Saya Tidak Setuju dengan Optimisme

Saat ini tentu banyak beredar tulisan-tulisan motivasi populer, biografi tokoh-tokoh sukses zaman sekarang, dan buku-buku self-help yang membahas nilai-nilai persaingan dan pembuktian diri. Dari tulisan-tulisan itu, saya merasakan bahwa di zaman sekarang ini, nilai-nilai yang dihargai di masyarakat adalah optimisme, selalu melihat dan membidik ke atas, jadilah yang terbaik selalu, dan kemapanan finansial. Nilai-nilai tersebut memang sepintas bagus. Tapi, apakah memang demikian adanya?

Saat saya melihat kisah hidup Yesus dan para orang kudus, ternyata ada nilai-nilai kekatolikan yang menurut saya sangat kontras dengan nilai-nilai yang dianggap tinggi pada zaman sekarang.

Yang pertama adalah optimisme. Saat membaca buku kecil Renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi Tahun 2010 Keuskupan Agung Semarang yang lalu, saya terkaget-kaget bahwa optimisme sebenarnya bukan sifat Kristianitas sejati. Optimisme identik dengan kecenderungan percaya pada kondisi masa depan akan lebih baik dan mengandalkan bahwa usaha kita sendiri pasti akan menimbulkan hasil yang baik di masa depan. Hal ini jelas salah karena kita tidak dapat mengetahui pasti masa depan akan menjadi seperti apa, dan mengandalkan usaha manusia semata tidaklah mungkin. Optimisme dalam bentuk paling kasar sering  saya bayangkan sebagai optimisme orang-orang yang membangun Menara Babel, yang pada akhirnya justru hancur-lebur.

Sikap Kristen yang baik tidaklah memandang suram pada masa depan. Kita jelas punya motto terkenal: carpe diem, artinya raihlah hari ini. Kita tetap harus yakin dan bekerja keras, namun semua didasari dengan sikap yang disebut “penuh pengharapan”. Sepintas memang tidak berbeda dengan optimisme, tapi setelah kurenungkan, maknanya memang jauh berbeda. Orang-orang zaman sekarang justru lebih menyukai optimisme, dan kata “Insya Allah” seringkali justru menunjukkan keragu-raguan atau ketidakpastian. Banyak buku motivasi dan motivator di TV juga menekankan kata-kata, “Saya bisa! Kita bisa! Kita pasti bisa!” Menurut saya, kata-kata itu hanya separuh benar. Kata-kata yang lebih mengena adalah kata-kata Konstantinus saat akan maju perang, “In hog signo vinces! Dalam tanda (salib) ini, kita akan menang!”

Yang kedua adalah tentang selalu melihat dan membidik ke atas dan menjadi yang terbaik. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan pada diri saya. Kecenderungan untuk selalu melihat dan membidik ke atas dan menjadi yang terbaik akan lebih meningkatkan kompetisi dan bukannya kolaborasi, dan menjadi yang terbaik terutama dalam kompetisi akan membahayakan kita dalam dosa kesombongan. Hal ini bukan berarti bahwa ajang kompetisi atau perlombaan adalah jelek. Selama motivasinya benar dan kompetisinya adil serta sportif, maka ajang kompetisi justru sangat baik untuk mengembangkan diri. Yang perlu diperhatikan adalah motivasinya: apakah berlomba demi mempersembahkan yang terbaik, atau justru ingin menang demi pembuktian diri dan menjatuhkan lawan? Jika kompetisi didasari pada semangat yang pertama, maka kompetisi itu sungguh sangat layak menjadi sarana untuk mengembangkan dan memperbaiki diri. Jika didasari motivasi untuk memberikan usaha yang terbaik, maka pihak yang menang akan tetap rendah hati, pihak yang kalah akan belajar untuk memperbaiki diri di bidang yang masih kurang tanpa ada rasa dendam dan sakit hati. Lain halnya jika kompetisi itu didasari oleh motivasi pembuktian diri dan menjatuhkan lawan. Semua pihak akan menghalalkan segala cara, pihak pemenang akan semena-mena, pihak yang kalah akan menderita malu dan mendendam.

Tidak semua dalam hidup juga harus menjadi kompetisi. Saya teringat perkataan Mgr. Suharyo dulu: jika ada yang menang dan menjadi pemenang, maka selalu akan ada pihak yang kalah dan dikalahkan. Lebih baik pendekatan yang mengedepankan win-win solution, semua pihak adalah pemenang. Pendekatan ini lebih mengedepankan kolaborasi demi memenuhi kebutuhan semua pihak yang berkepentingan. Semua merasa senang dan puas tanpa ada pihak yang dirugikan secara sepihak.

Ketidaksetujuan saya pada sikap ingin menjadi yang terbaik bukan berarti mengatakan bahwa kita tidak boleh menjadi yang terbaik. Kita memang harus mencurahkan yang terbaik dari akal budi, waktu, tenaga, dan sumber daya untuk segala hal yang dipercayakan pada kita, tapi bukan berarti kita harus mengejar untuk memiliki hasil yang terbaik. Biarlah hasil akhir menjadi milik Tuhan. Biarlah nama-Nya yang dimuliakan, bukan nama kita. Hasil akhir yang terbaik adalah bonus dari Tuhan, bukan tujuan utama yang kita incar.

Hal yang terakhir adalah tentang kemapanan finansial. Menurut saya, inilah jebakan modernisme. Kita bahagia bila kita punya uang. Kita bahagia bila punya segalanya. Yesus sendiri berkata, “Apa gunanya punya seluruh dunia bila kehilangan nyawamu?” Kebahagiaan kita yang definitif hanya ada dalam Tuhan!*

Mari menjadi pribadi yang penuh harapan, sportif, mengedepankan kolaborasi, dan selalu setia dalam Tuhan!

Berkah Dalem

*untuk lebih jauh mengenai topik ini, lihat tulisan saya di https://mantancakrabyuha.wordpress.com/2012/01/04/usaha-manusia-yang-mencoba-mengenal-tuhan/

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tentang Hidup dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s