Memperdalam Doa dengan Adorasi Ekaristi

Buku tulisan St. Josemaria Escriva

Doa

Salah satu buku favorit saya adalah Camino, sebuah buku kecil yang ditulis oleh St. Josemaria Escriva. St. Josemaria Escriva adalah pendiri gerakan Opus Dei, sebuah gerakan religius internasional yang mendadak menjadi terkenal setelah kena fitnah di buku fiksi Dan Brown yang berjudul Da Vinci Code. Di tulisan ini, saya tidak sedang berusaha membahas Opus Dei ataupun tentang novel fiksi Da Vinci Code. Saya ingin membahas sebuah kutipan singkat dari St. Josemaria Escriva tentang doa. Kutipan St. Josemaria Escriva berbunyi sebagai berikut: doa adalah senjata utama dalam kehidupan sehari-hari.

Saat saya membaca kutipan tersebut, serentak saya teringat akan para rahib di Rawaseneng. Sepertinya kehidupan mereka sudah berdasar prioritas yang benar seperti dikatakan oleh St. Josemaria Escriva. Kehidupan harian mereka juga bahkan sudah ditata sehingga kehidupan doa selalu menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditinggalkan.

Bagaimana dengan para imam yang berkarya di masyarakat dan para awam? Kehidupan harian kita tidak begitu tertata seperti para rahib Rawaseneng. Dalam kehidupan harian kita yang selalu sibuk akan hal-hal duniawi, kita ditantang untuk menyediakan waktu sejenak untuk bertegur sapa dengan Tuhan dalam doa. Seringkali untuk mengingatkan kita, dipakai kutipan dari Tuhan, “Dapatkah engkau berjaga satu jam saja lamanya?”

Saya lantas teringat akan kehidupan doa yang saya lakukan selama ini. Memang tiap hari saya berdoa dan membaca Kitab Suci, serta sedapat mungkin mengikuti misa harian. Namun, selama ini tidak ada prioritas akan hal itu. Seolah doa bukanlah suatu hal utama yang menjadi kebutuhan, namun sekedar menjadi kewajiban yang rutin. Seringkali yang terjadi adalah kita (termasuk saya sendiri) tidak menyediakan waktu; kita hanya menyempatkan waktu di satu hari untuk berdoa. Seolah berdoa adalah sebuah sisipan dalam sebuah rutinitas yang jauh lebih penting dari berdoa. Seakan kita lupa pada siapa Pencipta kita, dan siapa pula yang telah memberikan waktu dan hari pada kita.

Aku teringat pada lagu yang sangat populer dinyanyikan dalam perayaan Paska: “Haec dies quam fecit Dominus! Exultemus et laetemur in ea! Alleluia! Alleluia!” Bait dalam bahasa Indonesia berbunyi: Terpujilah Tuhan Mahakuasa! Mari kita sukaria bergembira! Alleluia! Alleluia!

Sebenarnya, kalau mau diterjemahkan dari bahasa Latin secara persis, kita akan mendapatkan teks Mazmur 118 yang lebih populer menjadi lagu anak-anak. Terjemahannya kira-kira seperti ini: “Hari ini adalah hari yang telah dijadikan Tuhan. Mari kita bergembira dan bersuka ria di dalamnya!”

Versi lagu anak-anak yang populer berbunyi: Hari ini, hari ini, harinya Tuhan, harinya Tuhan! Mari kita, mari kita bersukaria, bersukaria! Hari ini harinya Tuhan, mari kita bersukaria! Hari ini, hari ini harinya Tuhan.

Tuhanlah yang telah menciptakan hari, Ia yang menciptakan waktu. Kita diberinya dengan cuma-cuma. Mengapa kita tidak dapat mengembalikan apa yang diberikan pada kita dengan gratis ini? Seminggu ada tujuh hari, dan satu hari ada dua puluh empat jam. Berapa banyak dari waktu tersebut yang kita berikan kembali pada Tuhan? Apakah hanya dua jam dalam seminggu saat kita mengikuti misa hari minggu? Kadang kita pergi ke gereja dan mengikuti misa bukan karena kesadaran, tapi karena menganggap misa sebagai kewajiban. Kadang pula kita menggerutu pada saat misa ketika homili Romo amat sangat panjang dan membosankan. Bahkan, kadang beberapa di antara kita sengaja mencari Gereja yang Romonya berkotbah sebentar saja pada saat misa sehingga kita bisa pulang lebih cepat. Apakah kita tidak merasa malu pada Tuhan yang telah begitu berbaik hati memberikan waktu dalam kehidupan kita? Apakah kita tidak sadar bahwa Tuhan hadir dan menyapa kita secara pribadi dan langsung dalam Ekaristi?

Adorasi Ekaristi

Paroki Hati Kudus Yesus Tanah Mas Semarang

Beato Paus Yohanes Paulus II dalam surat Ecclesia de Eucharistia (2003) berpetuah: “Hanya datang ke Misa dan menyambut Tubuh Kristus satu kali per minggu tidaklah cukup!”

Beliau lalu menawarkan jalan supaya kita bisa lebih akrab dengan Tuhan dan dapat lebih menghargai Ekaristi. Dalam surat yang sama, Beliau berkata: “Adorasi Ekaristi merupakan perpanjangan dari Ekaristi dan merupakan implementasi dari Duc in Altum dalam kehidupan menggereja.  Melalui Adorasi Ekaristi Abadi, umat di ajak untuk membangun relasi yang lebih dalam dan intim dengan Yesus Kristus, Tuhan kita. Sehingga pada akhirnya, umat menjadi semakin rindu untuk bersatu dengan Yesus setiap harinya dalam perayaan Ekaristi. Ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan Kristiani.”

Puji Tuhan di kota tempat saya tinggal, Semarang, telah memiliki Kapel Adorasi Ekaristi Abadi di Paroki Hati Kudus Yesus Tanah Mas. Di Keuskupan Agung Semarang telah memiliki beberapa Kapel Adorasi Ekaristi Abadi yang sering disebut dengan nama beken Kapel Adeka. Setahu saya, paroki yang memiliki Kapel Adeka terbanyak di Keuskupan Agung Semarang adalah di Klepu dengan total tiga Kapel Adeka. Beberapa Kapel Adeka di Keuskupan Agung Semarang yang saya kumpulkan infonya dari internet sampai pada saat tulisan ini ditulis (Januari 2012) adalah:

  • Kapel Adeka di Paroki Hati Kudus Yesus Tanah Mas, Semarang
  • Kapel Adeka di tempat ziarah Gua Maria Kerep Ambarawa
  • Kapel Adeka Fransiskus Xaverius di Paroki St. Petrus dan Paulus Daratan, Klepu
  • Kapel Adeka di Gua Maria Jatiningsih, Klepu
  • Kapel Adeka Santo Yohanes Chrysostomus Stasi Pojok, Klepu
  • Kapel Adeka di paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran, Yogyakarta
  • Kapel Adeka di paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran
  • Kapel Adeka di Paroki Santa Maria Assumpta Klaten
  • Kapel Adeka di paroki Yohanes Evangelista Kudus

sumber: laman Keuskupan Agung Semarang di http://www.kas.or.id/ dan blog Mgr. Puja di http://pujasumarta.multiply.com/

Bagaimana dengan daerah keuskupan Anda? Apakah ada Kapel Adeka yang dekat dengan lingkungan tempat tinggal Anda? Jika ya, pergunakanlah kesempatan yang berharga itu untuk mengenal Tuhan. Jika belum ada, Anda dapat berdoa dan menggalang upaya untuk mengadakan Kapel Adeka di paroki Anda.

Dalam Adorasi Ekaristi, kita dapat mengenal lebih dekat dan memperdalam kehidupan doa kita. Kita biarkan Yesus yang hadir dalam roti kecil putih tak berasa untuk menuntun kita makin akrab dengan Diri-Nya. Beberapa tips yang dapat Anda lakukan dalam melakukan adorasi dapat Anda lihat di berbagai tulisan, seperti di laman http://katolisitas.org/2010/03/29/adorasi-sakramen-maha-kudus/

Yang menjadi pertanyaan dari Tuhan bagi kita: mampukah kita berjaga bakti di Kapel Adeka satu jam lamanya?

Mari makin akrab dengan Tuhan dalam doa dan adorasi Ekaristi!

Berkah Dalem

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tentang Doa dan tag , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Memperdalam Doa dengan Adorasi Ekaristi

  1. anyess berkata:

    Rindu berdoa di kapel Sakramen Mahakudus.. sangat rindu…… 😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s