Dari Minimalis Menjadi Optimalis

Basa-basi yang Benar-benar Tidak Perlu Dibaca

Sedikit catatan basa-basi pendahuluan: Mungkin Anda akan melihat saya menulis tulisan ini dengan gaya bahasa yang berbeda dengan karakteristik gaya saya yang normal.  Sedikit cerita, saya baru saja membaca beberapa karya Umberto Eco, tepatnya tiga novel berikut: The Name of The Rose, Baudolino, dan Foucault’s Pendulum. Sepertinya saya tidak kuasa untuk mencegah beberapa gaya bahasa Beliau mempengaruhi saya dalam tulisan ini. Gaya tulisan saya kali ini juga rasa-rasanya terimbas kultur pop terbaru yang tersebar luas dalam jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook, maupun dalam percakapan di Blackberry Messenger yang sering menambahkan tags dan emoticon yang berkaitan (ataupun tidak) dengan subjek bahasannya, seperti #ndakpentingbangetsihtulisanini ataupun *apa-apaansihini*. Omong-omong, saya sendiri tidak punya akun twitter maupun facebook, jadi tidak usah repot-repot mencari (#sekalilagindakpentingbanget).

Jadi, maafkan saya dalam penggunaan gaya bahasa dalam tulisan ini yang mungkin bagi Anda memenuhi kriteria redundansi. Maksud saya menggunakan gaya ini adalah untuk mengejar makna semantik yang dapat menggambarkan secara tepat apa yang saya maksud. Dalam ilmu semantik, tidak ada yang namanya redundansi kan? Mungkin saya sedang berada dalam kondisi euforia menulis. Dan omong-omong soal redundansi, sebenarnya catatan pendahuluan ini sama sekali tidak penting dan tidak relevan untuk dibaca. Saya cuma ingin usil dalam menulis dengan sengaja menulis berpanjang-panjang dan bertele-tele. Bahkan ternyata saya baru mengetahui bahwa ternyata menulis basa-basi macam ini ternyata menyenangkan! Entah karena saya suka mengeksplorasi berbagai hal yang tidak penting, atau seperti kata Durrahman sang munsyi di libretto karya Remy Sylado berjudul Sang FX, saya ini menghayati sifat orang Melayu yang suka berbasa-basi. Jadi jika Anda membaca paragraf ini sampai tuntas, Anda benar-benar pembaca yang sudah terbukti kegigihannya. 😀

Catatan tambahan: mohon jangan marah terlebih mendendam pada saya atas keusilan saya ini. Saya juga baru kena keusilan Om Umberto Eco. Di novel The Name of the Rose, Beliau menguji kesabaran pembacanya dengan menulis basa-basi penuh rincian detail yang tidak penting dan membosankan dalam seratus halaman pertama novelnya. Anggap saja Anda beruntung karena saya hanya mengusili Anda di dua paragraf awal (dan juga paragraf ini, yang sama tidak pentingnya dengan paragraf di atasnya). Lagipula, di subjudul awal kan sudah saya beri peringatan untuk tidak usah repot-repot membaca bagian ini. :-p

Maafkan Saya atas Basa-basinya. Sekarang Masuk ke Topik Bahasan.

Di Gereja paroki saya, Gereja Katolik Santo Athanasius Agung Karangpanas Semarang, selalu disediakan lembaran teks misa. Sudah beberapa lama, di akhir lembaran misa sekarang disediakan kolom rubrik khusus untuk membahas berbagai hal seputar iman, Gereja, maupun berbagai bahasan lain seputar kehidupan menggereja dan bermasyarakat. Beberapa waktu yang lalu di rubrik ini, Romo paroki saya membahas beberapa pertanyaan dari umat seputar misa (tulisan Romo paroki saya yang juga blogger ini, Rm. Dominikus Donny W., Pr. bisa dilihat di sini). Ada beberapa pertanyaan dan komentar dari umat yang menggelitik seperti ini:

  • Apakah kalau saya terlambat datang dalam misa, saya masih boleh menerima Komuni? Sejauh mana saya boleh terlambat supaya tetap diperbolehkan menerima komuni?
  • Saya setelah komuni langsung pulang. Yang penting kan saya sudah menerima Tubuh Kristus. Tidak apa-apa kan tidak menerima berkat dan pengutusan? Kan saya sudah diberkati dengan menerima hosti suci.
  • Saya sering terlambat misa, biasanya saya baru datang pada saat telah dimulai homili. Untuk menebusnya, saya biasanya lalu mengikuti misa yang berikutnya. Lalu setelah selesai bacaan Injil di misa kedua ini, saya pulang. Saya menghitungnya sebagai impas, saya sudah nomboki (menambah kekurangan) di misa pertama. Apakah hal ini boleh?

Saat saya membaca rubrik ini, saya tidak dapat menahan diri untuk tertawa kecil. Ada-ada saja akal manusia zaman ini, bahkan untuk urusan menghadap Tuhan saja bisa diakali. Saya teringat pada lelucon kecil yang pernah saya baca. Perarakan masuk dalam misa itu urut-urutannya: misdinar, lektor, pemazmur, prodiakon, Romo, dan umat yang celingak-celinguk mencari tempat duduk karena datang terlambat. Perarakan keluar urut-urutannya justru dibalik, didahului dengan umat yang berlomba ke parkiran supaya bisa keluar dengan mudah.

Saya sepintas berandai-andai usil: mungkin orang yang bertanya itu terilhami oleh break event point (titik impas) dari ilmu dagang ya? Atau mungkin mengandalkan prinsip ekonomi yang mengejar supaya semuanya mangkus dan sangkil? Omong-omong, kedua kata yang baru saya sebut itu sebenarnya adalah padanan kata bahasa Indonesia untuk efektif dan efisien. Yang terpenting adalah pengorbanan sekecil-kecilnya untuk manfaat sebesar-besarnya. Jadi, yang penting itu menerima Komuni. Tidak usah berkorban waktu banyak untuk ikut misa dari awal sampai akhir. Apakah benar demikian?

Dan ternyata juga, pertanyaan ini juga tidak timbul di Gereja paroki saya saja. Coba lihat di laman ini (silakan klik tautannya).

Jawaban dari Aspek Liturgis

Jawaban dari aspek rubrik liturgis sudah dibahas oleh Romo paroki, yang pada intinya mengatakan bahwa Ekaristi itu adalah satu kesatuan integral yang tak terpisahkan. Dalam Ekaristi, Kristus tidak hanya hadir dalam Komuni. Memang, persatuan kita dengan Kristus paling tampak nyata dan agung dalam Komuni. Namun demikian, Kristus hadir dalam seluruh Perayaan Ekaristi. Kehadiran Kristus tampak dalam: 1) diri imamnya; 2) secara khusus dalam rupa roti dan anggur; 3) dalam sabda Allah (bacaan-bacaan Kitab Suci); 4) dalam jemaat yang berkumpul (coba buka Katekismus Gereja Katolik nomor 1088). Dengan demikian, bila kita terlambat datang misa, kita tidak akan mampu untuk menerima Kristus dalam hati kita dengan baik.

Seluruh perayaan Ekaristi dirancang setahap demi setahap supaya pada puncak perayaan, kita siap untuk menyambut Tuhan dalam komuni (lihat grafik ritus Ekaristi yang bergerak memuncak yang saya muat dalam tulisan saya “Menyanyikan Misa”). Bahkan sebelum misa, kita juga harus sudah menyiapkan diri kita dengan berpuasa satu jam sebelumnya, kecuali untuk minum air atau obat-obatan (lihat Kitab Hukum Kanonik di kanon nomor 919). Saya tidak yakin dengan umat yang sering terlambat datang misa, apakah saudara kita itu sudah berpuasa satu jam sebelum misa. Logika saya: kalau datang misa saja sering telat dan tidak bisa menyiapkan diri dengan datang lebih awal minimal sepuluh menit sebelumnya, mana mungkin menyiapkan diri dengan berpuasa satu jam sebelumnya?

Masih banyak aspek liturgi lain yang bisa digali dalam misa, Anda bisa melihatnya dalam tulisan-tulisan di situs Katolik. Saya menyarankan untuk membaca artikel mengenai liturgi Ekaristi di katolisitas.org yang ditulis oleh sumber-sumber yang dapat dipercaya dalam bidang liturgi. Situs tersebut juga menyediakan banyak artikel lain yang bermanfaat bagi pengembangan iman kita.

Menjelajah Makna Lebih Jauh

Dalam tulisan ini, saya ingin lebih menyoroti aspek penghayatan kehidupan iman yang dapat kita pelajari dari sikap umat yang sering terlambat datang misa. Pertama-tama, saya perlu menegaskan bahwa saya tidak berusaha menghakimi bahwa saudara kita yang sering terlambat datang misa ini bertabiat jelek. Tuhan Yesus sendiri sudah mengingatkan kita supaya jangan menghakimi (coba lihat di Mat 7:1-2). Saya hanya ingin membagi pengalaman pembelajaran yang saya miliki setelah merefleksikan pertanyaan umat tersebut. Pemikiran saya ini sendiri berangkat dari homili-homili oleh Rm. Purwo Hadiwardoyo, MSF, seorang moralis terkenal yang sangat cerdas dan saya kagumi.

Pemikiran saya berangkat dari rangkaian Khotbah di Bukit oleh Tuhan Yesus yang secara lengkap ditulis di Matius bab 5-7. Mari kita fokuskan diri pada Matius 5: 21-48 (ayo benar-benar dilihat, jangan malas membuka Kitab Suci ya).

Di situ kita bisa melihat suatu pola dari ucapan Yesus. Pertama-tama, Yesus menyebutkan aturan dari Hukum Taurat dengan awalan kata-kata “kamu telah mendengar” atau “telah difirmankan”. Lalu, Tuhan mengucapkan kalimat berikut: “tetapi, Aku berkata kepadamu”, dan kemudian mengucapkan prinsip aturan yang jika dilihat lebih berat dan mendasar dari aturan hukum Taurat yang disebutkan sebelumnya. Coba lihat di tabel ringkasan dari perikop 5: 21-48 berikut:

Bila kita amati dengan cermat pola tersebut, kita akan melihat pola ini: hukum Taurat yang disebut oleh Tuhan Yesus mengatur hal-hal yang mendasar dan minimalis, sedangkan prinsip yang dikemukakan Yesus bersifat optimal. Apa maksudnya?

Coba kita lihat aturan Taurat yang berbunyi “jangan membunuh”. Bila dilihat, peraturan ini hanya mengatur batas yang minimal sekali mengenai nyawa seseorang, yaitu jangan sampai kita berbuat sesuatu yang sampai menghilangkan nyawa seseorang. Dengan demikian, orang yang suka mencari celah hukum (yang ada banyak sekali di Indonesia ini) akan berkata bahwa kita masih boleh menyakiti orang yang membuat marah atau menjengkelkan kita. Boleh saja kita memukulinya sampai babak belur, asalkan tidak sampai mati. Bahkan, kita boleh membalas dendam dengan peraturan “mata ganti mata, gigi ganti gigi”. Peraturan ini bahkan justru membolehkan kita membalas dendam dengan menyakiti secara fisik. Apa jadinya bila orang-orang menaati peraturan ini dengan hanya menjaga batas minimalnya? Tentunya akan ada banyak “koboi palmerah” yang muncul!

Sekarang mari kita lihat sikap Tuhan Yesus. Tuhan Yesus justru menetapkan batasan yang optimal. Tuhan memberikan pada kita standar terbaik yang bisa kita lakukan alih-alih sekedar batasan minimal ala hukum Taurat. Jadi, Tuhan justru menantang kita untuk memberikan sikap dan tindakan kita yang terbaik. Tuhan menantang kita bersikap optimal, memberikan yang terbaik tanpa memaksakan diri harus menjadi yang paling baik. Mari kita lihat contohnya.

Terhadap aturan Taurat “jangan membunuh”, Tuhan Yesus menetapkan batasan optimal yang justru menyentuh dan mengeliminasi penyebab munculnya aturan Taurat tersebut: bahkan jangan sampai marah pada sesamamu. Bila kita bisa menahan marah, kita akan bisa hidup berdampingan dengan damai. Tidak akan ada balas dendam, tidak akan ada pembunuhan. Dengan aturan optimal dari Tuhan Yesus, aturan lama Taurat “jangan membunuh” sudah tidak berlaku lagi. Tidak berlaku bukan karena aturannya salah, namun semata karena aturan itu sudah tidak diperlukan lagi. Maka benarlah kesimpulan dari St. Thomas Aquinas: et antiquum documentum, novo cedat ritui (surut sudah hukum lampau, tata baru tampillah). Kesimpulan inilah yang biasa kita nyanyikan dalam lagu Tantum Ergo.

Maka, menjadi orang Katolik itu seharusnya menjadi orang yang optimalis, bukan sekedar minimalis. Kita tidak boleh puas hanya dengan sekedar mematuhi aturan dasar, tapi kita harus berlomba-lomba dalam iman untuk menjadi optimal (lihat Ibrani 12:1). Dengan menjadi orang Katolik yang optimalis, maka pertanyaan-pertanyaan yang diajukan umat di atas tidak akan pernah muncul. Demikian pula pertanyaan seputar hal-hal minimal lain semacam: apakah boleh SMS-an atau BBM-an di misa, apakah boleh memakai pakaian minim di Gereja, apakah boleh makan dan minum selama misa, dan pertanyaan sejenis lainnya. Justru bila kita benar-benar menghayati menjadi orang Katolik yang optimalis, akan muncul pertanyaan yang kira-kira macam ini: apakah boleh saya mengajak umat berhimpun setengah jam sebelum misa dan berdoa rosario bersama di Gereja, apakah boleh saya mengajak Romo yang sedang luang untuk misa di daerah terpencil, dan pertanyaan lain yang sejenis.

Makin Dalam dan Luas

Orang Katolik yang optimal akan merasa bahwa Ekaristi menjadi suatu kebutuhan, bukan sekedar kewajiban. Bahkan, ia akan terus mencoba mengembangkan dirinya untuk mampu menghayati dan mengamalkan semangat Ekaristi dalam seluruh aspek hidupnya. Menjadi orang Katolik yang optimalis tentu tidak hanya di Gereja. Ada empat pilar aspek hidup orang Katolik yang disebutkan dalam Katekismus Gereja Katolik: lex credendi (hukum iman kepercayaan), lex celebrandi (hukum perayaan ibadat), lex vivendi (hukum kehidupan), dan lex orandi (hukum doa). Menjadi orang Katolik sejati adalah juga menjadi optimal di semua bidang itu. Bahasan di atas adalah menjadi optimal di bidang lex celebrandi. Di aspek-aspek yang lain, saya bayangkan sebagai berikut:

  • Orang Katolik optimalis tidak hanya akan belajar mengenai imannya dari homili-homili Romo saat ia mengikuti misa. Ia akan rajin memperdalam imannya melalui retret, rekoleksi, bacaan rohani, diskusi, dan segala macam hal lain. Ia akan menempuh banyak cara untuk membentuk iman yang mendalam dan tangguh. Dan tidak hanya pengetahuan imannya yang bertambah, ia akan makin mampu menghayati imannya itu dalam doa, ibadah, dan hidup sehari-hari.
  • Orang Katolik sejati yang optimalis tentunya tidak akan pernah korupsi. Dalam hidup berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, ia akan berusaha untuk menjadi pribadi yang jujur, bersih, dapat dipercaya, dan terpercaya. Bahkan di tengah arus korupsi berjamaah yang menjadi tren di Indonesia, ia tidak akan hanyut. Ia akan selalu peduli pada sesamanya. Seperti kata tema Prapaskah 2012 lalu di Keuskupan Agung Semarang: orang Katolik sejati selalu peduli dan berbagi.
  • Orang Katolik yang optimal tidak hanya akan berdoa di Gereja. Doa akan menjadi warna yang selalu menghiasi kehidupan sehari-harinya. Tak akan pernah ia beranjak dari tempat tidur dan kembali terlelap di tempat tidurnya tanpa doa. Tiap tindakannya ia akan selalu ingat pada Tuhan dan mempersembahkan seluruh usahanya dalam hari itu kepada Tuhan.

Aspek-aspek di atas tentunya adalah bayangan optimal saya mengenai orang Katolik sejati. Tentunya Anda akan mempunyai bayangan optimal yang mungkin lain atau mungkin mirip dengan bayangan saya. Di sini, saya tidak berusaha menggurui Anda mengenai bagaimana menjadi orang Katolik yang optimal. Saya sadar sesadar-sadarnya bahwa saya juga belumlah menjadi orang Katolik yang sungguh optimal. Saya justru mengajak Anda berlomba dalam iman! Ayo menjadi orang Katolik yang optimal! Tentunya perlombaan yang sportif, tidak saling menjatuhkan dan menjelek-jelekkan.

Mari berlomba dalam iman!

Berkah Dalem.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tentang Doa, Tentang Hidup, Tentang Iman, Tentang Perayaan Ibadat dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s