Membaca Diri dalam Kekecewaan Hidup

Sedikit Basa-basi. Tidak Dibaca Juga Tidak Apa-apa Kok.

Sedikit berbeda dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya, dalam tulisan ini saya memakai gaya sharing pengalaman pribadi. Namun demikian, di bagian akhir saya tetap mencoba menawarkan nilai-nilai universal yang saya pelajari dari pengalaman pribadi tersebut.

Pada mulanya, saya enggan menulis sebuah sharing karena saya tidak terbiasa untuk menulis tulisan jenis ini. Setelah saya mencoba menulis beberapa saat, saya mendapat pencerahan dengan menulis tulisan ini sebagai sebuah pengakuan. Sebuah pengakuan adalah awal untuk mengenal diri sendiri. Sebagian besar, bahkan hampir semua orang yang hidup di dunia ini kadangkala lupa siapa dirinya, atau bahkan tidak (belum) mengenal dirinya sendiri. Mereka (dan termasuk saya juga) sering menipu dan membuai dirinya dengan perisai kebohongan, tipu daya, motivasi semu, permisivitas, dan perisai-perisai lain yang dapat membuat kita merasa “aman”. Melalui pengakuan atas semua yang telah terjadi di masa lalu, baik pemikiran, perkataan, perbuatan, dan kealpaan, diri kita memulai suatu perjalanan panjang nan rumit menuju ke tempat yang paling jauh dan tersembunyi: hati kita sendiri. Oleh karena itu, dalam tulisan pengakuan ini, saya tidak akan sibuk berurusan mengenai hal-hal fisik mengenai riwayat hidup, ciri-ciri fisik, dan hal-hal profan lain. Di sini, saya akan memfokuskan pada apa yang saya yakini, dan saya singgungkan dengan pengalaman hidup pribadi.

Kalau Anda Sungguh Membaca Basa-Basi di Atas, Tentu Anda Seorang Pembaca yang Gigih. Sekarang Saya Masuk ke Inti Cerita.

Saya, seperti yang dapat dilihat dari nama diri saya, beriman pada Tuhan Yesus Kristus dalam Gereja Katolik Roma. Harus saya akui, bahwa aku dibaptis dewasa. Saya mengenal Tuhan saat saya sudah menginjak usia remaja, tepatnya pada kelas 3 SMA. Dan hal itu juga merupakan pergulatan batin yang hebat bagi saya. Sejak kecil saya sudah bersekolah di sekolah Katolik yang bermutu baik dan bahkan ternama di Kota Semarang. Namun, hal itu tidak membuat saya cukup tersentuh untuk mengenal Tuhan lebih jauh. Saya masih angin-anginan dalam beriman dan masih memandang rendah kebutuhan untuk beragama.

Pada awal usia muda, saya selalu dapat berpaling dan bersandar pada lindungan orang lain dalam menghadapi masalah, terutama pada orangtua. Namun pada masa SMA, saya mulai diterpa berbagai masalah yang menuntut saya untuk berpikir dan bertindak lebih dewasa dan mandiri. Pada mulanya saya bertindak sok pahlawan dengan berusaha menyelesaikannya sendiri. Namun, lama kelamaan hal ini menjadi teramat berat bagi saya. Saya merasa diri ini menjadi begitu kecil, begitu tidak berarti. Saya hanyalah serobek fragmen tak berarti dari kerasnya dunia dan kehidupan. Pada saat itulah, saya mulai merasakan kebutuhan akan Tuhan. Klise memang, saya baru sadar bahwa saya membutuhkan Tuhan baru pada saat saya mengalami kesulitan. Namun, saya sangat bersyukur pada Tuhan karena diberi banyak cobaan yang tak bisa saya hadapi sendiri karena dengan demikian, saya dapat bertemu dengan-Nya yang selalu menyapa dan menenteramkan. Lalu, pada tanggal 17 September 2007, saya dibaptis dalam Gereja Katolik dan hari itu selalu saya syukuri sebagai hari yang penuh berkah dalam kehidupan iman pribadi saya.

Setelah dibaptis, saya merasa menjadi manusia yang baru dan merasa hidup saya yang sebenarnya baru saya alami sejak saat itu. Seolah saya terlahir kembali ke dunia dan semua kehidupan saya sebelumnya seolah hanya mimpi dari tidur yang tidak nyenyak. Saat itu, saya bertekad untuk menjadi manusia baru yang lebih baik, lebih berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan Gereja. Tekad ini masih saya simpan dan saya perjuangkan sampai sekarang, namun ternyata dalam perjalanan waktu sampai sekarang, sering sekali tekad itu luntur oleh berbagai godaan duniawi dan lekang oleh kekurangan niat dan semangat dalam diri saya. Bahkan tidak sering saya melakukan berbagai hal yang mengecewakan dan menyimpang dari tekad saya tersebut. Sungguh disesalkan memang, tapi dari kesalahan itu saya tetap mencoba belajar dengan melakukan refleksi diri dan berusaha memperbaiki diri untuk masa mendatang.

Satu kesalahan yang harus saya akui cukup fatal dan banyak membuat saya belajar adalah pada saat saya kecewa pada Tuhan atas doa saya yang menurut saya pada waktu itu tidak dikabulkan oleh Tuhan, bahkan  saya beranggapan saat itu doa saya sama sekali tidak didengarkan oleh-Nya. Hal ini terjadi semasa saya lulus SMA dan sedang mencari perguruan tinggi untuk meneruskan kuliah.

Selepas bangku SMA, saya terbawa euforia oleh teman-teman SMA yang harus saya akui lebih mampu secara finansial dari diri saya. Teman-teman SMA banyak yang melanjutkan ke perguruan tinggi yang bagus dan mahal, bahkan banyak pula yang melanjutkan kuliah di luar negeri. Pada saat itu, saya sudah sadar diri dengan kemampuan saya dan keluarga saya. Namun, dengan penuh harap saya ikut-ikutan mendaftar dengan harapan untung-untungan mendapat beasiswa atau semacamnya. Pada saat itu, saya mendaftar program beasiswa ke Jepang dan Rusia dan juga berencana mendaftar ke beberapa perguruan tinggi negeri di Indonesia, yaitu Universitas Gajah Mada di Yogyakarta dan Universitas Diponegoro di Semarang, kota kelahiranku dan tempat saya hidup selama ini. Sebagai cadangan, saya sebenarnya sudah diterima di Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta saat saya masih duduk di bangku SMA karena saat itu saya mendapat hadiah berupa diterima langsung tanpa tes karena mengikuti lomba di fakultas teknobiologi tersebut dan masuk sebagai finalis. Saat itu semua jurusan yang saya incar adalah jurusan ilmu alam karena saya mempertimbangkan semasa SMA, saya mengambil jurusan ilmu alam. Dapat saya ingat dengan jelas: tiap hari saya bertekun dalam doa dan belajar untuk mencapai ambisi memasuki universitas yang saya harapkan.

Namun, semua impian itu buyar karena saya baru mengetahui bahwa mata saya buta warna. Kelainan ini ternyata kuwarisi dari kakek pihak ibuku. Semua program beasiswa luar negeri yang saya ambil mensyaratkan tidak buta warna, tanpa kecuali. Saat saya mendaftar ke fakultas kedokteran Universitas Gajah Mada, otomatis saya gugur karena kondisi yang saya alami. Cadangan di fakultas bioteknologi juga hilang karena saya otomatis gugur. Dengan kondisi putus asa, akhirnya saya mendaftar di Universitas Diponegoro di jurusan yang dulu sama sekali tidak terpikir: jurusan akuntansi. Walaupun diterima di Universitas Diponegoro di jurusan akuntansi, saya sama sekali tidak bahagia dan bersyukur, justru saya limbung dan hampir putus asa.

Di tengah kekalutan dan perasaan nelangsa itu, saya mencari kambing hitam yang dapat disalahkan, dan celakanya justru saya mulai menyalahkan Tuhan! Dengan bodoh dan teramat bebal saya mulai berpikir bahwa Tuhan sangat tidak adil dan Dialah yang membuat saya terjebak musibah ini. Saya menganggap bahwa semua doa dan usaha saya sia-sia belaka. Singkatnya, saya mulai berpaling dari Tuhan dan masuk ke jurang desolasi. Saya mulai malas menghadiri misa, bahkan enggan sama sekali datang ke gereja.

Selama awal-awal kuliah akuntansi, saya masih meratapi nasib yang saya anggap sungguh malang dan sial. Namun, seiring berjalannya waktu, saya tersadarkan oleh banyak hal, bahwa ternyata hal ini tidaklah seburuk yang saya bayangkan. Saya mulai tertantang dengan berbagai materi kuliah akuntansi yang ada (walaupun kadang juga tidak tertarik). Persahabatan serta suasana pertemanan yang ditawarkan sungguh membuat saya mulai menyukai kuliah akuntansi. Semakin banyak sentilan-sentilan hati yang kini saya sadari dilakukan oleh Tuhan melalui berbagai perantara. Teman-teman, keluarga, teman gereja, pastor, bahkan sepertinya seluruh semesta ikut mendukung dan menyemangati! Selain dari keluarga, dukungan terbesar berasal dari sahabat erat saya di Cakrabyuha. Benarlah kata Prof. Yohanes Surya dalam teori Mestakung: kita harus mencapai kondisi kritis terlebih dahulu sebelum kita merasakan dukungan alam semesta!

Saya mulai kembali rajin mengikuti misa, berdoa, dan aktif dalam kegiatan Gereja. Lalu saya sadar bahwa selama ini Tuhan tidak pernah meninggalkan saya. Tuhan selalu mendampingi, terutama di saat susah.

Yang Saya Dapat dari Pengalaman Ini

Dengan peristiwa itu, saya belajar terutama tiga hal berikut.

Yang pertama, Tuhan seringkali bekerja dengan cara yang tidak kita ketahui. Tuhan seringkali membingungkan kita dengan tidak memberikan apa yang kita inginkan. Namun, sebenarnya Tuhan amat bijaksana. Ia memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Seringkali kitalah yang tidak tahu apa yang kita butuhkan. Kita hanya ingin semua kebutuhan kita terpuaskan tanpa peduli apa yang sebenarnya kita butuhkan. Dengan tidak mengabulkan doa kita, justru Tuhan memberikan apa yang terbaik yang kita butuhkan. Kini saya sering mengucap syukur pada Tuhan dalam semangat yang saya timba dari mistikus St. Ignatius Loyola, “Tuhan, terima kasih Engkau tidak mengabulkan doaku. Ambillah semua kehendakku, bahkan semua yang kumiliki. Biarlah kehendakMu yang terjadi pada diriku.”

Hal kedua yang saya pelajari adalah bahwa saya harus belajar bersikap pasrah dan selalu bersyukur pada Tuhan. Saat saya meratapi keadaan yang menyebabkan saya masuk ke jurusan akuntansi, saya sama sekali tidak bersyukur atas semua yang saya punya, atas semua berkah lain yang telah Tuhan berikan. Saya lupa kalau masih punya keluarga yang utuh, saya lupa masih punya kondisi fisik yang utuh dan tidak cacat, saya lupa masih dapat makan tiap hari, bahkan saya lupa masih diberi anugerah menikmati kehidupan hari demi hari. Saya terjebak pada satu kesedihan dan melupakan semua hal positif yang telah ada pada diri saya. Kini, saya terus berusaha untuk selalu menemukan segala sesuatu dalam Tuhan dan menemukan Tuhan dalam segala sesuatu, seperti yang diajarkan oleh Santo Ignatius Loyola berabad-abad silam. Saya belajar untuk selalu pasrah dan terus bersyukur pada Tuhan dalam kondisi apapun.

Hal ketiga yang saya pelajari adalah tentang doa. Saya belajar bahwa doa bukanlah untuk meminta-minta bak pengemis pada Tuhan, namun doa adalah kebutuhan dasar kita untuk berubah dan menyongsong rencana yang telah ditetapkan Tuhan bagi kita, seperti yang pernah dikatakan oleh Sören Kierkegaard, “Prayer does not change God, but changes him who prays”. Doa adalah niat baik kita berdasar ketaatan kita pada Tuhan untuk selalu percaya padaNya, dan dengan itu kita dikuatkan olehnya. Doa bukan sarana pengabul keinginan, bukan pula mantra manjur yang pasti menyebabkan kita memperoleh segala sesuatu yang kita inginkan. Jika demikian keadaannya, kita hanya akan memanfaatkan Tuhan sebagai alat pengabul keinginan; tidak ubahnya seperti jin pengabul keinginan dalam kisah Aladdin di Seribu Satu Malam yang termashyur itu. Doa yang hanya mengharap imbalan itu adalah doa kepada “tuhan” ciptaan kita sendiri, yang sesuai dengan imajinasi kita tentang sosok Tuhan. Saya belajar bahwa doa adalah sarana kita untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Dengan doa, saya belajar mengucap syukur kepada Tuhan atas apa yang telah Dia berikan. Dengan doa pula, saya dapat memohon rahmat dan karunia penguatan, peneguhan, dan ketabahan yang saya perlukan. Dengan doa, saya berubah dan diubah untuk menjadi lebih baik.

Doa saya adalah bahwa tulisan ini akan bermanfaat bagi yang membacanya, dan terutama bermanfaat bagi diri saya untuk lebih mengenali lebih jauh lagi: siapakah sesungguhnya diri saya ini. Salam. Berkah Dalem. AMDG (Amrih Mulya Dalem Gusti).

Dipublikasi di Sahabat Cakrabyuha, Tentang Doa, Tentang Hidup | Tag , , , , , , , , , , | 6 Komentar

Menyanyikan Misa

Menghidupkan Ritual Misa

Segala macam ritual kaku dalam misa beserta ubarampe yang menyertainya seringkali kita bandingkan dengan tata ibadah saudara kita di Gereja lain yang lebih hidup, dan hasil perbandingan itu sudah terlihat dalam keluhan yang sudah akrab di telinga kita: misa itu membosankan! Padahal, tata perayaan misa kita sudah diperbarui pasca-Konsili Vatikan II. Jika kita menengok ke belakang dan melihat tata perayaan misa lama atau dikenal dengan nama Misa Tridentine yang seluruhnya memakai bahasa Latin, pasti banyak dari kita yang tidak pernah mengalami masa sebelum pemberlakuan tata perayaan misa yang baru akan berkomentar: misa itu sangat membosankan luar biasa!

Dalam tulisan ini, saya tidak membela salah satu bentuk misa. Baik bentuk misa yang kita pakai sekarang ini (forma ordinaria) maupun bentuk misa Tridentine adalah kekayaan rohani liturgis Gereja. Bahkan belakangan ini, bentuk misa Tridentine telah boleh dipakai lagi sebagai forma extraordinaria (bentuk misa yang khusus) dengan surat motu proprio dari Paus Benediktus XVI. Yang ingin saya soroti dalam tulisan ini adalah komentar “misa itu membosankan”, entah dalam bentuk yang lama ataupun yang sudah diperbarui. Mengapa muncul komentar seperti itu?

Salah satu alasan utama yang saya temui adalah karena umat sendiri tidak mengenal apa makna di balik simbol-simbol liturgi yang digunakan dalam misa. Dengan tidak mengenal apa arti ritual dalam misa, jelas saja umat tidak mampu menghayati liturgi dalam misa dengan baik. Dalam rangka mengatasi masalah itu, di bulan Mei yang juga merupakan Bulan Maria, Gereja Katolik Keuskupan Agung Semarang juga menjadikan bulan Mei sebagai bulan katekese liturgi untuk lebih mengakrabkan umat dengan liturgi.

Pengetahuan dan pemaknaan dari umat yang merayakan memang akan sangat membantu umat dalam menghayati liturgi. Namun demikian, upaya dari para petugas liturgi untuk makin menghidupkan misa juga sangat penting. Para petugas liturgi memiliki kewajiban untuk membawa umat makin dekat pada Allah. Maka, berbagai langkah dan upaya dalam rangka menghidupkan misa supaya umat tidak menjadi bosan sebaiknya kita anggap sebagai langkah positif. Tentu saja, upaya menghidupkan misa ini masih harus dalam koridor yang diperbolehkan oleh rubrik (peraturan) liturgi. Sebagaimana diungkapkan oleh Scott Hahn, liturgi adalah salah satu cara Tuhan untuk bertindak sebagai Bapa kita. Sebagaimana seorang ayah yang memberikan beberapa peraturan bagi anaknya dalam hidup di rumah maupun di dalam pergaulan, demikian pula Bapa memberikan rambu-rambu bagi kita dalam liturgi. Kita boleh saja menghidupkan misa, tapi harus dalam rangka untuk mendekatkan umat pada Bapa dalam peraturan liturgi yang diberikan oleh Bapa dalam terang Roh Kudus pada Gereja. Ingat, menghidupkan misa bertujuan supaya umat menjadi makin dekat dengan Bapa, bukan sekedar supaya umat menjadi senang dan tidak bosan.

Tulisan ini saya tulis dengan tujuan untuk sedikit memberikan sumbangsih bagi katekese liturgi dalam perayaan misa dan untuk memeriahkan katekese di bulan katekese liturgi di bulan Mei mendatang. Tulisan ini berusaha menggali dan menambahkan kesuburan kehidupan liturgi dalam misa, terutama dari segi musik liturgi. Semoga tulisan ini dapat membantu umat untuk lebih menghayati misa dan dapat membantu petugas liturgi, khususnya petugas musik liturgi untuk membawa umat makin dekat pada Allah. Dalam bagian awal, tulisan ini berusaha memperkenalkan sedikit mengenai ritual dalam liturgi, kemudian melangkah lebih dalam pada musik liturgi. Bahan tulisan ini sebenarnya adalah bahan presentasi dari Romo C. H. Suryanugraha, OSC dari Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia (ILSKI), Bandung dengan sedikit tambahan dari saya.

 Melihat Struktur Misa

Ada dua bagian utama dalam misa, yaitu Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi, dan dua bagian pendamping: Ritus Pembuka dan Ritus Penutup. Dalam Misa yang normal, bagian utama tak boleh ditiadakan atau dipisahkan, sementara bagian pendamping menyertai mereka. Dalam hal Misa yang digabung dengan unsur liturgis lain (misalnya Ibadat Harian, Misa Arwah dan Pemakaman, dsb), dua bagian utama tetap dipertahankan, sementara bagian pendamping dapat diganti, dikurangi atau ditambah dengan unsur liturgis lainnya itu sesuai dengan kaidah yang berlaku. Jika dijumlah, Liturgi Ekaristi adalah bagian yang mengandung paling banyak ritus, kemudian disusul Liturgi Sabda, baru Ritus Pembuka, dan Ritus Penutup adalah bagian yang paling miskin. Ritual dalam Liturgi Ekaristi amat dominan, karena di situlah puncak perayaan Ekaristi terjadi.

Mencermati Ritual

Satu per satu ritus perlu diperhatikan. Untuk mudahnya, kita pahami di sini bahwa ritual adalah rangkaian ritus-ritus. Jadi, satuan ritus tertentu mempunyai nama sebagai ritual tersendiri. Misalnya kita lihat Ritual Perarakan Masuk. Ritual ini terdiri dari ritus-ritus: berdiri, berarak, menyanyi, mendupai, membungkuk/berlutut, imam mengecup altar.

Biasanya ritual yang penting atau punya bobot lebih, diberi perhatian khusus. Ritual itu diberi sejumlah unsur atau ritus yang tidak sekedar berjumlah satu atau dua. Dengan demikian, durasi waktu yang dibutuhkan juga bisa menggambarkan bagaimana seharusnya ritual itu diperlakukan. Misalnya, kita dapat melihat Ritual Bacaan Injil:    untuk menampilkan bahwa bacaan Injil lebih penting daripada bacaan pertama atau kedua, maka sebelum, ketika, dan setelah membawakan Injil ada sejumlah ritus mengisinya yaitu: ada Bait Pengantar Injil, ajakan, tanda salib, pendupaan, Injil yang dibacakan/dinyanyikan, dan bacaan Injil dikecup oleh imam. Hal-hal ini akan mudah dilakukan jika kita pun memahami makna dan tujuan setiap ritualnya. Ada beberapa ritual yang mempunyai alternatif atau bisa diganti, yang tentunya punya makna dan maksud yang sama dan selaras. Contoh beberapa ritus yang bisa diganti adalah ritus tobat bisa diganti percikan air suci, mengganti Doa Syukur Agung dengan Doa Syukur Agung tematis, dan ritus damai.

Berikut adalah grafik yang menunjukkan bagaimana bobot ritual menanjak dan memuncak dalam liturgi Ekaristi, dan kemudian menurun lagi sampai ke ritus penutup. Dapat kita lihat bahwa liturgi Ekaristi adalah liturgi puncak yang memiliki 20 ritus yang dapat dipecah lagi menjadi tiga bagian besar. Perhatikan pula bagian grafik yang diberi nomor 1, 2, dan 3. Nomor itu menunjukkan keparalelan antara tindakan liturgis yang dilakukan dalam misa dengan tindakan Yesus sendiri saat menetapkan Ekaristi dalam Perjamuan Terakhir. Tindakan liturgis ditulis dengan huruf berwarna biru di bawah grafik, sedangkan tindakan Tuhan Yesus ditulis di bawahnya dengan tulisan hitam.

Membedakan Jenis-jenis Misa

Setiap jenis Misa mensyaratkan aturan-aturan yang bisa berbeda, tidak selalu sama pada setiap bagiannya. Kita perlu membedakannya berdasarkan beberapa hal:

  1. Berdasarkan masa liturgi: Adven, Natal, Prapaskah, Paskah, Biasa.
  2. Berdasarkan tingkat perayaan: Hari Raya (Solemnitas, dalam kalender liturgi disingkat HR), Pesta (Festum, dalam kalender liturgi disingkat Pest.), Peringatan Wajib (Memoria obligatoria, dalam kalender liturgi disingkat Pw), Peringatan Fakultatif (Memoria ad libitum, dalam kalender liturgi disingkat PFak), Hari Biasa (De ea, dalam kalender liturgi disingkat H.Biasa).
  3. Berdasarkan bentuk atau rumus Misa: Misa ritual (= dengan sakramen lain), misa arwah, misa konselebrasi, misa hanya dengan satu pelayan.

Menyanyikan Misa

Ini sekedar upaya untuk memperlakukan segala aturan, makna, maksud yang terkandung dalam Misa. Kita mau keluar dari kebiasaan memperlakukan Misa yang hanya dibaca, tanpa nyanyian sama-sekali, bahkan tanpa usaha sedikit pun untuk membuat Misa terasa hidup, menarik, terpetik buah-buahnya. Singkatnya, kita mau mengubah kebiasaan “menyanyi dalam misa” (singing at Mass) menjadi “menyanyikan misa” (singing the Mass). Ungkapan ini memiliki dua segi yang saling melengkapi dan harus dipahami secara utuh.

Pertama, ungkapan menyanyikan Misa jangan dimengerti secara hurufiah, sehingga semua bagian dianggap harus dinyanyikan dengan aturan-aturan musikal segala. Menyanyikan Misa berarti membuat Misa ibaratnya suatu nyanyian, mungkin malah semacam “opera” atau pentas musikal yang tidak 100 % melulu nyanyian, di mana ada bagian yang dinyanyikan ada pula yang diucapkan, bahkan diperagakan atau malah diam, hening. Atau, lebih baik, Tata perayaan Misa kita lihat dulu sebagai layaknya suatu partitur atau teks nyanyian. Kunci atau nada dasarnya adalah berdasarkan jenis-jenis Misanya (Adven, Hari Raya, dan sebagainya).

Kedua, agak hurufiah, tapi tetap tidak lantas setiap bagian harus dinyanyikan. Prinsipnya, bagian-bagian yang maksudnya memang harus dinyanyikan, sebaiknya juga diperlakukan dengan semestinya. Hal ini tentu saja harus melirik makna dan fungsi nyanyian itu sendiri dalam Misa. Harus juga diketahui makna dan maksud ritualnya. Jadi, teks harus selaras dengan konteks. Nyanyian harus seiring dengan maksud ritualnya. Jika ritualnya menuntut perlakuan yang khusus, mungkin tak cukup hanya diiringi atau dibawakan dalam nyanyian, tapi juga dihiasi tata gerak atau bahkan tarian (misalnya doksologi Doa Syukur Agung, prosesi Kitab Injil, dan sebagainya).

Musik Liturgi Gereja Katolik Roma

Musik liturgi Gereja Katolik Roma diatur dalam banyak dokumen Gereja, beberapa di antaranya yaitu dokumen berjudul Musica Sacra (selanjutnya disingkat MS) dan dokumen Konsili Vatikan II tentang Liturgi yaitu Sacrosanctum Concilium (selanjutnya disingkat SC). Sebagai catatan, penomoran setelah singkatan dokumen menunjukkan penomoran bagian/artikel dalam dokumen terkait.

Lalu, apa itu musik liturgi? Menurut MS 4, pengertian musik liturgi adalah:

  • Musik yang digubah untuk perayaan liturgi suci.
  • Dari segi bentuknya memiliki suatu  bobot kudus tertentu.
  • Kategori: Gregorian, polifoni suci, musik liturgi untuk organ/alat musik yang sah, musik liturgi rakyat.

Ciri khas musik liturgi sejati adalah:

  • Bisa untuk paduan suara besar atau kelompok koor kecil
  • Peluang untuk partisipasi aktif jemaat
  • Syair harus selaras dengan ajaran Katolik; ditimba dari Alkitab dan sumber-sumber liturgi. (SC 121)

Dari pengertian dan ciri khas musik liturgi tersebut, dapatlah kita simpulkan bahwa beberapa praktik penggunaan musik liturgis dewasa ini telah melenceng dari relnya. Penggubahan lagu-lagu nongerejawi yang diganti kata-katanya dengan kata-kata gerejawi tidak lantas menjadikan lagu tersebut menjadi lagu liturgis. Perlu juga diperhatikan, terdapat beberapa perbedaan antara lagu liturgis dengan lagu rohani. Lagu rohani adalah lagu yang memuat tema mengenai kehidupan rohani, namun tidak selalu bermuatan liturgis sehingga tidak selalu dapat digunakan dalam misa. Pemilihan lagu liturgi rakyat tidak dapat diambil sembarangan dari lagu rohani biasa. Perlu ada beberapa kriteria yang harus dipatuhi dalam memakai lagu rohani dalam liturgi. Beberapa gerakan seperti Karismatik mungkin lebih longgar dalam memilih lagu dan musik liturgi, tapi alangkah baiknya bila kaidah-kaidah yang dikemukakan dalam tulisan ini tetap dipatuhi.

Pentingnya musik liturgi diungkapkan dalam MS 5 yang mengatakan bahwa musik liturgi berperan penting dalam:

  • Musik liturgi berperan sebagai doa yang diungkapkan secara lebih menarik (bersifat dekoratif). Mari kita ingat pepatah bahasa Latin yang berbunyi “Bene cantat bis orat” yang memiliki arti: bernyanyi dengan indah adalah dua kali berdoa. Dengan demikian, kata-kata dalam syair serta makna yang terkandung di dalamnya pada hakikatnya adalah lebih penting daripada keindahan notasinya.
  • Misteri liturgi, yang sedari hakikatnya bersifat hirarkis dan jemaat, dinyatakan secara lebih jelas dalam musik liturgi (bersifat diferensiatif)
  • Kesatuan hati dapat dicapai secara lebih berkat perpaduan suara (bersifat unitatif)
  • Hati lebih mudah dibangkitkan ke arah hal-hal surgawi berkat keindahan upacara kudus yang dihiasi dengan musik liturgi yang indah (bersifat transendental)
  • Seluruh perayaan dengan lebih jelas mempralambangkan liturgi surgawi yang dilaksanakan di kota suci Yerusalem baru (bersifat eskatologis).

Dalam MS 6, disebutkan penggunaan musik liturgis dengan baik:

  • Pengaturan perayaan liturgis secara tepat menuntut pembagian yang tepat dan penampilan fungsi-fungsi tertentu
  • Bagian-bagian yang sedari hakikatnya menuntut nyanyian, hendaknya dinyanyikan dengan mempergunakan jenis serta bentuk musik yang selaras dengan corak khasnya.

Berdasarkan MS 9, 10, dan 11, kriteria mutu untuk memilih dan membawakan musik liturgis yang baik adalah:

  • Diperhitungkan kemampuan mereka yang harus menyanyikannya
  • Sesuai dengan jiwa perayaan liturgis itu sendiri
  • Selaras dengan hakikat bagian setiap bagian dan tidak menghalangi partisipasi aktif dari umat.
  • Selayaknya bentuk perayaan dan tingkat partisipasinya bervariasi sebanyak mungkin
  • Sesuai dengan kemeriahan pesta dan keadaan umat yang hadir.
  • Kemeriahan sejati musik liturgis pertama-tama tidak tergantung semata-mata pada indahnya nyanyian atau bagusnya upacara, tapi pada makna dan perayaan yang memperhitungkan keterpaduan perayaan liturgis dan pelaksanaan setiap bagian sesuai ciri-ciri khasnya. Seperti diungkapkan sebelumnya, kata-kata dan makna syair lagu liturgis harus diutamakan. Dengan demikian, artikulasi (pengucapan) dan cara membawakan lagu liturgis harus mendukung kejelasan kata-kata dalam musik tersebut. Umat harus mampu mendengarkan dengan jelas kata-kata yang disampaikan. Beberapa contoh yang bertentangan dengan kaidah ini: pemazmur membawakan syair dengan terlalu banyak vibrasi vokal sehingga kata-katanya sulit didengar dengan jelas, alat musik dimainkan terlalu keras sehingga menutupi kata-kata syair.
  • Bertentangan jika ada bagian musik liturgis yang wajib dinyanyikan dihilangkan, diubah, atau dibawakan dengan tidak semestinya. Contoh yang paling jelas dalam hal ini adalah pelarangan penggunaan beberapa lagu “Bapa Kami” yang tidak sesuai dengan teks liturgisnya, seperti Bapa Kami gaya Waltz, Bapa Kami dengan teks tambahan “bebaskan, bebaskan”, dan lain-lain.

Menurut SC 26 dan MS 13, perayaan-perayaan liturgis adalah perayaan seluruh Gereja, yaitu umat yang disatukan oleh uskup atau imam (dalam hal ini, uskup atau imam memegang peranan khusus). Dengan melihat hakikat perayaan liturgis sebagai perayaan bersama (bukan perayaan imam dan petugas liturgi semata), maka umat juga harus berperan serta dalam perayaan liturgi, juga termasuk dalam musik liturgi. Berdasarkan MS 15, 16, 17, dan 19, peran serta umat dalam liturgi adalah sebagai berikut:

  • Umat menunaikan peranan liturgisnya dengan partisipasi penuh, sadar, dan aktif, baik secara batiniah maupun secara lahiriah
  • Selain berperan aktif seperti ikut serta menyanyi dan menjawab aklamasi, umat juga diajar untuk memadukan diri secara batin dengan apa yang dinyanyikan oleh petugas atau koor (dengan kata lain: mendengarkan).
  • Partisipasi aktif umat dapat digalakkan lewat: Aklamasi, jawaban terhadap salam imam/pembantunya, doa-doa litani, antifon, mazmur, ayat ulangan, madah, kidung, serta bagian-bagian nyanyian yang menjadi hak mereka
  • Beberapa nyanyian umat dapat diserahkan pada koor saja asal umat tidak merasa dikucilkan.
  • Umat perlu saat-saat hening (tidak ikut menyanyi bersama dengan koor), dengan didukung oleh syarat dan kondisi: 1) Umat tidak diperlakukan sebagai orang asing atau penonton yang bisu, 2) Nyanyian liturgis membawa umat untuk disatukan secara lebih intim dalam misteri yang sedang dirayakan, 3) Umat dibawa untuk menghayati keterbukaan hati yang mendalam akan Sabda, doa, dan lagu.

MS 19 dan 24 menyoroti secara khusus mengenai paduan suara atau koor. Koor adalah petugas liturgi yang menjadi satu bagian dengan umat, namun perlu mendapat perhatian khusus karena bertugas membawakan secara tepat bagian-bagian yang dipercayakan kepadanya. Dengan demikian, anggota koor perlu mendapat pembinaan musik, liturgi, dan rohani yang memadai.

Mengenai alat musik liturgi, SC 20 dan MS 62-65 mengangkat beberapa hal penting terkait penggunaan alat musik dalam liturgi sebagai berikut:

  • Dalam Gereja Latin, orgel pipa hendaknya dijunjung tinggi sebagai alat musik tradisional.
  • Alat musik lain dapat juga dipakai asal sesuai dan dapat disesuaikan dengan: 1) Fungsi kudusnya, 2)  keanggunan gedung gereja, dan 3) membantu memantapkan liturgi.
  • Untuk penggunaan alat musik lain, perlu diperhitungkan: 1)  kebudayaan dan tradisi masing-masing bangsa, 2) alat musik yang menurut pendapat umum hanya cocok untuk musik sekular (musik nongerejawi) haruslah sama sekali dilarang penggunaannya untuk perayaan liturgis dan devosi umat, 3) alat musik tersebut memenuhi tuntutan perayaan liturgis, 4) alat musik tersebut membantu menyemarakkan liturgi, dan 5) alat musik tersebut membantu memantapkan jemaat.
  • Penggunaan alat musik ditujukan untuk: 1) dukungan untuk membantu para penyanyi, 2) memudahkan partisipasi umat, 3) menciptakan kesatuan hati yang mendalam antar jemaat, 4) perlu diperhatikan bahwa bunyi alat musik tidak menenggelamkan suara para penyanyi (kata-kata harus bisa ditangkap). Kita harus kembali menyadari bahwa dalam musik liturgi, kata-kata dalam syair lagu dan arti yang terkandung di dalamnya adalah harus diutamakan terlebih dahulu daripada keindahan lagu maupun alat musik pengiringnya.
  • Alat musik tidak untuk mengiringi bagian yang dibawakan imam/petugas yang memang tidak seharusnya diiringi alat musik, terutama saat doa.
  • Alat musik dapat dimainkan secara instrumental untuk Misa pada bagian: awal, sebelum imam sampai di altar, pada persiapan persembahan, pada komuni dan akhir perayaan.

Unsur-unsur Musikal dalam Misa

Berikut adalah ritus-ritus yang dapat mengandung musik liturgi, baik diiringi dengan alat musik maupun dinyanyikan (oleh koor bersama umat, koor saja, atau oleh pemimpin liturgi):

  1. Perarakan Masuk
  2. Pernyataan Tobat – Kyrie
  3. Gloria/Kemuliaan
  4. Doa Pembuka
  5. Bacaan-bacaan dari Alkitab
  6. Mazmur Tanggapan
  7. Bait Pengantar Injil
  8. Pernyataan Iman
  9. Doa Umat
  10. Persiapan Persembahan
  11. Doa Persiapan Persembahan
  12. Prefasi – Sanctus
  13. Doa Syukur Agung
  14. Bapa Kami
  15. Ritus Damai
  16. Pemecahan Roti – Agnus Dei
  17. Perarakan Komuni
  18. Doa Sesudah Komuni
  19. Berkat – Pengutusan
  20. Perarakan Keluar

Memilih Nyanyian untuk Misa

Nyanyian perlu dipilih dan disertakan untuk mengiringi Misa. Fungsi nyanyian itu sendiri seharusnya dimengerti secara benar, tidak sekedar mengisi kekosongan atau menghiasi antara bagian Misa.

[A] Jenis-jenis Nyanyian Misa

1. Aklamasi  

Aklamasi adalah seruan atau pekik sukacita seluruh jemaat sebagai tanggapan atas sabda dan karya Allah. Aklamasi terdiri dari:

a. Bait Pengantar Injil  (Alleluia).

b. Sanctus (Kudus), diawali prefasi (dinyanyikan ataupun tidak) oleh Imam

c. Aklamasi Anamnesis, yaitu bagian setelah konsekrasi di mana imam mengajak umat untuk mengenangkan misteri iman: wafat, kebangkitan, dan kedatangan Kristus yang kedua. Aklamasi diawali dengan seruan/ajakan Imam (dinyanyikan ataupun tidak)

d. Amin Meriah, yaitu bagian akhir Doa Syukur Agung. Amin Meriah diawali dengan nyanyian doksologi Doa Syukur Agung oleh Imam.

e. Doksologi Bapa Kami, yaitu bagian akhir doa Bapa Kami yang berbunyi “sebab Engkaulah Raja yang mulia dan berkuasa untuk selama-lamanya. Dapat diawali dengan embolisme (nyanyian sisipan) oleh imam.

2. Nyanyian Perarakan

Nyanyian perarakan berkaitan dengan “menyambut” simbol kehadiran Kristus, dan meningkatkan kesadaran akan persekutuan. Ada antifon khusus perarakan dalam Misale Romawi.

a. Perarakan Masuk

b. Perarakan Komuni

3. Mazmur Tanggapan   

Mazmur tanggapan dinyanyikan untuk menanggapi sabda Allah, selaras dengan tema bacaan Misa.

4. Nyanyian “Ordinarium (Baru)”  

Merupakan pilihan lepas, kadang boleh diucapkan saja.

a. Kyrie  (Tuhan, Kasihanilah Kami)

b. Gloria  (Kemuliaan)

c. Doa Tuhan “Bapa Kami”  [ + ajakan dan embolisme Imam serta doksologi Jemaat atau + tanpa embolisme ]

d. Agnus Dei  (Anak Domba Allah): Pemecahan Roti

e. Credo  (Aku Percaya)

5. Nyanyian Tambahan  

Nyanyian tambahan tidak dituntut oleh teks liturgi/ritus khusus, boleh dinyanyikan oleh koor saja.

a. Persiapan Persembahan

b. Madah/Doa Syukur sesudah Komuni

c. Penutup/Perarakan keluar

d. Litani

[B] Memilih nyanyian menurut tingkat perayaan

Berikut adalah aturan pemilihan nyanyian menurut tingkat perayaan. Cara penulisan di bawah ini mengacu pada penomoran pada bagian sebelumnya, yaitu bagian [A] Jenis-jenis Nyanyian Misa. Sebagai contoh, bila ditulis yang wajib dinyanyikan adalah 1a, maka yang dimaksud adalah bagian 1 (Aklamasi), huruf a (bait pengantar Injil/Alleluia).

  1. Hari Minggu/Hari Raya:  1, 2, 3, 4, 5 (semua dinyanyikan)
  2. Pesta:  1, 2, 3, 4 (kecuali 4 e), 5 (kecuali 5 b, d)
  3. Peringatan (Wajib/Fakultatif):  1, 2, 3, 5 (kecuali 5 c,d)
  4. Hari Biasa:  1 (kecuali 1 a), 3
Semoga kita makin mampu menghayati misa dan menimba rahmat yang berlimpah dalam Ekaristi.
Berkah Dalem.

Dipublikasi di Tentang Perayaan Ibadat | Tag , , , , , , , , , , | 2 Komentar

Apa Itu Doa?

Dalam tulisan ini, saya membagikan pengalaman dan pengetahuan saya setelah mengikuti Kursus Kompendium Katekismus Gereja Katolik di Gereja Katedral Semarang. Bahan mengenai doa ini dibawakan oleh Br. Nicolaus, FIC dan saya menambahkan beberapa hal. Beberapa hal yang sama tambahkan berasal dari diskusi dengan sahabat sesama mantan Cakrabyuha, Mas Ferry Adriawan Pramono, S.E.

Bagi orang beriman, doa adalah suatu kebutuhan yang mutlak dilakukan. Kita sudah akrab dan fasih mengucapkan dan melafazkan rentetan doa dan pujian pada Tuhan. Namun, ada banyak tantangan dalam berdoa. Kadang kita merasa bahwa kita sama sekali kosong, tidak tahu harus mengucapkan apa di dalam doa kita. Kita merasa diri kita berada dalam keadaan yang jauh dari Tuhan, sebuah kondisi yang disebut St. Ignatius Loyola sebagai desolasi. Kadang kita berdoa dengan pikiran dan hati yang lebih berpusat kepada karya kita pribadi daripada karya Allah (ingat doa si orang Farisi di Luk 18: 9-14). Hati kita harus terbuka terhadap inspirasi dan bimbingan yang diberikan-Nya sebab Dia lebih tertarik pada perkembangan dan pertumbuhan doa kita daripada pandangan kita terhadap diri kita sendiri.

Dalam berdoa, tidak seorangpun dapat mengajari kita bagaimana cara berdoa selain Roh Kudus sendiri (Roma 8:26). Maka sebelum kita berdoa, sungguhlah perlu bagi kita untuk memohon bimbingan Roh Kudus. Dalam terang Roh Kudus, kita akan mengetahui, mendalami, dan menghayati doa dengan lebih baik. Dalam terang semangat untuk lebih mengenal doa, tulisan ini mengungkap beberapa pemikiran mengenai doa.

1.    Berdoa Merupakan Aktivitas Iman

Iman menjadikan doa kita lebih mudah. Modal dasar kita dalam berdoa adalah dengan memiliki iman.  Iman membantu kita untuk berdoa dengan mengarahkan seluruh perhatian dan kesadaran kita kepada Tuhan yang selalu hadir dengan sepenuh hati di dalam kehidupan kita. Dengan berbekal iman, kita dapat melangkah melampaui persiapan awal untuk menemui Tuhan.

Segala sesuatu yang dapat membantu kita bertumbuh dalam beriman juga akan membantu kita tumbuh dalam semangat berdoa. Kita dapat berdoa lebih mesra di saat mengalami kesulitan sebab di saat itu iman kita akan kasih Allah sedang diuji dan berkembang. Sebaliknya, pada saat seseorang kehilangan imannya ketika menghadapi kesulitan, mereka berhenti berdoa. Bagaimana ia akan mampu berkomunikasi dengan Allah pada saat tidak beriman?

Tanpa iman, kita kehilangan kemampuan untuk berdoa. Kita ibaratkan saja seperti seseorang yang tidak bisa melakukan percakapan melalui handphone karena tidak ada sinyal. Demikian pula dengan doa: kita tidak akan mampu melakukan percakapan melalui doa karena tidak ada iman.

2.    Berdoa Berarti Melakukan Hubungan Pribadi

SBY, Presiden Indonesia saat ini, adalah orang paling penting nomor satu di Indonesia. Bayangkan bila kita mau bertemu dengan SBY. Kita harus mempunyai kedudukan atau kepentingan yang maha besar, harus membuat janji dan prosedur yang rumit, harus ini dan harus itu.

Maka, betapa menakjubkannya kita bisa berkomunikasi dengan Tuhan, Pribadi yang paling penting dan berkuasa di jagad raya ini tanpa harus melalui prosedur yang rumit. Cukup melalui doa, kita bisa berkomunikasi secara akrab, intim, dan mesra dengan Tuhan. Tuhan bisa kita temui dalam doa di manapun, kapanpun, dan dalam kondisi apapun.

Justru kadang kita yang menjadi terlalu sibuk, terlalu banyak kepentingan dan keperluan, atau sekedar terlalu malas untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Seakan kacang lupa akan kulitnya, kita lupa dengan Dia yang telah menciptakan kita dan mencukupi kebutuhan kita. Namun, Tuhan Allah selalu sepenuhnya tersedia tiap saat bagi kita saat kita membutuhkan-Nya.

Kadang pula kita menganggap doa sebagai ritual kosong. Saat berdoa, kita hanya menggumamkan kata-kata hafalan tanpa benar-benar menghayatinya. Kita lupa bahwa doa bukan merapal japi-japi atau mantra. Doa adalah bentuk komunikasi dua arah, antara Tuhan yang menganugerahkan kasih dan kita yang menanggapi kasih Allah tersebut. Maka sungguh benar perkataan St. Josemaria Escriva, doa orang Kristen tidak pernah menjadi monolog. Dalam doa, kita mengucap syukur dan memohon pada Tuhan. Dalam doa, kita juga mendengarkan sapaan Allah kepada kita.

3.    Doa Merupakan Anugerah

Dengan menyadari bahwa doa adalah sarana komunikasi kita dengan Tuhan, kita akan menyadari bahwa doa adalah anugerah. Bagaimana mungkin ciptaan melakukan komunikasi dengan pencipta-Nya kalau sang Pencipta tidak memberikan kemungkinan untuk itu? Bagaimana mungkin kita dapat mencapai hadirat-Nya tanpa pertama-tama Dia yang lebih dahulu mendatangi kita?

Ini berarti berdoa merupakan anugerah khusus. Kita hanya dapat datang ke hadirat-Nya karena Dia mengundang kita semua. Tuhan Allah adalah Sang Pemberi dan kita adalah penerima pemberian. Tuhan Allah yang pertama-tama selalu berinisiatif, memberikan diri-Nya sendiri sehinga kita kemudian dimungkinkan untuk mempersembahkan diri kepada-Nya sebagai jawaban. Doa dimungkinkan karena Allah menghendakinya dan Dia menganugerahkan iman kepada kita sehingga terjadilah doa.

4.    Doa Mengantar Ke Persatuan Dengan Allah

Tujuan terpenting dalam berdoa adalah persatuan erat dengan Allah. Persatuan dengan Allah hanya dapat terlaksana pada saat Sang Pencipta memberikan diri-Nya sebagai anugerah kepada ciptaan-Nya. Mahluk ciptaan tidak dapat mengusahakan persatuan ini betapa keras atau sempurna usahanya.

Doa tidak berarti apa-apa tanpa mengantarkan ke persatuan makin erat dengan Allah. Waktu yang kita luangkan untuk berdoa, kata-kata yang kita ucapkan, dan upaya kita menciptakan suasana hening yang mengantar kita kepada penyerahan diri ke hadirat-Nya, semua tertuju ke satu hal terpenting yakni untuk bersatu dengan Dia. Bahkan sewaktu mengucapkan doa permohonan, kita mengarahkan hati kita kepada pengharapan akan pemberian-Nya. Pengharapan kita pada Tuhan memperdalam rasa kebergantungan, pasrah, dan percaya kepada-Nya, dan hal ini menghasilkan kedekatan hubungan pribadi kita dengan Tuhan Allah. Inilah yang menjadi prioritas utama kita, kebersatuan kita dengan Allah. Hal yang kita minta sebenarnya harus mendapat kedudukan nomor dua, karena kita percaya bahwa Tuhan akan selalu menyediakan apa yang kita butuhkan.

Ada banyak alat bantu yang tersedia bagi kita dalam berdoa, seperti rosario, gambar dan patung kudus, litani, novena, dan macam-macam kekayaan warisan doa dalam Gereja. Alat bantu dalam berdoa merupakan sarana yang dimaksudkan membantu kita mengarahkan perhatian kita kepada Allah. Perlu diperhatikan bahwa jika kita terlalu terikat kaku pada cara-cara, kata-kata doa, buah pikiran, atau bahkan gambaran kita mengenai Allah; alat bantu tersebut bisa menjadi gangguan dalam berdoa. Sebagai ganti berjumpa dengan Allah Sang Pencipta, kita ternyata hanya akan berjumpa dengan ciptaan-ciptaan saja. Hal ini dapat terjadi bahkan dalam hal-hal kecil, misalnya dengan menjadikan rosario sebagai jimat bukannya alat bantu doa.

Pernah saya mendengar cerita tentang seorang teman yang akan menghadapi ujian. Di lehernya tergantung sebuah rosario. Ketika ditanya mengapa ia memakai rosario di lehernya, ia dengan yakin menjawab bahwa jika ia memakai rosario di lehernya maka ia pasti akan lulus ujian. Setelah ditanya lebih jauh, ternyata ia tidak menggunakan rosario itu untuk berdoa, tapi lebih mirip sebagai jimat. Ia percaya bahwa rosarionya akan membantunya lulus ujian. Bahkan tiap kali ia bertemu seorang imam, ia selalu minta imam itu untuk memberkati rosarionya. Katanya, biar lebih manjur. Pendapat teman itu saya pandang sebagai pemikiran yang keliru. Ia akan lulus ujian jika ia belajar dengan rajin dan memohon pertolongan Tuhan. Rosario dapat dipakai sebagai sarana untuk memohon. Namun, bila rosario sudah dijadikan jimat, jelas itu sudah termasuk pada pemberhalaan benda-benda duniawi.

5.    Doa Merupakan Pengalaman Kasih Allah dan Pengungkapan Cinta Kita kepada Allah

Kita telah mengetahui bahwa doa adalah anugerah tak terhingga dari Allah bagi kita. Allah memberikan anugerah itu karena Dia mengasihi kita, Tuhan mencintai kita semua. Pengalaman berada di hadirat Allah dalam doa merupakan pengalaman dicintai. Kesadaran diri dicintai Allahlah yang menyembuhkan dan memerdekakan kita sehingga kita menjadi bebas untuk berbalik mencintai Dia.

Dalam cinta, kita dapat berseru kepada Allah dengan sebutan Bapa. Dialah yang pertama-tama memenuhi kita dengan Roh Cinta Kasih-Nya. Dalam cinta-Nya, Allah menjadi Bapa kita dan kita anak-anak-Nya (Roma 8: 14-15). Hanya Allahlah yang dapat melakukannya, Allahlah yang pertama-tama berinisiatif.

Selama berdoa, kita dapat menjadi lebih menyadari anugerah Allah berupa pemberian cinta-Nya. Selanjutnya kita dapat dengan bebas menjawabnya dengan ucapan terimakasih sebagai balasan. Beato Paus Yohanes Paulus II mengingatkan agar kita hadir di hadapan Allah dan mewartakan kasih, tetapi di atas semua itu, hendaklah memberikan diri untuk dicintai Allah. Maka, bila kita tidak rela meluangkan waktu dan tidak dengan rendah hati mempersembahkan diri kita ke dalam cinta-Nya, kita akan kehilangan kesempatan untuk menerima anugerah yang terbaik yang mungkin kita terima.

6.    Doa adalah Ungkapan Iman

Bayangan kita mengenai doa yang aktif biasanya dilukiskan penuh kata-kata, permohonan, dan ungkapan syukur. Memang, pengulangan kata-kata indah dalam doa dapat sangat memuaskan kita yang mengucapkannya, apalagi bila kita mampu menyusun sendiri untaian kata-kata doa yang indah. Kita akan merasa lebih senang bila sesuatu telah terlaksana, doa kita terwujud, mukzizat telah terjadi. Sesuatu telah terjadi sebab kita merasa telah melaksanakan sesuatu. Tapi, kita harus ingat bahwa sesuatu terjadi bukan karena doa kita indah, bukan karena doa kita manjur. Kita harus ingat bahwa doa dan pemberian adalah anugerah Allah. Bahkah, tidaklah mungkin kita dapat berdoa dengan aktif tanpa anugerah iman.

Namun doa yang aktif tidak hanya mengenai kata-kata kita sendiri. Doa adalah dialog, sehingga kita perlu memberikan kesempatan bagi Tuhan untuk menyapa balik kita dalam doa. Maka, ada bagian dari doa di mana kita bersikap diam dan hening. Kita tahu bahwa dalam percakapan, diam dan hening diperlukan supaya kita dapat menerima dan mendengarkan kata-kata orang yang kita ajak berbicara. Demikian pula dengan doa: kalau kita masih sibuk dengan kata-kata kita sendiri, kita tidak akan dapat mendengarkan kata-kata Tuhan.

Keheningan adalah konsep yang indah, namun tidak semudah yang dibayangkan. Sering terjadi, keheningan eksternal justru menunjukkan keriuhan pikiran dan hati. Artinya, walaupun mulut kita diam dan badan kita tidak beraktivitas, pikiran dan hati kita akan langsung melanglang buana. Ketika kita diam, entah kita akan melamunkan pikiran remeh ataupun mengkhawatirkan urusan-urusan kita. Sikap diam hening ternyata sulit dilakukan.

Iman yang sangat besar dibutuhkan di dalam sikap doa menerima dan mendengarkan, sebab sikap ini menekankan kehadiran kita di hadirat Allah. Dalam sikap doa ini, mungkin sangat kecil ada tanda-tanda bahwa sedang terjadi sesuatu. Dalam keheningan doa, kita membuka diri bagi anugerah Allah yang terbesar yakni kasih-Nya. Dibutuhkan iman yang teguh untuk mampu menyerahkan diri kepada kasih Allah dan hanya hadir di hadirat-Nya, khususnya ketika tidak ada tindakan yang berlandaskan pada perasaan.

Jika doa membutuhkan iman yang besar, maka doa juga membutuhkan kerendahan hati mendalam guna mempersembahkan semua hal yang ada dalam pikiran dan hati kita. Kita hanya dapat terbuka terhadap komunikasi serupa itu bila kita berniat mengurbankan dan mempersembahkan aktivitas kita  untuk menjadi lebih sadar dan percaya pada cinta Allah. Kini, kita berdoa dengan menjadi lebih mau memberikan perhatian dan menjadi peka terhadap tindakan  Allah.

7.    Dalam Doa, Sebenarnya Allah dan Roh-Nya yang Membimbing dan Mengarahkan Kita

Segala sesuatu yang baik berasal dari Allah. Cinta, devosi, rindu akan Allah, atau segala yang alami dan mengandung nilai kebaikan di dalamnya, itu adalah anugerah Allah. Kita tidak mengupayakan hasil dari pengalaman ini. Upaya dan cara-cara kita hanyalah membantu kita menjadi lebih terbuka terhadap rencana pemberian Allah bagi kita.

Tentulah sering kita berpikir, kitalah yang melakukan semuanya itu. Tetapi orang beriman yang rendah hati menyadari bahwa Allahlah yang selamanya aktif terus melanjutkan karya-Nya memberikan inspirasi bagi segala hal yang baik yang kita lakukan. Baik dalam doa maupun dalam aktivitas, kita membutuhkan kesadaran iman bahwa Allah masih berkarya. Mulai dari awal, tengah, sampai akhir, segala yang kita lakukan kita pastilah bekerjasama dengan inspirasi Allah. Dengan kesadaran yang sama, kita juga menyadari bahwa apapun yang baik dari kita merupakan jawaban dan tanggapan terhadap rahmat Allah (lihat Fil 1:6, 2:13, dan Yakobus 1:17). Tanpa bantuan-Nya segalanya sia-sia belaka. Dalam kehidupan nyata kita perlu berdoa dan bekerja seperti kita mempercayai Allah yang bersabda, ”Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:5b)

Sedikit tambahan, semangat di atas juga dipakai dalam Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang 2011-2015 sebagaimana terliha di alinea terakhir Arah Dasar (untuk melihat Arah Dasar tersebut, klik link di bawah ini). Semangat yang sama juga digemakan dalam doa resmi gereja Liturgia Horarum atau Ibadat Harian (brevir) yang dibuka dengan kalimat, ”Ya Allah, bersegeralah menolong aku! (lihat Mzm 22:19)“.

http://pujasumarta.multiply.com/journal/item/301/Maklumat_Arah_Dasar_Umat_Allah_Keuskupan_Agung_Semarang_2011-2015

8.    Berdoa berarti dimiliki Allah dan membiarkan diri diubah oleh-Nya

Diri kita selalu ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Perkembangan pribadi yang baik dalam kacamata iman adalah perkembangan dari manusia duniawi kepada manusia rohani. Untuk mencapai hal ini, kita harus mau untuk berubah. Namun dalam diri kita ada selalu keterbatasan akan kehendak kita untuk mengubah diri sendiri. Tidaklah demikian dengan Allah, bagi Allah tidak ada yang mustahil. Bila pada awalnya Dia dapat menciptakan kita, maka Dia juga dapat menciptakan kita menjadi baru bila kita mau bekerjasama dengan-Nya.

Pertumbuhan pribadi ini terjadi lebih-lebih karena dipenuhi dan dipengaruhi Roh Allah yang dicurahkan kepada kita sebagai anugerah. Kerinduan kita mengenal diri sendiri kita upayakan dengan teknik psikologi atau usaha kita mengubah diri. Hal ini adalah baik karena merupakan karya Allah yang mencurahkan Roh Kudus ke dalam diri kita. Namun perlu diperhatikan bahwa pertumbuhan ini terjadi lebih efektif dalam suasana doa, pada waktu kita lebih terbuka bagi kehendak Allah yang memang harus terjadi  dalam diri kita.

Gambaran indah mengenai Allah yang mengubah dan membuat kita menjadi baru dapat kita lihat dalam Yehezkiel 36:25-47. Dalam perikop itu, kita melihat bahwa hanya Allah yang berkuasa bertindak dalam diri kita. Dia akan memancarkan air yang jernih dalam diri kita. Dia akan membersihkan kita dari kenajisan dan berhala-berhala kita. Dia akan memberikan hati baru dan mencurahkan Roh Ilahi ke dalam batin kita. Dia mengambil hati yang membatu dan memberikan  kepada kita hati yang mendaging. Dia akan menempatkan Roh-Nya yang kudus dalam diri kita.

Apakah ini berarti yang kita perlukan hanyalah duduk dan menanti sampai semuanya itu terjadi? Adakah ladang yang dengan sendirinya ditumbuhi tanaman panenan? Allah akan membantu mereka yang membantu dirinya sendiri. Upaya kita dalam memperkembangkan diri sendiri berupa menggali, menaburkan, mengolah tanahnya dan menyianginya; sisanya akan dilakukan Allah sendiri (lihat 1 Kor 3:6-7)

Ada cerita apik dari Anthony de Mello mengenai hal ini. Tersebutlah seorang tua berjenggot yang jenggotnya terbakar akibat kejatuhan abu rokoknya, tapi si tua justru diam. Sang istri segera ribut, panik, memarahi suaminya yang diam saja, dan mengambilkan air untuk memadamkan api di jenggot suaminya. Si suami tua berjenggot dengan jengkel berkata pada istrinya, “Tidakkah engkau lihat bahwa aku sedang berdoa pada Tuhan supaya Ia memadamkan api di jenggotku!”

9.    Doa berarti mempersembahkan waktu

Terkadang ada orang yang mengatakan berdoa merupakan pemborosan waktu secara sia-sia. Perkataan “pemborosan waktu” bernada negatif. Dari uraian di atas, dapat kita lihat bahwa doa adalah anugerah luar biasa indah dari Tuhan. Namun demikian, memang terkadang kita merasakan bahwa doa tidak menjadi prioritas utama kita. Masih ada banyak hal lain yang kita rasa lebih penting. Mungkin akan membantu kita lebih menghargai doa dengan berkata bahwa berdoa adalah suatu bentuk pengorbanan – persembahan waktu dari kita bagi-Nya.

Di dalam Perjanjian Lama (lihat kitab Imamat bab 1-3), bentuk korban yang paling sempurna adalah korban bakaran, yaitu korban sembelihan yang dibakar habis sebagai persembahan. Binatang korban dipilih secara hati-hati dan cermat, baik itu biji-bijian, buah, atau ternak yang terbaik. Selanjutnya korban dibakar habis sepenuhnya dimakan api untuk sepenuhnya dipersembahkan kepada Allah. Bentuk korban di bawah korban bakaran adalah korban sajian dan korban keselamatan di mana persembahan itu tetap ditujukan bagi Allah, tapi setelah itu bagian dari korban itu masih ada untuk dimakan.

Kedua persembahan terakhir tadi tidaklah sesempurna korban bakaran, sebab yang membuat korban sempurna yakni yang dipersembahkan. Korban sajian dan korban keselamatan itu lebih merupakan simbol, sedangkan dalam korban bakaran, persembahan  itu sangatlah nyata. Segalanya sungguh dipersembahkan kepada Allah dan orang yang melakukan korban bakaran itu sama sekali tidak menerima pengembalian apapun juga.

Salah satu hal yang berharga dari kita yang lebih berharga daripada biji-bijian, buah-buahan, atau hewan yang terbaik adalah waktu kita. Dengan menyediakan (baca: mengorbankan) waktu untuk berdoa, kita sesungguhnya telah mempersembahkan sesuatu yang sangat berharga bagi Allah.  Sama seperti korban bakaran yang seluruhnya terbakar habis dan tidak ada sisa yang bisa diambil lagi, waktu yang kita korbankan dalam doa tidak dapat kita ambil lagi. Seluruh waktu tersebut menjadi pengorbanan kita.

Berdoa itu perlu, tidak hanya karena apa yang akan kita peroleh darinya, tetapi karena doa merupakan sarana untuk mempersembahkan sesuatu yang khusus kepada Allah. Dalam doa, kita kembalikan kepada Allah waktu kita yang telah dipercayakan-Nya kepada kita setiap hari. Pujian polos anak-anak di sekolah Minggu menangkap dengan jelas esensi mempersembahkan waktu pada Tuhan: “Dari terbit matahari sampai pada masuknya, biarlah nama Tuhan dipuji!” (bandingkan Mzm 113:3).

Berkah Dalem

Dipublikasi di Tentang Doa | Tag , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar

HAPPY BIRTHDAY ANDRE aka ANTO!

Dipublikasi di Sahabat Cakrabyuha | Meninggalkan komentar

Memperdalam Doa dengan Adorasi Ekaristi

Buku tulisan St. Josemaria Escriva

Doa

Salah satu buku favorit saya adalah Camino, sebuah buku kecil yang ditulis oleh St. Josemaria Escriva. St. Josemaria Escriva adalah pendiri gerakan Opus Dei, sebuah gerakan religius internasional yang mendadak menjadi terkenal setelah kena fitnah di buku fiksi Dan Brown yang berjudul Da Vinci Code. Di tulisan ini, saya tidak sedang berusaha membahas Opus Dei ataupun tentang novel fiksi Da Vinci Code. Saya ingin membahas sebuah kutipan singkat dari St. Josemaria Escriva tentang doa. Kutipan St. Josemaria Escriva berbunyi sebagai berikut: doa adalah senjata utama dalam kehidupan sehari-hari.

Saat saya membaca kutipan tersebut, serentak saya teringat akan para rahib di Rawaseneng. Sepertinya kehidupan mereka sudah berdasar prioritas yang benar seperti dikatakan oleh St. Josemaria Escriva. Kehidupan harian mereka juga bahkan sudah ditata sehingga kehidupan doa selalu menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditinggalkan.

Bagaimana dengan para imam yang berkarya di masyarakat dan para awam? Kehidupan harian kita tidak begitu tertata seperti para rahib Rawaseneng. Dalam kehidupan harian kita yang selalu sibuk akan hal-hal duniawi, kita ditantang untuk menyediakan waktu sejenak untuk bertegur sapa dengan Tuhan dalam doa. Seringkali untuk mengingatkan kita, dipakai kutipan dari Tuhan, “Dapatkah engkau berjaga satu jam saja lamanya?”

Saya lantas teringat akan kehidupan doa yang saya lakukan selama ini. Memang tiap hari saya berdoa dan membaca Kitab Suci, serta sedapat mungkin mengikuti misa harian. Namun, selama ini tidak ada prioritas akan hal itu. Seolah doa bukanlah suatu hal utama yang menjadi kebutuhan, namun sekedar menjadi kewajiban yang rutin. Seringkali yang terjadi adalah kita (termasuk saya sendiri) tidak menyediakan waktu; kita hanya menyempatkan waktu di satu hari untuk berdoa. Seolah berdoa adalah sebuah sisipan dalam sebuah rutinitas yang jauh lebih penting dari berdoa. Seakan kita lupa pada siapa Pencipta kita, dan siapa pula yang telah memberikan waktu dan hari pada kita.

Aku teringat pada lagu yang sangat populer dinyanyikan dalam perayaan Paska: “Haec dies quam fecit Dominus! Exultemus et laetemur in ea! Alleluia! Alleluia!” Bait dalam bahasa Indonesia berbunyi: Terpujilah Tuhan Mahakuasa! Mari kita sukaria bergembira! Alleluia! Alleluia!

Sebenarnya, kalau mau diterjemahkan dari bahasa Latin secara persis, kita akan mendapatkan teks Mazmur 118 yang lebih populer menjadi lagu anak-anak. Terjemahannya kira-kira seperti ini: “Hari ini adalah hari yang telah dijadikan Tuhan. Mari kita bergembira dan bersuka ria di dalamnya!”

Versi lagu anak-anak yang populer berbunyi: Hari ini, hari ini, harinya Tuhan, harinya Tuhan! Mari kita, mari kita bersukaria, bersukaria! Hari ini harinya Tuhan, mari kita bersukaria! Hari ini, hari ini harinya Tuhan.

Tuhanlah yang telah menciptakan hari, Ia yang menciptakan waktu. Kita diberinya dengan cuma-cuma. Mengapa kita tidak dapat mengembalikan apa yang diberikan pada kita dengan gratis ini? Seminggu ada tujuh hari, dan satu hari ada dua puluh empat jam. Berapa banyak dari waktu tersebut yang kita berikan kembali pada Tuhan? Apakah hanya dua jam dalam seminggu saat kita mengikuti misa hari minggu? Kadang kita pergi ke gereja dan mengikuti misa bukan karena kesadaran, tapi karena menganggap misa sebagai kewajiban. Kadang pula kita menggerutu pada saat misa ketika homili Romo amat sangat panjang dan membosankan. Bahkan, kadang beberapa di antara kita sengaja mencari Gereja yang Romonya berkotbah sebentar saja pada saat misa sehingga kita bisa pulang lebih cepat. Apakah kita tidak merasa malu pada Tuhan yang telah begitu berbaik hati memberikan waktu dalam kehidupan kita? Apakah kita tidak sadar bahwa Tuhan hadir dan menyapa kita secara pribadi dan langsung dalam Ekaristi?

Adorasi Ekaristi

Paroki Hati Kudus Yesus Tanah Mas Semarang

Beato Paus Yohanes Paulus II dalam surat Ecclesia de Eucharistia (2003) berpetuah: “Hanya datang ke Misa dan menyambut Tubuh Kristus satu kali per minggu tidaklah cukup!”

Beliau lalu menawarkan jalan supaya kita bisa lebih akrab dengan Tuhan dan dapat lebih menghargai Ekaristi. Dalam surat yang sama, Beliau berkata: “Adorasi Ekaristi merupakan perpanjangan dari Ekaristi dan merupakan implementasi dari Duc in Altum dalam kehidupan menggereja.  Melalui Adorasi Ekaristi Abadi, umat di ajak untuk membangun relasi yang lebih dalam dan intim dengan Yesus Kristus, Tuhan kita. Sehingga pada akhirnya, umat menjadi semakin rindu untuk bersatu dengan Yesus setiap harinya dalam perayaan Ekaristi. Ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan Kristiani.”

Puji Tuhan di kota tempat saya tinggal, Semarang, telah memiliki Kapel Adorasi Ekaristi Abadi di Paroki Hati Kudus Yesus Tanah Mas. Di Keuskupan Agung Semarang telah memiliki beberapa Kapel Adorasi Ekaristi Abadi yang sering disebut dengan nama beken Kapel Adeka. Setahu saya, paroki yang memiliki Kapel Adeka terbanyak di Keuskupan Agung Semarang adalah di Klepu dengan total tiga Kapel Adeka. Beberapa Kapel Adeka di Keuskupan Agung Semarang yang saya kumpulkan infonya dari internet sampai pada saat tulisan ini ditulis (Januari 2012) adalah:

  • Kapel Adeka di Paroki Hati Kudus Yesus Tanah Mas, Semarang
  • Kapel Adeka di tempat ziarah Gua Maria Kerep Ambarawa
  • Kapel Adeka Fransiskus Xaverius di Paroki St. Petrus dan Paulus Daratan, Klepu
  • Kapel Adeka di Gua Maria Jatiningsih, Klepu
  • Kapel Adeka Santo Yohanes Chrysostomus Stasi Pojok, Klepu
  • Kapel Adeka di paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran, Yogyakarta
  • Kapel Adeka di paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran
  • Kapel Adeka di Paroki Santa Maria Assumpta Klaten
  • Kapel Adeka di paroki Yohanes Evangelista Kudus

sumber: laman Keuskupan Agung Semarang di http://www.kas.or.id/ dan blog Mgr. Puja di http://pujasumarta.multiply.com/

Bagaimana dengan daerah keuskupan Anda? Apakah ada Kapel Adeka yang dekat dengan lingkungan tempat tinggal Anda? Jika ya, pergunakanlah kesempatan yang berharga itu untuk mengenal Tuhan. Jika belum ada, Anda dapat berdoa dan menggalang upaya untuk mengadakan Kapel Adeka di paroki Anda.

Dalam Adorasi Ekaristi, kita dapat mengenal lebih dekat dan memperdalam kehidupan doa kita. Kita biarkan Yesus yang hadir dalam roti kecil putih tak berasa untuk menuntun kita makin akrab dengan Diri-Nya. Beberapa tips yang dapat Anda lakukan dalam melakukan adorasi dapat Anda lihat di berbagai tulisan, seperti di laman http://katolisitas.org/2010/03/29/adorasi-sakramen-maha-kudus/

Yang menjadi pertanyaan dari Tuhan bagi kita: mampukah kita berjaga bakti di Kapel Adeka satu jam lamanya?

Mari makin akrab dengan Tuhan dalam doa dan adorasi Ekaristi!

Berkah Dalem

Dipublikasi di Tentang Doa | Tag , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar

Saya Tidak Setuju dengan Optimisme

Saat ini tentu banyak beredar tulisan-tulisan motivasi populer, biografi tokoh-tokoh sukses zaman sekarang, dan buku-buku self-help yang membahas nilai-nilai persaingan dan pembuktian diri. Dari tulisan-tulisan itu, saya merasakan bahwa di zaman sekarang ini, nilai-nilai yang dihargai di masyarakat adalah optimisme, selalu melihat dan membidik ke atas, jadilah yang terbaik selalu, dan kemapanan finansial. Nilai-nilai tersebut memang sepintas bagus. Tapi, apakah memang demikian adanya?

Saat saya melihat kisah hidup Yesus dan para orang kudus, ternyata ada nilai-nilai kekatolikan yang menurut saya sangat kontras dengan nilai-nilai yang dianggap tinggi pada zaman sekarang.

Yang pertama adalah optimisme. Saat membaca buku kecil Renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi Tahun 2010 Keuskupan Agung Semarang yang lalu, saya terkaget-kaget bahwa optimisme sebenarnya bukan sifat Kristianitas sejati. Optimisme identik dengan kecenderungan percaya pada kondisi masa depan akan lebih baik dan mengandalkan bahwa usaha kita sendiri pasti akan menimbulkan hasil yang baik di masa depan. Hal ini jelas salah karena kita tidak dapat mengetahui pasti masa depan akan menjadi seperti apa, dan mengandalkan usaha manusia semata tidaklah mungkin. Optimisme dalam bentuk paling kasar sering  saya bayangkan sebagai optimisme orang-orang yang membangun Menara Babel, yang pada akhirnya justru hancur-lebur.

Sikap Kristen yang baik tidaklah memandang suram pada masa depan. Kita jelas punya motto terkenal: carpe diem, artinya raihlah hari ini. Kita tetap harus yakin dan bekerja keras, namun semua didasari dengan sikap yang disebut “penuh pengharapan”. Sepintas memang tidak berbeda dengan optimisme, tapi setelah kurenungkan, maknanya memang jauh berbeda. Orang-orang zaman sekarang justru lebih menyukai optimisme, dan kata “Insya Allah” seringkali justru menunjukkan keragu-raguan atau ketidakpastian. Banyak buku motivasi dan motivator di TV juga menekankan kata-kata, “Saya bisa! Kita bisa! Kita pasti bisa!” Menurut saya, kata-kata itu hanya separuh benar. Kata-kata yang lebih mengena adalah kata-kata Konstantinus saat akan maju perang, “In hog signo vinces! Dalam tanda (salib) ini, kita akan menang!”

Yang kedua adalah tentang selalu melihat dan membidik ke atas dan menjadi yang terbaik. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan pada diri saya. Kecenderungan untuk selalu melihat dan membidik ke atas dan menjadi yang terbaik akan lebih meningkatkan kompetisi dan bukannya kolaborasi, dan menjadi yang terbaik terutama dalam kompetisi akan membahayakan kita dalam dosa kesombongan. Hal ini bukan berarti bahwa ajang kompetisi atau perlombaan adalah jelek. Selama motivasinya benar dan kompetisinya adil serta sportif, maka ajang kompetisi justru sangat baik untuk mengembangkan diri. Yang perlu diperhatikan adalah motivasinya: apakah berlomba demi mempersembahkan yang terbaik, atau justru ingin menang demi pembuktian diri dan menjatuhkan lawan? Jika kompetisi didasari pada semangat yang pertama, maka kompetisi itu sungguh sangat layak menjadi sarana untuk mengembangkan dan memperbaiki diri. Jika didasari motivasi untuk memberikan usaha yang terbaik, maka pihak yang menang akan tetap rendah hati, pihak yang kalah akan belajar untuk memperbaiki diri di bidang yang masih kurang tanpa ada rasa dendam dan sakit hati. Lain halnya jika kompetisi itu didasari oleh motivasi pembuktian diri dan menjatuhkan lawan. Semua pihak akan menghalalkan segala cara, pihak pemenang akan semena-mena, pihak yang kalah akan menderita malu dan mendendam.

Tidak semua dalam hidup juga harus menjadi kompetisi. Saya teringat perkataan Mgr. Suharyo dulu: jika ada yang menang dan menjadi pemenang, maka selalu akan ada pihak yang kalah dan dikalahkan. Lebih baik pendekatan yang mengedepankan win-win solution, semua pihak adalah pemenang. Pendekatan ini lebih mengedepankan kolaborasi demi memenuhi kebutuhan semua pihak yang berkepentingan. Semua merasa senang dan puas tanpa ada pihak yang dirugikan secara sepihak.

Ketidaksetujuan saya pada sikap ingin menjadi yang terbaik bukan berarti mengatakan bahwa kita tidak boleh menjadi yang terbaik. Kita memang harus mencurahkan yang terbaik dari akal budi, waktu, tenaga, dan sumber daya untuk segala hal yang dipercayakan pada kita, tapi bukan berarti kita harus mengejar untuk memiliki hasil yang terbaik. Biarlah hasil akhir menjadi milik Tuhan. Biarlah nama-Nya yang dimuliakan, bukan nama kita. Hasil akhir yang terbaik adalah bonus dari Tuhan, bukan tujuan utama yang kita incar.

Hal yang terakhir adalah tentang kemapanan finansial. Menurut saya, inilah jebakan modernisme. Kita bahagia bila kita punya uang. Kita bahagia bila punya segalanya. Yesus sendiri berkata, “Apa gunanya punya seluruh dunia bila kehilangan nyawamu?” Kebahagiaan kita yang definitif hanya ada dalam Tuhan!*

Mari menjadi pribadi yang penuh harapan, sportif, mengedepankan kolaborasi, dan selalu setia dalam Tuhan!

Berkah Dalem

*untuk lebih jauh mengenai topik ini, lihat tulisan saya di https://mantancakrabyuha.wordpress.com/2012/01/04/usaha-manusia-yang-mencoba-mengenal-tuhan/

Dipublikasi di Tentang Hidup | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Panggilan Hidup

Spesialis dan Generalis

Sejauh yang saya tahu, para ahli dalam ilmu pengetahuan terbagi menjadi dua golongan, yaitu ahli spesialis dan ahli generalis. Seorang ahli spesialis adalah seseorang mengetahui segala sesuatu tentang sesuatu (knows everything about something). Di sisi lain, seorang ahli generalis adalah seseorang yang mengetahui sesuatu tentang segala sesuatu (knows something about everything). Seorang spesialis mendalami suatu bidang sampai mendalam, sementara seorang generalis tidak mendalami suatu bidang secara mendalam namun memiliki pengetahuan yang merata di banyak bidang. Ibaratnya, seorang spesialis adalah seseorang yang membuat salah satu kepingan jigsaw puzzle sampai pada detail kepingan yang terkecil; sementara generalis adalah orang yang mengumpulkan kepingan jigsaw puzzle buatan para spesialis lalu menyatukannya. Tentu saja, tidak berarti bahwa seorang generalis hanya tahu sedikit sekali mengenai hal-hal acak. Seorang generalis tetap biasanya memiliki kompetensi dan pengetahuan dasar di bidang tertentu, namun memiliki pengetahuan lain yang sangat luas dan beragam selain dari kompetensinya. Pola spesialis-generalis ini sangat bermanfaat dalam dunia ilmu pengetahuan dan dalam kompetensi profesi.

Mudah kita bayangkan seperti apa seorang spesialis itu. Bayangan kita bisa berawal dari dokter spesialis, sampai para profesor yang ahli dalam bidang-bidang tertentu. Namun, seorang generalis belum sering terdengar di masyarakat kita. Ada beberapa contoh yang dapat saya sebutkan. Contoh pertama adalah tentang para ahli yang pergi dalam suatu ekspedisi ilmiah yang pernah saya tonton dalam suatu film dokumenter. Di rombongan itu terdapat ahli-ahli spesialis seperti ornitolog (ahli burung), entomolog (ahli serangga), ahli zoologi paleontologi (ahli hewan purbakala), dan beberapa ahli spesialis lain. Namun di dalam rombongan itu juga terdapat ahli-ahli generalis seperti biolog (ahli biologi secara umum) yang bertugas menyatukan dan menemukan hubungan dari hasil penelitian para ahli spesialis itu. Tugas sang biolog sangat beragam, seperti misalnya mencari hubungan antara spesies serangga yang endemik di hutan tertentu dengan keberadaan burung yang berevolusi khusus untuk memakan serangga itu. Tentu saja si biolog memiliki kompetensi dan pengetahuan mengenai biologi secara umum, namun ia juga memiliki pengetahuan yang luas mengenai cabang-cabang biologi yang didalami rekan-rekannya.

Contoh lain yang dapat saya sebutkan adalah seorang wartawan. Wartawan secara umum biasanya haruslah seorang generalis. Ia harus menguasai banyak topik supaya dapat mengajukan pertanyaan yang tepat pada narasumbernya. Bila ia mewawancarai seorang ahli, ia tidak harus menguasai bidang yang hendak dibahas terlalu dalam karena jatah untuk menjelaskan lebih dalam ada di tangan narasumber yang ahli spesialis. Tentu saja, sang wartawan harus menguasai kompetensi dasar jurnalistik sebelum mengembangkan pengetahuannya dengan lebih luas lagi.

Indonesia Belum Akrab dengan Generalis

Sistem pendidikan konvensional di Indonesia (sayangnya) memulai pendidikan dengan memaksa anak-anak untuk menjadi generalis dengan memberikan banyak sekali mata pelajaran di tingkat dasar, namun kemudian dengan penjurusan yang baru ada di tingkat SMA, SMK, dan universitas memaksa para murid untuk menjadi seorang spesialis. Memang memberikan banyak mata pelajaran di awal sekolah memberikan kesempatan bagi para murid untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka. Namun dengan adanya sistem penilaian mutlak yang menyamaratakan bakat dan minat mereka membuat tujuan pemberian banyak mata pelajaran menjadi kabur.

Mirip halnya dengan pemaksaan menjadi spesialis di tingkat pendidikan tinggi. Di Indonesia, semua mahasiswa sepertinya diarahkan untuk menjadi spesialis. Kesempatan untuk dual degree di luar negeri sangat luas, sementara di Indonesia sangat jarang ada. Di luar negeri, mahasiswa juga diberi kesempatan untuk mengambil jurusan kuliah mayor dan minor. Mereka tetap memfokuskan diri pada mata kuliah mayor mereka, namun boleh pula belajar sedikit di jurusan minor mereka. Maka tidaklah heran bila seorang mahasiswa Amerika misalnya berkata bahwa ia mengambil kuliah matematika sebagai mata kuliah mayor dan hukum sebagai mata kuliah minor. Hal ini tidak lantas membuatnya menjadi seorang generalis, bisa saja ia adalah seorang spesialis. Mungkin saja hasrat terbesarnya adalah memang matematika, sedangkan hukum diambilnya untuk mencegah kebosanan semata. Bila ia sungguh generalis, maka ia akan mendalami kuliah hukum dengan semangat yang sama dengan kuliah matematika.

Pola Hidup Awam-Selibat dalam Kacamata Generalis-Spesialis

Pola generalis-spesialis juga dapat kita gunakan dalam memandang dan menghayati panggilan hidup awam-selibat. Dalam hal ini harus saya tegaskan dahulu bahwa saya melihat hubungan ini dari pola peran yang ada dan dalam cara hidup, bukan dalam minat ilmu pengetahuan. Saya tidak mengatakan bahwa seorang imam harus memiliki minat belajar spesialis, atau awam harus seorang yang generalis. Dalam hal selibat versus awam, kemiripan yang  saya lihat di sini adalah bahwa jika dilihat dari luar dan secara garis besar, hidup selibat itu seperti seorang spesialis, sementara hidup awam itu seperti seorang generalis; tapi awam adalah generalis yang jauh lebih berat daripada generalis dalam contoh-contoh yang  saya sebutkan sebelumnya.

Seorang imam adalah seorang spesialis: ia membaktikan hidupnya semata demi mendekatkan diri pada Tuhan dan melayani sesama. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa banyak imam yang multitalenta dan memiliki kemampuan lebih sehingga seolah memiliki aspek hidup seorang generalis seperti Rm. Magnis Suseno SJ (filsuf, dosen, humanis), Rm. Sindhunata SJ (wartawan, sastrawan humanis), Rm. Mangun (arsitek, humanis, pendidik), dan banyak lainnya. Mereka memang sebenarnya adalah seorang generalis, namun generalis dalam minat dan ilmu pengetahuan saja. Namun dalam pandangan saya, mereka tetap bersifat spesialis dalam hidup dengan hanya memiliki satu peran utama dalam hidup dan terfokus hanya pada satu tujuan saja, yaitu mereka adalah imam dan bertujuan untuk dekat pada Tuhan dan sesama. Kita dapat menyebut Rm. Magnis sebagai seorang imam yang juga seorang filsuf, tapi kita tidak dapat begitu saja menyebut Beliau sebagai seorang filsuf belaka. Jika kita menyebut Beliau sebagai seorang filsuf, kita tidak dapat tidak menyebut dia sebagai seorang filsuf yang juga seorang imam. Hakikat seorang imam selalu melekat pada dirinya. Semua karya, pemikiran, dan tindakannya sebagai seorang filsuf selalu diwarnai dengan imamat yang ia miliki karena sebagai seorang filsuf yang imam, ia selalu menjadi filsuf dengan berangkat dari kenyataan bahwa ia adalah seorang imam. Prioritas dalam semua sikap hidupnya adalah seorang imam. Misalnya saja, ketika Rm. Sindhunata tiba-tiba dipindahtugaskan oleh superiornya, ia harus siap dan taat untuk diutus ke tempat perutusan yang baru. Ia tidak bisa menolak dengan beralasan sekarang menjadi direktur pelaksana sebuah majalah. Prioritasnya tetap adalah menjadi seorang imam.

Lain halnya dengan hidup seorang awam. Ia adalah seorang generalis, tapi dituntut untuk sempurna dalam semua bidang hidupnya dan tidak boleh mencampuradukkan masing-masing bidang hidupnya. Untuk gampangnya, saya membayangkan hidup seorang hakim pengadilan karena dapat dibuat sebagai contoh ekstrem. Saya membayangkan seorang hakim beragama Katolik yang sukses dalam karier dan mempunyai keluarga yang bahagia dengan istri yang cukup satu saja dan beberapa anak. Kalau diurai satu per satu, maka dapat diurai perannya dalam hidup. Ia adalah seorang hakim, ia adalah seorang Katolik, ia adalah seorang suami, dan ia adalah seorang ayah. Terlihat dari peran-peran itu bahwa ia adalah seorang generalis, namun ia justru dituntut untuk sempurna dalam setiap tugas dan peran hidupnya. Ia diharapkan untuk perfect all around. Yang repot adalah bila terjadi konflik kepentingan maupun konflik peran.

Sekarang misalnya saja, anak si hakim ini terlibat kasus pidana pencurian. Sebagai seorang ayah, mungkin sekali ia merasa bersalah karena gagal mendidik anaknya dan ia ingin melindungi anaknya dari hukuman penjara. Namun sebagai seorang hakim, ia tentu dituntut untuk membiarkan proses pengadilan berjalan sebagaimana mestinya. Ia harus memilih salah satu peran dan mengorbankan yang lain. Misalnya, ia membiarkan anaknya dihukum. Tentu sebagai ayah ia akan dicap sebagai ayah yang gagal mendidik anaknya dan tega menjebloskan anaknya ke penjara. Namun sebagai seorang hakim, ia akan dianggap sebagai hakim yang adil. Antara peran sebagai ayah dan peran sebagai hakim harus lepas dan terpisah. Contoh lain misalnya: seorang dokter yang harus mengoperasi anaknya sendiri, Presiden SBY yang harus membiarkan besannya sendiri dipenjara karena kasus korupsi, dan masih banyak lagi.

Kedua Panggilan Hidup Itu Sama-Sama Baik

Ternyata, hidup seorang awam juga berat. Selama ini saya selalu membayangkan bahwa hidup selibat sungguh sangat berat. Hidup selibat harus mengucapkan dan menghidupi janji kemurnian, kesucian, dan ketaatan. Kenyataannya, hidup menjadi awam juga tidak semudah yang saya bayangkan karena lebih mudah timbul konflik peran dalam diri pribadi. Tentu saja menjadi imam tidak juga bebas dari konflik peran dan kepentingan, namun sekiranya tidak akan seberat konflik peran seorang awam karena seorang imam hanya akan punya satu peran utama. Tentu saja seorang imam juga masih memiliki peran sebagai seorang teman bagi imam lain, sebagai seorang anak dari ayah dan ibunya, sebagai seorang kakak atau adik di keluarganya, sebagai seorang sepupu di keluarga besarnya, dan masih banyak lagi. Namun, peran seorang imam yang utama adalah tetap sebagai seorang imam. Dalam pemahaman saya, hal ini adalah salah satu alasan mengapa Yesus berkata bahwa barangsiapa tidak meninggalkan segala sesuatu di belakang untuk mengikuti Dia, sebaiknya tidak mengikuti Dia; dan bukan dalam arti denotatif sempit yang mengatakan seolah Yesus mengajarkan kita untuk menjadi anak durhaka. Hal ini dikatakannya dalam banyak kesempatan, satu yang sangat kuingat adalah kepada seorang yang hendak mengikuti Dia namun hendak menguburkan bapanya terlebih dahulu.

Hidup selibat memang menawarkan cara yang lebih langsung dan lebih intim kepada kebahagiaan Ilahi. Dengan mengeliminasi berbagai macam kemungkinan yang akan menghalangi kita dan membawa kita berputar-putar sebelum menemukan wajah Tuhan, hidup selibat ibarat jalan tol dibanding dengan hidup sebagai awam. Kemungkinan kecil terjadi konflik peran, terlebih kemelekatan pada hal-hal duniawi sudah dijauhkan, dan akan ada banyak waktu, kesempatan dan sarana untuk semakin dekat dengan Allah. Tentunya setelah sangat dekat dengan sang Ilahi sendiri, kita akan dipenuhi kebahagiaan sampai meluap-luap sehingga siap untuk membagi roti itu dengan sesama ataupun untuk menjadi setia dalam tugas harian (tergantung apakah menjadi imam diosesan atau ordo/konggregasi dengan karisma yang khas seperti kontemplatif). Sama seperti roti yang telah dipilih dan dibagi, semua imam yang sudah sangat dekat dengan yang Ilahi sendiri kemudian harus siap dipecah dan dibagi.

Panggilan untuk bentuk hidup sebagai awam juga memiliki sisi kemuliaannya sendiri. Umat awam dipanggil untuk menjadi murid Kristus di tengah dunia. Umat awam ditantang untuk menghayati panggilan menjadi garam dan terang dunia dalam kehidupannya sehari-hari. Hidup sebagai awam dapat kuibaratkan dengan jalan raya biasa dengan banyak jalan memutar, lampu merah, dan banyak pengamen. Memang tujuannya sama yaitu kepada Tuhan, namun mungkin membutuhkan waktu dan perjuangan yang lebih. Dalam waktu dan perjuangan untuk menempuh rintangan di jalan awam, kita akan mendapat banyak pengalaman dan perjumpaan yang indah. Mungkin kita akan berjumpa dengan jodoh kita di sana, mungkin akan mendapat keturunan. Akan ada banyak kenyamanan dalam hidup awam dengan kepemilikan harta benda. Bahkan, tanpa umat awam, tidak mungkin Gereja dapat hidup! Siapa yang akan menyokong kebutuhan Gereja sehari-hari?

Singkatnya, panggilan hidup menjadi awam tidak lebih baik ataupun lebih buruk dari panggilan hidup selibat. Semuanya memiliki tantangan dan keindahan masing-masing. Yang lebih penting daripada sibuk menanyakan dan membandingkan mana yang lebih baik adalah: sudahkah kita menghayati dan menghidupi panggilan kita masing-masing dengan sepenuh hati, jiwa, dan raga?

Mari bersyukur atas panggilan hidup kita!

Berkah Dalem!

Dipublikasi di Tentang Hidup | Tag , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar