Menyanyikan Misa

Menghidupkan Ritual Misa

Segala macam ritual kaku dalam misa beserta ubarampe yang menyertainya seringkali kita bandingkan dengan tata ibadah saudara kita di Gereja lain yang lebih hidup, dan hasil perbandingan itu sudah terlihat dalam keluhan yang sudah akrab di telinga kita: misa itu membosankan! Padahal, tata perayaan misa kita sudah diperbarui pasca-Konsili Vatikan II. Jika kita menengok ke belakang dan melihat tata perayaan misa lama atau dikenal dengan nama Misa Tridentine yang seluruhnya memakai bahasa Latin, pasti banyak dari kita yang tidak pernah mengalami masa sebelum pemberlakuan tata perayaan misa yang baru akan berkomentar: misa itu sangat membosankan luar biasa!

Dalam tulisan ini, saya tidak membela salah satu bentuk misa. Baik bentuk misa yang kita pakai sekarang ini (forma ordinaria) maupun bentuk misa Tridentine adalah kekayaan rohani liturgis Gereja. Bahkan belakangan ini, bentuk misa Tridentine telah boleh dipakai lagi sebagai forma extraordinaria (bentuk misa yang khusus) dengan surat motu proprio dari Paus Benediktus XVI. Yang ingin saya soroti dalam tulisan ini adalah komentar “misa itu membosankan”, entah dalam bentuk yang lama ataupun yang sudah diperbarui. Mengapa muncul komentar seperti itu?

Salah satu alasan utama yang saya temui adalah karena umat sendiri tidak mengenal apa makna di balik simbol-simbol liturgi yang digunakan dalam misa. Dengan tidak mengenal apa arti ritual dalam misa, jelas saja umat tidak mampu menghayati liturgi dalam misa dengan baik. Dalam rangka mengatasi masalah itu, di bulan Mei yang juga merupakan Bulan Maria, Gereja Katolik Keuskupan Agung Semarang juga menjadikan bulan Mei sebagai bulan katekese liturgi untuk lebih mengakrabkan umat dengan liturgi.

Pengetahuan dan pemaknaan dari umat yang merayakan memang akan sangat membantu umat dalam menghayati liturgi. Namun demikian, upaya dari para petugas liturgi untuk makin menghidupkan misa juga sangat penting. Para petugas liturgi memiliki kewajiban untuk membawa umat makin dekat pada Allah. Maka, berbagai langkah dan upaya dalam rangka menghidupkan misa supaya umat tidak menjadi bosan sebaiknya kita anggap sebagai langkah positif. Tentu saja, upaya menghidupkan misa ini masih harus dalam koridor yang diperbolehkan oleh rubrik (peraturan) liturgi. Sebagaimana diungkapkan oleh Scott Hahn, liturgi adalah salah satu cara Tuhan untuk bertindak sebagai Bapa kita. Sebagaimana seorang ayah yang memberikan beberapa peraturan bagi anaknya dalam hidup di rumah maupun di dalam pergaulan, demikian pula Bapa memberikan rambu-rambu bagi kita dalam liturgi. Kita boleh saja menghidupkan misa, tapi harus dalam rangka untuk mendekatkan umat pada Bapa dalam peraturan liturgi yang diberikan oleh Bapa dalam terang Roh Kudus pada Gereja. Ingat, menghidupkan misa bertujuan supaya umat menjadi makin dekat dengan Bapa, bukan sekedar supaya umat menjadi senang dan tidak bosan.

Tulisan ini saya tulis dengan tujuan untuk sedikit memberikan sumbangsih bagi katekese liturgi dalam perayaan misa dan untuk memeriahkan katekese di bulan katekese liturgi di bulan Mei mendatang. Tulisan ini berusaha menggali dan menambahkan kesuburan kehidupan liturgi dalam misa, terutama dari segi musik liturgi. Semoga tulisan ini dapat membantu umat untuk lebih menghayati misa dan dapat membantu petugas liturgi, khususnya petugas musik liturgi untuk membawa umat makin dekat pada Allah. Dalam bagian awal, tulisan ini berusaha memperkenalkan sedikit mengenai ritual dalam liturgi, kemudian melangkah lebih dalam pada musik liturgi. Bahan tulisan ini sebenarnya adalah bahan presentasi dari Romo C. H. Suryanugraha, OSC dari Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia (ILSKI), Bandung dengan sedikit tambahan dari saya.

 Melihat Struktur Misa

Ada dua bagian utama dalam misa, yaitu Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi, dan dua bagian pendamping: Ritus Pembuka dan Ritus Penutup. Dalam Misa yang normal, bagian utama tak boleh ditiadakan atau dipisahkan, sementara bagian pendamping menyertai mereka. Dalam hal Misa yang digabung dengan unsur liturgis lain (misalnya Ibadat Harian, Misa Arwah dan Pemakaman, dsb), dua bagian utama tetap dipertahankan, sementara bagian pendamping dapat diganti, dikurangi atau ditambah dengan unsur liturgis lainnya itu sesuai dengan kaidah yang berlaku. Jika dijumlah, Liturgi Ekaristi adalah bagian yang mengandung paling banyak ritus, kemudian disusul Liturgi Sabda, baru Ritus Pembuka, dan Ritus Penutup adalah bagian yang paling miskin. Ritual dalam Liturgi Ekaristi amat dominan, karena di situlah puncak perayaan Ekaristi terjadi.

Mencermati Ritual

Satu per satu ritus perlu diperhatikan. Untuk mudahnya, kita pahami di sini bahwa ritual adalah rangkaian ritus-ritus. Jadi, satuan ritus tertentu mempunyai nama sebagai ritual tersendiri. Misalnya kita lihat Ritual Perarakan Masuk. Ritual ini terdiri dari ritus-ritus: berdiri, berarak, menyanyi, mendupai, membungkuk/berlutut, imam mengecup altar.

Biasanya ritual yang penting atau punya bobot lebih, diberi perhatian khusus. Ritual itu diberi sejumlah unsur atau ritus yang tidak sekedar berjumlah satu atau dua. Dengan demikian, durasi waktu yang dibutuhkan juga bisa menggambarkan bagaimana seharusnya ritual itu diperlakukan. Misalnya, kita dapat melihat Ritual Bacaan Injil:    untuk menampilkan bahwa bacaan Injil lebih penting daripada bacaan pertama atau kedua, maka sebelum, ketika, dan setelah membawakan Injil ada sejumlah ritus mengisinya yaitu: ada Bait Pengantar Injil, ajakan, tanda salib, pendupaan, Injil yang dibacakan/dinyanyikan, dan bacaan Injil dikecup oleh imam. Hal-hal ini akan mudah dilakukan jika kita pun memahami makna dan tujuan setiap ritualnya. Ada beberapa ritual yang mempunyai alternatif atau bisa diganti, yang tentunya punya makna dan maksud yang sama dan selaras. Contoh beberapa ritus yang bisa diganti adalah ritus tobat bisa diganti percikan air suci, mengganti Doa Syukur Agung dengan Doa Syukur Agung tematis, dan ritus damai.

Berikut adalah grafik yang menunjukkan bagaimana bobot ritual menanjak dan memuncak dalam liturgi Ekaristi, dan kemudian menurun lagi sampai ke ritus penutup. Dapat kita lihat bahwa liturgi Ekaristi adalah liturgi puncak yang memiliki 20 ritus yang dapat dipecah lagi menjadi tiga bagian besar. Perhatikan pula bagian grafik yang diberi nomor 1, 2, dan 3. Nomor itu menunjukkan keparalelan antara tindakan liturgis yang dilakukan dalam misa dengan tindakan Yesus sendiri saat menetapkan Ekaristi dalam Perjamuan Terakhir. Tindakan liturgis ditulis dengan huruf berwarna biru di bawah grafik, sedangkan tindakan Tuhan Yesus ditulis di bawahnya dengan tulisan hitam.

Membedakan Jenis-jenis Misa

Setiap jenis Misa mensyaratkan aturan-aturan yang bisa berbeda, tidak selalu sama pada setiap bagiannya. Kita perlu membedakannya berdasarkan beberapa hal:

  1. Berdasarkan masa liturgi: Adven, Natal, Prapaskah, Paskah, Biasa.
  2. Berdasarkan tingkat perayaan: Hari Raya (Solemnitas, dalam kalender liturgi disingkat HR), Pesta (Festum, dalam kalender liturgi disingkat Pest.), Peringatan Wajib (Memoria obligatoria, dalam kalender liturgi disingkat Pw), Peringatan Fakultatif (Memoria ad libitum, dalam kalender liturgi disingkat PFak), Hari Biasa (De ea, dalam kalender liturgi disingkat H.Biasa).
  3. Berdasarkan bentuk atau rumus Misa: Misa ritual (= dengan sakramen lain), misa arwah, misa konselebrasi, misa hanya dengan satu pelayan.

Menyanyikan Misa

Ini sekedar upaya untuk memperlakukan segala aturan, makna, maksud yang terkandung dalam Misa. Kita mau keluar dari kebiasaan memperlakukan Misa yang hanya dibaca, tanpa nyanyian sama-sekali, bahkan tanpa usaha sedikit pun untuk membuat Misa terasa hidup, menarik, terpetik buah-buahnya. Singkatnya, kita mau mengubah kebiasaan “menyanyi dalam misa” (singing at Mass) menjadi “menyanyikan misa” (singing the Mass). Ungkapan ini memiliki dua segi yang saling melengkapi dan harus dipahami secara utuh.

Pertama, ungkapan menyanyikan Misa jangan dimengerti secara hurufiah, sehingga semua bagian dianggap harus dinyanyikan dengan aturan-aturan musikal segala. Menyanyikan Misa berarti membuat Misa ibaratnya suatu nyanyian, mungkin malah semacam “opera” atau pentas musikal yang tidak 100 % melulu nyanyian, di mana ada bagian yang dinyanyikan ada pula yang diucapkan, bahkan diperagakan atau malah diam, hening. Atau, lebih baik, Tata perayaan Misa kita lihat dulu sebagai layaknya suatu partitur atau teks nyanyian. Kunci atau nada dasarnya adalah berdasarkan jenis-jenis Misanya (Adven, Hari Raya, dan sebagainya).

Kedua, agak hurufiah, tapi tetap tidak lantas setiap bagian harus dinyanyikan. Prinsipnya, bagian-bagian yang maksudnya memang harus dinyanyikan, sebaiknya juga diperlakukan dengan semestinya. Hal ini tentu saja harus melirik makna dan fungsi nyanyian itu sendiri dalam Misa. Harus juga diketahui makna dan maksud ritualnya. Jadi, teks harus selaras dengan konteks. Nyanyian harus seiring dengan maksud ritualnya. Jika ritualnya menuntut perlakuan yang khusus, mungkin tak cukup hanya diiringi atau dibawakan dalam nyanyian, tapi juga dihiasi tata gerak atau bahkan tarian (misalnya doksologi Doa Syukur Agung, prosesi Kitab Injil, dan sebagainya).

Musik Liturgi Gereja Katolik Roma

Musik liturgi Gereja Katolik Roma diatur dalam banyak dokumen Gereja, beberapa di antaranya yaitu dokumen berjudul Musica Sacra (selanjutnya disingkat MS) dan dokumen Konsili Vatikan II tentang Liturgi yaitu Sacrosanctum Concilium (selanjutnya disingkat SC). Sebagai catatan, penomoran setelah singkatan dokumen menunjukkan penomoran bagian/artikel dalam dokumen terkait.

Lalu, apa itu musik liturgi? Menurut MS 4, pengertian musik liturgi adalah:

  • Musik yang digubah untuk perayaan liturgi suci.
  • Dari segi bentuknya memiliki suatu  bobot kudus tertentu.
  • Kategori: Gregorian, polifoni suci, musik liturgi untuk organ/alat musik yang sah, musik liturgi rakyat.

Ciri khas musik liturgi sejati adalah:

  • Bisa untuk paduan suara besar atau kelompok koor kecil
  • Peluang untuk partisipasi aktif jemaat
  • Syair harus selaras dengan ajaran Katolik; ditimba dari Alkitab dan sumber-sumber liturgi. (SC 121)

Dari pengertian dan ciri khas musik liturgi tersebut, dapatlah kita simpulkan bahwa beberapa praktik penggunaan musik liturgis dewasa ini telah melenceng dari relnya. Penggubahan lagu-lagu nongerejawi yang diganti kata-katanya dengan kata-kata gerejawi tidak lantas menjadikan lagu tersebut menjadi lagu liturgis. Perlu juga diperhatikan, terdapat beberapa perbedaan antara lagu liturgis dengan lagu rohani. Lagu rohani adalah lagu yang memuat tema mengenai kehidupan rohani, namun tidak selalu bermuatan liturgis sehingga tidak selalu dapat digunakan dalam misa. Pemilihan lagu liturgi rakyat tidak dapat diambil sembarangan dari lagu rohani biasa. Perlu ada beberapa kriteria yang harus dipatuhi dalam memakai lagu rohani dalam liturgi. Beberapa gerakan seperti Karismatik mungkin lebih longgar dalam memilih lagu dan musik liturgi, tapi alangkah baiknya bila kaidah-kaidah yang dikemukakan dalam tulisan ini tetap dipatuhi.

Pentingnya musik liturgi diungkapkan dalam MS 5 yang mengatakan bahwa musik liturgi berperan penting dalam:

  • Musik liturgi berperan sebagai doa yang diungkapkan secara lebih menarik (bersifat dekoratif). Mari kita ingat pepatah bahasa Latin yang berbunyi “Bene cantat bis orat” yang memiliki arti: bernyanyi dengan indah adalah dua kali berdoa. Dengan demikian, kata-kata dalam syair serta makna yang terkandung di dalamnya pada hakikatnya adalah lebih penting daripada keindahan notasinya.
  • Misteri liturgi, yang sedari hakikatnya bersifat hirarkis dan jemaat, dinyatakan secara lebih jelas dalam musik liturgi (bersifat diferensiatif)
  • Kesatuan hati dapat dicapai secara lebih berkat perpaduan suara (bersifat unitatif)
  • Hati lebih mudah dibangkitkan ke arah hal-hal surgawi berkat keindahan upacara kudus yang dihiasi dengan musik liturgi yang indah (bersifat transendental)
  • Seluruh perayaan dengan lebih jelas mempralambangkan liturgi surgawi yang dilaksanakan di kota suci Yerusalem baru (bersifat eskatologis).

Dalam MS 6, disebutkan penggunaan musik liturgis dengan baik:

  • Pengaturan perayaan liturgis secara tepat menuntut pembagian yang tepat dan penampilan fungsi-fungsi tertentu
  • Bagian-bagian yang sedari hakikatnya menuntut nyanyian, hendaknya dinyanyikan dengan mempergunakan jenis serta bentuk musik yang selaras dengan corak khasnya.

Berdasarkan MS 9, 10, dan 11, kriteria mutu untuk memilih dan membawakan musik liturgis yang baik adalah:

  • Diperhitungkan kemampuan mereka yang harus menyanyikannya
  • Sesuai dengan jiwa perayaan liturgis itu sendiri
  • Selaras dengan hakikat bagian setiap bagian dan tidak menghalangi partisipasi aktif dari umat.
  • Selayaknya bentuk perayaan dan tingkat partisipasinya bervariasi sebanyak mungkin
  • Sesuai dengan kemeriahan pesta dan keadaan umat yang hadir.
  • Kemeriahan sejati musik liturgis pertama-tama tidak tergantung semata-mata pada indahnya nyanyian atau bagusnya upacara, tapi pada makna dan perayaan yang memperhitungkan keterpaduan perayaan liturgis dan pelaksanaan setiap bagian sesuai ciri-ciri khasnya. Seperti diungkapkan sebelumnya, kata-kata dan makna syair lagu liturgis harus diutamakan. Dengan demikian, artikulasi (pengucapan) dan cara membawakan lagu liturgis harus mendukung kejelasan kata-kata dalam musik tersebut. Umat harus mampu mendengarkan dengan jelas kata-kata yang disampaikan. Beberapa contoh yang bertentangan dengan kaidah ini: pemazmur membawakan syair dengan terlalu banyak vibrasi vokal sehingga kata-katanya sulit didengar dengan jelas, alat musik dimainkan terlalu keras sehingga menutupi kata-kata syair.
  • Bertentangan jika ada bagian musik liturgis yang wajib dinyanyikan dihilangkan, diubah, atau dibawakan dengan tidak semestinya. Contoh yang paling jelas dalam hal ini adalah pelarangan penggunaan beberapa lagu “Bapa Kami” yang tidak sesuai dengan teks liturgisnya, seperti Bapa Kami gaya Waltz, Bapa Kami dengan teks tambahan “bebaskan, bebaskan”, dan lain-lain.

Menurut SC 26 dan MS 13, perayaan-perayaan liturgis adalah perayaan seluruh Gereja, yaitu umat yang disatukan oleh uskup atau imam (dalam hal ini, uskup atau imam memegang peranan khusus). Dengan melihat hakikat perayaan liturgis sebagai perayaan bersama (bukan perayaan imam dan petugas liturgi semata), maka umat juga harus berperan serta dalam perayaan liturgi, juga termasuk dalam musik liturgi. Berdasarkan MS 15, 16, 17, dan 19, peran serta umat dalam liturgi adalah sebagai berikut:

  • Umat menunaikan peranan liturgisnya dengan partisipasi penuh, sadar, dan aktif, baik secara batiniah maupun secara lahiriah
  • Selain berperan aktif seperti ikut serta menyanyi dan menjawab aklamasi, umat juga diajar untuk memadukan diri secara batin dengan apa yang dinyanyikan oleh petugas atau koor (dengan kata lain: mendengarkan).
  • Partisipasi aktif umat dapat digalakkan lewat: Aklamasi, jawaban terhadap salam imam/pembantunya, doa-doa litani, antifon, mazmur, ayat ulangan, madah, kidung, serta bagian-bagian nyanyian yang menjadi hak mereka
  • Beberapa nyanyian umat dapat diserahkan pada koor saja asal umat tidak merasa dikucilkan.
  • Umat perlu saat-saat hening (tidak ikut menyanyi bersama dengan koor), dengan didukung oleh syarat dan kondisi: 1) Umat tidak diperlakukan sebagai orang asing atau penonton yang bisu, 2) Nyanyian liturgis membawa umat untuk disatukan secara lebih intim dalam misteri yang sedang dirayakan, 3) Umat dibawa untuk menghayati keterbukaan hati yang mendalam akan Sabda, doa, dan lagu.

MS 19 dan 24 menyoroti secara khusus mengenai paduan suara atau koor. Koor adalah petugas liturgi yang menjadi satu bagian dengan umat, namun perlu mendapat perhatian khusus karena bertugas membawakan secara tepat bagian-bagian yang dipercayakan kepadanya. Dengan demikian, anggota koor perlu mendapat pembinaan musik, liturgi, dan rohani yang memadai.

Mengenai alat musik liturgi, SC 20 dan MS 62-65 mengangkat beberapa hal penting terkait penggunaan alat musik dalam liturgi sebagai berikut:

  • Dalam Gereja Latin, orgel pipa hendaknya dijunjung tinggi sebagai alat musik tradisional.
  • Alat musik lain dapat juga dipakai asal sesuai dan dapat disesuaikan dengan: 1) Fungsi kudusnya, 2)  keanggunan gedung gereja, dan 3) membantu memantapkan liturgi.
  • Untuk penggunaan alat musik lain, perlu diperhitungkan: 1)  kebudayaan dan tradisi masing-masing bangsa, 2) alat musik yang menurut pendapat umum hanya cocok untuk musik sekular (musik nongerejawi) haruslah sama sekali dilarang penggunaannya untuk perayaan liturgis dan devosi umat, 3) alat musik tersebut memenuhi tuntutan perayaan liturgis, 4) alat musik tersebut membantu menyemarakkan liturgi, dan 5) alat musik tersebut membantu memantapkan jemaat.
  • Penggunaan alat musik ditujukan untuk: 1) dukungan untuk membantu para penyanyi, 2) memudahkan partisipasi umat, 3) menciptakan kesatuan hati yang mendalam antar jemaat, 4) perlu diperhatikan bahwa bunyi alat musik tidak menenggelamkan suara para penyanyi (kata-kata harus bisa ditangkap). Kita harus kembali menyadari bahwa dalam musik liturgi, kata-kata dalam syair lagu dan arti yang terkandung di dalamnya adalah harus diutamakan terlebih dahulu daripada keindahan lagu maupun alat musik pengiringnya.
  • Alat musik tidak untuk mengiringi bagian yang dibawakan imam/petugas yang memang tidak seharusnya diiringi alat musik, terutama saat doa.
  • Alat musik dapat dimainkan secara instrumental untuk Misa pada bagian: awal, sebelum imam sampai di altar, pada persiapan persembahan, pada komuni dan akhir perayaan.

Unsur-unsur Musikal dalam Misa

Berikut adalah ritus-ritus yang dapat mengandung musik liturgi, baik diiringi dengan alat musik maupun dinyanyikan (oleh koor bersama umat, koor saja, atau oleh pemimpin liturgi):

  1. Perarakan Masuk
  2. Pernyataan Tobat – Kyrie
  3. Gloria/Kemuliaan
  4. Doa Pembuka
  5. Bacaan-bacaan dari Alkitab
  6. Mazmur Tanggapan
  7. Bait Pengantar Injil
  8. Pernyataan Iman
  9. Doa Umat
  10. Persiapan Persembahan
  11. Doa Persiapan Persembahan
  12. Prefasi – Sanctus
  13. Doa Syukur Agung
  14. Bapa Kami
  15. Ritus Damai
  16. Pemecahan Roti – Agnus Dei
  17. Perarakan Komuni
  18. Doa Sesudah Komuni
  19. Berkat – Pengutusan
  20. Perarakan Keluar

Memilih Nyanyian untuk Misa

Nyanyian perlu dipilih dan disertakan untuk mengiringi Misa. Fungsi nyanyian itu sendiri seharusnya dimengerti secara benar, tidak sekedar mengisi kekosongan atau menghiasi antara bagian Misa.

[A] Jenis-jenis Nyanyian Misa

1. Aklamasi  

Aklamasi adalah seruan atau pekik sukacita seluruh jemaat sebagai tanggapan atas sabda dan karya Allah. Aklamasi terdiri dari:

a. Bait Pengantar Injil  (Alleluia).

b. Sanctus (Kudus), diawali prefasi (dinyanyikan ataupun tidak) oleh Imam

c. Aklamasi Anamnesis, yaitu bagian setelah konsekrasi di mana imam mengajak umat untuk mengenangkan misteri iman: wafat, kebangkitan, dan kedatangan Kristus yang kedua. Aklamasi diawali dengan seruan/ajakan Imam (dinyanyikan ataupun tidak)

d. Amin Meriah, yaitu bagian akhir Doa Syukur Agung. Amin Meriah diawali dengan nyanyian doksologi Doa Syukur Agung oleh Imam.

e. Doksologi Bapa Kami, yaitu bagian akhir doa Bapa Kami yang berbunyi “sebab Engkaulah Raja yang mulia dan berkuasa untuk selama-lamanya. Dapat diawali dengan embolisme (nyanyian sisipan) oleh imam.

2. Nyanyian Perarakan

Nyanyian perarakan berkaitan dengan “menyambut” simbol kehadiran Kristus, dan meningkatkan kesadaran akan persekutuan. Ada antifon khusus perarakan dalam Misale Romawi.

a. Perarakan Masuk

b. Perarakan Komuni

3. Mazmur Tanggapan   

Mazmur tanggapan dinyanyikan untuk menanggapi sabda Allah, selaras dengan tema bacaan Misa.

4. Nyanyian “Ordinarium (Baru)”  

Merupakan pilihan lepas, kadang boleh diucapkan saja.

a. Kyrie  (Tuhan, Kasihanilah Kami)

b. Gloria  (Kemuliaan)

c. Doa Tuhan “Bapa Kami”  [ + ajakan dan embolisme Imam serta doksologi Jemaat atau + tanpa embolisme ]

d. Agnus Dei  (Anak Domba Allah): Pemecahan Roti

e. Credo  (Aku Percaya)

5. Nyanyian Tambahan  

Nyanyian tambahan tidak dituntut oleh teks liturgi/ritus khusus, boleh dinyanyikan oleh koor saja.

a. Persiapan Persembahan

b. Madah/Doa Syukur sesudah Komuni

c. Penutup/Perarakan keluar

d. Litani

[B] Memilih nyanyian menurut tingkat perayaan

Berikut adalah aturan pemilihan nyanyian menurut tingkat perayaan. Cara penulisan di bawah ini mengacu pada penomoran pada bagian sebelumnya, yaitu bagian [A] Jenis-jenis Nyanyian Misa. Sebagai contoh, bila ditulis yang wajib dinyanyikan adalah 1a, maka yang dimaksud adalah bagian 1 (Aklamasi), huruf a (bait pengantar Injil/Alleluia).

  1. Hari Minggu/Hari Raya:  1, 2, 3, 4, 5 (semua dinyanyikan)
  2. Pesta:  1, 2, 3, 4 (kecuali 4 e), 5 (kecuali 5 b, d)
  3. Peringatan (Wajib/Fakultatif):  1, 2, 3, 5 (kecuali 5 c,d)
  4. Hari Biasa:  1 (kecuali 1 a), 3
Semoga kita makin mampu menghayati misa dan menimba rahmat yang berlimpah dalam Ekaristi.
Berkah Dalem.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tentang Perayaan Ibadat dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Menyanyikan Misa

  1. Ping balik: Dari Minimalis Menjadi Optimalis | mantancakrabyuha

  2. aklahat berkata:

    Ini bahan katekese liturgi yang mantap. Terimakasih ya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s