Membaca Diri dalam Kekecewaan Hidup

Sedikit Basa-basi. Tidak Dibaca Juga Tidak Apa-apa Kok.

Sedikit berbeda dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya, dalam tulisan ini saya memakai gaya sharing pengalaman pribadi. Namun demikian, di bagian akhir saya tetap mencoba menawarkan nilai-nilai universal yang saya pelajari dari pengalaman pribadi tersebut.

Pada mulanya, saya enggan menulis sebuah sharing karena saya tidak terbiasa untuk menulis tulisan jenis ini. Setelah saya mencoba menulis beberapa saat, saya mendapat pencerahan dengan menulis tulisan ini sebagai sebuah pengakuan. Sebuah pengakuan adalah awal untuk mengenal diri sendiri. Sebagian besar, bahkan hampir semua orang yang hidup di dunia ini kadangkala lupa siapa dirinya, atau bahkan tidak (belum) mengenal dirinya sendiri. Mereka (dan termasuk saya juga) sering menipu dan membuai dirinya dengan perisai kebohongan, tipu daya, motivasi semu, permisivitas, dan perisai-perisai lain yang dapat membuat kita merasa “aman”. Melalui pengakuan atas semua yang telah terjadi di masa lalu, baik pemikiran, perkataan, perbuatan, dan kealpaan, diri kita memulai suatu perjalanan panjang nan rumit menuju ke tempat yang paling jauh dan tersembunyi: hati kita sendiri. Oleh karena itu, dalam tulisan pengakuan ini, saya tidak akan sibuk berurusan mengenai hal-hal fisik mengenai riwayat hidup, ciri-ciri fisik, dan hal-hal profan lain. Di sini, saya akan memfokuskan pada apa yang saya yakini, dan saya singgungkan dengan pengalaman hidup pribadi.

Kalau Anda Sungguh Membaca Basa-Basi di Atas, Tentu Anda Seorang Pembaca yang Gigih. Sekarang Saya Masuk ke Inti Cerita.

Saya, seperti yang dapat dilihat dari nama diri saya, beriman pada Tuhan Yesus Kristus dalam Gereja Katolik Roma. Harus saya akui, bahwa aku dibaptis dewasa. Saya mengenal Tuhan saat saya sudah menginjak usia remaja, tepatnya pada kelas 3 SMA. Dan hal itu juga merupakan pergulatan batin yang hebat bagi saya. Sejak kecil saya sudah bersekolah di sekolah Katolik yang bermutu baik dan bahkan ternama di Kota Semarang. Namun, hal itu tidak membuat saya cukup tersentuh untuk mengenal Tuhan lebih jauh. Saya masih angin-anginan dalam beriman dan masih memandang rendah kebutuhan untuk beragama.

Pada awal usia muda, saya selalu dapat berpaling dan bersandar pada lindungan orang lain dalam menghadapi masalah, terutama pada orangtua. Namun pada masa SMA, saya mulai diterpa berbagai masalah yang menuntut saya untuk berpikir dan bertindak lebih dewasa dan mandiri. Pada mulanya saya bertindak sok pahlawan dengan berusaha menyelesaikannya sendiri. Namun, lama kelamaan hal ini menjadi teramat berat bagi saya. Saya merasa diri ini menjadi begitu kecil, begitu tidak berarti. Saya hanyalah serobek fragmen tak berarti dari kerasnya dunia dan kehidupan. Pada saat itulah, saya mulai merasakan kebutuhan akan Tuhan. Klise memang, saya baru sadar bahwa saya membutuhkan Tuhan baru pada saat saya mengalami kesulitan. Namun, saya sangat bersyukur pada Tuhan karena diberi banyak cobaan yang tak bisa saya hadapi sendiri karena dengan demikian, saya dapat bertemu dengan-Nya yang selalu menyapa dan menenteramkan. Lalu, pada tanggal 17 September 2007, saya dibaptis dalam Gereja Katolik dan hari itu selalu saya syukuri sebagai hari yang penuh berkah dalam kehidupan iman pribadi saya.

Setelah dibaptis, saya merasa menjadi manusia yang baru dan merasa hidup saya yang sebenarnya baru saya alami sejak saat itu. Seolah saya terlahir kembali ke dunia dan semua kehidupan saya sebelumnya seolah hanya mimpi dari tidur yang tidak nyenyak. Saat itu, saya bertekad untuk menjadi manusia baru yang lebih baik, lebih berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan Gereja. Tekad ini masih saya simpan dan saya perjuangkan sampai sekarang, namun ternyata dalam perjalanan waktu sampai sekarang, sering sekali tekad itu luntur oleh berbagai godaan duniawi dan lekang oleh kekurangan niat dan semangat dalam diri saya. Bahkan tidak sering saya melakukan berbagai hal yang mengecewakan dan menyimpang dari tekad saya tersebut. Sungguh disesalkan memang, tapi dari kesalahan itu saya tetap mencoba belajar dengan melakukan refleksi diri dan berusaha memperbaiki diri untuk masa mendatang.

Satu kesalahan yang harus saya akui cukup fatal dan banyak membuat saya belajar adalah pada saat saya kecewa pada Tuhan atas doa saya yang menurut saya pada waktu itu tidak dikabulkan oleh Tuhan, bahkan  saya beranggapan saat itu doa saya sama sekali tidak didengarkan oleh-Nya. Hal ini terjadi semasa saya lulus SMA dan sedang mencari perguruan tinggi untuk meneruskan kuliah.

Selepas bangku SMA, saya terbawa euforia oleh teman-teman SMA yang harus saya akui lebih mampu secara finansial dari diri saya. Teman-teman SMA banyak yang melanjutkan ke perguruan tinggi yang bagus dan mahal, bahkan banyak pula yang melanjutkan kuliah di luar negeri. Pada saat itu, saya sudah sadar diri dengan kemampuan saya dan keluarga saya. Namun, dengan penuh harap saya ikut-ikutan mendaftar dengan harapan untung-untungan mendapat beasiswa atau semacamnya. Pada saat itu, saya mendaftar program beasiswa ke Jepang dan Rusia dan juga berencana mendaftar ke beberapa perguruan tinggi negeri di Indonesia, yaitu Universitas Gajah Mada di Yogyakarta dan Universitas Diponegoro di Semarang, kota kelahiranku dan tempat saya hidup selama ini. Sebagai cadangan, saya sebenarnya sudah diterima di Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta saat saya masih duduk di bangku SMA karena saat itu saya mendapat hadiah berupa diterima langsung tanpa tes karena mengikuti lomba di fakultas teknobiologi tersebut dan masuk sebagai finalis. Saat itu semua jurusan yang saya incar adalah jurusan ilmu alam karena saya mempertimbangkan semasa SMA, saya mengambil jurusan ilmu alam. Dapat saya ingat dengan jelas: tiap hari saya bertekun dalam doa dan belajar untuk mencapai ambisi memasuki universitas yang saya harapkan.

Namun, semua impian itu buyar karena saya baru mengetahui bahwa mata saya buta warna. Kelainan ini ternyata kuwarisi dari kakek pihak ibuku. Semua program beasiswa luar negeri yang saya ambil mensyaratkan tidak buta warna, tanpa kecuali. Saat saya mendaftar ke fakultas kedokteran Universitas Gajah Mada, otomatis saya gugur karena kondisi yang saya alami. Cadangan di fakultas bioteknologi juga hilang karena saya otomatis gugur. Dengan kondisi putus asa, akhirnya saya mendaftar di Universitas Diponegoro di jurusan yang dulu sama sekali tidak terpikir: jurusan akuntansi. Walaupun diterima di Universitas Diponegoro di jurusan akuntansi, saya sama sekali tidak bahagia dan bersyukur, justru saya limbung dan hampir putus asa.

Di tengah kekalutan dan perasaan nelangsa itu, saya mencari kambing hitam yang dapat disalahkan, dan celakanya justru saya mulai menyalahkan Tuhan! Dengan bodoh dan teramat bebal saya mulai berpikir bahwa Tuhan sangat tidak adil dan Dialah yang membuat saya terjebak musibah ini. Saya menganggap bahwa semua doa dan usaha saya sia-sia belaka. Singkatnya, saya mulai berpaling dari Tuhan dan masuk ke jurang desolasi. Saya mulai malas menghadiri misa, bahkan enggan sama sekali datang ke gereja.

Selama awal-awal kuliah akuntansi, saya masih meratapi nasib yang saya anggap sungguh malang dan sial. Namun, seiring berjalannya waktu, saya tersadarkan oleh banyak hal, bahwa ternyata hal ini tidaklah seburuk yang saya bayangkan. Saya mulai tertantang dengan berbagai materi kuliah akuntansi yang ada (walaupun kadang juga tidak tertarik). Persahabatan serta suasana pertemanan yang ditawarkan sungguh membuat saya mulai menyukai kuliah akuntansi. Semakin banyak sentilan-sentilan hati yang kini saya sadari dilakukan oleh Tuhan melalui berbagai perantara. Teman-teman, keluarga, teman gereja, pastor, bahkan sepertinya seluruh semesta ikut mendukung dan menyemangati! Selain dari keluarga, dukungan terbesar berasal dari sahabat erat saya di Cakrabyuha. Benarlah kata Prof. Yohanes Surya dalam teori Mestakung: kita harus mencapai kondisi kritis terlebih dahulu sebelum kita merasakan dukungan alam semesta!

Saya mulai kembali rajin mengikuti misa, berdoa, dan aktif dalam kegiatan Gereja. Lalu saya sadar bahwa selama ini Tuhan tidak pernah meninggalkan saya. Tuhan selalu mendampingi, terutama di saat susah.

Yang Saya Dapat dari Pengalaman Ini

Dengan peristiwa itu, saya belajar terutama tiga hal berikut.

Yang pertama, Tuhan seringkali bekerja dengan cara yang tidak kita ketahui. Tuhan seringkali membingungkan kita dengan tidak memberikan apa yang kita inginkan. Namun, sebenarnya Tuhan amat bijaksana. Ia memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Seringkali kitalah yang tidak tahu apa yang kita butuhkan. Kita hanya ingin semua kebutuhan kita terpuaskan tanpa peduli apa yang sebenarnya kita butuhkan. Dengan tidak mengabulkan doa kita, justru Tuhan memberikan apa yang terbaik yang kita butuhkan. Kini saya sering mengucap syukur pada Tuhan dalam semangat yang saya timba dari mistikus St. Ignatius Loyola, “Tuhan, terima kasih Engkau tidak mengabulkan doaku. Ambillah semua kehendakku, bahkan semua yang kumiliki. Biarlah kehendakMu yang terjadi pada diriku.”

Hal kedua yang saya pelajari adalah bahwa saya harus belajar bersikap pasrah dan selalu bersyukur pada Tuhan. Saat saya meratapi keadaan yang menyebabkan saya masuk ke jurusan akuntansi, saya sama sekali tidak bersyukur atas semua yang saya punya, atas semua berkah lain yang telah Tuhan berikan. Saya lupa kalau masih punya keluarga yang utuh, saya lupa masih punya kondisi fisik yang utuh dan tidak cacat, saya lupa masih dapat makan tiap hari, bahkan saya lupa masih diberi anugerah menikmati kehidupan hari demi hari. Saya terjebak pada satu kesedihan dan melupakan semua hal positif yang telah ada pada diri saya. Kini, saya terus berusaha untuk selalu menemukan segala sesuatu dalam Tuhan dan menemukan Tuhan dalam segala sesuatu, seperti yang diajarkan oleh Santo Ignatius Loyola berabad-abad silam. Saya belajar untuk selalu pasrah dan terus bersyukur pada Tuhan dalam kondisi apapun.

Hal ketiga yang saya pelajari adalah tentang doa. Saya belajar bahwa doa bukanlah untuk meminta-minta bak pengemis pada Tuhan, namun doa adalah kebutuhan dasar kita untuk berubah dan menyongsong rencana yang telah ditetapkan Tuhan bagi kita, seperti yang pernah dikatakan oleh Sören Kierkegaard, “Prayer does not change God, but changes him who prays”. Doa adalah niat baik kita berdasar ketaatan kita pada Tuhan untuk selalu percaya padaNya, dan dengan itu kita dikuatkan olehnya. Doa bukan sarana pengabul keinginan, bukan pula mantra manjur yang pasti menyebabkan kita memperoleh segala sesuatu yang kita inginkan. Jika demikian keadaannya, kita hanya akan memanfaatkan Tuhan sebagai alat pengabul keinginan; tidak ubahnya seperti jin pengabul keinginan dalam kisah Aladdin di Seribu Satu Malam yang termashyur itu. Doa yang hanya mengharap imbalan itu adalah doa kepada “tuhan” ciptaan kita sendiri, yang sesuai dengan imajinasi kita tentang sosok Tuhan. Saya belajar bahwa doa adalah sarana kita untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Dengan doa, saya belajar mengucap syukur kepada Tuhan atas apa yang telah Dia berikan. Dengan doa pula, saya dapat memohon rahmat dan karunia penguatan, peneguhan, dan ketabahan yang saya perlukan. Dengan doa, saya berubah dan diubah untuk menjadi lebih baik.

Doa saya adalah bahwa tulisan ini akan bermanfaat bagi yang membacanya, dan terutama bermanfaat bagi diri saya untuk lebih mengenali lebih jauh lagi: siapakah sesungguhnya diri saya ini. Salam. Berkah Dalem. AMDG (Amrih Mulya Dalem Gusti).

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Sahabat Cakrabyuha, Tentang Doa, Tentang Hidup dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Membaca Diri dalam Kekecewaan Hidup

  1. gita berkata:

    “Sebagian orang menjalani seluruh waktu hidup mereka tanpa memperhatikan mukjizat-mukjizat kecil yang berlangsung sepanjang hari. Berkat-berkat kecil yang TUHAN kirimkan dari surga itu membuat kita tersenyum, tertawa, dan terkadang membuat kita patah hati, namun setelah itu dengan lembut DIA menarik kita agar lebih dekat ke sisiNYA” 🙂
    Terpujilah Tuhan yang sungguh Maha Besar..

    • sahabatkelana berkata:

      Kata Guru Agama SMA-ku, pengalaman-pengalaman hidup harian juga adalah mukzizat bila kita melihatnya dengan kacamata iman. Maka terpujilah Tuhan yang Maha Segala yang Baik dan Indah karena selalu ada untuk kita!

      Terima kasih sudi berkenan dan mampir di sini ya Gita! Sukses buat ujian nasionalnya!

  2. anyess berkata:

    Tuhan Yesus sudah merencanakan dan menuliskan apa yang akan terjadi dalam pembentukan kepribadian kita lewat “buku diary”Nya.. Mungkin saja di pertengahan jalan kehidupan kita, ada rintangan, keputusasaan, dan kekecewaan. Tapi satu hal yang aku pegang, Kristus akan selalu menuntun kita dengan mempertemukan kita pada teman, sahabat, bahkan orang yg pernah menyakiti hati kita yang (tanpa kita sadari) membawa banyak perubahan berharga dalam kehidupan kita.. 🙂

    Nice sharing..

    Tetaplah menjadi saluran berkat untuk sesama.. 🙂

  3. kedampar ke blog ini via google.. bagus.. sering2 diupdate Mas blognya…
    sering facebook’an? join ke grup muda mudi katolik yuk..
    https://www.facebook.com/groups/belajarimankatolikyuk/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s