Usaha Manusia yang Mencoba Mengenal Tuhan

Pengantar

Manusia pada dasarnya adalah makhluk religius, dan dengan demikian manusia akan selalu terpacu untuk mengejar kebenaran Ilahi di luar dirinya. Maka sejak awal mula peradaban manusia, kehidupan manusia selalu diwarnai oleh ritual dan agama. Yang jadi masalah, apakah di luar sana memang benar-benar ada suatu kebenaran Ilahi yang kita puja dengan sebutan Tuhan? Kata Friedrich Nietzsche, Tuhan sudah mati. Kata Joseph Ratzinger, Tuhan itu pernah mati tapi lalu bangkit. Sebenarnya di mana Tuhan berada? Apa Dia diam saja di atas sana?

Tulisan ini tidak berusaha untuk menjawab dan mengakhiri diskursus di atas, namun berusaha menambahkan bahan diskusi untuk masalah-masalah di atas. Tulisan ini berusaha membahas mengenai hubungan komunikasi antara manusia dengan Allahnya. Tulisan ini membahas salah satu segi dari hubungan tersebut, yaitu dari segi usaha manusia yang berusaha mengenal Tuhannya. Pembahasan dari segi lain akan dimuat di tulisan terpisah dengan judul “Allah yang Menyapa dan Selalu Menyapa“.

Pembahasan mengenai manusia yang berusaha untuk mengenal Allah dan Allah yang mengenalkan diri-Nya pada manusia ini sebenarnya adalah bagian awal yang sangat penting dari Katekismus Gereja Katolik. Maka dari itu, untuk mendapatkan pembahasan yang lengkap dan menyeluruh, saya sarankan bagi Anda untuk membaca Katekismus Gereja Katolik, minimal Kompendiumnya (ringkasannya). Kerinduan manusia akan Allah dibahas dalam Katekismus Gereja Katolik nomor 27-49, sedangkan mengenai Allah yang mewahyukan diri-Nya dibahas dalam Katekismus Gereja Katolik nomor 50-73.

Dalam tulisan ini, saya hanya sebatas menyajikan prinsip-prinsip secara umum dan menambahkan beberapa pemikiran saya pribadi. Perlu diingat kembali, saya hanyalah seorang awam yang tidak berpendidikan teologi. Tujuan saya menulis di blog ini hanya sebagai sarana untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan, bukan untuk mengajar layaknya kuasa Magisterium Gereja. Jadi, sangatlah mungkin bahwa tulisan ini (dan tulisan-tulisan saya yang lain) mengandung kesalahan, apalagi karena saya berusaha membahas doktrin iman (lex credendi) di mana saya tidak memiliki pendidikan yang memadai. Koreksi, kritik, dan saran dari pembaca akan sangat saya hargai.

Manusia yang Bertanya dan Ingin Tahu

Manusia adalah makhluk yang selalu bertanya. Tindakan bertanya, dalam dirinya sendiri mengandung makna yang dalam. Tindakan bertanya menunjukkan rasa ingin tahu. Memang, rasa ingin tahu tidak mutlak hanya dimiliki oleh manusia. Banyak hewan lain yang juga memiliki rasa ingin tahu. Namun demikian, tidak ada hewan yang memiliki rasa ingin tahu seluas dan sedalam manusia. Hewan memiliki rasa ingin tahu yang cukup terbatas. Mereka hanya ingin tahu tentang lingkungan fisik yang mengelilinginya demi kepentingan diri mereka sendiri. Hal ini mungkin sekali didorong oleh insting dasar hewan mereka. Mereka hanya ingin tahu tentang lingkungannya untuk mencari kemungkinan adanya makanan, adanya pemangsa, adanya tempat berlindung, adanya lawan jenis untuk berkembangbiak, dan pada beberapa hewan dengan tingkat kecerdasan tinggi, adanya kesempatan untuk bermain-main.

Rasa ingin tahu manusia jauh lebih dalam dan luas dari hewan. Manusia tidak hanya ingin tahu tentang lingkungan fisiknya, tapi juga tentang lingkungan metafisiknya. Manusia, tidak seperti hewan, tidak hanya berhenti pada pertanyaan “apa gunanya ini bagiku?” saja dalam menghadapi lingkungan fisiknya. Manusia bertanya lebih jauh dengan memunculkan pertanyaan “mengapa hal ini ada di sini?”, “siapa yang meletakkan atau menaruhnya di sini”, dan “siapa yang menciptakan hal ini?”. Manusia juga mampu bertanya dalam kerangka dimensi waktu yang lebih luas daripada hewan. Manusia mampu bertanya “besok aku mau makan apa?”, “besok aku mau berbuat apa?”, dan “besok aku mau ke mana?”. Hal ini mengarahkan manusia lebih jauh dengan kemampuan untuk membuat perencanaan masa depan yang kompleks. Memang ada beberapa hewan yang juga terlihat seolah mampu berpikir tentang masa depan dan membuat perencanaan, misalnya pada hewan yang menumpuk persediaan makanan di musim panas untuk dikonsumsi di musim dingin. Namun demikian, hal ini sepertinya lebih didorong oleh insting hewan itu dan bukan merupakan hasil pemikiran hewan yang ingin tahu tentang masa depannya.

Yang lebih dalam lagi, manusia mampu untuk bertanya di luar dirinya sendiri, baik hal yang konkrit sampai pada hal yang abstrak yang hanya bisa dipikirkannya dalam benaknya semata. Manusia dapat bertanya tentang hal-hal konkrit di luar dirinya, misalnya bertanya tentang sesama dan lingkungan. Manusia dapat bertanya “apa efek perbuatanku bagi sesamaku?”, “bagaimana perasaan sesamaku atas perbuatanku?”, “apa efek perbuatanku terhadap lingkungan?”, dan “apakah dengan perbuatanku, lingkungan hidup masih mampu untuk bertahan dan bertumbuh di masa depan?”. Memang beberapa jenis hewan juga memperhatikan keluarganya, seperti pasangan berbiaknya, ataupun anak-anaknya. Namun demikian, manusia melangkah jauh di depan hewan dengan bertanya tentang sesama yang mungkin sama sekali tidak dikenalnya, bahkan mungkin tentang spesies yang sama sekali berbeda dengan dirinya. Hewan tidak menunjukkan rasa ingin tahu tentang kelangsungan lingkungannya. Perbuatan hewan yang berefek pada lingkungan semata didorong oleh insting hewan mereka. Semisal berang-berang yang membangun dam di sungai, mereka tidak membangun dam itu untuk mengubah atau melestarikan lingkungannya. Mereka melakukan hal itu semata-mata untuk bertahan hidup dan berkembang biak.

Puncak rasa ingin tahu manusia dimahkotai pada rasa ingin tahu tentang hal-hal abstrak yang hanya bisa dipikirkan dalam benaknya. Manusia dapat bertanya tentang makna kehidupannya, seperti “siapakah aku ini?”, “dari mana asalku”, mengapa aku hidup?”, “apa tujuan hidupku?”, “apa kematian itu?”, dan “mengapa ada kematian?”. Tidak ada hewan manapun di dunia yang mampu menanyakan hal-hal itu, dan hal itulah yang menjadi salah satu petunjuk keunggulan manusia dibanding dengan makhluk lainnya.

Pertanyaan tentang Kehidupan

Bertanya mengenai hal-hal abstrak memang menjadi ciri khas dan keunggulan manusia, tapi sekaligus juga menunjukkan kerapuhannya. Pertanyaan tentang makna kehidupan menjadi pertanyaan besar dalam hidup manusia. Pertanyaan membutuhkan jawaban, dan rasa ingin tahu perlu pemuasan. Karena menyangkut hal-hal abstrak, pertanyaan-pertanyaan besar tentang makna kehidupan sulit dijawab karena jawabannya tidak mudah dicari dalam kehidupan empiris manusia. Seolah-olah, rasa ingin tahu yang tak mudah dijawab dan sulit dipuaskan ini menimbulkan lubang yang besar dalam kehidupan manusia.

Memang, tidak semua orang dengan lantang menanyakan pertanyaan-pertanyaan tentang makna hidup. Pertanyaan tentang makna kehidupan memang sering kali tidak ditanyakan dengan jelas, bahkan sekedar dirumuskan oleh orang kebanyakan pun jarang. Namun demikian, pertanyaan ini tetap menggelantung dan tercermin dalam tujuan hidup semua manusia dan perbuatan-perbuatan yang dilakukan manusia untuk mencapai tujuan hidup itu. Secara mendasar, dapat dikatakan bahwa tujuan hidup semua manusia adalah untuk mencapai kebahagiaan. Dengan kata lain, manusia adalah makhluk yang mencari kebahagiaan. Ada orang yang mengatakan bahwa kebahagiaan hidupnya adalah menjadi kaya raya, ada yang bilang menjadi pintar, ada yang bilang menjadi terkenal, ada yang bilang supaya menjadi orang yang berguna bagi sesama dengan berkarya. Namun, semua pada akhirnya sama: ingin bahagia. Dengan berbagai cara, manusia berusaha mewujudkan tujuan hidup yang ingin bahagia tersebut. Banyak sekali orang yang memang mampu mencapai tujuan kebahagiaan hidup yang mereka rumuskan sendiri dengan nama kekayaan, ilmu, ketenaran, pelayanan, dan lain sebagainya. Namun demikian, manusia masih saja tidak puas tentang kebahagiaan hidup mereka. Dalam puncak kebahagiaan dunia ini, mereka masih terus saja merasa belum mencapai kebahagiaan yang definitif. Yang kaya masih ingin kaya, yang pintar masih terus belajar, yang terkenal selalu haus publisitas, dan yang melayani tidak pernah merasa cukup melayani. Kebahagiaan hidup ini dirasa begitu cepat berlalu. Manusia terus mencari, terus berusaha mencapai kebahagiaan yang tidak akan punah.

Tentu saja hidup manusia yang mencari kebahagiaan itu tidak jarang bertemu dengan berbagai kesulitan dan tantangan, baik yang memang sudah dapat diprediksi maupun yang muncul tiba-tiba. Kesulitan dan tantangan hidup itu dapat kita katakan sebagai penderitaan hidup. Hidup manusia selalu diwarnai dengan penderitaan. Penderitaan membuat diri manusia makin bertanya tentang makna hidup. Pengalaman penderitan seringkali membuat orang bertanya tentang makna kehidupannya: “mengapa aku menderita?”, “mengapa harus aku, dan bukan orang lain?”, dan “apa makna penderitaan ini?”. Penderitaan lalu mengarahkan pertanyaan manusia tentang akhir kehidupan juga, karena penderitaan adalah isyarat tentang maut. Dalam penderitaan manusia, maut tercipta dalam skala kecil. Sering dalam pengalaman penderitaan, manusia mengalami perasaan sendiri, perasaan tak berdaya, bahkan pengalaman mati perasaan, seolah manusia itu tidak akan pernah dapat mencecap kebahagiaan hidup lagi. Itulah mikro-maut dalam penderitaan. Dengan demikian, pengalaman penderitaan yang paling mencekam adalah pengalaman maut, pengalaman mendekati ajal. Kata beberapa orang, seluruh pengalaman hidup manusia akan berkelebat cepat di matanya saat ia mendekati ajal. Pengalaman hampir mati memaksa manusia bertanya tentang arti keseluruhan hidupnya.

Manusia menjadi makhluk yang selalu bertanya. Di depan mukanya, manusia akan selalu menghadapi pertanyaan yang sepertinya mustahil dijawab: “apa makna hidupku?”. Tentu saja, pertanyaan yang menggantung di tengah awang pikiran tersebut selalu butuh jawaban. Maka, manusia pun mencari jawaban dengan memberi makna pada semua langkah hidupnya. Manusia memberi makna, arti, nilai, dan hakikat dari semua apa yang ia pikirkan, katakan, dan lakukan dalam hidupnya. Hal ini lalu berlanjut menjadi lebih dalam lagi. Semua usaha manusia menjadi usaha untuk memberi makna. Kalau ditelusur lebih jauh, usaha pemberian makna ini juga pada akhirnya menjadi salah satu cara untuk mencari kebahagiaan. Contohnya: aku bekerja supaya dapat uang, dapat uang supaya dapat mencukupi kebutuhan hidup keluargaku, kebutuhan keluarga tercukupi maka aku dan keluargaku bahagia.

Usaha pemberian makna itu merangsang proses berpikir manusia. Dengan proses berpikir, maka manusia menciptakan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Ketiga hal ini adalah hasil proses pemaknaan manusia atas alam sekitar dan dirinya sendiri, bahkan termasuk di dalamnya adalah hasil pemaknaan manusia atas pemikirannya sendiri. Namun demikian, masih ada satu tanda tanya total tak terjawab dalam hidup yang bernama maut. Akan selalu timbul pertanyaan ini: “Mengapa hidup selalu diakhiri maut?”, dan “Ke mana kita pergi setelah kita mati?”. Maut bagaikan lubang hitam tak berdasar yang menganga di tepi kesadaran dan pencapaian manusia. Ia tidak pandang bulu, selalu mengintip di sudut, namun siap menyergap saat waktunya tiba.

Di Balik Hidup yang Rapuh

Sungguh pelik permasalahan mengenai hidup. Manusia akan selalu menjadi makhluk yang bertanya, makhluk yang mencari kebahagiaan. Seluruh hidupnya lalu dihabiskan untuk mencari makna hidup yang diejawantahkan dalam bentuk pencarian kebahagiaan. Tapi semua menjadi sia-sia belaka karena kebahagiaan manusia belum definitif. Semuanya pada akhirnya akan diakhiri oleh maut. Manusia menjadi sadar bahwa hidupnya tidak kekal. Hidup manusia adalah rapuh karena selalu berujung pada maut. Dalam hidup manusia itu sendiri, manusia tidak dapat menemukan jawaban. Dengan menginsyafi bahwa hidup itu rapuh dan berujung pada kematian, manusia dengan segala akal budinya pada akhirnya akan menyadari bahwa tidak akan pernah bisa menjawab pertanyaan mengenai makna hidupnya bila ia hanya bergantung pada akal budinya semata.

Namun demikian, dengan kesadaran bahwa hidup itu rapuh, manusia dibawa pada pengertian yang baru. Hidup manusia rapuh tapi tetap bisa berlangsung, maka haruslah ada sesuatu “yang lain” yang menopang, dan “yang lain” itu berada di luar hidup manusia dan lebih kuat kuasa daripada hidup manusia itu sendiri. Di balik segala kerapuhan hidup manusia, pasti ada dasar yang menyangga hidup itu sehingga hidup manusia bisa terus berlangsung. Bila tidak ada dasar ini, maka hidup manusia hanyalah akan menjadi seperti daun kering yang jatuh gugur ke dalam sumur tanpa dasar. Hidup manusia hanya akan menjadi sebuah kesia-siaan, dan kita langsung berharap untuk mati begitu kita dilahirkan. Dengan menyadari hal ini, maka kita dapat berkata bahwa dasar yang menyangga itu lalu pastilah tidak rapuh dan kekal, karena bila dasarnya juga rapuh, maka tidak akan kuat menyangga kehidupan manusia. Dasar itu juga bukan menjadi dasar yang stagnan dan mati, karena bila demikian, hidup manusia pun tidak akan pernah tumbuh untuk meraih banyak pencapaian seperti sekarang ini. Sang dasar ini harus memiliki sifat kehidupan demi menyokong hidup manusia yang selalu bertumbuh dan berkembang. Dapat dikatakan bahwa dasar itu adalah dasar yang hidup. Lebih dalam lagi, dapat disimpulkan bahwa hidup manusia yang rapuh itu adalah cerminan tak sempurna dari keagungan dasar hidup yang menopang hidup manusia itu sendiri. Bahasa kasarnya, dasar yang agung itulah yang menciptakan hidup kita. Pantaslah demikian bila kita sebut dasar itu dengan huruf kapital: Dasar. Melalui kerapuhan hidup manusia inilah, manusia sendiri justru dapat berkenalan dengan Sang Dasar. Sungguh rapuhlah manusia yang memiliki akal budi namun menolak untuk mengenali Sang Dasar ini. Hidupnya hanya akan menjadi keterserakan yang rapuh di dunia. Hidup manusia yang menyangkal Sang Dasar akan menjadi kesia-siaan belaka.

Dengan logika bahwa Sang Dasar ini kuat kuasa menopang hidup manusia, justru Sang Dasar ini haruslah tak berdasar. Jika Sang Dasar juga masih bertumpu di atas dasar lain, maka Sang Dasar ini tidak dapat menjadi Dasar yang kuat kuasa secara definitif. Sang Dasar ini harus mengatasi segala sesuatu. Sang Dasar ini harus menjadi yang Maha Kuasa, menjadi sebuah Dasar tanpa Dasar, harus menjadi sebuah Awal tanpa awal, dan menjadi Penyebab tanpa sebab. Sang Dasar ini haruslah menjadi Causa Prima, sang Penyebab yang Pertama dan Utama. Dari Dasar inilah, membuncah semua hal yang ada di alam semesta.

Dalam dunia sehari-hari, kita mengenal Sang Dasar tersebut dengan nama universal: Tuhan. Kita dapat mengenal Tuhan dengan menggunakan akal budi kita. Pendekatan yang digunakan dalam uraian di atas adalah pendekatan untuk mengenal Tuhan dengan merunut dari hidup manusia yang rapuh dan mengenai Tuhan yang menjadi Dasar dan Asal dari hidup manusia. Tentu masih banyak sekali pendekatan akal budi lain dari manusia dalam rangka mengenal Tuhan.

Akal budi, bersama dengan suara hati dan kehendak bebas, adalah bekal manusia di dunia yang diberikan oleh Tuhan untuk bisa mengenali-Nya, berkomunikasi dengan-Nya, dan untuk bersosialisasi dengan sesama. Namun bila kita semata berpijak pada akal budi semata untuk mengenal Tuhan, kita hanya akan melihat Tuhan yang bersifat transenden semata.  Memang, transendensi adalah salah satu ciri Tuhan. Tuhan yang transenden berarti Ia Maha Besar dan Maha Kuasa, Ia mengatasi segala sesuatu. Namun demikian, bila kita berhenti di titik ini, Tuhan akan terasa sangat jauh di luar kita. Walaupun kita akan mengetahui bahwa Tuhan itu ada dan mengada, Tuhan tetap akan terus kita rasakan sebagai objek yang asing. Kita harus menyadari bahwa Tuhan kita juga bersifat imanen. Kita akan mencapai diskusi ini di bagian kedua tulisan saya yang berjudul “Allah yang Menyapa dan Selalu Menyapa“.

Lebih jauh, kita perlu menginsyafi bahwa segala pendekatan akal budi untuk mengenal Tuhan tetaplah berasal dari manusia yang rapuh, manusia yang hidupnya selalu goyah. Akal budi kita tentu tidak dapat mengenali Tuhan jikalau Tuhan sendiri tidak memperkenalkan Diri-Nya pada kita dan membantu kita untuk mengenali-Nya. Konsekuensi praktis dari hal ini adalah tentu jika tulisan ini berhenti di sini, maka tulisan ini tidak akan lengkap. Maka, tulisan ini harus berlanjut dengan bagian mengenai Tuhan yang memperkenalkan diri-Nya pada manusia. Tulisan tersebut akan dimuat pada artikel terpisah dari tulisan ini dengan judul “Allah yang Menyapa dan Selalu Menyapa“.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Sekali lagi, saya sangat menerima koreksi, kritik, dan saran dari sidang pembaca.

Berkah Dalem.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tentang Iman dan tag , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Usaha Manusia yang Mencoba Mengenal Tuhan

  1. Ping balik: Saya Tidak Setuju dengan Optimisme « mantancakrabyuha

  2. Ping balik: Allah yang Menyapa dan Selalu Menyapa | mantancakrabyuha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s