Apa Itu Doa?

Dalam tulisan ini, saya membagikan pengalaman dan pengetahuan saya setelah mengikuti Kursus Kompendium Katekismus Gereja Katolik di Gereja Katedral Semarang. Bahan mengenai doa ini dibawakan oleh Br. Nicolaus, FIC dan saya menambahkan beberapa hal. Beberapa hal yang sama tambahkan berasal dari diskusi dengan sahabat sesama mantan Cakrabyuha, Mas Ferry Adriawan Pramono, S.E.

Bagi orang beriman, doa adalah suatu kebutuhan yang mutlak dilakukan. Kita sudah akrab dan fasih mengucapkan dan melafazkan rentetan doa dan pujian pada Tuhan. Namun, ada banyak tantangan dalam berdoa. Kadang kita merasa bahwa kita sama sekali kosong, tidak tahu harus mengucapkan apa di dalam doa kita. Kita merasa diri kita berada dalam keadaan yang jauh dari Tuhan, sebuah kondisi yang disebut St. Ignatius Loyola sebagai desolasi. Kadang kita berdoa dengan pikiran dan hati yang lebih berpusat kepada karya kita pribadi daripada karya Allah (ingat doa si orang Farisi di Luk 18: 9-14). Hati kita harus terbuka terhadap inspirasi dan bimbingan yang diberikan-Nya sebab Dia lebih tertarik pada perkembangan dan pertumbuhan doa kita daripada pandangan kita terhadap diri kita sendiri.

Dalam berdoa, tidak seorangpun dapat mengajari kita bagaimana cara berdoa selain Roh Kudus sendiri (Roma 8:26). Maka sebelum kita berdoa, sungguhlah perlu bagi kita untuk memohon bimbingan Roh Kudus. Dalam terang Roh Kudus, kita akan mengetahui, mendalami, dan menghayati doa dengan lebih baik. Dalam terang semangat untuk lebih mengenal doa, tulisan ini mengungkap beberapa pemikiran mengenai doa.

1.    Berdoa Merupakan Aktivitas Iman

Iman menjadikan doa kita lebih mudah. Modal dasar kita dalam berdoa adalah dengan memiliki iman.  Iman membantu kita untuk berdoa dengan mengarahkan seluruh perhatian dan kesadaran kita kepada Tuhan yang selalu hadir dengan sepenuh hati di dalam kehidupan kita. Dengan berbekal iman, kita dapat melangkah melampaui persiapan awal untuk menemui Tuhan.

Segala sesuatu yang dapat membantu kita bertumbuh dalam beriman juga akan membantu kita tumbuh dalam semangat berdoa. Kita dapat berdoa lebih mesra di saat mengalami kesulitan sebab di saat itu iman kita akan kasih Allah sedang diuji dan berkembang. Sebaliknya, pada saat seseorang kehilangan imannya ketika menghadapi kesulitan, mereka berhenti berdoa. Bagaimana ia akan mampu berkomunikasi dengan Allah pada saat tidak beriman?

Tanpa iman, kita kehilangan kemampuan untuk berdoa. Kita ibaratkan saja seperti seseorang yang tidak bisa melakukan percakapan melalui handphone karena tidak ada sinyal. Demikian pula dengan doa: kita tidak akan mampu melakukan percakapan melalui doa karena tidak ada iman.

2.    Berdoa Berarti Melakukan Hubungan Pribadi

SBY, Presiden Indonesia saat ini, adalah orang paling penting nomor satu di Indonesia. Bayangkan bila kita mau bertemu dengan SBY. Kita harus mempunyai kedudukan atau kepentingan yang maha besar, harus membuat janji dan prosedur yang rumit, harus ini dan harus itu.

Maka, betapa menakjubkannya kita bisa berkomunikasi dengan Tuhan, Pribadi yang paling penting dan berkuasa di jagad raya ini tanpa harus melalui prosedur yang rumit. Cukup melalui doa, kita bisa berkomunikasi secara akrab, intim, dan mesra dengan Tuhan. Tuhan bisa kita temui dalam doa di manapun, kapanpun, dan dalam kondisi apapun.

Justru kadang kita yang menjadi terlalu sibuk, terlalu banyak kepentingan dan keperluan, atau sekedar terlalu malas untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Seakan kacang lupa akan kulitnya, kita lupa dengan Dia yang telah menciptakan kita dan mencukupi kebutuhan kita. Namun, Tuhan Allah selalu sepenuhnya tersedia tiap saat bagi kita saat kita membutuhkan-Nya.

Kadang pula kita menganggap doa sebagai ritual kosong. Saat berdoa, kita hanya menggumamkan kata-kata hafalan tanpa benar-benar menghayatinya. Kita lupa bahwa doa bukan merapal japi-japi atau mantra. Doa adalah bentuk komunikasi dua arah, antara Tuhan yang menganugerahkan kasih dan kita yang menanggapi kasih Allah tersebut. Maka sungguh benar perkataan St. Josemaria Escriva, doa orang Kristen tidak pernah menjadi monolog. Dalam doa, kita mengucap syukur dan memohon pada Tuhan. Dalam doa, kita juga mendengarkan sapaan Allah kepada kita.

3.    Doa Merupakan Anugerah

Dengan menyadari bahwa doa adalah sarana komunikasi kita dengan Tuhan, kita akan menyadari bahwa doa adalah anugerah. Bagaimana mungkin ciptaan melakukan komunikasi dengan pencipta-Nya kalau sang Pencipta tidak memberikan kemungkinan untuk itu? Bagaimana mungkin kita dapat mencapai hadirat-Nya tanpa pertama-tama Dia yang lebih dahulu mendatangi kita?

Ini berarti berdoa merupakan anugerah khusus. Kita hanya dapat datang ke hadirat-Nya karena Dia mengundang kita semua. Tuhan Allah adalah Sang Pemberi dan kita adalah penerima pemberian. Tuhan Allah yang pertama-tama selalu berinisiatif, memberikan diri-Nya sendiri sehinga kita kemudian dimungkinkan untuk mempersembahkan diri kepada-Nya sebagai jawaban. Doa dimungkinkan karena Allah menghendakinya dan Dia menganugerahkan iman kepada kita sehingga terjadilah doa.

4.    Doa Mengantar Ke Persatuan Dengan Allah

Tujuan terpenting dalam berdoa adalah persatuan erat dengan Allah. Persatuan dengan Allah hanya dapat terlaksana pada saat Sang Pencipta memberikan diri-Nya sebagai anugerah kepada ciptaan-Nya. Mahluk ciptaan tidak dapat mengusahakan persatuan ini betapa keras atau sempurna usahanya.

Doa tidak berarti apa-apa tanpa mengantarkan ke persatuan makin erat dengan Allah. Waktu yang kita luangkan untuk berdoa, kata-kata yang kita ucapkan, dan upaya kita menciptakan suasana hening yang mengantar kita kepada penyerahan diri ke hadirat-Nya, semua tertuju ke satu hal terpenting yakni untuk bersatu dengan Dia. Bahkan sewaktu mengucapkan doa permohonan, kita mengarahkan hati kita kepada pengharapan akan pemberian-Nya. Pengharapan kita pada Tuhan memperdalam rasa kebergantungan, pasrah, dan percaya kepada-Nya, dan hal ini menghasilkan kedekatan hubungan pribadi kita dengan Tuhan Allah. Inilah yang menjadi prioritas utama kita, kebersatuan kita dengan Allah. Hal yang kita minta sebenarnya harus mendapat kedudukan nomor dua, karena kita percaya bahwa Tuhan akan selalu menyediakan apa yang kita butuhkan.

Ada banyak alat bantu yang tersedia bagi kita dalam berdoa, seperti rosario, gambar dan patung kudus, litani, novena, dan macam-macam kekayaan warisan doa dalam Gereja. Alat bantu dalam berdoa merupakan sarana yang dimaksudkan membantu kita mengarahkan perhatian kita kepada Allah. Perlu diperhatikan bahwa jika kita terlalu terikat kaku pada cara-cara, kata-kata doa, buah pikiran, atau bahkan gambaran kita mengenai Allah; alat bantu tersebut bisa menjadi gangguan dalam berdoa. Sebagai ganti berjumpa dengan Allah Sang Pencipta, kita ternyata hanya akan berjumpa dengan ciptaan-ciptaan saja. Hal ini dapat terjadi bahkan dalam hal-hal kecil, misalnya dengan menjadikan rosario sebagai jimat bukannya alat bantu doa.

Pernah saya mendengar cerita tentang seorang teman yang akan menghadapi ujian. Di lehernya tergantung sebuah rosario. Ketika ditanya mengapa ia memakai rosario di lehernya, ia dengan yakin menjawab bahwa jika ia memakai rosario di lehernya maka ia pasti akan lulus ujian. Setelah ditanya lebih jauh, ternyata ia tidak menggunakan rosario itu untuk berdoa, tapi lebih mirip sebagai jimat. Ia percaya bahwa rosarionya akan membantunya lulus ujian. Bahkan tiap kali ia bertemu seorang imam, ia selalu minta imam itu untuk memberkati rosarionya. Katanya, biar lebih manjur. Pendapat teman itu saya pandang sebagai pemikiran yang keliru. Ia akan lulus ujian jika ia belajar dengan rajin dan memohon pertolongan Tuhan. Rosario dapat dipakai sebagai sarana untuk memohon. Namun, bila rosario sudah dijadikan jimat, jelas itu sudah termasuk pada pemberhalaan benda-benda duniawi.

5.    Doa Merupakan Pengalaman Kasih Allah dan Pengungkapan Cinta Kita kepada Allah

Kita telah mengetahui bahwa doa adalah anugerah tak terhingga dari Allah bagi kita. Allah memberikan anugerah itu karena Dia mengasihi kita, Tuhan mencintai kita semua. Pengalaman berada di hadirat Allah dalam doa merupakan pengalaman dicintai. Kesadaran diri dicintai Allahlah yang menyembuhkan dan memerdekakan kita sehingga kita menjadi bebas untuk berbalik mencintai Dia.

Dalam cinta, kita dapat berseru kepada Allah dengan sebutan Bapa. Dialah yang pertama-tama memenuhi kita dengan Roh Cinta Kasih-Nya. Dalam cinta-Nya, Allah menjadi Bapa kita dan kita anak-anak-Nya (Roma 8: 14-15). Hanya Allahlah yang dapat melakukannya, Allahlah yang pertama-tama berinisiatif.

Selama berdoa, kita dapat menjadi lebih menyadari anugerah Allah berupa pemberian cinta-Nya. Selanjutnya kita dapat dengan bebas menjawabnya dengan ucapan terimakasih sebagai balasan. Beato Paus Yohanes Paulus II mengingatkan agar kita hadir di hadapan Allah dan mewartakan kasih, tetapi di atas semua itu, hendaklah memberikan diri untuk dicintai Allah. Maka, bila kita tidak rela meluangkan waktu dan tidak dengan rendah hati mempersembahkan diri kita ke dalam cinta-Nya, kita akan kehilangan kesempatan untuk menerima anugerah yang terbaik yang mungkin kita terima.

6.    Doa adalah Ungkapan Iman

Bayangan kita mengenai doa yang aktif biasanya dilukiskan penuh kata-kata, permohonan, dan ungkapan syukur. Memang, pengulangan kata-kata indah dalam doa dapat sangat memuaskan kita yang mengucapkannya, apalagi bila kita mampu menyusun sendiri untaian kata-kata doa yang indah. Kita akan merasa lebih senang bila sesuatu telah terlaksana, doa kita terwujud, mukzizat telah terjadi. Sesuatu telah terjadi sebab kita merasa telah melaksanakan sesuatu. Tapi, kita harus ingat bahwa sesuatu terjadi bukan karena doa kita indah, bukan karena doa kita manjur. Kita harus ingat bahwa doa dan pemberian adalah anugerah Allah. Bahkah, tidaklah mungkin kita dapat berdoa dengan aktif tanpa anugerah iman.

Namun doa yang aktif tidak hanya mengenai kata-kata kita sendiri. Doa adalah dialog, sehingga kita perlu memberikan kesempatan bagi Tuhan untuk menyapa balik kita dalam doa. Maka, ada bagian dari doa di mana kita bersikap diam dan hening. Kita tahu bahwa dalam percakapan, diam dan hening diperlukan supaya kita dapat menerima dan mendengarkan kata-kata orang yang kita ajak berbicara. Demikian pula dengan doa: kalau kita masih sibuk dengan kata-kata kita sendiri, kita tidak akan dapat mendengarkan kata-kata Tuhan.

Keheningan adalah konsep yang indah, namun tidak semudah yang dibayangkan. Sering terjadi, keheningan eksternal justru menunjukkan keriuhan pikiran dan hati. Artinya, walaupun mulut kita diam dan badan kita tidak beraktivitas, pikiran dan hati kita akan langsung melanglang buana. Ketika kita diam, entah kita akan melamunkan pikiran remeh ataupun mengkhawatirkan urusan-urusan kita. Sikap diam hening ternyata sulit dilakukan.

Iman yang sangat besar dibutuhkan di dalam sikap doa menerima dan mendengarkan, sebab sikap ini menekankan kehadiran kita di hadirat Allah. Dalam sikap doa ini, mungkin sangat kecil ada tanda-tanda bahwa sedang terjadi sesuatu. Dalam keheningan doa, kita membuka diri bagi anugerah Allah yang terbesar yakni kasih-Nya. Dibutuhkan iman yang teguh untuk mampu menyerahkan diri kepada kasih Allah dan hanya hadir di hadirat-Nya, khususnya ketika tidak ada tindakan yang berlandaskan pada perasaan.

Jika doa membutuhkan iman yang besar, maka doa juga membutuhkan kerendahan hati mendalam guna mempersembahkan semua hal yang ada dalam pikiran dan hati kita. Kita hanya dapat terbuka terhadap komunikasi serupa itu bila kita berniat mengurbankan dan mempersembahkan aktivitas kita  untuk menjadi lebih sadar dan percaya pada cinta Allah. Kini, kita berdoa dengan menjadi lebih mau memberikan perhatian dan menjadi peka terhadap tindakan  Allah.

7.    Dalam Doa, Sebenarnya Allah dan Roh-Nya yang Membimbing dan Mengarahkan Kita

Segala sesuatu yang baik berasal dari Allah. Cinta, devosi, rindu akan Allah, atau segala yang alami dan mengandung nilai kebaikan di dalamnya, itu adalah anugerah Allah. Kita tidak mengupayakan hasil dari pengalaman ini. Upaya dan cara-cara kita hanyalah membantu kita menjadi lebih terbuka terhadap rencana pemberian Allah bagi kita.

Tentulah sering kita berpikir, kitalah yang melakukan semuanya itu. Tetapi orang beriman yang rendah hati menyadari bahwa Allahlah yang selamanya aktif terus melanjutkan karya-Nya memberikan inspirasi bagi segala hal yang baik yang kita lakukan. Baik dalam doa maupun dalam aktivitas, kita membutuhkan kesadaran iman bahwa Allah masih berkarya. Mulai dari awal, tengah, sampai akhir, segala yang kita lakukan kita pastilah bekerjasama dengan inspirasi Allah. Dengan kesadaran yang sama, kita juga menyadari bahwa apapun yang baik dari kita merupakan jawaban dan tanggapan terhadap rahmat Allah (lihat Fil 1:6, 2:13, dan Yakobus 1:17). Tanpa bantuan-Nya segalanya sia-sia belaka. Dalam kehidupan nyata kita perlu berdoa dan bekerja seperti kita mempercayai Allah yang bersabda, ”Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:5b)

Sedikit tambahan, semangat di atas juga dipakai dalam Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang 2011-2015 sebagaimana terliha di alinea terakhir Arah Dasar (untuk melihat Arah Dasar tersebut, klik link di bawah ini). Semangat yang sama juga digemakan dalam doa resmi gereja Liturgia Horarum atau Ibadat Harian (brevir) yang dibuka dengan kalimat, ”Ya Allah, bersegeralah menolong aku! (lihat Mzm 22:19)“.

http://pujasumarta.multiply.com/journal/item/301/Maklumat_Arah_Dasar_Umat_Allah_Keuskupan_Agung_Semarang_2011-2015

8.    Berdoa berarti dimiliki Allah dan membiarkan diri diubah oleh-Nya

Diri kita selalu ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Perkembangan pribadi yang baik dalam kacamata iman adalah perkembangan dari manusia duniawi kepada manusia rohani. Untuk mencapai hal ini, kita harus mau untuk berubah. Namun dalam diri kita ada selalu keterbatasan akan kehendak kita untuk mengubah diri sendiri. Tidaklah demikian dengan Allah, bagi Allah tidak ada yang mustahil. Bila pada awalnya Dia dapat menciptakan kita, maka Dia juga dapat menciptakan kita menjadi baru bila kita mau bekerjasama dengan-Nya.

Pertumbuhan pribadi ini terjadi lebih-lebih karena dipenuhi dan dipengaruhi Roh Allah yang dicurahkan kepada kita sebagai anugerah. Kerinduan kita mengenal diri sendiri kita upayakan dengan teknik psikologi atau usaha kita mengubah diri. Hal ini adalah baik karena merupakan karya Allah yang mencurahkan Roh Kudus ke dalam diri kita. Namun perlu diperhatikan bahwa pertumbuhan ini terjadi lebih efektif dalam suasana doa, pada waktu kita lebih terbuka bagi kehendak Allah yang memang harus terjadi  dalam diri kita.

Gambaran indah mengenai Allah yang mengubah dan membuat kita menjadi baru dapat kita lihat dalam Yehezkiel 36:25-47. Dalam perikop itu, kita melihat bahwa hanya Allah yang berkuasa bertindak dalam diri kita. Dia akan memancarkan air yang jernih dalam diri kita. Dia akan membersihkan kita dari kenajisan dan berhala-berhala kita. Dia akan memberikan hati baru dan mencurahkan Roh Ilahi ke dalam batin kita. Dia mengambil hati yang membatu dan memberikan  kepada kita hati yang mendaging. Dia akan menempatkan Roh-Nya yang kudus dalam diri kita.

Apakah ini berarti yang kita perlukan hanyalah duduk dan menanti sampai semuanya itu terjadi? Adakah ladang yang dengan sendirinya ditumbuhi tanaman panenan? Allah akan membantu mereka yang membantu dirinya sendiri. Upaya kita dalam memperkembangkan diri sendiri berupa menggali, menaburkan, mengolah tanahnya dan menyianginya; sisanya akan dilakukan Allah sendiri (lihat 1 Kor 3:6-7)

Ada cerita apik dari Anthony de Mello mengenai hal ini. Tersebutlah seorang tua berjenggot yang jenggotnya terbakar akibat kejatuhan abu rokoknya, tapi si tua justru diam. Sang istri segera ribut, panik, memarahi suaminya yang diam saja, dan mengambilkan air untuk memadamkan api di jenggot suaminya. Si suami tua berjenggot dengan jengkel berkata pada istrinya, “Tidakkah engkau lihat bahwa aku sedang berdoa pada Tuhan supaya Ia memadamkan api di jenggotku!”

9.    Doa berarti mempersembahkan waktu

Terkadang ada orang yang mengatakan berdoa merupakan pemborosan waktu secara sia-sia. Perkataan “pemborosan waktu” bernada negatif. Dari uraian di atas, dapat kita lihat bahwa doa adalah anugerah luar biasa indah dari Tuhan. Namun demikian, memang terkadang kita merasakan bahwa doa tidak menjadi prioritas utama kita. Masih ada banyak hal lain yang kita rasa lebih penting. Mungkin akan membantu kita lebih menghargai doa dengan berkata bahwa berdoa adalah suatu bentuk pengorbanan – persembahan waktu dari kita bagi-Nya.

Di dalam Perjanjian Lama (lihat kitab Imamat bab 1-3), bentuk korban yang paling sempurna adalah korban bakaran, yaitu korban sembelihan yang dibakar habis sebagai persembahan. Binatang korban dipilih secara hati-hati dan cermat, baik itu biji-bijian, buah, atau ternak yang terbaik. Selanjutnya korban dibakar habis sepenuhnya dimakan api untuk sepenuhnya dipersembahkan kepada Allah. Bentuk korban di bawah korban bakaran adalah korban sajian dan korban keselamatan di mana persembahan itu tetap ditujukan bagi Allah, tapi setelah itu bagian dari korban itu masih ada untuk dimakan.

Kedua persembahan terakhir tadi tidaklah sesempurna korban bakaran, sebab yang membuat korban sempurna yakni yang dipersembahkan. Korban sajian dan korban keselamatan itu lebih merupakan simbol, sedangkan dalam korban bakaran, persembahan  itu sangatlah nyata. Segalanya sungguh dipersembahkan kepada Allah dan orang yang melakukan korban bakaran itu sama sekali tidak menerima pengembalian apapun juga.

Salah satu hal yang berharga dari kita yang lebih berharga daripada biji-bijian, buah-buahan, atau hewan yang terbaik adalah waktu kita. Dengan menyediakan (baca: mengorbankan) waktu untuk berdoa, kita sesungguhnya telah mempersembahkan sesuatu yang sangat berharga bagi Allah.  Sama seperti korban bakaran yang seluruhnya terbakar habis dan tidak ada sisa yang bisa diambil lagi, waktu yang kita korbankan dalam doa tidak dapat kita ambil lagi. Seluruh waktu tersebut menjadi pengorbanan kita.

Berdoa itu perlu, tidak hanya karena apa yang akan kita peroleh darinya, tetapi karena doa merupakan sarana untuk mempersembahkan sesuatu yang khusus kepada Allah. Dalam doa, kita kembalikan kepada Allah waktu kita yang telah dipercayakan-Nya kepada kita setiap hari. Pujian polos anak-anak di sekolah Minggu menangkap dengan jelas esensi mempersembahkan waktu pada Tuhan: “Dari terbit matahari sampai pada masuknya, biarlah nama Tuhan dipuji!” (bandingkan Mzm 113:3).

Berkah Dalem

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tentang Doa dan tag , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Apa Itu Doa?

  1. anyess berkata:

    Setuju! Menurutku, doa itu ga harus dilakukan dengan kata2 hafalan yang baku.. Tinggal spontanitas apa yang kita rasakan saat itu juga. Bahkan kalau suasana hati kita sedang sedih, kita bisa “curhat” layaknya seorang teman/sahabat dengan bahasa kita sendiri.. Anggap saja kita sedang “menelepon” Dia.. 😀
    Nice sharing gan! :beer:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s