Ayo Belajar Membaca Not Kotak-kotak Lagu Gregorian!

Kalau kita membicarakan tentang musik liturgi Gereja Katolik, pasti kita akan bersinggungan dengan yang namanya lagu Gregorian. Kalau Anda pernah berkunjung ke biara Rawaseneng, Gedono, atau di Lamanabi, tentu Anda akan mendengarkan keindahan musik Gregorian. Di buku lagu liturgi seperti Puji Syukur dan Madah Bakti, ada beberapa lagu Gregorian yang dicantumkan dengan menggunakan not angka. Namun, bila kita hendak menggali lebih jauh tentang lagu Gregorian, kita akan disuguhi sederetan not kotak-kotak yang berkesan luar biasa antik dan sama sekali berbeda dengan not balok modern. Kebanyakan orang yang pertama kali berhadapan dengan not kotak-kotak ini, bahkan jika ia seorang musisi, akan kebingungan membacanya. Memang, not kotak-kotak bernama neume ini tidak pernah diajarkan di sekolah modern. Dalam tulisan ini, saya berusaha mengambil andil dalam pengembangan liturgi Gereja sekaligus meramaikan Bulan Katekese Liturgi 2012 dengan berbagi pada para pegiat musik liturgi tentang bagaimana cara membaca not neume. Berhubung saya bukan ahli dalam not neume, isi tulisan ini bukan ide saya sendiri. Tulisan ini adalah hasil saduran bebas dari beberapa sumber, seperti artikel karya Arlene Oost-Zinner dan Jeffrey Tucker yang berjudul ”An Idiot’s Guide to Square Notes” (dimuat di www.crisismagazine.com edisi Mei 2006), edisi Liber Usualis bahasa Inggris tahun 1934, serta beberapa sumber lain.

Berjumpa dengan Not Kotak-kotak

Cobalah membaca contoh not neume di atas. Ada dua reaksi umum yang biasa muncul saat menghadapi not neume untuk pertama kali. Orang yang ambisius akan mencoba-coba membaca not neume seperti membaca not balok modern, dan sebagian besar usaha ini akan berujung pada kesia-siaan belaka. Reaksi lain adalah menyerah, menganggap not neume terlalu kuno dan sulit. Daripada belajar versi baru dari lagu peringatan pembaptisan Vidi Aquam atau Asperges Me, lebih baik memakai lagu Syukur Kepadamu Tuhan dari Puji Syukur nomor 592. Buat apa belajar not kotak-kotak kuno?

Menurut saya pribadi, tidak ada salahnya bila kita menggunakan lagu-lagu modern. Namun jangan lupa, lagu-lagu Gregorian adalah warisan berharga Gereja. Bahkan, penggunaan langgam Gregorian kini dirasakan makin penting dan sering dianjurkan oleh mendiang Beato Paus Yohanes Paulus II dan penggantinya, Paus Benediktus XVI. Lagu Gregorian adalah kekayaan Gereja yang berharga. Dengan menghargai dan menggunakan baik lagu modern maupun lagu Gregorian, khasanah musik Gereja Katolik akan menjadi sungguh indah dan berwarna bak taman bunga indah yang penuh kembang warna-warni. Sungguh sia-sialah bila kita tidak menggunakan lagu Gregorian, dan cara terbaik untuk menggunakan lagu Gregorian adalah dengan menyanyikannya dalam not neume.

Mengapa Harus dalam Not Neume?

Hampir semua pustaka musik lagu Gregorian ditulis dalam not neume. Apakah kita harus menunggu orang lain membaca dan menerjemahkan not neume itu? Bila kita tidak mengetahui cara membaca not neume, ibaratnya kita dihadapkan pada pintu menuju ruangan penuh berisi harta karun namun kita tidak punya kunci untuk membukanya. Menunggu orang lain yang punya kuncinya akan sangat merepotkan. Kita bisa mengeksplorasi lagu Gregorian sendiri bila kita bisa membaca not neume. Kemampuan membaca not neume juga akan menghemat tenaga dan waktu. Bila kita mampu membaca not neume dengan lancar, kita tidak perlu menerjemahkan not neume ke dalam not modern dahulu sebelum menyanyikannya. Sekali disodori lagu dengan not neume, kita bisa langsung menyanyikannya.

Namun, ada isu yang lebih mendasar. Banyak orang menganggap bahwa not neume sudah kuno. Not balok modern adalah not yang lebih canggih daripada neume, sama seperti flashdisk lebih canggih daripada disket dan CD lebih canggih daripada kaset. Sebenarnya tidak demikian. Not neume sungguh sangat tepat dan berguna dalam membaca lagu Gregorian. Memang, lagu Gregorian bisa ditranslasikan dalam not balok modern ataupun dalam not angka seperti di Puji Syukur. Namun, pengalihan notasi neume akan memunculkan beberapa masalah. Seperti yang sudah diamati oleh para musikolog, lagu Gregorian yang dinyanyikan dalam not modern tidak akan pernah bisa terdengar tepat. Frasering (phrasing) atau pemenggalan suku kata dalam lagu dan infleksi (lagu kalimat) tidak akan sama dalam not modern. Tempo lagu juga bisa melambat, bahkan lagu Gregorian bisa terdengar membosankan. Ujung-ujungnya lagu Gregorian justru tidak akan terdengar seperti langgam aslinya, melainkan seperti lagu modern yang dibawakan dengan sangat jelek. Para musikolog sepakat bahwa menyanyikan lagu Gregorian dalam not neume akan menghasilkan musik yang paling mendekati kondisi asli lagu Gregorian pada awal penggunaannya dalam sejarah Gereja.

Perkenalan Pertama

Nama neume (dibaca “num” atau “nyum”) berasal dari bahasa Yunani pneuma yang memiliki arti “nafas”. Not neume adalah notasi yang menjadi cikal bakal not balok modern. Namun, tidak seperti not balok modern yang ditulis dalam lima garis paranada, not neume hanya ditulis dalam empat garis paranada. Alasannya adalah not neume ditulis pertama-tama untuk lagu Gregorian yang selalu dinyanyikan dengan suara manusia yang memiliki jangkauan suara (ambitus) yang terbatas dibanding dengan instrumen musik. Empat garis paranada sudah mencukupi karena kebanyakan lagu Gregorian memang tidak membutuhkan garis yang banyak. Not neume juga tidak memiliki tanda tempo ataupun kunci nada. Selain itu, prinsip not neume sama dengan not balok modern. Bila notnya bergerak ke atas, maka nada lagunya bergerak ke atas, dan sebaliknya. Not neume juga dibaca dari kiri ke kanan.

Membaca not neume lebih mudah bila kita memakai sistem solfege (sistem Do-Re-Mi) daripada sistem kunci (sistem C-D-E-F-G-A-B-C). Prinsip sistem solfege akan selalu kita pakai, yaitu jarak antarnada dari Do sampai ke Do atas adalah 1 – 1 – ½ – 1 – 1 – 1 – ½. Bagi yang belum terbiasa dengan jarak nada ini, artinya jarak antara nada Do dan Re adalah satu. Di antara nada Do dan Re, terdapat nada tengahnya yaitu nada Di (nada Do yang dinaikkan setengah) yang nilainya setara dengan nada Ra (nada Re yang diturunkan setengah). Jarak antara nada Mi dan Fa serta antara nada Si dan nada Do adalah setengah, jadi tidak ada nada di antara masing-masing pasang nada tersebut. Mari kita lihat cara membaca neume dari awal.

Di tiap awal not neume, terdapat simbol klef. Perhatikan simbol klef berikut:

Klef ini menunjukkan letak nada Do. Tanda ini selalu terletak di garis paranada. Dengan demikian, jarak antara di bawah garis paranada yang memuat klef ini selalu dibunyikan setengah lebih rendah dari nada Do, yaitu nada Si. Dengan merunut sistem solfege, maka not neume dapat dibaca sebagai berikut:

Prinsip yang sama juga berlaku untuk simbol klef berikut. Klef ini adalah klef Fa:

Simbol klef Fa menunjukkan di mana letak nada Fa. Simbol klef Fa juga selalu terletak di garis paranada.

Kedua klef ini berfungsi sebagai penanda bagi kita untuk menemukan melodi. Klef ini dapat muncul di semua garis paranada, namun tanda klef tidak menjadi nada pusat atau sentral dari lagu yang ditulis. Fungsi klef sangat sederhana: hanya menunjukkan di mana nada Do atau nada Fa.

Mengapa dipakai dua klef? Masing-masing klef mengindikasikan jangkauan nada yang berbeda yang diminta dalam masing-masing lagu. Hal ini akan sangat membantu karena langgam Gregorian memiliki banyak modus lagu yang berbeda (mengenai modus atau mode akan kita bahas di lain kesempatan). Dengan bantuan klef yang sesuai dengan modus lagu, seluruh not neume dalam lagu dapat kita baca dengan mudah.

Sedikit petunjuk: jangan terjebak dengan pola kunci (C, D, E, F, G, A, B, dan C). Lebih mudah menggunakan pola klef sebagai klef Do dan klef Fa daripada menganggapnya sebagai klef C atau klef F. Tidak seperti notasi modern, Anda bebas menempatkan not neume dalam jangkauan nada menyanyi yang nyaman bagi Anda. Penempatan nada Do ataupun nada Fa untuk masing-masing klef dapat dimulai di mana saja, atau dengan kata modern, Anda dapat dengan bebas menentukan nada dasar berdasarkan jangkauan nyanyiannya: Do=C, Do=D, Do=E, dan seterusnya. Sedikit catatan tambahan untuk pemusik: nada tonika tidak selalu ditentukan oleh klef. Tonika bisa berupa nada awal lagu, namun lebih sering di nada akhir lagu.

Melangkah Lebih Jauh

Dalam lagu Gregorian, terdapat pulsa (pulse atau beat) dasar yang selalu konstan di sepanjang melodi. Pulsa ini tidak berwujud dalam ketukan yang dapat kita dengar, kita hanya dapat merasakannya dalam hati.

Sedikit catatan: Dalam tulisan ini, saya mempertahankan menggunakan kata pulsa daripada menggunakan istilah “ketukan” karena istilah ketukan lebih sering diasosiasikan dengan ritme yang jelas dan tegas dalam musik modern. Istilah pulsa saya gunakan untuk memberikan gambaran luas bahwa lagu Gregorian harus dinyanyikan dengan lancar dan mengalir, tidak terjebak pada ritmis konstan yang metris. Selain itu, tulisan ini hanya akan membahas beberapa simbol neume dasar yang berguna untuk membaca lagu Gregorian. Masih ada banyak simbol neume lain yang lebih kompleks dengan nama yang keren, namun simbol-simbol tersebut kebanyakan adalah penggabungan dari simbol-simbol neume dasar yang akan dibahas dalam tulisan ini. Bila Anda sudah menguasai simbol-simbol dasarnya, saya yakin Anda tidak akan kesulitan melangkah ke not neume yang lebih kompleks.

Mari kita mulai dengan beberapa contoh.

Lagu di atas memuat beberapa simbol ritme dasar sebagai berikut:

Beberapa aturan tambahan: Not dengan tanda titik di sebelah kanannya dinyanyikan senilai dua pulsa. Contohnya dapat dilihat lagu di atas. Suku kata –bis dalam kata nobis, suku kata –o dalam tuo, serta suku kata –lem dalam Jerusalem dinyanyikan senilai dua pulsa. Aturan lain, not dengan garis di atasnya (dinamakan episema, dan bisa juga muncul di bawah not) dinyanyikan dengan ditahan sedikit lebih lama. Dalam lagu di atas, not episema terdapat pada suku kata ­no dalam kata nobis, serta suku kata tu dalam kata tuo.

Beberapa tanda kecil yang dapat membantu: tanda garis yang terlihat seperti tanda petik tunggal di garis paranada paling atas dinamakan ictus dan berfungsi untuk mengorganisasikan ritme. Perhatikan pula tanda kecil yang terlihat di akhir baris pertama. Tanda ini bernama custos dan tidak bernilai apapun. Tanda ini tidak dinyanyikan dan semata-mata berfungsi untuk menunjukkan posisi di mana not pertama di baris selanjutnya akan bermula.

Sekarang cobalah membaca lagu di atas. Lagu tersebut akan berbunyi sebagai berikut (sengaja saya tuliskan solfege secara hurufiah supaya makin jelas) :

  do    do    do   do   doredo      dosido                                                                                                Con – fir – ma  hoc     De      –      us

  do     do  do    do     do   la  do  sila   sol                                                                                  Quod  o – pe – rat – us  es  in   no – bis,

sol     sol       solla      fa       la  dosi  sol                                                                                             A      temp  –  lo       sanc – to  Tu  –  o

  la       do    si   do   la     sol     sol                                                                                                Quod  est   in   Je – ru –  sa – lem.

(Arti lagu tersebut: Nyatakanlah, Ya Tuhan, karya-Mu pada kami, dari bait-Mu yang agung yang terletak di Yerusalem.)

Mari kita lihat contoh lain. Berikut adalah lagu Da Pacem yang ditulis dalam klef Fa:

(Arti lagu tersebut: Berilah damai, Ya Tuhan, di hari ini: karena tidak ada siapapun yang akan membela kami selain Engkau, Tuhan kami.)

Ada tanda lain yang terlihat seperti tanda mol (flat) modern:

Tanda ini memang adalah tanda mol yang berfungsi seperti tanda mol modern, yaitu menurunkan nada Si sebanyak ½ sehingga menjadi nada Sa. Dalam lagu Gregorian, hanya nada Si yang bisa diturunkan ½ dengan mendapat tanda mol, sedangkan nada lain tidak bisa diturunkan. Tanda ini berlaku untuk not sampai pada garis birama selanjutnya. Dalam langgam Gregorian, tidak ada tanda kres (sharp) dalam lagu.

Ada beberapa simbol lain yang perlu diperhatikan:

Di dalam penulisan lagu Gregorian dengan not angka di buku Puji Syukur, not quilisma ini ditulis sebagai kelompok not dengan huruf “w” di atasnya. Perlakuan untuk not ini persis seperti yang biasa kita praktikkan: panjangkan not pertama, lalu lanjutkan ke not lanjutannya dengan berenergi.

Ada pula simbol neume yang bernama not liquescent. Not ini terlihat seperti not yang berbentuk lebih kecil yang melekat pada not yang lebih besar, seperti misalnya pada bentuk liquescent pada podatus berikut:

Not yang bentuknya lebih kecil menandakan perlakuan khusus pada huruf di mana not itu dinyanyikan.  Berikut contoh not liquescent di dalam lagu Sanctus (Kudus) yang biasa kita nyanyikan:

Huruf “n” pada kata “hosanna” harus dinyanyikan tepat pada saat Anda mencapai not yang lebih kecil dari dua not dalam suku kata “san”. Prinsip yang sama juga berlaku pada suku kata “cel” dalam kata “excelsis”: pada saat Anda menyanyikan not yang lebih kecil, Anda sudah harus mencapai dan mengucapkan huruf “l” pada suku kata “cel”.

Pada bagian “n” di suku kata “san”, nyanyikanlah huruf “n” tersebut dengan merdu dan nyaring (sonoritas maksimal), tanpa merusak kualitas nyanyian secara keseluruhan. Bayangkan dengan menaruh lidah Anda di langit-langit mulut dan nyanyikan bunyi “nnnnn” yang jernih dan megah. Prinsip yang sama juga berlaku untuk huruf “l” dalam suku kata “cel”, walaupun di bagian ini Anda harus menempatkan bagian dari lidah Anda di tempat yang lebih jauh di langit-langit mulut Anda.

Not liquescent juga dapat muncul pada suku kata yang mengandung diftong (dua huruf vokal yang dikombinasikan) seperti pada kata alleluia, autem, dan eius. Pada vokal diftong seperti ini, pengucapan diftong harus diusahakan lebih mengalir, ringan, dan lancar sehingga didapat kesan bahwa vokal diftong itu tidak berhenti maupun kehilangan tempo saat dinyanyikan.

Anda perlu sedikit latihan untuk menemukan pengucapan not liquescent yang paling tepat. Perlu diingat bahwa not liquescent tidak hanya muncul pada bentuk podatus. Berhati-hatilah dan teliti dalam menyanyikan not neume supaya tidak melewatkan not kecil ini, dan perhatikan perlakuan huruf untuk menyanyikan not ini.

Simbol neume terakhir yang perlu diperhatikan adalah not neuma yang bernama punctum inclinatum yang berbentuk seperti lambang wajik dalam permainan kartu. Coba perhatikan bagian penutup misa pada masa Paskah di bawah ini:

(Dalam liturgi misa di Indonesia: Misa sudah selesai, alleluia, alleluia. Dan dijawab dengan: Syukur kepada Allah, alleluia, alleluia.)

Perhatikan not neume di suku kata “le” pada kata “alleluia” yang kedua. Di situ terdapat bentuk podatus yang diikuti dengan beberapa punctum inclinatum (bentuk gabungan ini dinamakan pes subpunctis). Pada bagian ini, Anda harus menyanyikan not yang ada di depan rangkaian not punctum inclinatum dengan memberi tekanan lebih, lalu menyanyikan not punctum inclinatum dengan ringan, mengalir, dan cepat. Tiap not dalam punctum inclinatum tidak memiliki nilai pulsa yang spesial, namun harus diperlakukan seolah menjadi pengiring not sebelumnya yang ditekan.

Dengan demikian, pada suku kata “le” tersebut, ketika Anda sampai pada not Do, Anda harus lebih memberi penekanan pada nada Do, lalu diikuti dengan not Si-La-Sol yang lebih ringan dan cepat. Ketiga nada Si-La-Sol berfungsi untuk memberi “ekor” pada nada Do yang ditekan.

Saatnya Berlatih Giat

Seluruh dasar membaca not neume sudah saya ungkapkan di atas. Sekarang saatnya bagi Anda untuk mulai berlatih membaca not neume dengan baik. Ada banyak situs yang menyediakan lagu-lagu Gregorian dalam not neume. Situs yang saya sarankan adalah www.sanctamissa.org karena selain menyediakan pustaka-pustaka lagu yang lengkap, situs tersebut juga menyediakan berbagai artikel, video, dan berbagai macam hal lain yang membantu kita memahami liturgi kudus.

Di bawah ini, saya juga mengunggah buku lagu misa Jubilate Deo terbitan tahun 1974. Di dalamnya terdapat banyak contoh lagu Gregorian dalam not neume yang dapat menjadi bahan latihan bagi Anda. Di lain kesempatan, saya akan mencoba membahas mengenai pembawaan lagu Gregorian, pengucapan, dan modus yang ada dalam langgam Gregorian.

Silakan klik tautan di samping untuk mengunduh buku Jubilate Deo: jubilate

Selamat menikmati pengalaman bersama not neume! Mari kita rayakan kekayaan musik liturgi Gereja Kita!

Berkah Dalem.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tentang Perayaan Ibadat dan tag , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Ayo Belajar Membaca Not Kotak-kotak Lagu Gregorian!

  1. Ping balik: Allah yang Menyapa dan Selalu Menyapa | mantancakrabyuha

  2. Setelah sekian lama bingung cara membaca notasi untuk lagu-lagu gregorian, aKhirnya ketemu juga cara membacanya…
    Terimakasih ulasannya, sangat baik dan sangat membantu sekali….

  3. edy berkata:

    Akhirnya terjawab juga keingintahuanku. Terima kasih pak, semoga membantu umat yg rindu menemukan ketenangan lewat alunan lagu/music gregorian

  4. Arnoldus Janssen berkata:

    Wah, penjelasan yang sangat bagus dan lengkap.. Btw, ada 2 episema, horizontal dan vertikal. Kalau not2 yg ditandai episema horizontal semua diperpanjang sedikit, sedangkan yg ditandai episema vertikal tidak semua diperpanjang, yg diperpanjang hanya yg not berjenis “salicus” (contohnya di lagu Requiem) 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s