apa efek perbuatanku terhadap lingkungan?”, dan “apakah dengan perbuatanku, lingkungan hidup masih mampu untuk bertahan dan bertumbuh di masa depan?”. Memang beberapa jenis hewan juga memperhatikan keluarganya, seperti pasangan berbiaknya, ataupun anak-anaknya. Namun demikian, manusia melangkah jauh di depan hewan dengan bertanya tentang sesama yang mungkin sama sekali tidak dikenalnya, bahkan mungkin tentang spesies yang sama sekali berbeda dengan dirinya. Hewan tidak menunjukkan rasa ingin tahu tentang kelangsungan lingkungannya. Perbuatan hewan yang berefek pada lingkungan semata didorong oleh insting hewan mereka. Semisal berang-berang yang membangun dam di sungai, mereka tidak membangun dam itu untuk mengubah atau melestarikan lingkungannya. Mereka melakukan hal itu semata-mata untuk bertahan hidup dan berkembang biak.

Puncak rasa ingin tahu manusia dimahkotai pada rasa ingin tahu tentang hal-hal abstrak yang hanya bisa dipikirkan dalam benaknya. Manusia dapat bertanya tentang makna kehidupannya, seperti “siapakah aku ini?”, “dari mana asalku”, mengapa aku hidup?”, “apa tujuan hidupku?”, “apa kematian itu?”, dan “mengapa ada kematian?”. Tidak ada hewan manapun di dunia yang mampu menanyakan hal-hal itu, dan hal itulah yang menjadi salah satu petunjuk keunggulan manusia dibanding dengan makhluk lainnya.

Pertanyaan tentang Kehidupan

Bertanya mengenai hal-hal abstrak memang menjadi ciri khas dan keunggulan manusia, tapi sekaligus juga menunjukkan kerapuhannya. Pertanyaan tentang makna kehidupan menjadi pertanyaan besar dalam hidup manusia. Pertanyaan membutuhkan jawaban, dan rasa ingin tahu perlu pemuasan. Karena menyangkut hal-hal abstrak, pertanyaan-pertanyaan besar tentang makna kehidupan sulit dijawab karena jawabannya tidak mudah dicari dalam kehidupan empiris manusia. Seolah-olah, rasa ingin tahu yang tak mudah dijawab dan sulit dipuaskan ini menimbulkan lubang yang besar dalam kehidupan manusia.

Memang, tidak semua orang dengan lantang menanyakan pertanyaan-pertanyaan tentang makna hidup. Pertanyaan tentang makna kehidupan memang sering kali tidak ditanyakan dengan jelas, bahkan sekedar dirumuskan oleh orang kebanyakan pun jarang. Namun demikian, pertanyaan ini tetap menggelantung dan tercermin dalam tujuan hidup semua manusia dan perbuatan-perbuatan yang dilakukan manusia untuk mencapai tujuan hidup itu. Secara mendasar, dapat dikatakan bahwa tujuan hidup semua manusia adalah untuk mencapai kebahagiaan. Dengan kata lain, manusia adalah makhluk yang mencari kebahagiaan. Ada orang yang mengatakan bahwa kebahagiaan hidupnya adalah menjadi kaya raya, ada yang bilang menjadi pintar, ada yang bilang menjadi terkenal, ada yang bilang supaya menjadi orang yang berguna bagi sesama dengan berkarya. Namun, semua pada akhirnya sama: ingin bahagia. Dengan berbagai cara, manusia berusaha mewujudkan tujuan hidup yang ingin bahagia tersebut. Banyak sekali orang yang memang mampu mencapai tujuan kebahagiaan hidup yang mereka rumuskan sendiri dengan nama kekayaan, ilmu, ketenaran, pelayanan, dan lain sebagainya. Namun demikian, manusia masih saja tidak puas tentang kebahagiaan hidup mereka. Dalam puncak kebahagiaan dunia ini, mereka masih terus saja merasa belum mencapai kebahagiaan yang definitif. Yang kaya masih ingin kaya, yang pintar masih terus belajar, yang terkenal selalu haus publisitas, dan yang melayani tidak pernah merasa cukup melayani. Kebahagiaan hidup ini dirasa begitu cepat berlalu. Manusia terus mencari, terus berusaha mencapai kebahagiaan yang tidak akan punah.

Tentu saja hidup manusia yang mencari kebahagiaan itu tidak jarang bertemu dengan berbagai kesulitan dan tantangan, baik yang memang sudah dapat diprediksi maupun yang muncul tiba-tiba. Kesulitan dan tantangan hidup itu dapat kita katakan sebagai penderitaan hidup. Hidup manusia selalu diwarnai dengan penderitaan. Penderitaan membuat diri manusia makin bertanya tentang makna hidup. Pengalaman penderitan seringkali membuat orang bertanya tentang makna kehidupannya: “mengapa aku menderita?”, “mengapa harus aku, dan bukan orang lain?”, dan “apa makna penderitaan ini?”. Penderitaan lalu mengarahkan pertanyaan manusia tentang akhir kehidupan juga, karena penderitaan adalah isyarat tentang maut. Dalam penderitaan manusia, maut tercipta dalam skala kecil. Sering dalam pengalaman penderitaan, manusia mengalami perasaan sendiri, perasaan tak berdaya, bahkan pengalaman mati perasaan, seolah manusia itu tidak akan pernah dapat mencecap kebahagiaan hidup lagi. Itulah mikro-maut dalam penderitaan. Dengan demikian, pengalaman penderitaan yang paling mencekam adalah pengalaman maut, pengalaman mendekati ajal. Kata beberapa orang, seluruh pengalaman hidup manusia akan berkelebat cepat di matanya saat ia mendekati ajal. Pengalaman hampir mati memaksa manusia bertanya tentang arti keseluruhan hidupnya.

Manusia menjadi makhluk yang selalu bertanya. Di depan mukanya, manusia akan selalu menghadapi pertanyaan yang sepertinya mustahil dijawab: “apa makna hidupku?”. Tentu saja, pertanyaan yang menggantung di tengah awang pikiran tersebut selalu butuh jawaban. Maka, manusia pun mencari jawaban dengan memberi makna pada semua langkah hidupnya. Manusia memberi makna, arti, nilai, dan hakikat dari semua apa yang ia pikirkan, katakan, dan lakukan dalam hidupnya. Hal ini lalu berlanjut menjadi lebih dalam lagi. Semua usaha manusia menjadi usaha untuk memberi makna. Kalau ditelusur lebih jauh, usaha pemberian makna ini juga pada akhirnya menjadi salah satu cara untuk mencari kebahagiaan. Contohnya: aku bekerja supaya dapat uang, dapat uang supaya dapat mencukupi kebutuhan hidup keluargaku, kebutuhan keluarga tercukupi maka aku dan keluargaku bahagia.

Usaha pemberian makna itu merangsang proses berpikir manusia. Dengan proses berpikir, maka manusia menciptakan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Ketiga hal ini adalah hasil proses pemaknaan manusia atas alam sekitar dan dirinya sendiri, bahkan termasuk di dalamnya adalah hasil pemaknaan manusia atas pemikirannya sendiri. Namun demikian, masih ada satu tanda tanya total tak terjawab dalam hidup yang bernama maut. Akan selalu timbul pertanyaan ini: “Mengapa hidup selalu diakhiri maut?”, dan “Ke mana kita pergi setelah kita mati?”. Maut bagaikan lubang hitam tak berdasar yang menganga di tepi kesadaran dan pencapaian manusia. Ia tidak pandang bulu, selalu mengintip di sudut, namun siap menyergap saat waktunya tiba.

Di Balik Hidup yang Rapuh

Sungguh pelik permasalahan mengenai hidup. Manusia akan selalu menjadi makhluk yang bertanya, makhluk yang mencari kebahagiaan. Seluruh hidupnya lalu dihabiskan untuk mencari makna hidup yang diejawantahkan dalam bentuk pencarian kebahagiaan. Tapi semua menjadi sia-sia belaka karena kebahagiaan manusia belum definitif. Semuanya pada akhirnya akan diakhiri oleh maut. Manusia menjadi sadar bahwa hidupnya tidak kekal. Hidup manusia adalah rapuh karena selalu berujung pada maut. Dalam hidup manusia itu sendiri, manusia tidak dapat menemukan jawaban. Dengan menginsyafi bahwa hidup itu rapuh dan berujung pada kematian, manusia dengan segala akal budinya pada akhirnya akan menyadari bahwa tidak akan pernah bisa menjawab pertanyaan mengenai makna hidupnya bila ia hanya bergantung pada akal budinya semata.

Namun demikian, dengan kesadaran bahwa hidup itu rapuh, manusia dibawa pada pengertian yang baru. Hidup manusia rapuh tapi tetap bisa berlangsung, maka haruslah ada sesuatu “yang lain” yang menopang, dan “yang lain” itu berada di luar hidup manusia dan lebih kuat kuasa daripada hidup manusia itu sendiri. Di balik segala kerapuhan hidup manusia, pasti ada dasar yang menyangga hidup itu sehingga hidup manusia bisa terus berlangsung. Bila tidak ada dasar ini, maka hidup manusia hanyalah akan menjadi seperti daun kering yang jatuh gugur ke dalam sumur tanpa dasar. Hidup manusia hanya akan menjadi sebuah kesia-siaan, dan kita langsung berharap untuk mati begitu kita dilahirkan. Dengan menyadari hal ini, maka kita dapat berkata bahwa dasar yang menyangga itu lalu pastilah tidak rapuh dan kekal, karena bila dasarnya juga rapuh, maka tidak akan kuat menyangga kehidupan manusia. Dasar itu juga bukan menjadi dasar yang stagnan dan mati, karena bila demikian, hidup manusia pun tidak akan pernah tumbuh untuk meraih banyak pencapaian seperti sekarang ini. Sang dasar ini harus memiliki sifat kehidupan demi menyokong hidup manusia yang selalu bertumbuh dan berkembang. Dapat dikatakan bahwa dasar itu adalah dasar yang hidup. Lebih dalam lagi, dapat disimpulkan bahwa hidup manusia yang rapuh itu adalah cerminan tak sempurna dari keagungan dasar hidup yang menopang hidup manusia itu sendiri. Bahasa kasarnya, dasar yang agung itulah yang menciptakan hidup kita. Pantaslah demikian bila kita sebut dasar itu dengan huruf kapital: Dasar. Melalui kerapuhan hidup manusia inilah, manusia sendiri justru dapat berkenalan dengan Sang Dasar. Sungguh rapuhlah manusia yang memiliki akal budi namun menolak untuk mengenali Sang Dasar ini. Hidupnya hanya akan menjadi keterserakan yang rapuh di dunia. Hidup manusia yang menyangkal Sang Dasar akan menjadi kesia-siaan belaka.

Dengan logika bahwa Sang Dasar ini kuat kuasa menopang hidup manusia, justru Sang Dasar ini haruslah tak berdasar. Jika Sang Dasar juga masih bertumpu di atas dasar lain, maka Sang Dasar ini tidak dapat menjadi Dasar yang kuat kuasa secara definitif. Sang Dasar ini harus mengatasi segala sesuatu. Sang Dasar ini harus menjadi yang Maha Kuasa, menjadi sebuah Dasar tanpa Dasar, harus menjadi sebuah Awal tanpa awal, dan menjadi Penyebab tanpa sebab. Sang Dasar ini haruslah menjadi Causa Prima, sang Penyebab yang Pertama dan Utama. Dari Dasar inilah, membuncah semua hal yang ada di alam semesta.

Dalam dunia sehari-hari, kita mengenal Sang Dasar tersebut dengan nama universal: Tuhan. Kita dapat mengenal Tuhan dengan menggunakan akal budi kita. Pendekatan yang digunakan dalam uraian di atas adalah pendekatan untuk mengenal Tuhan dengan merunut dari hidup manusia yang rapuh dan mengenai Tuhan yang menjadi Dasar dan Asal dari hidup manusia. Tentu masih banyak sekali pendekatan akal budi lain dari manusia dalam rangka mengenal Tuhan.

Akal budi, bersama dengan suara hati dan kehendak bebas, adalah bekal manusia di dunia yang diberikan oleh Tuhan untuk bisa mengenali-Nya, berkomunikasi dengan-Nya, dan untuk bersosialisasi dengan sesama. Namun bila kita semata berpijak pada akal budi semata untuk mengenal Tuhan, kita hanya akan melihat Tuhan yang bersifat transenden semata.  Memang, transendensi adalah salah satu ciri Tuhan. Tuhan yang transenden berarti Ia Maha Besar dan Maha Kuasa, Ia mengatasi segala sesuatu. Namun demikian, bila kita berhenti di titik ini, Tuhan akan terasa sangat jauh di luar kita. Walaupun kita akan mengetahui bahwa Tuhan itu ada dan mengada, Tuhan tetap akan terus kita rasakan sebagai objek yang asing. Kita harus menyadari bahwa Tuhan kita juga bersifat imanen. Kita akan mencapai diskusi ini di bagian kedua tulisan saya yang berjudul “Allah yang Menyapa dan Selalu Menyapa“.

Lebih jauh, kita perlu menginsyafi bahwa segala pendekatan akal budi untuk mengenal Tuhan tetaplah berasal dari manusia yang rapuh, manusia yang hidupnya selalu goyah. Akal budi kita tentu tidak dapat mengenali Tuhan jikalau Tuhan sendiri tidak memperkenalkan Diri-Nya pada kita dan membantu kita untuk mengenali-Nya. Konsekuensi praktis dari hal ini adalah tentu jika tulisan ini berhenti di sini, maka tulisan ini tidak akan lengkap. Maka, tulisan ini harus berlanjut dengan bagian mengenai Tuhan yang memperkenalkan diri-Nya pada manusia. Tulisan tersebut akan dimuat pada artikel terpisah dari tulisan ini dengan judul “Allah yang Menyapa dan Selalu Menyapa“.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Sekali lagi, saya sangat menerima koreksi, kritik, dan saran dari sidang pembaca.

Berkah Dalem.

Dipublikasi di Tentang Iman | Tag , , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar

Sekapur Sirih untuk Renungan Rosario

Sering kita mengalami bahwa pikiran kita bercabang dan tidak fokus dalam pekerjaan kita, apalagi dalam doa yang membutuhkan ketenangan. Mari kita lihat cerita sebuah keluarga dalam cerita berikut. Satu keluarga datang ke Gereja paroki mereka untuk ikut Misa Minggu. Sepanjang perjalanan ke Gereja, anak-anak ribut di mobil sambil merengek-rengek: setelah selesai Misa, mereka minta diajak pergi ke mall. Saat masuk ke Gereja, si ibu mengambil air suci dan membuat tanda Salib. Saat membuat tanda salib itu, si ibu sibuk bertanya pada suaminya, “Pa, kita duduk di mana?”, lupa mengucapkan doa tanda salib. Sang suami, juga sambil membuat tanda salib dengan air suci, ikut menjawab, “Terserah Mama! Yang penting jangan di bagian depan!”. Misa dimulai dengan arak-arakan yang terdiri dari putra altar, lektor, prodiakon, pastor, dan umat yang terlambat datang. Saat Misa berlangsung, si ibu sibuk memikirkan persiapan arisan di rumah. Si bapak sambil mengantuk akibat menonton bola semalam suntuk, sibuk pula melamunkan rencana rapat kantor esok hari. Anak-anak mereka sibuk berlarian di halaman Gereja. Saat Misa selesai, perarakan keluar petugas liturgi dibarengi dengan umat (termasuk keluarga dalam cerita kita) yang berlomba-lomba ke tempat parkir supaya tidak terlalu lama antri keluar dari Gereja. Apa yang didapatkan oleh keluarga ini setelah mengikuti Misa? Rencana arisan yang matang, kerangka persiapan presentasi rapat kantor, dan kenyang makan ayam goreng fastfood di mall. Ditanya tentang bacaan apa yang dibacakan saat Misa atau tema homili dari pastor, mungkin akan dijawab dengan lugas: tidak tahu.

Cerita di atas mungkin akan dianggap ekstrem oleh sekelompok umat yang saleh, namun tidak dapat dipungkiri bahwa cerita di atas juga mewakili sebagian dari kelompok umat yang lain. Sekelompok umat yang kedua menunjukkan kecenderungan dan kelemahan dari manusia yang sulit untuk “hidup di sini dan saat ini”. Raga manusia mungkin berada di satu tempat, namun sering pikirannya berada di tempat dan masa lain. Mulutnya mungkin mengucapkan satu hal, namun belum tentu hatinya setuju dengan perkataan lisannya.

Dalam Misa, hal ini sungguh akan mengurangi penghayatan dan daya rahmat Sakramen yang kita terima. Saat Misa, pastor akan mengajak umat: “Marilah mengarahkan hati kepada Tuhan!”. Umat akan menjawab: “Sudah kami arahkan.” Dalam kenyataannya, banyak dari umat yang mungkin tidak mampu mengarahkan hati kepada Tuhan saat menjawab ajakan tersebut. Mungkin bahkan kita sendiri juga mengalami kesulitan mengarahkan hati kepada Tuhan. Kita mengarahkan hati kita kepada urusan di rumah, di kantor, di mall, di tempat-tempat lain. Para pelayan liturgi pun tidak jarang kesulitan mengarahkan hati kepada Tuhan. Anggota koor mungkin akan menjawab ajakan tersebut dengan mengarahkan hati dan pikiran kepada lagu “Kudus” yang belum dipelajari dan akan segera dinyanyikan. Prodiakon mungkin akan menjawab ajakan tersebut sambil berusaha mengingat-ingat posisi membagi Komuni yang telah dibagi sebelum Misa. Ajakan untuk mengarahkan hati kepada peristiwa iman yang sungguh luar biasa dalam Doa Syukur Agung ternyata gagal kita tanggapi secara sungguh-sungguh.

Gereja mempunyai banyak cara untuk membantu kita mengatasi kelemahan manusiawi yang lemah itu. Beberapa cara yang sering dilakukan dalam tradisi Gereja adalah dengan sejenak meninggalkan hiruk-pikuk dunia. Kita dapat berusaha menyepi dari dunia dengan retret dan rekoleksi. Kita dapat mengunjungi tempat ziarah seperti Gua Maria ataupun pertapaan kontemplatif. Kita dapat melakukan visitasi ke depan Sakramen Mahakudus di Gereja ataupun bersembah sujud dalam Kapel Adorasi Ekaristi Abadi. Dalam Tradisi Gereja yang Suci, kita memiliki sarana latihan yang memadai untuk membantu kita mengarahkan hati kepada Tuhan. Salah satu sarana sederhana dan akrab dengan kita adalah Doa Rosario.

Rosario adalah doa yang sangat unggul dan indah. Dalam buku “40 Kebiasaan Katolik dan Akar Biblisnya – Signs of Life”, Scott Hahn mengatakan bahwa Rosario bekerja pada tahap insani sebab ia melibatkan seluruh pribadi. Rosario melibatkan kata-kata yang diucapkan oleh mulut dan didengarkan oleh telinga kita. Rosario menyibukkan pikiran dan merangsang emosi kita. Rosario memberi tugas pada ujung jari kita, indra perasa yang sangat peka. Apabila kita mendoakannya di hadapan suatu patung kudus, kita juga memperkaya permenungan kita lewat indera badani. Seluruh tubuh dan indera kita diajak untuk bersama-sama menghadap Tuhan bersama Bunda-Nya dalam Rosario. Inilah cara Tuhan meneguhkan iman para murid-Nya, “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah!” (Luk 24:39).

Rosario membantu kita untuk makin masuk dalam penghayatan atas Misteri Keselamatan Tuhan. Misteri ini dibentangkan secara runtut dalam peristiwa-peristiwa Rosario: peristiwa Gembira, peristiwa Sedih, peristiwa Terang, dan peristiwa Mulia. Dengan melibatkan seluruh raga fisik kita, Rosario menjaga kita agar pikiran kita dapat terfokus seluruhnya untuk berkontemplasi dalam Misteri tersebut. Latihan kontemplatif ini membantu kita berlatih mengarahkan hati kepada Tuhan. Dengan berdoa Rosario, kita masuk ke dalam Sekolah Maria. Kita belajar bersama Bunda Maria untuk menjadi murid-murid Yesus Kristus yang dapat mempertanggungjawabkan iman kita. Devosi kepada Bunda Allah ini sangat jitu untuk mengantar kita menghayati makin dalam Sakramen-Sakramen agung Gereja. St. Louis-Marie Grignion de Montfort mengatakan bahwa “bila kita menyebarluaskan ibadat yang bermutu kepada Santa Maria, maka itu hanya dilakukan untuk menyediakan suatu sarana yang mudah dan pasti untuk menemukan Yesus Kristus.”

Seri renungan Rosario ini berangkat dari renungan pribadi Rosario yang saya jadikan sebagai latihan-latihan untuk mengarahkan hati kepada Tuhan. Tentu saja, sebagai seorang yang sedang belajar dalam latihan, saya butuh banyak bantuan dan teladan. Dalam tulisan ini, saya banyak mengutip renungan dari tokoh-tokoh Gereja yang saya jadikan contoh dan teladan. Tokoh yang sangat sering saya kutip adalah Sr. Martha E. Driscoll, OCSO, abdis Biara Trappist Bunda Pemersatu di Gedono. Seperti tulisan di gerbang Gua Maria Kerep Ambarawa yang berbunyi PER MARIAM AD JESUM, banyak tulisan renungan Beliau yang menginspirasi saya untuk terus melangkah maju bersama Maria menuju Yesus. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Beliau dan sekaligus mohon izin untuk banyak mengutip renungan Beliau dalam tulisan saya.

Renungan pribadi ini tentu saja masih jauh dari sempurna. Saat saya menulis renungan ini, saya baru lima tahun dibaptis menjadi Katolik. Saya juga tidak memiliki dasar pengetahuan teologis yang memadai untuk dapat mempertanggungjawabkan tulisan saya ini secara ilmiah. Posisi saya bukan sebagai seorang penulis yang menggurui pembacanya. Saya tidak lebih banyak tahu ataupun lebih beriman daripada para pembaca. Saya hanya seorang umat yang juga sedang belajar. Renungan ini murni saya tulis sebagai sarana pribadi untuk berbagi kepada sesama umat Allah yang juga sedang belajar. Maka dari itu, segala saran dan kritikan yang membangun akan sangat membantu saya untuk memperbaiki tulisan saya ini. Harapan saya sederhana: semoga renungan ini dapat membantu para pembaca untuk belajar mengarahkan hati kepada Tuhan dalam Rosario. Untuk mendukung maksud ini, saya membagi renungan peristiwa Rosario ini dalam tulisan-tulisan pendek yang dapat dibaca secara terpisah untuk membantu renungan dalam berdoa Rosario. Semoga Tuhan selalu memberkati kita semua dalam usaha baik kita! Amin.

Rubiah Trappist

Dipublikasi di Renungan Rosario | Tag , , | Meninggalkan komentar

Perjumpaan yang Menguatkan dan Menyelamatkan

Setiap tiba bulan Oktober, Gereja Katolik memasuki bulan Rosario. Bulan Oktober adalah bulan doa. Kita, putra dan putri Gereja bersama-sama diajak untuk “mengkontemplasikan wajah Kristus bersama Maria – (Beato Yohanes Paulus II)” tiap kali kita berdoa Rosario. Ada empat rangkaian peristiwa yang dapat kita doakan setiap kali mendaras Rosario Suci, peristiwa Gembira, peristiwa Sedih, peristiwa Terang, dan peristiwa Mulia.

Dalam peristiwa Gembira yang kedua, kita diajak untuk ikut menyusuri langkah Maria saat ia mengunjungi saudarinya, Elisabet. Tanggal 31 Mei, hari terakhir dalam bulan yang dikhususkan bagi Maria juga mengajak kita mengenangkan kunjungan Maria ke saudarinya, Elisabet. Inilah anamnese (pengenangan) kita terhadap karya Allah dalam diri Maria dan Elisabet yang menjadi kesatuan tak terpisahkan dalam Rancangan Agung keselamatan dalam diri Yesus Kristus.

Dalam kisah Kitab Suci itu, diungkapkan perjumpaan yang agung dan menggembirakan antara Maria yang sedang mengandung Yesus dan Elisabet yang sedang mengandung Yohanes Pembaptis (Luk 1:39-56). Sr. Martha Driscoll, OCSO mengajak kita untuk melihat sebuah meta-kisah, kisah di balik kisah perjumpaan dua perempuan kudus tersebut. Maria dan Elisabet bertemu dalam sebuah perjumpaan yang merupakan sebuah kesatuan. Kesatuan itu timbul sebagai akibat dari persamaan-persamaan yang mereka miliki. Beberapa persamaan yang jelas tampak adalah: mereka berdua perempuan suci dan menjadi ibu yang sedang mengandung akibat rencana Tuhan untuk menyelamatkan manusia. Kedua perempuan itu bersaudara, Elisabet yang jauh lebih tua daripada Maria adalah bibi dari Maria. Keduanya adalah orang Yahudi yang taat beribadah. Dalam kisah tradisi yang ada di ritus Timur, diceritakan bahwa kedua orangtua Maria, St. Yoakim dan St. Anna, telah mempersembahkan Maria untuk menjadi gadis penenun selubung Bait Allah sejak Maria masih sangat muda belia. Sebagai seorang gadis penenun selubung, Maria selalu dijaga ketat dan harus selalu bersikap suci murni seperti yang telah ditetapkan dalam Taurat Musa. Sedangkan Elisabet adalah keturunan dari Harun (Luk 1:5), di mana Harun dan keturunannya telah ditetapkan untuk menjadi imam dan pelayan Bait Allah yang suci (Im 8:1-33). Elisabet sendiri menikah dengan Zakharia yang merupakan seorang imam. Sebagai pasangan, mereka “benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat (Luk 1:6)”.

Namun dalam pertemuan yang menyatukan itu, juga tampak jelas perbedaan-perbedaan antara Maria dan Elisabet. Mari kita renungkan kondisi dan situasi yang telah dialami oleh Maria saat ia mengunjungi Elisabet.

Sejak Maria mengucapkan “ya” kepada sabda Tuhan yang disampaikan malaikat Gabriel (Luk 1:38), Maria telah menandatangani “kontrak kosong” dalam perjanjian dengan Tuhan. Ia mempercayakan diri sepenuhnya pada Tuhan. Itulah sebabnya ia tidak gentar pada saat ia mengandung Putera Allah. Semasa Maria hidup, adalah suatu aib besar apabila seorang gadis mengandung di luar nikah. Terlebih Maria, yang dalam tradisi Timur disebut sebagai perawan suci penenun selubung Bait Suci. Hamil di luar nikah adalah nista besar! Terlebih Maria sudah mempunyai tunangan. Pastilah banyak orang yang menggunjingkan Maria sebagai perempuan nakal yang suka berselingkuh. Namun Maria tidak gentar! Saya teringat sebuah penggambaran indah sukacita dan penyerahan Maria yang begitu luar biasa dalam novel indah “Christ the Lord: Out of Egypt” yang ditulis oleh Anne Rice. Dalam novel itu digambarkan bahwa setelah dikunjungi malaikat Gabriel, Maria segera berlari keluar ke jalanan dan berseru-seru gembira pada semua orang yang ia temui di jalan bahwa rencana Tuhan telah ditetapkan melalui dirinya. Maria tidak malu, tidak takut akan rencana Allah itu. Ia percaya dan pasrah pada Tuhan.

Kegembiraan Maria tidak ditutup-tutupi. Ia segera bergegas pula untuk membagi kegembiraan atas kabar luar biasa yang telah diterimanya kepada saudarinya Elisabet. Maria yang sedang mengandung dengan penuh semangat dan gembira “langsung berjalan” melewati pegunungan menuju Yehuda untuk bertemu dengan Elisabet. Dalam tiap langkah Maria, ia dikuatkan oleh Roh Kudus yang memberi tenaga kepadanya untuk berlari melintas pegunungan walau ia sedang mengandung. Maria dikandung tanpa dosa untuk menyiapkan dirinya menjadi ibu Tuhan, Tabernakel Perdana yang Hidup. Dalam keadaan tanpa dosa itu, ia melangkah dengan ringan dan bebas. Tiap langkahnya sepenuhnya dipercayakan dalam rencana keselamatan Tuhan yang luar biasa. Tidak ada langkah keraguan dan kecemasan dalam perjalanan Maria sampai pada saat Putranya digantung di salib. Dalam peristiwa Rosario berikutnya, kita tidak akan pernah menemukan Maria yang mengeluh, Maria yang protes atas rencana Allah. Bahkan saat Putra yang dikandungnya disiksa sampai mati di salib, kita tidak mendengar protes dari Maria. Kepasrahan dan kepercayaan Maria pada Tuhan sungguh tak terukur.

Perbedaan Elisabet dengan Maria mulai tampak pada tahap perjumpaan ini. Sebelum Maria tiba, kita lebih mirip Elisabet yang bahagia tetapi juga cemas. Kita juga mirip dengan Zakharia, suami Elisabet yang juga merasa ragu dan cemas. Kecemasan pasutri Zakharia dan Elisabet kalau kita lihat lebih jauh ternyata sangat mirip dengan kecemasan kita sendiri.

Elisabet dikatakan mandul akibat pada usia tuanya belum punya anak (Luk 1:7). Pada zaman itu, seorang wanita yang mandul dianggap terkena hukuman Tuhan akibat dosanya. Terlebih lagi Elisabet adalah keturunan Harun dan istri seorang imam Allah. Kedudukan pasangan Zakharia dan Elisabet dalam masyarakat berada di tempat terhormat. Hal ini membuat Elisabet lebih terbebani dengan pandangan sosial masyarakatnya karena ia dianggap mandul karena berdosa. Mungkin di hadapan Elisabet, masyarakatnya bersikap hormat. Namun, ia tidak dapat lepas dari gunjingan di belakang yang menjatuhkan dia sebagai istri imam yang ternyata hanyalah perempuan mandul yang berdosa.

Mungkin beban sosial dari masyarakat itulah yang membuat suami Elisabet, Zakharia, mengalami keragu-raguan pada saat mendapat kabar dari malaikat Gabriel bahwa istrinya akan mengandung pada usia tua. Ia menunjukkan sikap ragu-ragu, tidak percaya terhadap Sabda Allah sendiri. Sebagai seorang imam, ia justru tidak percaya terhadap rencana Allah yang ia layani tiap hari di Bait Suci. Akibatnya, ia menjadi bisu sampai istrinya melahirkan putra (lihat Luk 1: 5-24, 57-64).

Elisabet juga merasa gembira, namun cemas dan takut pada kondisinya yang hamil di usia lanjut (lihat Luk 1:24-25). Kegembiraannya jelas bersumber pada fakta bahwa ternyata ia tidak mandul. Ia tidak terbukti menanggung aib mandul karena dosa seperti yang selama ini dituduhkan kepadanya. Ia bisa hamil. Ia berfungsi secara penuh sebagai perempuan yang akan menjadi seorang ibu. Namun, ia juga cemas. Kecemasannya diungkapkan dalam kenyataan bahwa dia tidak berkata apa-apa selama lima bulan, menyembunyikan diri supaya orang tidak melihat keadaan hamilnya. Ia cemas dengan pikiran-pikiran negatif, jangan-jangan ia tidak mampu membawa anaknya sampai lahir, jangan-jangan ia nanti keguguran akibat hamil di usia tua. Kecemasan dan kekhawatiran menutupi pikiran Elisabet selama lima bulan yang berat saat ia menyembunyikan diri. Dia tahu bahwa anak itu adalah rahmat dari Tuhan tetapi dia sedang prihatin tentang pikiran orang, daripada mengarahkan diri kepada misteri yang ada dalam rencana Tuhan terhadap anaknya. Dia hanya cemas memikirkan untuk menghilangkan aib mandul yang selama ini menjadi bebannya. Elisabet dibayangi rasa egoisme yang mengaburkan misteri Tuhan. Kecemasan selalu berakar dalam keprihatinan dengan ‘aku’. Sungguh hal yang kontras dengan Maria yang hidup dalam kebebasan kepercayaan yang tidak memikirkan diri sendiri.

Dalam kondisi yang serupa namun sekaligus berbeda, Maria berjumpa dengan Elisabet. Waktu Maria tiba, Elisabet yang cemas pada akhirnya bisa masuk dalam kegembiraan Maria. Bersama Yohanes Pembaptis yang melonjak dalam kandungannya, Elisabet dipenuhi oleh Roh Kudus (Luk 1:41). Dengan penuh oleh Roh Kudus, Elisabet berkata, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana (Luk 1:42-45)”.

Di hadapan Maria, iman Elisabet dikuatkan. Di hadapan Maria, Elisabet diberi rahmat pengenalan iman sehingga dapat segera mengenali kehadiran Putera Allah dalam kandungan Maria. Di hadapan Maria, Elisabet diberi kerendahan hati. Di hadapan Maria, Elisabet menanggalkan sikap egois dan khawatir atas aibnya dengan melangkah masuk lebih dalam dalam misteri penyelamatan Tuhan yang melibatkan dirinya dan anak dalam kandungannya. Iman Zakharia pun kembali dikuatkan dengan kehadiran Maria dalam rumahnya. Selama tiga bulan, Maria tinggal di rumah Zakharia dan menguatkan Zakharia dan Elisabet dalam Roh Kudus.

Kehadiran Maria yang menguatkan dan menghapus kekhawatiran tidak dapat lepas dari sikap Maria yang bebas dan transparan. Maria mempunyai semangat kesaksian yang tidak malu mengakui karya Allah di dalam diri kita. Dalam lagunya Magnificat (Luk 1: 46-55), Maria menunjukkan pada Elisabet dan pada segala bangsa bahwa ia mau supaya orang lain melihat karya Allah, kasih istimewa yang dianugerahkan-Nya kepada dirinya. Kasih dan rahmat Allah tidak disembunyikan di bawah kolong rumah ataupun di bawah gantang, melainkan ditunjukkan di atas kaki dian supaya semua orang dapat melihat cahayanya (Luk 11:33). Sungguh berbahagialah Elisabet dan Zakharia yang dikunjungi oleh seorang perempuan yang teramat suci seperti Maria, terlebih lagi selama tiga bulan Maria tinggal bersama mereka! Cahaya Kristus yang terpancar dari rahim Maria menyinari mereka dan menguatkan mereka sehingga mereka tidak merasa kuatir lagi.

Kita mendambakan kepercayaan seperti Maria, namun kita lebih sering mirip dengan imam Zakharia dan Elisabet. Dalam bidang yang kita tekuni, dalam kehidupan keluarga dan komunitas yang kita jalani tiap hari, sering kita membentur masalah-masalah yang sepertinya mustahil untuk kita hadapi, terlebih untuk diselesaikan. Penugasan di tempat kerja yang sulit, keluarga atau sahabat yang sakit parah, pertengkaran suami-istri, terlibat utang yang besar, pengucilan akibat kesalahan yang pernah kita lakukan, penindasan dari pemerintah yang korup, kekerasan terhadap anak, hamil di luar nikah, berbagai hal dapat membawa kita dalam sikap menyerah dan tidak percaya pada rencana Tuhan yang indah. Banyak masalah dapat menyebabkan kita menjadi malu dan menyembunyikan diri seperti Elisabet. Kita mengucilkan diri, tidak mau bercerita kepada siapapun. Lidah kita kelu seperti Zakharia. Kita kehilangan kepercayaan kepada Tuhan. Kita bertanya dengan pilu, “Berapa lama lagi, Tuhan, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? (Mzm 13:2-3)”

Sr. Martha Driscoll, OCSO menggambarkan kecemasan kita dalam perumpamaan orang yang berjalan pincang. Kita berjalan seperti orang pincang – satu langkah percaya, satu langkah cemas. Itulah handicap kita, cacat kita. Sepuluh langkah cemas, satu langkah percaya. Syukur ada Bunda Maria yang selalu mendampingi langkah kita. Kita dapat bersandar kepadanya dan melangkah dalam kepercayaannya sebentar, sebelum kaki kita yang cemas membuat kita goncang lagi. Dia selalu di samping kita agar kita tidak jatuh dalam kecemasan total yang berujung pada keputusasaan.

Dalam Rosario, kita mendapat kelegaan karena dapat bersandar pada langkah Maria yang percaya. Tiap butir rosario yang kita daraskan, kita diajak melangkah bersama Maria. Kita dapat berharap adanya pencurahan Roh Kudus dalam perjumpaan dengan Maria dalam Rosario. Kita ingin seperti Elisabet yang dikuatkan Roh Kudus dalam perjumpaannya dengan Maria. Kita berharap dengan pemenuhan Roh Kudus, iman kita dikuatkan dan kita diajak belajar untuk menanggalkan sikap egois dan menjadi rendah hati seperti Elisabet. Tiap doa Salam Maria yang kita daraskan, kita menempati posisi Elisabet dengan mengatakan “Terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus”. Setelah mengucapkan doa Kemuliaan dan Doa Fatima (Ya Yesus yang baik), kita dapat menyisipkan doa yang diajarkan oleh Romo Steffano Gobbi (pencetus Gerakan Imam Maria) dalam semangat penampakan Bunda Maria di Medjugorje: “Datanglah ya Roh Kudus. Datanglah dengan kekuatan perantaraan Hati Maria yang Tak Bernoda, Mempelai-Mu yang terkasih. Bunda Maria, aku mengasihimu. Lindungilah kami, selamatkanlah kami, selamatkanlah dunia.”

Sama seperti Elisabet dan Zakharia menerima Maria di rumah mereka selama tiga bulan, dalam bulan Maria dan bulan Rosario (Mei dan Oktober), kita menerima Maria dalam rumah dan hati kita. Dalam bulan-bulan ini, kita mendaraskan rosario dengan lebih khusyuk dan mendalam. Dalam bulan-bulan ini, kita berharap dapat menimba kekuatan dari Roh Kudus untuk menghadapi permasalahan hidup sepanjang tahun. Dalam bulan-bulan ini, kita belajar untuk percaya seperti Maria. Dalam bulan-bulan ini, kita belajar untuk bersaksi tentang kebesaran Tuhan tanpa menonjolkan ego kita.

Terlebih dalam bulan Rosario, kita mendalami arti rosario. Sr. Martha Driscoll menggambarkan rosario dengan indah. Rosario adalah rantai, rantai yang lembut yang mengaitkan kita dengan Allah, Bapa kita, dan dengan orang lain, saudara-saudari kita dalam Kristus. Dalam semangat persaudaraan yang dikaitkan oleh rantai Rosario, kita diajak menjadi rasul Rosario bagi sesama, sama seperti Maria yang menjadi rasul terang bagi Elisabet dan Zakharia.

Rantai keputeraan dan persaudaraan menuju kepada sebuah salib karena Kristuslah yang membuka jalan keselamatan kepada kita. Jalan itu memiliki sebuah pintu gerbang, yaitu Maria. Kristus sendiri masuk ke dalam dunia melalui Maria. Di dalam rahim Maria, ada keabadian yang merangkul semua pengalaman manusia. Maria mendampingi kita yang berjalan seperti orang pincang sepanjang perjalanan keselamatan. Meskipun pincang, mari kita maju berjalan bersama Maria dalam kepercayaan yang cemas dan kecemasan yang percaya.

Dipublikasi di Renungan Rosario Peristiwa Gembira | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Jangan Takut untuk Berkata: YA!

Doa rosario adalah sebuah devosi yang teramat indah. Dalam Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi, disebutkan bahwa Rosario adalah salah satu doa yang paling ulung kepada Bunda Allah. Gereja Katolik amat menyadari keindahan doa Rosario, maka bulan Oktober dipersembahkan sebagai bulan Rosario. Dalam bulan ini, kita diajak untuk semakin dalam merenungi makna dari rosario. Mari kita masuk ke dalam rangkaian peristiwa yang pertama, peristiwa Gembira.

Rangkaian peristiwa Rosario yang pertama adalah peristiwa Gembira. Dalam rangkaian peristiwa ini, kita dapat menarik suatu benang merah dalam kelima peristiwa tersebut. Rangkaian peristiwa Gembira adalah rangkaian peristiwa tentang perjumpaan, tentang pertemuan. Dalam kelima peristiwa pertemuan itu, Maria selalu terlibat di dalamnya. Maka saat mendaraskan Rosario dalam peristiwa-peristiwa Gembira, kita diajak oleh Maria untuk menapaki kembali berbagai perjumpaannya dengan berbagai tokoh yang berperan dalam rencana keselamatan. Dalam peristiwa pertama, kita melihat Maria berjumpa dengan malaikat Gabriel yang menyampaikan bahwa Maria akan mengandung atas kuasa Roh Kudus (Luk 1:26-38). Dalam peristiwa kedua, kita melihat Maria berjumpa dengan saudarinya, Elisabet (Luk 1: 39-56). Dalam peristiwa ketiga, Maria berjumpa pertama kali dengan Yesus dalam rupa manusia. Maria juga berjumpa dengan para gembala dan orang-orang Majus (Mat 1:18-2:12, Luk 2: 1-20). Dalam peristiwa keempat, Maria berjumpa dengan Hana dan Simeon di Bait Allah (Luk 2:21-40). Dalam peristiwa kelima, Maria berjumpa kembali dengan Yesus setelah Ia “melarikan diri” tiga hari lamanya di Bait Allah (Luk 2:41-52).

Mari kita mulai menapaki langkah Maria dalam peristiwa Gembira yang pertama. Dalam peristiwa ini, kita diajak untuk melihat suatu perjumpaan yang mulia dan agung antara dua makhluk Allah yang sama-sama murni dan tidak berdosa. Bedanya adalah yang satu bernama Gabriel yang adalah seorang malaikat, dan yang satu lagi adalah Maria, perempuan yang dikandung tanpa dosa. Ketika itu Maria sedang berada dalam ruangan terkunci di rumahnya. Dalam kisah tradisi yang ada di ritus Timur, diceritakan bahwa kedua orangtua Maria, St. Yoakim dan St. Anna, telah mempersembahkan Maria untuk menjadi gadis penenun selubung Bait Allah sejak Maria masih sangat muda belia. Sebagai seorang gadis penenun selubung, Maria selalu dijaga ketat dan harus selalu bersikap suci murni seperti yang telah ditetapkan dalam Taurat Musa. Maka dari itu, Maria pun dilindungi dalam ruangan terkunci di rumahnya.

Maka, dalam ruangan terkunci itulah Maria dikunjungi oleh malaikat Gabriel. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan (Luk 1: 28-33).”

Sepertinya para malaikat dalam Kitab Suci punya salam standar bagi orang-orang yang dijumpai untuk menerima pesan dari Allah yang Maha Tinggi. Para malaikat saat pertama kali berjumpa dengan manusia, seringkali berkata: “Jangan takut!”. Malaikat yang diceritakan dalam Perjanjian Lama mengatakan “jangan takut”, misalnya kepada Gideon (Hak 6:23). Dalam Perjanjian Baru, malaikat berkata “jangan takut” kepada imam Zakharia (Luk 1:13) dan kepada Bunda Maria (Luk 1:30). Sepintas, kata-kata “jangan takut” itu sama. Namun, Bunda Maria menerima salam itu dalam kondisi yang berbeda. Mari kita lihat perbedaannya.

Dalam paham Perjanjian Lama, manusia takut melihat Allah. Mereka merasa sangat berdosa sehingga kalau mata duniawi mereka melihat Allah dalam segala kemuliaan-Nya, manusia pasti langsung mati. Setelah bergumul dengan Allah, Yakub berkata, “Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong! (Kej 32:30)”. Dalam kepercayaan orang Yahudi, bahkan malaikat pun tidak tahan melihat kemuliaan Allah. Maka terlebih lagi, celakalah manusia yang melihat Tuhan dalam keadaannya yang berdosa. Dalam penglihatannya, Yesaya melihat malaikat serafim memiliki enam sayap; dua sayap untuk menutupi muka, dua sayap untuk menutupi kaki, dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang (Yes 6:2). Malaikat serafim yang melayani Tuhan sampai harus menutupi muka mereka dengan sayap karena cahaya kemuliaan Tuhan. Maka ketika Yesaya melihat Tuhan, ia berkata, “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam (Yes 6:5).”

Dalam terang Kitab Suci, dapat kita lihat bahwa malaikat adalah pembawa pesan bagi Tuhan. Dalam mimpinya, Yakub melihat bahwa para malaikat naik turun tangga yang terbentang antara bumi dan surga untuk menyampaikan Sabda Tuhan (Kej 28:12). Malaikat telah berkali-kali menyampaikan Sabda Allah kepada orang-orang pilihan Tuhan untuk mewartakan Rencana-Nya yang agung. Dalam Perjanjian Lama misalnya, tokoh-tokoh besar seperti Abraham, Yakub, Elia, dan Yesaya; semuanya sudah mengalami pertemuan dengan malaikat yang mewartakan Rencana Tuhan bagi mereka (beberapa contoh tersebut dapat dilihat dalam Kej 22: 11-18, Kej 28: 12-15, 2Raj 1:3-4, Yes 6:1-13). Malaikat adalah pembawa Sabda. Malaikat adalah representasi dari Tuhan sendiri. Hal ini berdampak pula mereka takut melihat representasi Allah. Mereka takut bahwa jika mereka mendengar Sabda Allah, mereka juga akan mati. Gideon yang melihat malaikat Tuhan pun ketakutan dengan berkata, “Celakalah aku, Tuhanku ALLAH! sebab memang telah kulihat Malaikat TUHAN dengan berhadapan muka (Hak 6:22).”

Ada alasan tambahan mengapa manusia takut kepada malaikat. Dalam gambaran Kitab Suci, malaikat bukanlah seperti makhluk-makhluk tinggi semampai yang manis dan cantik. Bukan pula seperti bayi-bayi mungil gemuk bersayap. Itu adalah rekaan para artis di zaman Renaissance yang mencoba menggambarkan malaikat seperti para dewa Yunani. Malaikat dalam Kitab Suci digambarkan seram dan mengerikan (Hak 13:6), bahkan dengan membawa senjata pedang api yang bernyala-nyala (Kej 3:24). Nabi Yehezkiel menggambarkan malaikat dengan wujud yang seram (Yeh 1:5-11). Ia menggambarkan malaikat memiliki empat kepala: kepala singa, kepala elang, kepala lembu, dan kepala manusia.

Mari kita bayangkan diri kita menjadi orang Israel zaman Kitab Suci. Kita menyembah Tuhan yang bahkan Nama-Nya tidak kita sebut. Kita takut kepada malaikat. Lalu, di tengah-tengah kesibukan kita, saat kita berada dalam ruang terkunci seperti Maria, tiba-tiba malaikat berwujud seram menampakkan diri kepada kita. Reaksi kita pastilah akan merasa sangat kaget dan takut. Oleh sebab itu, wajarlah malaikat mengatakan “jangan takut” kepada manusia sebagai salam pembuka.

Dalam kondisi seperti itulah Maria menerima kabar dari malaikat Gabriel. Gabriel pun mengucapkan salam “jangan takut” kepada Maria. Namun, lihatlah lebih teliti mengenai salam Gabriel tersebut. Dalam kisah-kisah sebelumnya, sebelum malaikat berkata apapun, manusia sudah ketakutan melihat malaikat. Dalam kondisi yang ketakutan itulah manusia menerima salam malaikat: “jangan takut”. Salam itu diucapkan malaikat untuk meredakan ketakutan manusia.

Berbeda dalam kisah Maria. Salam pertama Gabriel adalah “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Salam pertama itu bukan “jangan takut”. Tidak seperti leluhurnya, dalam perjumpaan yang pertama dengan malaikat, Maria tidak takut. Maria yang dikandung tanpa dosa telah menjalani hidup yang bebas dan transparan akan kehendak Allah. Maria tidak perlu takut kepada Allah yang telah mengaruniakan keselamatan dan anugerah padanya.

Maria yang selalu taat kepada hukum Taurat Musa pasti telah akrab dengan kisah-kisah pengutusan para nabi atas perintah Tuhan yang disampaikan melalui malaikat. Maka dari itu, Maria pasti sadar bahwa jika malaikat menampakkan diri padanya, pastilah Tuhan mempunyai rencana perutusan bagi dirinya. Hal inilah yang disadari Maria saat ia melihat Gabriel. Saat Maria mendengar salam Gabriel, Maria terkejut dan bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Dengan bertanya mengenai arti salam itu dalam hatinya, Maria sudah bertanya mengenai tugas perutusan apa yang akan ia terima. Ia bersikap sebagai murid Tuhan yang sejati, telinganya siap mendengarkan Sabda Tuhan (bandingkan Yes 50:4-5).

Maria tidak takut kepada perutusan yang akan ia terima. Namun, malaikat Gabriel tetap mengatakan “jangan takut” kepada Maria. Gabriel mengatakan “jangan takut” bukan bermaksud meredakan dan menenangkan ketakutan seperti leluhur Maria. Gabriel berkata “jangan takut” untuk menguatkan hati Maria dalam menerima perutusannya. Walau dikandung tanpa dosa, tidak berarti bahwa Maria tidak memerlukan Tuhan. Justru dalam tugas perutusannya yang maha besar, Maria paling membutuhkan penguatan dan pendampingan Tuhan. Tuhan tidak menginginkan hati Maria dinodai kekuatiran dalam perutusannya. Oleh karena itu, Tuhan menguatkan Maria melalui Gabriel dengan berkata: “jangan takut”. Dalam salam itu, seolah Tuhan mengajarkan pada Maria dengan berkata, “Jangan takut untuk menyerahkan seluruh hidupmu dalam Rencana-Ku. Aku, Tuhan Allah, akan setia mendampingimu”. Dengan dikuatkan oleh salam “jangan takut” itu, Maria kemudian mendengarkan Rencana Tuhan dalam sikap siap, pasrah, dan percaya.

Mari kita lihat kejadian berikutnya. Maria bertanya kepada Gabriel, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami? (Luk 1:34)”. Pertanyaan ini mirip dengan pertanyaan imam Zakharia yang menanyakan bagaimana mungkin istrinya yang mandul dan lanjut usia akan mampu mengandung seperti yang telah difirmankan Tuhan (Luk 1:18). Kedua pertanyaan itu mirip, namun Tuhan menanggapi dengan berbeda. Imam Zakharia menanyakan perasaan itu dengan penuh keragu-raguan, sedangkan Maria menanyakan pertanyaannya dengan penuh rasa pasrah dan percaya. Maka, untuk menunjukkan kepada Zakharia mengenai kekuasaan Tuhan yang Maha Luar Biasa, Zakharia dibuat bisu. Maria tidak perlu diberikan pengajaran seperti itu. Sejak semula, ia telah percaya, maka Gabriel pun menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang dibutuhkan oleh Maria. Gabriel berkata demikian, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” Maria pun dikuatkan kembali dengan perkataan Gabriel selanjutnya yang menyatakan bahwa kuasa Tuhan yang luar biasa sedang terjadi pula pada saudarinya Elisabet yang mengandung di usia tua. Maria dikuatkan dengan bukti nyata atas kehendak Tuhan yang luar biasa. Maria juga mendapat teman seperjalanan dalam rencana Tuhan: seorang ibu yang juga mengandung karena rencana Tuhan yang luar biasa. Dalam peristiwa Gembira yang kedua, kita akan melihat Maria, yang memiliki semangat berbagi yang luar biasa, mengunjungi Elisabet.

Dengan semua Sabda yang menguatkan tersebut telah diterima Maria, Maria lalu mengucapkan fiat-nya yang terkenal. Maria berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Maria siap diutus oleh Tuhan. Maria menggemakan semangat nabi Yesaya setelah menerima Sabda Tuhan: “Ini aku, utuslah aku! (Yes 6:8)”.

Dengan berkata demikian, Maria menyatakan “ya” atas kehendak Tuhan. Sr. Martha Driscoll, OCSO mengaitkan “ya” Maria dengan “ya” Yesus secara indah. Ada “ya” dobel yang ditujukan sebagai reaksi atas kehendak Bapa. Sejak sebelum awal waktu, Yesus telah berkata “ya” pada Bapa-Nya untuk menyelamatkan manusia. “Ya” Maria inilah yang memungkinkan “ya” Yesus memasuki kurun waktu dan menyelamatkan seluruh umat manusia. “Ya” Maria adalah pintu gerbang bagi “ya” Yesus. “Ya” Maria dan “ya” Yesus selalu bersama dan tak terpisahkan sampai Yesus menuntaskan “ya”-Nya di kayu salib sebagai penyerahan kurban yang sempurna kepada Bapa.

Dalam tiap doa Salam Maria yang kita ucapkan saat mendaras Rosario, kita mengulang perkataan Gabriel: Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Dengan mengucapkan salam Gabriel itu, kita mengenangkan rahmat terbesar umat manusia. Kita tidak lagi takut untuk memandang Tuhan. Melalui dobel “ya” kepada Bapa yang diucapkan Yesus dan Maria, kita mampu memandang Tuhan yang menjadi serupa dengan kita. “Ya” Maria telah menjadi pintu bagi Yesus untuk menjadi manusia sehingga kita mampu memandang wajah Allah dalam diri Yesus. Berkat dobel “ya” itu, kita mendapat rahmat luar biasa: Penyelamat yang Ilahi. “Ya” Maria itu pula yang sekarang memampukan kita untuk memandang Tuhan Yesus dalam Ekaristi. Dalam Adorasi Ekaristi, kita mampu memandang Tuhan yang Maha Kuasa yang hadir dalam kesederhanaan hosti yang kecil dan rapuh. Kita dapat melihat Tuhan dengan mata duniawi kita karena Tuhan telah menghapus dosa kita melalui kurban salib. Tuhan telah menghapus dosa nabi Yesaya dengan bara api yang menyentuh bibirnya (Yes 6:7). Dengan menerima Tubuh dan Darah Kristus melalui bibir kita, dosa kita pun telah Dia hapus.

Dengan bercermin pada Maria, kita pun belajar mengucapkan salam itu dalam kaitannya dengan tugas perutusan kita. Setelah mendengar salam Gabriel, Maria siap diutus dengan berkata “ya”. Tuhan juga telah mengutus kita. Setelah kita menerima Tubuh Kristus dalam Misa Suci, kita diberkati oleh Tuhan dan diutus. Dengan mengucapkan salam itu dalam Rosario, kita diajak untuk mendengarkan Sabda Tuhan dan menjawab “ya” atas tugas perutusan kita di dunia. Kita diajak supaya “jangan takut” terhadap berbagai masalah yang menghadang dalam tugas perutusan kita di dunia ini. Kita diajak bersama Maria untuk melangkah pasrah dalam kedahsyatan rencana Tuhan. Bersama Maria, kita diajak untuk membuang kekuatiran kita dalam hidup. Bersama Bunda Maria, kita diajak untuk “jangan takut” mengatakan “ya” pada kehendak Tuhan. Bersama Bunda Maria, kita semua berseru: “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”.

Dipublikasi di Renungan Rosario Peristiwa Gembira | Tag , , , , | Meninggalkan komentar