Panggilan Hidup

Spesialis dan Generalis

Sejauh yang saya tahu, para ahli dalam ilmu pengetahuan terbagi menjadi dua golongan, yaitu ahli spesialis dan ahli generalis. Seorang ahli spesialis adalah seseorang mengetahui segala sesuatu tentang sesuatu (knows everything about something). Di sisi lain, seorang ahli generalis adalah seseorang yang mengetahui sesuatu tentang segala sesuatu (knows something about everything). Seorang spesialis mendalami suatu bidang sampai mendalam, sementara seorang generalis tidak mendalami suatu bidang secara mendalam namun memiliki pengetahuan yang merata di banyak bidang. Ibaratnya, seorang spesialis adalah seseorang yang membuat salah satu kepingan jigsaw puzzle sampai pada detail kepingan yang terkecil; sementara generalis adalah orang yang mengumpulkan kepingan jigsaw puzzle buatan para spesialis lalu menyatukannya. Tentu saja, tidak berarti bahwa seorang generalis hanya tahu sedikit sekali mengenai hal-hal acak. Seorang generalis tetap biasanya memiliki kompetensi dan pengetahuan dasar di bidang tertentu, namun memiliki pengetahuan lain yang sangat luas dan beragam selain dari kompetensinya. Pola spesialis-generalis ini sangat bermanfaat dalam dunia ilmu pengetahuan dan dalam kompetensi profesi.

Mudah kita bayangkan seperti apa seorang spesialis itu. Bayangan kita bisa berawal dari dokter spesialis, sampai para profesor yang ahli dalam bidang-bidang tertentu. Namun, seorang generalis belum sering terdengar di masyarakat kita. Ada beberapa contoh yang dapat saya sebutkan. Contoh pertama adalah tentang para ahli yang pergi dalam suatu ekspedisi ilmiah yang pernah saya tonton dalam suatu film dokumenter. Di rombongan itu terdapat ahli-ahli spesialis seperti ornitolog (ahli burung), entomolog (ahli serangga), ahli zoologi paleontologi (ahli hewan purbakala), dan beberapa ahli spesialis lain. Namun di dalam rombongan itu juga terdapat ahli-ahli generalis seperti biolog (ahli biologi secara umum) yang bertugas menyatukan dan menemukan hubungan dari hasil penelitian para ahli spesialis itu. Tugas sang biolog sangat beragam, seperti misalnya mencari hubungan antara spesies serangga yang endemik di hutan tertentu dengan keberadaan burung yang berevolusi khusus untuk memakan serangga itu. Tentu saja si biolog memiliki kompetensi dan pengetahuan mengenai biologi secara umum, namun ia juga memiliki pengetahuan yang luas mengenai cabang-cabang biologi yang didalami rekan-rekannya.

Contoh lain yang dapat saya sebutkan adalah seorang wartawan. Wartawan secara umum biasanya haruslah seorang generalis. Ia harus menguasai banyak topik supaya dapat mengajukan pertanyaan yang tepat pada narasumbernya. Bila ia mewawancarai seorang ahli, ia tidak harus menguasai bidang yang hendak dibahas terlalu dalam karena jatah untuk menjelaskan lebih dalam ada di tangan narasumber yang ahli spesialis. Tentu saja, sang wartawan harus menguasai kompetensi dasar jurnalistik sebelum mengembangkan pengetahuannya dengan lebih luas lagi.

Indonesia Belum Akrab dengan Generalis

Sistem pendidikan konvensional di Indonesia (sayangnya) memulai pendidikan dengan memaksa anak-anak untuk menjadi generalis dengan memberikan banyak sekali mata pelajaran di tingkat dasar, namun kemudian dengan penjurusan yang baru ada di tingkat SMA, SMK, dan universitas memaksa para murid untuk menjadi seorang spesialis. Memang memberikan banyak mata pelajaran di awal sekolah memberikan kesempatan bagi para murid untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka. Namun dengan adanya sistem penilaian mutlak yang menyamaratakan bakat dan minat mereka membuat tujuan pemberian banyak mata pelajaran menjadi kabur.

Mirip halnya dengan pemaksaan menjadi spesialis di tingkat pendidikan tinggi. Di Indonesia, semua mahasiswa sepertinya diarahkan untuk menjadi spesialis. Kesempatan untuk dual degree di luar negeri sangat luas, sementara di Indonesia sangat jarang ada. Di luar negeri, mahasiswa juga diberi kesempatan untuk mengambil jurusan kuliah mayor dan minor. Mereka tetap memfokuskan diri pada mata kuliah mayor mereka, namun boleh pula belajar sedikit di jurusan minor mereka. Maka tidaklah heran bila seorang mahasiswa Amerika misalnya berkata bahwa ia mengambil kuliah matematika sebagai mata kuliah mayor dan hukum sebagai mata kuliah minor. Hal ini tidak lantas membuatnya menjadi seorang generalis, bisa saja ia adalah seorang spesialis. Mungkin saja hasrat terbesarnya adalah memang matematika, sedangkan hukum diambilnya untuk mencegah kebosanan semata. Bila ia sungguh generalis, maka ia akan mendalami kuliah hukum dengan semangat yang sama dengan kuliah matematika.

Pola Hidup Awam-Selibat dalam Kacamata Generalis-Spesialis

Pola generalis-spesialis juga dapat kita gunakan dalam memandang dan menghayati panggilan hidup awam-selibat. Dalam hal ini harus saya tegaskan dahulu bahwa saya melihat hubungan ini dari pola peran yang ada dan dalam cara hidup, bukan dalam minat ilmu pengetahuan. Saya tidak mengatakan bahwa seorang imam harus memiliki minat belajar spesialis, atau awam harus seorang yang generalis. Dalam hal selibat versus awam, kemiripan yang  saya lihat di sini adalah bahwa jika dilihat dari luar dan secara garis besar, hidup selibat itu seperti seorang spesialis, sementara hidup awam itu seperti seorang generalis; tapi awam adalah generalis yang jauh lebih berat daripada generalis dalam contoh-contoh yang  saya sebutkan sebelumnya.

Seorang imam adalah seorang spesialis: ia membaktikan hidupnya semata demi mendekatkan diri pada Tuhan dan melayani sesama. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa banyak imam yang multitalenta dan memiliki kemampuan lebih sehingga seolah memiliki aspek hidup seorang generalis seperti Rm. Magnis Suseno SJ (filsuf, dosen, humanis), Rm. Sindhunata SJ (wartawan, sastrawan humanis), Rm. Mangun (arsitek, humanis, pendidik), dan banyak lainnya. Mereka memang sebenarnya adalah seorang generalis, namun generalis dalam minat dan ilmu pengetahuan saja. Namun dalam pandangan saya, mereka tetap bersifat spesialis dalam hidup dengan hanya memiliki satu peran utama dalam hidup dan terfokus hanya pada satu tujuan saja, yaitu mereka adalah imam dan bertujuan untuk dekat pada Tuhan dan sesama. Kita dapat menyebut Rm. Magnis sebagai seorang imam yang juga seorang filsuf, tapi kita tidak dapat begitu saja menyebut Beliau sebagai seorang filsuf belaka. Jika kita menyebut Beliau sebagai seorang filsuf, kita tidak dapat tidak menyebut dia sebagai seorang filsuf yang juga seorang imam. Hakikat seorang imam selalu melekat pada dirinya. Semua karya, pemikiran, dan tindakannya sebagai seorang filsuf selalu diwarnai dengan imamat yang ia miliki karena sebagai seorang filsuf yang imam, ia selalu menjadi filsuf dengan berangkat dari kenyataan bahwa ia adalah seorang imam. Prioritas dalam semua sikap hidupnya adalah seorang imam. Misalnya saja, ketika Rm. Sindhunata tiba-tiba dipindahtugaskan oleh superiornya, ia harus siap dan taat untuk diutus ke tempat perutusan yang baru. Ia tidak bisa menolak dengan beralasan sekarang menjadi direktur pelaksana sebuah majalah. Prioritasnya tetap adalah menjadi seorang imam.

Lain halnya dengan hidup seorang awam. Ia adalah seorang generalis, tapi dituntut untuk sempurna dalam semua bidang hidupnya dan tidak boleh mencampuradukkan masing-masing bidang hidupnya. Untuk gampangnya, saya membayangkan hidup seorang hakim pengadilan karena dapat dibuat sebagai contoh ekstrem. Saya membayangkan seorang hakim beragama Katolik yang sukses dalam karier dan mempunyai keluarga yang bahagia dengan istri yang cukup satu saja dan beberapa anak. Kalau diurai satu per satu, maka dapat diurai perannya dalam hidup. Ia adalah seorang hakim, ia adalah seorang Katolik, ia adalah seorang suami, dan ia adalah seorang ayah. Terlihat dari peran-peran itu bahwa ia adalah seorang generalis, namun ia justru dituntut untuk sempurna dalam setiap tugas dan peran hidupnya. Ia diharapkan untuk perfect all around. Yang repot adalah bila terjadi konflik kepentingan maupun konflik peran.

Sekarang misalnya saja, anak si hakim ini terlibat kasus pidana pencurian. Sebagai seorang ayah, mungkin sekali ia merasa bersalah karena gagal mendidik anaknya dan ia ingin melindungi anaknya dari hukuman penjara. Namun sebagai seorang hakim, ia tentu dituntut untuk membiarkan proses pengadilan berjalan sebagaimana mestinya. Ia harus memilih salah satu peran dan mengorbankan yang lain. Misalnya, ia membiarkan anaknya dihukum. Tentu sebagai ayah ia akan dicap sebagai ayah yang gagal mendidik anaknya dan tega menjebloskan anaknya ke penjara. Namun sebagai seorang hakim, ia akan dianggap sebagai hakim yang adil. Antara peran sebagai ayah dan peran sebagai hakim harus lepas dan terpisah. Contoh lain misalnya: seorang dokter yang harus mengoperasi anaknya sendiri, Presiden SBY yang harus membiarkan besannya sendiri dipenjara karena kasus korupsi, dan masih banyak lagi.

Kedua Panggilan Hidup Itu Sama-Sama Baik

Ternyata, hidup seorang awam juga berat. Selama ini saya selalu membayangkan bahwa hidup selibat sungguh sangat berat. Hidup selibat harus mengucapkan dan menghidupi janji kemurnian, kesucian, dan ketaatan. Kenyataannya, hidup menjadi awam juga tidak semudah yang saya bayangkan karena lebih mudah timbul konflik peran dalam diri pribadi. Tentu saja menjadi imam tidak juga bebas dari konflik peran dan kepentingan, namun sekiranya tidak akan seberat konflik peran seorang awam karena seorang imam hanya akan punya satu peran utama. Tentu saja seorang imam juga masih memiliki peran sebagai seorang teman bagi imam lain, sebagai seorang anak dari ayah dan ibunya, sebagai seorang kakak atau adik di keluarganya, sebagai seorang sepupu di keluarga besarnya, dan masih banyak lagi. Namun, peran seorang imam yang utama adalah tetap sebagai seorang imam. Dalam pemahaman saya, hal ini adalah salah satu alasan mengapa Yesus berkata bahwa barangsiapa tidak meninggalkan segala sesuatu di belakang untuk mengikuti Dia, sebaiknya tidak mengikuti Dia; dan bukan dalam arti denotatif sempit yang mengatakan seolah Yesus mengajarkan kita untuk menjadi anak durhaka. Hal ini dikatakannya dalam banyak kesempatan, satu yang sangat kuingat adalah kepada seorang yang hendak mengikuti Dia namun hendak menguburkan bapanya terlebih dahulu.

Hidup selibat memang menawarkan cara yang lebih langsung dan lebih intim kepada kebahagiaan Ilahi. Dengan mengeliminasi berbagai macam kemungkinan yang akan menghalangi kita dan membawa kita berputar-putar sebelum menemukan wajah Tuhan, hidup selibat ibarat jalan tol dibanding dengan hidup sebagai awam. Kemungkinan kecil terjadi konflik peran, terlebih kemelekatan pada hal-hal duniawi sudah dijauhkan, dan akan ada banyak waktu, kesempatan dan sarana untuk semakin dekat dengan Allah. Tentunya setelah sangat dekat dengan sang Ilahi sendiri, kita akan dipenuhi kebahagiaan sampai meluap-luap sehingga siap untuk membagi roti itu dengan sesama ataupun untuk menjadi setia dalam tugas harian (tergantung apakah menjadi imam diosesan atau ordo/konggregasi dengan karisma yang khas seperti kontemplatif). Sama seperti roti yang telah dipilih dan dibagi, semua imam yang sudah sangat dekat dengan yang Ilahi sendiri kemudian harus siap dipecah dan dibagi.

Panggilan untuk bentuk hidup sebagai awam juga memiliki sisi kemuliaannya sendiri. Umat awam dipanggil untuk menjadi murid Kristus di tengah dunia. Umat awam ditantang untuk menghayati panggilan menjadi garam dan terang dunia dalam kehidupannya sehari-hari. Hidup sebagai awam dapat kuibaratkan dengan jalan raya biasa dengan banyak jalan memutar, lampu merah, dan banyak pengamen. Memang tujuannya sama yaitu kepada Tuhan, namun mungkin membutuhkan waktu dan perjuangan yang lebih. Dalam waktu dan perjuangan untuk menempuh rintangan di jalan awam, kita akan mendapat banyak pengalaman dan perjumpaan yang indah. Mungkin kita akan berjumpa dengan jodoh kita di sana, mungkin akan mendapat keturunan. Akan ada banyak kenyamanan dalam hidup awam dengan kepemilikan harta benda. Bahkan, tanpa umat awam, tidak mungkin Gereja dapat hidup! Siapa yang akan menyokong kebutuhan Gereja sehari-hari?

Singkatnya, panggilan hidup menjadi awam tidak lebih baik ataupun lebih buruk dari panggilan hidup selibat. Semuanya memiliki tantangan dan keindahan masing-masing. Yang lebih penting daripada sibuk menanyakan dan membandingkan mana yang lebih baik adalah: sudahkah kita menghayati dan menghidupi panggilan kita masing-masing dengan sepenuh hati, jiwa, dan raga?

Mari bersyukur atas panggilan hidup kita!

Berkah Dalem!

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tentang Hidup dan tag , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s