Istirahat yang Cerdas

Istirahat Jasmani dan Rohani

Istirahat adalah hal yang mutlak bagi manusia. Sudah amat banyak penelitian empiris yang membuktikan bahwa manusia harus beristirahat demi kesehatan fisiknya. Ada banyak nama dan bentuk istirahat: bisa refreshing, rekreasi, tidur-tiduran, menonton TV, mendengarkan radio, jalan-jalan, dan masih banyak lagi. Namun, seringkali kita mengalami bahwa saat beristirahat, pikiran kita justru sibuk sendiri. Bahkan kadang-kadang istirahat dianggap sebagai hambatan yang menunda penyelesaian tugas kita. Hal ini yang juga saya rasakan saat saya harus beristirahat dari rutinitas sehari-hari. Rasanya sungguh menyiksa karena istirahat itu harus saya ambil karena saya jatuh sakit, bahkan harus rawat inap di rumah sakit. Maka di awal mula saya harus dirawat di rumah sakit, saya menganggap bahwa istirahat saya ini adalah sebuah penundaan yang sia-sia. Penundaan yang cukup lama pertama-tama menimbulkan reaksi pada diri saya sebagai sebuah kemunduran, sebuah stagnasi yang mengakibatkan saya berhenti berproses dalam hidup.

Namun setelah merefleksikan lebih jauh, sepertinya saya menemukan bahwa masa istirahat ini juga membawa manfaat yang cukup banyak. Seperti Tuhan sendiri beristirahat di hari ketujuh setelah menciptakan dunia dan isinya selama enam hari, saya diberi anugerah oleh Tuhan untuk duduk sejenak, menjauh dari semua rutinitas dan pergulatan harian. Saya teringat dengan kisah seorang pelukis yang pernah saya baca di sebuah buku. Pelukis itu, di dalam proses membuat lukisannya, secara acak seringkali berhenti dan mundur dari lukisan yang sedang dibuatnya. Ia lalu mengambil jarak dan duduk dari kejauhan, mengamati lukisan yang sedang dibuatnya. Dengan berhenti dan mengambil jarak, pelukis itu mendapatkan perspektif baru yang sama sekali berbeda dalam memandang lukisannya dan dapat secara objektif mencari hal-hal yang perlu ia perbaiki. Dengan tidak secara konstan terus berada dalam posisi yang dekat dengan lukisan yang sedang ia kerjakan, ia justru membuat lukisan itu menjadi lebih sempurna. Hal inilah yang juga saya rasakan dalam masa istirahat di rumah sakit. Saya diajak oleh Tuhan untuk mengambil jarak dan mengamati dari kejauhan mengenai langkah-langkah dalam hidup saya.

Hal ini membuat saya teringat kepada hal lain. Sebenarnya corak hidup orang beriman Katolik juga menawarkan masa istirahat tersebut. Hari Minggu, yang setahu saya berasal dari bahasa Portugis “domingo” yang artinya “hari Tuhan”, adalah saat di mana kaum beriman sejenak menarik diri dari kesibukannya selama seminggu dan berkumpul bersama untuk memuji dan memuliakan Allah. Mungkin ini juga berakar dari tradisi orang Yahudi yang beristirahat pada hari Sabat. Puji Tuhan karena Indonesia mengikuti adat internasional untuk meliburkan hari Minggu.

Berbagai macam cara pengembangan iman dan kepribadian yang berkembang di kalangan umat seperti retret, rekoleksi, dan ziarah juga merupakan salah satu bentuk menarik diri dari hiruk-pikuk kehidupan duniawi dan sejenak “melarikan diri” ke pulau rohani terpencil yang menjadi semacam oase rohani. Seperti yang pernah diceritakan dalam suatu retret di Rawaseneng yang pernah saya ikuti bersama Romo Riyo Mursanto SJ, retret berasal dari kata retreat yang berarti “mundur sejenak”. Mundur dalam hal ini bukan berarti menyerah kalah, namun justru berarti untuk mengumpulkan kekuatan dan stamina serta menata ulang pikiran dan hati supaya lebih siap dalam menghadapi kerasnya gelombang hidup.

Istirahat Tidak Berarti Menjadi Beruang yang Berhibernasi

Beristirahat tidak berarti kita masuk ke dalam mode mati suri alias hibernasi total. Perlu diberi garis bawah bahwa pada saat istirahat, kita tidak boleh sampai putus hubungan dengan semua hal, apalagi bila sampai terputus hubungan dengan Tuhan. Justru pada saat beristirahat, kita memiliki kesempatan yang amat indah untuk kembali mengenal diri kita, mengenal hati kita, dan menjalin relasi dengan Tuhan secara lebih intim.

Salah satu hal yang dapat kita lakukan dalam saat beristirahat adalah melakukan refleksi atas hidup kita yang sudah kita jalani. Kita lihat perjalanan hidup harian kita. Kita lihat bagaimana Tuhan membantu kita dalam semua peristiwa besar dan kecil, dan melalui perantaraan orang-orang yang seringkali kita sepelekan. Seperti yang dikatakan guru agama SMA-ku dulu, setiap pengalaman biasa yang dilihat dengan kacamata iman akan menjadi pengalaman rohani. Jadi, kalau kita memakai kacamata iman dalam peristiwa hidup kita, tidak ada yang namanya peristiwa kebetulan. Semua terjadi sesuai dengan rencana Tuhan melalui Penyelenggaraan Ilahi. Meski sebuah peristiwa terlihat sepele, namun kita dapat melihatnya sebagai suatu pengalaman iman. Dengan berefleksi seperti itu, kita disadarkan bahwa Tuhan akan selalu menolong dan menyediakan jalan bagi mereka yang percaya pada-Nya.

Memang susah untuk menghargai hal-hal yang selama ini kita terima sebagai sesuatu yang biasa, yang tidak ada harganya. Kita dapat belajar untuk lebih bersyukur pada Tuhan dengan menghargai peristiwa hidup kita sehari-hari. Hal ini pula yang saya sadari selama istirahat karena sakit. Dengan pengalaman dipaksa istirahat karena sakit ini, saya belajar bahwa kesehatan itu mahal harganya. Kesehatan sebagai anugerah Tuhan seringkali diremehkan menjadi hal yang biasa. Ketika jatuh sakit, seseorang baru akan merasakan bahwa sungguh berharga semua anugerah Tuhan yang Ia berikan dengan cuma-cuma. Ada pepatah yang mengatakan bahwa kita baru akan merasakan berharganya sesuatu ketika kita kehilangan hal itu. Hal inilah yang saya coba untuk pahami dan resapi. Maka, beristirahat itu sangat penting. Tubuh dan jiwa kita sangat memerlukan istirahat. Jangan sampai kita justru menjadi sakit gara-gara kurang istirahat!

Ada hal lain lagi yang dapat kita lakukan saat kita beristirahat. Seorang bruder pernah bercerita tentang cara istirahat yang sering ia lakukan. Saat ia sedang suntuk, ia akan pergi ke sebuah bukit berumput di tanah lapang dekat tempat tinggalnya pada malam hari. Di sana, ia berbaring di lereng bukit itu dan memandang langit malam. Ia akan menatap bintang-bintang yang bertaburan di lautan angkasa nan maha luas. Di saat itu, sang bruder sering tanpa sadar berucap, “Tuhan, alangkah besarnya Diri-Mu, dan alangkah kecilnya diriku!”.

Ada beberapa hal yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari kisah sang bruder tersebut. Pertama, jelas sang bruder suka sekali membaca Mazmur bab 8 (kalau tidak paham, buka Alkitab ya!). Yang kedua, kita dapat beristirahat tapi juga sekaligus belajar untuk mengenali Tuhan dalam segala sesuatu dan segala sesuatu di dalam Tuhan. Kita belajar untuk mengenali sang Seniman Agung dalam semua karya-Nya.

Anthony de Mello, SJ menceritakan perumpamaan yang indah terkait Tuhan sebagai Sang Seniman Agung. Seringkali kita membayangkan Tuhan sebagai seorang seniman seni rupa seperti pelukis, perajin, pemahat, pematung, ataupun penjunan. Memang mudah dibayangkan seperti itu karena kita dapat dengan mudah melihat hasil karya tangan Tuhan di alam semesta ini. Namun dengan melihat karya Tuhan seperti itu, kita masih agak kesulitan untuk mengenal Penciptanya. Kita bisa melihat sebuah patung, lukisan, karya pahat maha indah; tapi belum tentu kita punya bayangan tentang seniman yang menciptakan. Maka de Mello mengajak kita melihat Tuhan sebagai seorang seniman yang lain. De Mello mengajak kita untuk melihat Tuhan sebagai seorang penari. Semua hal yang ada di alam ini adalah karya tarian Tuhan. Bisakah kita melihat sebuah tarian tanpa melihat seniman yang menarikannya? Dengan sudut pandang ini, kita bisa melihat Tuhan dengan lebih jelas dalam karya-Nya.

Tentu saja, semua hal yang dapat dilakukan saat beristirahat seperti yang sudah saya ceritakan di atas adalah tidak mutlak untuk dilakukan. Tentu Anda bebas memilih tentang bagaimana Anda mau beristirahat. Bahkan, Anda sebaiknya mencari dan menciptakan cara istirahat yang pas, khas, dan unik bagi pribadi Anda. Namun demikian, perlu Anda coba untuk beristirahat dengan cara yang cerdas. Jangan sampai tubuh Anda beristirahat, tapi hati dan jiwa Anda tetap tegang.

Selamat beristirahat dengan cerdas!

Berkah Dalem

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tentang Hidup dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s