Allah yang Menyapa dan Selalu Menyapa

Pengantar

Setelah jeda beberapa lama dan beberapa tulisan, akhirnya saya mampu menyelesaikan tulisan ini, yang sebenarnya sudah lama saya niatkan untuk saya tulis. Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan saya yang berjudul “Usaha Manusia yang Mencoba Mengenal Tuhan”. Dalam tulisan sebelumnya, saya membahas mengenai manusia yang dengan akal budinya mencoba mengenal Tuhan dan menggali hubungannya sebagai pribadi dan seluruh kemanusiaan secara utuh dengan Tuhan. Tulisan tersebut berakhir dengan sebuah pernyataan bahwa diskusi hubungan antara manusia dan Allah Tuhannya belumlah selesai karena baru membahas dari segi usaha manusia yang pasti takkan sempurna. Saya katakan demikian: “Namun perlu diingat, segala pendekatan akal budi untuk mengenal Tuhan tetaplah berasal dari manusia yang rapuh, manusia yang hidupnya selalu goyah. Akal budi kita tentu tidak dapat mengenali Tuhan jikalau Tuhan sendiri tidak memperkenalkan Diri-Nya pada kita dan membantu kita untuk mengenali-Nya.”

Tulisan saya kali ini berusaha untuk melengkapi dialektika hubungan manusia dengan Tuhan yang baru dibahas dari satu sisi dalam tulisan saya sebelumnya. Kali ini, saya membahas tindakan Tuhan Allah yang tiada henti selalu menyapa dan memperkenalkan diri-Nya kepada manusia. Tulisan saya kali ini lebih panjang dari tulisan-tulisan saya sebelumnya karena cukup banyak diskusi yang saya bahas. Mohon pengertian dari para pembaca.

Saya perlu mengulang beberapa catatan tambahan yang sudah saya muat di tulisan sebelumnya. Pembahasan mengenai manusia yang berusaha untuk mengenal Allah dan Allah yang mengenalkan diri-Nya pada manusia ini sebenarnya adalah bagian awal yang sangat penting dari Katekismus Gereja Katolik. Maka dari itu, untuk mendapatkan pembahasan yang lengkap dan menyeluruh, saya sarankan bagi Anda untuk membaca Katekismus Gereja Katolik, minimal Kompendium atau ringkasannya (Anda dapat mengunduh berkas pdf Kompendium di tautan ini). Kerinduan manusia akan Allah dibahas dalam Katekismus Gereja Katolik nomor 27-49, sedangkan mengenai Allah yang mewahyukan diri-Nya dibahas dalam Katekismus Gereja Katolik nomor 50-73. Dalam hal tafsir Kitab Suci, saya menggunakan acuan buku Tafsir Alkitab Perjanjian Lama dan Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, keduanya merupakan kumpulan tulisan para ahli Kitab Suci (editor: Dianne Bergant, CSA, dan Robert J. Karris, OFM) dan diterjemahkan oleh Lembaga Biblika Indonesia dan diterbitkan Penerbit Kanisius (2002).

Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas lebih dalam mengenai hubungan antarmanusia karena hal ini sudah di luar topik bahasan yang berusaha saya angkat. Namun demikian, saya tidak bisa menghindari menyebutkan hubungan antarmanusia dalam tulisan ini karena beberapa bahasan seperti komunikasi dan dosa tidak hanya berarah vertikal antara manusia dan Tuhan, namun juga horisontal antarmanusia sendiri. Jadi, bila Anda menemukan saya menyebutkan hubungan antarmanusia dalam beberapa bagian tulisan ini, saya sarankan untuk membaca tentang Teologi Tubuh yang dikemukakan oleh mendiang Beato Paus Yohanes Paulus II. Anda bisa membaca lebih lanjut tentang Teologi Tubuh dalam buku-buku karangan Rm. Deshi Ramadani, SJ yang berjudul Lihatlah Tubuhku – Membebaskan Seks Bersama Yohanes Paulus II (Kanisius, 2009) dan Adam Harus Bicara – Sebuah Buku Lelaki (Kanisius, 2010). Rm. Deshi adalah pakar yang mumpuni dalam bidang teologi tubuh dan buku-buku karyanya mengungkapkan bahasan ini dengan lengkap dan jelas.

Dalam tulisan ini, saya hanya sebatas menyajikan prinsip-prinsip secara umum dan menambahkan beberapa pemikiran saya pribadi. Perlu diingat kembali, saya hanyalah seorang awam yang tidak berpendidikan teologi. Tujuan saya menulis di blog ini hanya sebagai sarana untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan, bukan untuk mengajar layaknya kuasa Magisterium Gereja. Jadi, sangatlah mungkin bahwa tulisan ini (dan tulisan-tulisan saya yang lain) mengandung kesalahan, apalagi karena saya berusaha membahas doktrin iman (lex credendi) di mana saya tidak memiliki pendidikan yang memadai. Koreksi, kritik, dan saran dari pembaca akan sangat saya hargai.

Awal Mula

Di bagian pertama tulisan saya, saya sama sekali tidak mengacu Kitab Suci karena saya memang berusaha untuk membahas murni dari sudut pandang akal budi manusia. Sebaliknya, untuk memulai pembahasan di bagian ini, kita harus kembali ke Kitab Suci yang menceritakan awal mula segala sesuatu: peristiwa penciptaan di Kitab Kejadian. Mari kita simak Kejadian bab 1. Di situ, kita akan melihat suatu rangkaian teks yang tersusun indah bagaikan suatu teks liturgis yang disusun rapi. Banyak ahli Kitab Suci yang mengajukan hipotesis bahwa kitab Kejadian bab 1 sedikit banyak berkarakter liturgis karena memang adalah tulisan dari seorang imam dan termasuk dalam sumber Kitab Suci yang biasa dikenal dengan sumber P (P berasal dari singkatan bahasa Inggris untuk imam, yaitu Priest). Kemungkinan sumber P ini ditulis ketika Yudea masih menjadi jajahan bangsa Persia, sekitar lima abad sebelum Masehi.

Salah satu ciri sumber P adalah tulisannya seringkali bersifat puitis dan repetitif. Hal ini dapat kita lihat dengan jelas di Kitab Kejadian bab 1. Di dalam perikop tersebut, terpampang suatu pola yang jelas dalam kisah Penciptaan. Semua karya Allah dalam tiap-tiap hari selama enam hari Penciptaan dikemas dan disajikan dengan gaya yang sama. Penuturan kisah tiap hari selama Penciptaan memiliki pola indah sebagai berikut: pertama diceritakan mengenai peristiwa Penciptaan dalam hari terkait yang diawali dengan pemberitahuan (dicirikan dengan kata-kata “berfirmanlah Allah ….”), lalu dilanjutkan dengan perintah (dicirikan dengan kata-kata Allah “Jadilah ….”). Setelah peristiwa dalam hari itu diceritakan, disambung dengan laporan (dicirikan dengan kata-kata “maka terjadilah ….”) dan disambung dengan evaluasi (dicirikan dengan kata-kata “Allah melihat semuanya itu baik”), dan ditutup dengan bingkai waktu yang berbentuk refren “maka jadilah petang dan pagi, itulah hari ke-…”. Pola yang bagaikan madah lagu ini diulang sebanyak enam kali.

Lebih jauh, perhatikan kata-kata “Allah melihat semuanya itu baik”. Kata-kata tersebut diucapkan tujuh kali oleh Tuhan dalam proses Penciptaan. Kata-kata itu diucapkan sekali di tiap hari Penciptaan, kecuali di hari kedua di mana sumber P tidak menuliskan kata-kata ini, dan di hari ketiga dan keenam justru disebutkan dua kali. Mari menyempitkan fokus kita ke penyebutan terakhir kata-kata ini di hari keenam, ketika Tuhan sudah menciptakan manusia yang secitra dengan-Nya. Di situ, Tuhan tidak hanya melihat bahwa “semuanya itu baik”, namun Tuhan melihat ciptaan-Nya manusia sebagai “sungguh sangat baik”. Ada penekanan dengan kata-kata penyangatan (superlative) di kata-kata Tuhan ini, yaitu dengan menambahkan kata-kata “sungguh sangat”.

Kita, manusia, adalah ciptaan yang “sungguh sangat baik” karena kita sendiri adalah gambaran dan citra Allah (Kej 1:27). Menurut Gereja, konsekuensi kita menjadi citra Allah adalah bahwa kita dibekali dengan suara hati, kehendak bebas, dan akal budi (bandingkan dengan beberapa sumber, seperti Katekismus Gereja Katolik nomor 1706 dan 1730, Kitab Putra Sirakh 15:14, dokumen Konsili Vatikan II Gaudium et Spes 17, dan tulisan para kudus seperti misalnya tulisan karya Santo Ireneus, Santo Augustinus, dan Santo Thomas Aquinas). Dengan berbekal akal budi, manusia dengan kehendak bebasnya selalu rindu untuk mendengarkan dan menemukan Tuhan sendiri yang suara-Nya selalu bergema dalam suara hati manusia. Dengan kata-kata yang indah namun lugas, Kompendium Katekismus Gereja Katolik nomor 2 menyimpulkan demikian:

“Allah, dalam menciptakan manusia menurut citra-Nya, telah mengukirkan dalam hati manusia kerinduan untuk melihat Dia. Bahkan walaupun kerinduan ini diabaikan, Allah tidak pernah berhenti menarik manusia kepada DiriNya karena hanya dalam Dialah manusia dapat menemukan kepenuhan akan kebenaran yang tidak pernah berhenti dicarinya dan hidup dalam kebahagiaan. Karena itu, menurut kodrat dan panggilannya, manusia adalah makhluk religius yang mampu masuk ke dalam persekutuan dengan Allah. Hubungan akrab dan mesra dengan Allah mengaruniakan martabat kepada manusia.”

Dapat kita lihat di sini: bahkan sebelum Tuhan memulai memperkenalkan Diri-Nya pada kita, dengan Kebijaksanaan dan Kemurahan-Nya yang tak terhingga, Ia telah memberi kita bekal supaya kita sendiri dapat mengenali dan menanggapi-Nya. Jelaslah di sini bahwa inisiatif komunikasi antara manusia dan Allah berasal dari Allah terlebih dahulu dengan memberikan ketiga bekal dalam diri manusia. Allah juga selalu senantiasa memanggil kita manusia untuk selalu makin dekat dengannya. Dalam surat ensiklik Deus Caritas Est, Paus Benediktus XVI menjelaskan dengan gamblang bahwa cinta Tuhan tidaklah hanya cinta yang memberi dan bergerak keluar dari diri Allah (agape), tetapi juga cinta yang menarik manusia kepada Allah (eros). Hal ini dilakukan Tuhan bukan karena Tuhan membutuhkan cinta kita, tapi justru karena Tuhan menginginkan kita menemukan kebahagiaan puncak dalam diri Tuhan. Kebahagiaan puncak, sejati, dan definitif memang hanya ada pada Tuhan (bandingkan dengan Katekismus Gereja Katolik nomor 1).

Allah mulai memperkenalkan diri pada nenek moyang kita, Adam dan Hawa, dengan cara yang intim dan pribadi. Allah menampakkan Diri-Nya pada Adam dan Hawa, bercakap-cakap secara langsung, dan membimbing nenek moyang kita dengan memberikan perintah (Kej 1: 28-30) dan larangan (Kej 2: 16-17). Masa-masa awal ini sebenarnya adalah gambaran ideal komunikasi, baik antara manusia dengan Tuhan maupun antarmanusia sendiri. Komunikasi ini masih penuh dengan kepercayaan, hormat, dan kasih antara Allah dan manusia serta penuh penghargaan antarmanusia sendiri. Hal ini jelas terlihat dalam hubungan yang komunikasi antara Tuhan dan manusia, serta antarmanusia sendiri.

Mari kita menelaah lebih jauh tentang hubungan awal antara Tuhan dan manusia. Lihatlah saat Tuhan Allah sendiri memberikan perintah dan larangan yang diceritakan kitab Kejadian bab 1 dan 2. Di situ Tuhan berbicara secara intim dan langsung dengan manusia ciptaan-Nya. Ia tidak memakai perantaraan malaikat, berbicara dalam mimpi, ataupun melalui penglihatan nubuat (vision). Dalam ilmu komunikasi bisa dikatakan bahwa penyampaian komunike (pesan atau message) antara komunikator (penyampai, dalam hal ini Tuhan sendiri) dan komunikan (penerima, dalam hal ini adalah manusia) terjadi melalui kanal (sarana) yang langsung. Terlihat jelas bahwa Tuhan sangat mencintai dan menghargai makhluk ciptaan-Nya yang “sungguh sangat baik” dan merupakan gambaran citra-Nya sendiri.

Bila kita renungkan lebih dalam, puncak penghargaan dari Tuhan kepada manusia justru tampak sangat nyata dengan adanya pohon pengetahuan dan larangan untuk memakan buahnya (Kej 2:17). Memang jika dipandang sekilas, adanya pohon pengetahuan di taman Firdaus itu seolah bersifat paradoksal: apakah Tuhan dengan sengaja menempatkan godaan untuk menguji manusia ciptaan-Nya? Kita memang tidak akan pernah tahu pasti apa sebenarnya tujuan dari Tuhan menempatkan pohon itu. Mari kita mencoba menelusuri hal ini dari sudut pandang yang lain. Mungkin alasan Tuhan menempatkan pohon pengetahuan di taman Eden adalah karena Tuhan sangat menghargai kita manusia, citra-Nya sendiri. Kita, makhluk yang “sungguh sangat baik” dan merupakan citra Allah sendiri sudah dibekali dengan suara hati dan akal budi, jadi seharusnya kita sudah tahu untuk bersikap terhadap larangan dari Allah. Tuhan menghargai kita sebagai citra-Nya, jadi kita tidak diprogram seperti robot yang otomatis melakukan perintah dan menjauhi larangan. Kita memiliki kehendak bebas, jadi kitalah yang menentukan langkah kita sendiri. Tuhan memberi kepercayaan penuh pada manusia: bahwa dengan suara hati dan akal budi tersebut, kita mampu untuk membedakan mana yang benar dan yang salah; dan dengan kehendak bebas yang kita miliki, kita akan memilih untuk melakukan yang benar daripada yang salah.

Dosa Pertama

Namun ternyata, manusia menyalahgunakan kepercayaan penuh Allah. Manusia menyelewengkan kehendak bebas yang ia miliki dengan menuruti si ular jahat untuk memakan buah terlarang dari pohon pengetahuan (Kej 3: 1-6). Inilah dosa pertama yang dilakukan umat manusia. Dalam dosa pertama ini, tampaklah jelas ciri utama dosa yang paling mematikan: dosa menjauhkan manusia dari Tuhan, sang Sumber Bahagia sendiri. Dosa inilah yang merusak komunikasi yang agung dan indah antara manusia dan Tuhan serta antarmanusia sendiri. Manusia bersembunyi dari Allah dan mereka malu satu sama lain (Kej 3: 7-8).

Inilah yang diperingatkan Tuhan ketika melarang manusia makan buah pohon pengetahuan: manusia akan mati (Kej 2: 17). Bukan dalam arti mati kehilangan nyawa fisik atas nafas dan degup jantung, tapi mati karena jatuh dalam kuasa maut (baca: dosa). Manusia jatuh dalam perangkap si jahat dalam bentuk ular. Manusia jatuh dalam dosa dan akhirnya menjauh dari Tuhan sendiri, sang Pencipta dan Sumber Kehidupan. Keadaan jauh dari Tuhan inilah yang bisa kita katakan sebagai mati. Tuhan adalah Sumber Kehidupan, Sumber Kebahagiaan, Sumber Segalanya bagi ciptaan-Nya. Makin jauh ciptaan dari Penciptanya yang menjadi sumber segalanya bagi ciptaan, akan makin hancur gugurlah ciptaan itu. Mungkin tidak akan langsung berujung pada mengalami mati fisik, tapi yang jelas akan mati rohani.

Pembaca yang kritis dengan dialektika mungkin akan mengajukan keberatan berikut: bukankah dengan makan pohon pengetahuan itu manusia justru bisa membedakan mana yang benar dan salah? Dalam Kitab Suci sendiri, Allah mengatakan bahwa pohon pengetahuan itu adalah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (Kej 2: 9, 17). Apakah Tuhan tidak ingin manusia menjadi bijaksana dan dewasa yang mampu membedakan mana yang benar dan mana yang jahat?

Jawaban atas pertanyaan ini dapat kita lihat dari beberapa segi. Pertama, mari kita lihat jawaban dari buku Tafsir Alkitab Perjanjian Lama (hal. 41) berikut:

”…. Allah memberi batas bagi manusia. Manusia dapat mengetahui banyak hal, tetapi siapakah yang memutuskan apa yang terbaik bagi manusia: Allah yang menciptakan manusia atau ciptaan yang diciptakan-Nya. …. Persoalannya adalah manusia melewati batas yang ditentukan oleh Allah dan mengambil pengetahuan itu. Sekarang manusia dalam posisi menentukan apa yang terbaik bagi dirinya. Ini berarti pemberontakan melawan sang Pencipta.

Manusia memang menjadi seperti Allah dalam arti bahwa ia sekarang menentukan apa yang terbaik bagi dirinya. Tetapi, ia mengambil keputusan-keputusan itu selaku ciptaan, tanpa kebijaksanaan dan pandangan sang Pencipta. Siapakah yang mengetahui apa yang paling baik bagi ciptaan, yang menciptakan atau ciptaan itu sendiri? Manusia menentukan keputusannya sendiri, akan tetapi keputusan itu tanpa keluasan dan kedalaman kebijaksanaan Allah.”

Singkatnya, walaupun manusia mampu mengetahui mana yang baik dan yang jahat, tapi manusia tidak akan mampu untuk memanfaatkan informasi ini karena manusia tidaklah memiliki kebijaksanaan yang memadai seperti Allah untuk memanfaatkan informasi yang benar dan yang salah ini dengan bijak. Memang, kita ini adalah citra Allah dan dibekali dengan akal budi dan suara hati. Namun jangan lupa: kita ini hanya citra, bukan Allah sendiri. Sesempurna apapun akal budi kita dan sejernih apapun suara hati kita, kita tidak akan mampu menyamai kebijaksanaan ilahi Tuhan sendiri. Maka, pengetahuan benar dan salah dari pohon pengetahuan yang diperoleh manusia ibaratnya sepucuk pistol yang diberikan ke anak remaja ingusan: hasil akhirnya justru menjadi berbahaya.

Hasil menyimpang dari kepemilikan pengetahuan ini sudah tertulis pula dalam Kitab Suci. Manusia menjadi sadar bahwa dirinya telanjang (Kej 3: 7). Namun bukannya merasa menjadi bijaksana ataupun makin dewasa, manusia hanya merasakan malu atas ketelanjangannya itu. Mereka justru menutupi ketelanjangan mereka dan bersembunyi dari Tuhan (Kej 3: 8). Mereka malu pada Tuhan dan malu pada satu sama lain.

Saya menambahkan sedikit diskusi. Bila manusia memang akan memperoleh pengetahuan akan yang baik dan yang jahat dengan makan buah terlarang, maka akan tercipta paradoks di sini. Manusia berusaha mendapat pengetahuan yang benar dengan cara yang salah. Sudah jelas bahwa buah itu dilarang oleh Tuhan, namun justru manusia mengabaikan larangan itu. Jadi, apapun hasil baik yang akan diperoleh dari makan buah itu akan selalu dicemari oleh kenyataan tercela bahwa hasil tersebut diawali oleh perbuatan yang salah. Kata ahli moral dan etika: tujuan tidaklah menghalalkan cara.

Reaksi Tuhan atas Dosa Pertama

Bagaimana reaksi Tuhan setelah manusia melakukan dosa pertama itu? Reaksi Tuhan ternyata bisa kita lihat sedikit aneh: Tuhan seolah tidak tahu apa yang telah terjadi. Tuhan justru bertanya pada manusia tentang apa yang telah mereka perbuat (Kej 3: 11, 13), bahkan Ia bertanya di mana mereka ketika mereka bersembunyi (Kej 3: 9). Kita tahu Tuhan itu Maha Segalanya, Ia Maha Kuasa, Maha Tahu. Mengapa Ia harus bertanya pada manusia?

Tindakan Tuhan yang bertanya ini sebenarnya adalah upaya Allah untuk menghargai manusia yang, walaupun telah berbuat dosa, tetap dikasihi-Nya. Ia tidak langsung mendatangi manusia dan berkata: “Aku tahu apa yang kamu lakukan!”. Ia mendekati manusia dalam suasana yang santai, ketika Tuhan sedang berjalan-jalan saat suasana sejuk (Kej 3: 8). Ia lalu bertanya pada manusia: “di manakah engkau?”. Kita dapat melihat bahwa Tuhan saat itu sedang menyapa, mencari, dan mengundang manusia untuk datang kepada-Nya, mengaku berbuat salah, dan bertobat. Ia masih menghargai kehendak bebas manusia dengan mengundang untuk secara dewasa mengaku dan bertobat.

Namun ternyata, dosa pertama yang asali ini begitu membutakan mata mereka. Dosa asali ini begitu merusak komunikasi antara manusia dengan Tuhan. Manusia menjadi gagal untuk mengenali dan menanggapi sapaan Tuhan. Pertama-tama, lihatlah jawaban Adam atas panggilan Tuhan yang mencari dia. Pertanyaan Tuhan adalah “di manakah engkau?”, tetapi Adam justru menjawab dengan menjelaskan alasan mengapa ia bersembunyi: ”karena aku telanjang”. Sepintas memang bisa kita katakan telah terjadi miskomunikasi antara Tuhan dan Adam, bahkan Adam bisa dikatakan salah dua kali. Salah menjawab pertanyaan Allah, dan salah kondisi dalam ketelanjangannya karena kita membaca bahwa sebenarnya Adam tidaklah telanjang sepenuhnya. Ia telah membuat pakaian cawat dari daun ara. Namun ternyata jawaban Adam tidaklah salah, walaupun tidak tepat menjawab pertanyaan. Dalam kaitannya dengan Allah, Adam memang telanjang. Hubungannya dengan Allah menjadi terganggu, dan hal ini diungkapkannya dengan konsep ketelanjangan. Sejak awal mula, Adam dan Hawa tidak berbusana di hadapan Allah, namun mereka tidak malu (Kej 2: 25). Mereka tidak mengenal konsep ketelanjangan. Justru karena dosa, manusia mengenal ketelanjangan. Kesadaran akan ketelanjangan inilah yang ditekankan Adam. Kesadaran ini yang membawa konsekuensi ia tidak lagi dapat berkomunikasi dengan benar kepada Allah karena dosa.

Mari kita lihat adegan selanjutnya. Tuhan kembali bertanya, kembali menyapa manusia dan mengundang manusia untuk bertobat. Tapi, apa jawaban manusia atas pertanyaan Allah? Mereka justru saling menyalahkan (Kej 3: 12-13), tidak ada yang mau mengaku salah dan lantas bertobat. Bahkan, secara tidak langsung Adam juga menyalahkan Tuhan atas kejadian itu. Lihatlah jawabannya di Kej 3: 12. Ketika ia menyebutkan Hawa, ia menyebutnya “perempuan yang Kau tempatkan di sisiku”, seolah-olah Allah pun bertanggung jawab atas dosa manusia karena Ia menciptakan dan menempatkan Hawa sebagai pendamping Adam. Lihatlah betapa rusak hubungan antara manusia dengan Tuhan dan antarmanusia yang telah terjadi. Ini semua terjadi karena dosa.

Cerita di kitab Kejadian 3: 14-19 mengungkapkan hukuman-hukuman yang dijatuhkan Allah. Ahli Kitab Suci menjelaskan bahwa sebenarnya kejadian ini tertulis bukan karena Tuhan marah dan lantas menghukum manusia. Tulisan ini sepertinya ditulis karena latar belakang sumber dari bab tersebut. Kitab Kejadian bab 2 dan 3 diduga bersumber dari tulisan yang berbeda dengan Kitab Kejadian bab 1 yang bersumber dari sumber P. Kitab Kejadian bab 2 dan 3 bersumber dari tulisan lain yang disebut sumber Y atau sumber Yahwis. Sumber Yahwis mendapat namanya karena dalam sumber tulisan ini, Allah diacu dengan sebutan YHWH. Ciri khas sumber ini adalah ditulis dengan gaya cerita rakyat yang hidup dan lebih bersifat lokal.

Dalam kaitannya dengan hukuman Allah dalam Kej 3: 14-19, sepertinya penulis sumber Yahwis lebih berusaha menceritakan etiologi masalah-masalah sehari-hari yang biasa dihadapi oleh orang Israel di zamannya. Penulis sumber Yahwis mencoba mencari penjelasan atas masalah seperti mengapa perempuan harus kesakitan saat melahirkan, mengapa para pria harus berjuang bertani di tanah Palestina yang berbatu-batu, dan mengapa ular menjadi binatang yang mematikan bagi manusia. Namun, cerita ini tidak ditutup dengan kesengsaraan belaka. Perempuan bernama Hawa itu akan menjadi ibu dari seluruh bangsa manusia. Kendati ada dosa dan seluruh konsekuensinya, kehidupan akan terus berlangsung.

Manusia dalam kondisi dosa akan terus telanjang di hadapan Allah. Manusia sendiri tidak dapat memulihkan kesalahan dan rasa malunya akibat dosa. Hanya Tuhanlah yang mampu memperbaiki kondisi manusia ke dalam martabatnya sebagai citra Allah yang “sungguh sangat baik”. Maka lihatlah, kembali Tuhan yang berinisiatif. Tuhan tidak pernah berhenti mencintai manusia meskipun manusia telah berdosa. Dalam kondisi telanjang yang memalukan, Tuhan Allah lantas menciptakan pakaian yang lebih baik bagi mereka dari kulit binatang, menggantikan pakaian seadanya dari daun ara yang dibuat oleh manusia sendiri (Kej 3: 21). Akan kita lihat bahwa inisiatif dari Allah untuk membawa kembali manusia ke pangkuannya seperti yang sudah kita bahas akan terus ada di sepanjang kisah Kitab Suci dan akan berpuncak dalam diri Yesus Kristus.

Allah Menyapa Umat Perjanjian Lama

Jatuhnya manusia dalam dosa membawa manusia makin jauh pada Tuhan. Ajaran Gereja Katolik dalam Kompendium Katekismus Gereja Katolik nomor 77 mengatakan bahwa “sebagai konsekuensi dosa asal, kodrat manusia terluka dalam kekuatan alamiahnya tanpa menjadi rusak secara total. Karena dosa asal ini, muncullah kebodohan, penderitaan, kekuasaan maut, dan kecenderungan terhadap dosa. Kecenderungan ini disebut konkupisensi.”

Kecenderungan ini terlihat jelas kala kita menelusuri kisah Kitab Suci. Tepat setelah menceritakan dosa asal dilakukan Adam dan Hawa, Kitab Suci menceritakan dosa Kain yang membunuh adiknya, Habel (Kej 4: 1-16). Inilah pembunuhan pertama di dunia. Dan kembali kita lihat pola yang mirip dengan adegan di Kej 3. Setelah Kain berbuat dosa berat dengan membunuh adiknya, Habel, Allah kembali bertanya, menyapa, mengundang Kain untuk bertobat dan menyesal. Tuhan bertanya: di mana adikmu, Habel? (Kej 4: 9). Kain mengulang kesalahan yang sama dengan orangtuanya, ia tidak mau mengaku. Ia justru menjawab dengan ketus dan egois: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” (Kej 4: 9). Kembali lagi Tuhan yang berinisiatif, Ia justru melindungi Kain supaya jangan dibunuh dengan memberi tanda di dahinya (Kej 4: 15).

Penulis sumber Yahwis bahkan menuliskan secara superlatif bahwa karena manusia sudah terlalu melekat dengan dosa, Allah menyesal telah menciptakan manusia (Kej 6: 6). Hal ini seolah dibuktikan dengan bencana air bah di zaman Nuh (Kej 6:1 – 9:29). Penjelasan tafsir atas bencana air bah terlalu rumit dan panjang untuk dijelaskan di sini karena di perikop ini sumber P dan sumber Y bercampur. Namun kita dapat menyimpulkan bahwa Allah tidak bermaksud membinasakan seluruh umat manusia. Ia bahkan menjanjikan penebusan bagi seluruh keturunan manusia (sebagaimana terlihat dalam gaya renungan Yahwis di Kej 8: 20-22 maupun gaya formal sumber P di Kej 9:1-17).

Selanjutnya, selama berabad-abad Allah kembali berusaha menyapa manusia. Namun karena manusia sudah masuk jauh dalam dosa, Allah menyapa manusia melalui para malaikat dan perantaraan nubuat para nabi. Untuk membahas kisah-kisah tersebut satu persatu adalah suatu pekerjaan yang sungguh besar dan tidak mungkin saya lakukan dalam tulisan singkat ini. Saya menggarisbawahi saja beberapa tokoh yang menanggapi sapaan Allah yang disebutkan secara khusus dalam Katekismus Gereja Katolik karena perannya yang besar (Katekismus Gereja Katolik nomor 59-64). Tokoh-tokoh tersebut adalah Abraham yang dijadikan Allah sebagai ”bapa banyak bangsa” (Kej 17:5), Nabi Musa yang membebaskan Israel dari perbudakan Mesir dan memberikan hukum-Nya kepada mereka di gunung Sinai (lihat kisahnya yang mengagumkan di Kitab Keluaran), dan para nabi yang membawa harapan bagi bangsa Israel dan bangsa-bangsa lain dengan memaklumkan penebusan bagi seluruh umat dan penyelamatan bagi segala bangsa dalam sebuah perjanjian yang baru dan kekal.

Allah Menyapa dengan Hadir Sebagai Yesus

Cobalah Anda lihat foto di bawah ini.

Sumber foto dan berita lengkap mengenai foto ini dapat Anda lihat dengan membuka tautan ini.

Foto ini bukan kelakar biasa. Para peneliti ahli konservasi di Cina menyadari bahwa jika mereka mendekati bayi panda yang sudah pernah diasuh oleh induk panda dengan penampilan manusia normal, bayi panda akan sering menolak kehadiran para peneliti. Bayi panda akan merasa asing dengan bentuk dan bau yang berbeda dengan induknya. Bahkan jika bayi panda sudah terbiasa dengan kehadiran manusia dengan penampilan normal, hal ini justru akan membawa dampak lebih buruk. Bayi panda justru akan menjadi terlalu terbiasa dengan manusia dan menjadi tergantung pada manusia. Jika bayi panda yang diasuh manusia dengan cara ini dilepas ke alam liar, bayi panda itu akan tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan baru dan kelompok panda liar di lingkungan itu. Hal ini terbukti di tahun 2006 ketika surat kabar Washington Post melaporkan bahwa seekor bayi panda yang dilahirkan dan diasuh manusia di pusat pengembangbiakan ternyata justru ditolak dan dibunuh secara tragis oleh kawanan panda liar ketika panda remaja itu dilepaskan ke alam liar. Maka para ahli mendapat solusi cerdas yang lucu tapi serius: mereka harus berkostum dan berbau seperti panda ketika mereka melakukan kontak dengan bayi panda yang mereka asuh di pusat konservasi. Dengan langkah ini, para ahli berharap bayi panda akan lebih mampu mengembangkan kemampuan mempertahankan diri di alam liar dan tidak terlalu terkontaminasi dengan keakraban pada manusia.

Kita melihat di cerita panda di atas bahwa ternyata komunikasi antara bayi panda dan manusia menjadi lebih lancar dan berbuah baik justru ketika para ahli menyesuaikan diri dengan berkostum dan memakai bau alami panda. Bayi panda akan merasa akrab dan mampu segera menerima kehadiran para ahli. Para ahli juga akan mampu lebih dekat dengan panda tanpa merusak kemampuan bertahan hidup panda di alam liar. Pendekatan ini ternyata digunakan oleh Allah ketika Ia memutuskan untuk menyapa manusia dengan lebih intim lagi: Ia menjelma menjadi manusia untuk mendekati manusia. Allah yang menjelma menjadi manusia itu kita kenal dengan nama Yesus.

Kok bisa Allah menjelma menjadi manusia? Anda bisa coba melihat pendapat saya di tulisan saya sebelumnya yang bertajuk “Renungan Natal 2011: Hosti Kudus dan Bayi Yesus”.

Umat Israel pada zaman Yesus sudah kenyang pengalaman baik dan buruk setelah melalui masa Perjanjian Lama. Tapi ternyata, walaupun mereka telah sering mendengar suara Tuhan dalam nubuat para nabi Perjanjian Lama, umat Israel tidak pernah mau bangkit dari dosa (bandingkan dengan Luk 16: 31). Mereka terus menjauh dan makin jauh dari Tuhan yang sangat menyayangi dan merindukan manusia kembali pada-Nya. Bahkan, sosok Tuhan Allah berkembang menjadi sangat menakutkan di mata umat Israel.

Dalam paham Perjanjian Lama, manusia takut melihat Allah. Mereka merasa sangat berdosa sehingga kalau mata duniawi mereka melihat Allah dalam segala kemuliaan-Nya, manusia pasti langsung mati. Setelah bergumul dengan Allah, Yakub berkata, “Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong! (Kej 32:30)”. Dalam kepercayaan orang Yahudi, bahkan malaikat pun tidak tahan melihat kemuliaan Allah. Maka terlebih lagi, celakalah manusia yang melihat Tuhan dalam keadaannya yang berdosa. Dalam penglihatannya, Yesaya melihat malaikat serafim memiliki enam sayap; dua sayap untuk menutupi muka, dua sayap untuk menutupi kaki, dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang (Yes 6:2). Malaikat serafim yang melayani Tuhan sampai harus menutupi muka mereka dengan sayap karena cahaya kemuliaan Tuhan. Maka ketika Yesaya melihat Tuhan, ia berkata, “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam (Yes 6:5).”

Kondisi dan situasi umat Israel yang makin jauh dari Tuhan karena dosa dan justru dikompori untuk makin berdosa oleh para pemuka agama Yahudi sendiri (ahli Taurat dan orang Farisi) inilah yang menjadi suasana ketika Allah memutuskan untuk menjadi manusia dalam diri Yesus. Kita lihat, sekali lagi Allah yang mengambil inisiatif lebih dulu untuk mendekatkan diri pada manusia dan menarik manusia kembali pada-Nya. Allah, seperti peneliti di Cina, mengambil langkah dramatis untuk menjadi manusia, yaitu dengan menjelma menjadi manusia. Karena Allah menjelma menjadi bentuk yang dikenal oleh manusia, manusia akan tidak takut lagi untuk mendekati Allah dan Allah juga akan makin dekat dan lebih akrab dengan kita. Kita tidak akan lari menjauh karena Allah hadir dalam bentuk, rupa, bau, suara, dan semua yang tidak asing dengan panca indra dan pemahaman kita.

Mari kita lihat di seluruh keempat Injil Perjanjian Baru. Kita melihat banyak sekali upaya Allah untuk menyapa manusia. Kita melihat Allah dalam diri Yesus menyapa kita dalam kata-kata pengajaran-Nya, mukzizat-Nya, dan dalam sikap perilaku-Nya selama di dunia. Memang banyak orang yang menjadi percaya pada-Nya. Tapi ternyata ada banyak orang pula yang sudah terlalu menuruti konkupisensi dalam diri mereka dan menjadi buta terhadap Allah yang telah hadir di depan mata mereka sendiri. Orang macam inilah yang kemudian menolak dan bahkan menyalibkan Allah Pencipta mereka sendiri di kayu salib, hukuman mati paling rendah bagi penjahat di masa Romawi dulu. Di mata manusia, tindakan Allah sepertinya justru menemui jalan buntu. Hendak menyapa manusia, tapi kok justru ditolak dan disalibkan oleh manusia? Di mata manusia, inilah kebodohan salib.

Tapi Allah melebihi manusia biasa dalam akal budi dan kebijaksanaan. Allah yang Maha Kuasa sudah mengetahui sejak semula bahwa manusia akan menolak Dia. Maka, Allah justru memanfaatkan kebodohan salib menjadi sarana terbaik untuk menyelamatkan manusia dari jurang maut dosa. Yesus, sang Tukang Kayu Ilahi, dengan gemilang mampu menyelamatkan manusia hanya dengan dua palang kayu berbentuk salib dan tiga paku sederhana. Penyelamatan manusia mencapai mahkotanya ketika Yesus bangkit dengan jaya dari maut. Kutukan kematian dalam dosa yang dulu diperoleh seluruh umat manusia akibat leluhur Adam dan Hawa makan buah terlarang kini telah hilang sirna. Dengan cerdas, madah Exultet yang selalu kita nyanyikan dalam Ekaristi Malam Paskah menangkap esensi penyelamatan ini dengan menyebut dosa Adam adalah dosa yang menguntungkan karena mendatangkan Penebus semulia ini. Bila Adam yang lama mendatangkan dosa, maka Yesus adalah Adam baru yang menghapus dosa lama.

Saya pernah punya pertanyaan seperti ini: apakah Allah memang membiarkan manusia ciptaan-Nya jatuh dalam dosa, dan ketika Allah melihat bahwa ketika manusia terlalu jauh terjerumus dalam jurang maut dosa, barulah Allah bertindak dengan turun ke dunia? Mengapa Allah hanya menyapa manusia dengan cara minimal pada masa Perjanjian Lama, dengan cara tidak langsung melalui malaikat atau nubuat? Mengapa tidak dulu-dulu Tuhan Allah menjadi Yesus dan menyelamatkan manusia?

Setelah saya renungkan, cara pikir saya itu ternyata salah. Allah memang sungguh Bapa yang baik. Ia sejak awal mula sadar bahwa anak-anak manusia ciptaan-Nya itu akan mengalami kesulitan dan akan menjauh dari-Nya. Kita dapat mengibaratkan Allah Bapa seperti seorang ayah yang sedang mengajari anaknya naik sepeda. Kita semua pasti tahu bahwa proses untuk bisa naik sepeda pasti melibatkan pengalaman sakit jatuh dari sepeda. Seorang ayah yang baik akan membantu anaknya belajar dan mengajari bahwa pengalaman jatuh dan sakit dalam belajar naik sepeda adalah bagian dari proses belajar. Demikian pula Allah Bapa mengajari manusia, anak-anak yang dikasihi-Nya. Memang manusia akan jatuh dalam proses belajar menjadi bijaksana, tapi pasti Allah Bapa akan selalu siap sedia untuk membantu manusia untuk bangun. Untuk kejatuhan manusia yang pertama dalam dosa pun, Allah telah siap sedia untuk memberikan Putra-Nya sebagai Penebus. Bahkan Allah sendiri berbela rasa dengan manusia yang mengalami jatuh dan bangun. Kita saksikan sendiri Yesus yang juga jatuh ketika memikul salib-Nya, namun Ia selalu bangun kembali dan dengan tabah memikul salib. Sekali lagi, esensi ini sudah tertuang dalam sebuah madah kuno karya Santo Venantius Fortunatus yang hidup di abad keenam Masehi. Madah itu berjudul Crux Fidelis. Terjemahan lagu itu sudah menjadi bagian dalam buku lagu Puji Syukur dengan judul Salib Suci Nan Mulia (Puji Syukur No. 509). Berikut lagu aslinya yang ditulis dengan neume. Tambahan: apa itu neume? Baca tulisan saya yang berjudul ”Ayo Belajar Membaca Not Kotak-kotak Lagu Gregorian” untuk belajar membaca not neume yang dipakai di lagu berikut.

Mari kita lihat terjemahan lagu itu di Puji Syukur No. 509. Coba Anda perhatikan bait 2-4. Bait-bait tersebut berbunyi sebagai berikut:

2. Waktu leluhur tertipu makan buah celaka, jatuh dalam jerat maut, berdukalah Pencipta. Lekas ditunjuk-Nya kayu menjadi pohon hidup.

3. Sungguh Maha Bijaksana siasat karya Tuhan. Jika liku jalan musuh, akhirnya jadi buntu, maut hasil tipu musuh membuka pintu hidup.

4. Maka sesudah tibalah waktu yang ditentukan, diutuslah Putra Bapa menjadi manusia: Pencipta semesta alam lahir dari perawan.

Kata-kata dalam bait kedua dan keempat menyimpulkan dengan indah apa yang tadi telah kita bahas. Allah Bapa sudah menyiapkan rencana keselamatan bagi manusia sejak manusia jatuh dalam dosa. Kata-kata “kayu menjadi pohon hidup” mengacu kepada kayu salib yang membawa kehidupan karena memang menghapuskan dosa maut yang mendera umat manusia. Pada bait keempat diceritakan bahwa rencana keselamatan itu dilaksanakan pada “waktu yang telah ditentukan”. Dalam hal ini, kita bisa berpendapat bahwa waktu yang telah ditentukan itu adalah ketika umat Israel sudah sangat jauh menyimpang dari Tuhan karena dosa. Sedangkan bait ketiga mengidungkan kebodohan salib yang justru diubah Tuhan sendiri menjadi pintu keselamatan.

Penutup: Allah yang Terus Menyapa

Apakah di zaman sekarang ini Tuhan berhenti menyapa kita? Apakah setelah masa hidup Yesus diakhiri dengan gemilang dalam peristiwa wafat, kebangkitan, dan kenaikan-Nya ke surga lalu Tuhan berhenti menyapa kita? Anda dan saya pasti sudah tahu jawaban dari pertanyaan ini: tentu saja Allah masih terus menyapa kita. Ada banyak sekali sapaan bagi Tuhan bagi kita. Ada yang terdengar jelas, ada yang sayup-sayup.

Allah menyapa kita kala kita membaca Kitab Suci. Saat kita membaca Kitab Suci, kita tidak sekadar membaca kata-kata yang tercetak di dalamnya, namun kita sungguh mendengar Allah sendiri berbicara kepada kita. Kita tidak hanya mendengar sisa-sisa dari gaung Sabda Allah yang berbicara di masa lalu, namun kita sungguh-sungguh mendengar Allah sendiri yang berbicara pada kita melalui Kitab Suci.

Allah menyapa kita dalam dan melalui Gereja. Gereja dalam bimbingan Roh Kudus sendiri menghadirkan sakramen yang menjadi tanda dan sarana bagi Allah untuk menyapa kita. Dalam Gereja, Allah menyapa manusia melalui Sakramen-Sakramen suci, dan berpuncak pada persatuan antara kita yang fana dengan Allah yang ilahi dalam Ekaristi. Allah menyapa kita dalam Gereja melalui Tradisi Suci. Bapa menyapa dan mengajar anaknya dalam Gereja-Nya melalui Kuasa Mengajar Gereja (Magisterium) untuk menuntun dan membimbingnya memiliki dan memelihara iman dalam hidup.

Allah menyapa kita dalam hati kita melalui suara hati kita. Suara hati kita adalah bisikan samar dari suara Allah sendiri. Namun ternyata, sering kita justru tuli terhadap suara hati kita dan lebih memilih menuruti konkupisensi. Memang, kita perlu mengasah batin kita untuk lebih mampu mendengar suara Allah sendiri melalui suara hati kita.

Allah menyapa kita melalui sesama kita, baik sesama yang membantu kita dalam persoalan hidup maupun sesama yang justru harus kita bantu ketika menempuh jalan yang berat. Ada banyak sekali pengajaran tentang hal saling bantu-membantu dalam kasih Kristus di dalam seluruh Kitab Suci. Orang yang membantu sesamanya akan melihat Allah dalam mata sesama yang dibantunya, dan orang yang dibantu akan melihat perwujudan kasih Allah yang selalu mengasihi anak-Nya dalam sosok orang yang menolongnya.

Allah menyapa kita dalam peristiwa hidup harian kita. Dalam kacamata iman, semua peristiwa hidup yang sepele pun dapat menjadi peristiwa iman. Orang beriman tidak akan melihat peristiwa sebagai suatu kebetulan belaka, namun melihat bahwa berbagai peristiwa dalam hidupnya adalah bagian dari rancangan indah Penyelenggaraan Ilahi.

Allah menyapa kita dalam seluruh karya ciptaan-Nya. Matahari yang bersinar lembut membelai pipi Anda, kupu-kupu yang mengepak indak di taman, rumput hijau yang lembut bila Anda memegangnya, gunung megah menjulang sampai ke angkasa, lumba-lumba yang melompat riang di laut. Bila sungguh-sungguh mendengarkan, semuanya itu menyanyikan sapaan Allah bagi Anda dan saya.

Hal ini membawa kita menuju pada diskusi di akhir tulisan saya sebelumnya. Tuhan kita tidak bersifat transenden semata. Setelah kita menyadari bahwa Allah selalu menyapa manusia, kita bisa melihat bahwa Tuhan tidak jauh, Ia justru sangat dekat. Bahkan suara-Nya selalu menggema di suara hati kita. Tuhan kita adalah Tuhan yang imanen, yang secara harfiah berarti Tuhan yang “tinggal di dalam”. Tuhan kita transenden, Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Besar, Mengatasi Segala Sesuatu; namun Ia juga Tuhan yang Imanen, Maha Dekat dengan kita. Tuhan yang sangat dekat ini kita sebut sebagai Bapa (bandingkan dengan Roma 8: 14-17, Galatia 4: 4-7) di dalam doa kita (doa Bapa Kami yang diajarkan Tuhan sendiri dalam Mat 6: 9-13). Tuhan yang Maha Dekat ini juga hadir dalam rupa yang akrab dengan kita dalam diri manusia Yesus (bandingkan Flp 2: 7). Dan secara mendalam, Tuhan imanen ini hadir dalam hembusan Roh Kudus di hati kita (bandingkan 2Tim 1: 14).

Pertanyaan terakhir dalam diskusi kita adalah: bagaimana kita menanggapi sapaan Allah? Kali ini, saya tidak akan berusaha memberikan penjelasan jawaban atas pertanyaan ini. Andalah yang akan menjawab pertanyaan ini sendiri. Lagipula, Allah secara pribadi menyapa Anda dengan akrab dan intim, bukan? Maka biarlah tanggapan Anda atas sapaan Allah tidak berasal dari orang lain, namun murni berasal dari kedalaman hati Anda sendiri. Saya hanya akan mengiringi Anda mendengarkan dan menanggapi sapaan Allah dengan lagu karangan Martin Runi berikut.

Bila Tuhan Menyapa

Tuhan menyapa setiap manusia, tanpa bicara, tanpa berbahasa.

Bagai mentari, menyapa alam, kasih Ilahi menyapa kita.

Tuhan yang s’lalu menyapa kita, dengan kasiNya yang paling indah.

Yang tak mau seorangpun binasa, namun berbahagia.

Hai manusia, apa jawabmu, bila padamu Tuhan menyapa.

 

Buka dirimu untuk sesama, buka hatimu untuk mencinta,

ulurkan tanganmu ‘tuk selamatkan yang tersesat.

Hai manusia, apa jawabmu, bila padamu Tuhan menyapa, bila padamu Tuhan menyapa.

 

Indahnya alam, pesona cintaNya, hati nurani, gema suaraNya.

Lewat sesama yang menderita, kasih Ilahi menyapa kita.

Dengarkanlah getar sapaanNya, lembut halus menggema di kalbu.

Yang menyapa lewat sesama, yang menderita.

 

Berkah Dalem.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tentang Hidup, Tentang Iman dan tag , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Allah yang Menyapa dan Selalu Menyapa

  1. Ping balik: Usaha Manusia yang Mencoba Mengenal Tuhan | mantancakrabyuha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s