Sekapur Sirih untuk Renungan Rosario

Sering kita mengalami bahwa pikiran kita bercabang dan tidak fokus dalam pekerjaan kita, apalagi dalam doa yang membutuhkan ketenangan. Mari kita lihat cerita sebuah keluarga dalam cerita berikut. Satu keluarga datang ke Gereja paroki mereka untuk ikut Misa Minggu. Sepanjang perjalanan ke Gereja, anak-anak ribut di mobil sambil merengek-rengek: setelah selesai Misa, mereka minta diajak pergi ke mall. Saat masuk ke Gereja, si ibu mengambil air suci dan membuat tanda Salib. Saat membuat tanda salib itu, si ibu sibuk bertanya pada suaminya, “Pa, kita duduk di mana?”, lupa mengucapkan doa tanda salib. Sang suami, juga sambil membuat tanda salib dengan air suci, ikut menjawab, “Terserah Mama! Yang penting jangan di bagian depan!”. Misa dimulai dengan arak-arakan yang terdiri dari putra altar, lektor, prodiakon, pastor, dan umat yang terlambat datang. Saat Misa berlangsung, si ibu sibuk memikirkan persiapan arisan di rumah. Si bapak sambil mengantuk akibat menonton bola semalam suntuk, sibuk pula melamunkan rencana rapat kantor esok hari. Anak-anak mereka sibuk berlarian di halaman Gereja. Saat Misa selesai, perarakan keluar petugas liturgi dibarengi dengan umat (termasuk keluarga dalam cerita kita) yang berlomba-lomba ke tempat parkir supaya tidak terlalu lama antri keluar dari Gereja. Apa yang didapatkan oleh keluarga ini setelah mengikuti Misa? Rencana arisan yang matang, kerangka persiapan presentasi rapat kantor, dan kenyang makan ayam goreng fastfood di mall. Ditanya tentang bacaan apa yang dibacakan saat Misa atau tema homili dari pastor, mungkin akan dijawab dengan lugas: tidak tahu.

Cerita di atas mungkin akan dianggap ekstrem oleh sekelompok umat yang saleh, namun tidak dapat dipungkiri bahwa cerita di atas juga mewakili sebagian dari kelompok umat yang lain. Sekelompok umat yang kedua menunjukkan kecenderungan dan kelemahan dari manusia yang sulit untuk “hidup di sini dan saat ini”. Raga manusia mungkin berada di satu tempat, namun sering pikirannya berada di tempat dan masa lain. Mulutnya mungkin mengucapkan satu hal, namun belum tentu hatinya setuju dengan perkataan lisannya.

Dalam Misa, hal ini sungguh akan mengurangi penghayatan dan daya rahmat Sakramen yang kita terima. Saat Misa, pastor akan mengajak umat: “Marilah mengarahkan hati kepada Tuhan!”. Umat akan menjawab: “Sudah kami arahkan.” Dalam kenyataannya, banyak dari umat yang mungkin tidak mampu mengarahkan hati kepada Tuhan saat menjawab ajakan tersebut. Mungkin bahkan kita sendiri juga mengalami kesulitan mengarahkan hati kepada Tuhan. Kita mengarahkan hati kita kepada urusan di rumah, di kantor, di mall, di tempat-tempat lain. Para pelayan liturgi pun tidak jarang kesulitan mengarahkan hati kepada Tuhan. Anggota koor mungkin akan menjawab ajakan tersebut dengan mengarahkan hati dan pikiran kepada lagu “Kudus” yang belum dipelajari dan akan segera dinyanyikan. Prodiakon mungkin akan menjawab ajakan tersebut sambil berusaha mengingat-ingat posisi membagi Komuni yang telah dibagi sebelum Misa. Ajakan untuk mengarahkan hati kepada peristiwa iman yang sungguh luar biasa dalam Doa Syukur Agung ternyata gagal kita tanggapi secara sungguh-sungguh.

Gereja mempunyai banyak cara untuk membantu kita mengatasi kelemahan manusiawi yang lemah itu. Beberapa cara yang sering dilakukan dalam tradisi Gereja adalah dengan sejenak meninggalkan hiruk-pikuk dunia. Kita dapat berusaha menyepi dari dunia dengan retret dan rekoleksi. Kita dapat mengunjungi tempat ziarah seperti Gua Maria ataupun pertapaan kontemplatif. Kita dapat melakukan visitasi ke depan Sakramen Mahakudus di Gereja ataupun bersembah sujud dalam Kapel Adorasi Ekaristi Abadi. Dalam Tradisi Gereja yang Suci, kita memiliki sarana latihan yang memadai untuk membantu kita mengarahkan hati kepada Tuhan. Salah satu sarana sederhana dan akrab dengan kita adalah Doa Rosario.

Rosario adalah doa yang sangat unggul dan indah. Dalam buku “40 Kebiasaan Katolik dan Akar Biblisnya – Signs of Life”, Scott Hahn mengatakan bahwa Rosario bekerja pada tahap insani sebab ia melibatkan seluruh pribadi. Rosario melibatkan kata-kata yang diucapkan oleh mulut dan didengarkan oleh telinga kita. Rosario menyibukkan pikiran dan merangsang emosi kita. Rosario memberi tugas pada ujung jari kita, indra perasa yang sangat peka. Apabila kita mendoakannya di hadapan suatu patung kudus, kita juga memperkaya permenungan kita lewat indera badani. Seluruh tubuh dan indera kita diajak untuk bersama-sama menghadap Tuhan bersama Bunda-Nya dalam Rosario. Inilah cara Tuhan meneguhkan iman para murid-Nya, “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah!” (Luk 24:39).

Rosario membantu kita untuk makin masuk dalam penghayatan atas Misteri Keselamatan Tuhan. Misteri ini dibentangkan secara runtut dalam peristiwa-peristiwa Rosario: peristiwa Gembira, peristiwa Sedih, peristiwa Terang, dan peristiwa Mulia. Dengan melibatkan seluruh raga fisik kita, Rosario menjaga kita agar pikiran kita dapat terfokus seluruhnya untuk berkontemplasi dalam Misteri tersebut. Latihan kontemplatif ini membantu kita berlatih mengarahkan hati kepada Tuhan. Dengan berdoa Rosario, kita masuk ke dalam Sekolah Maria. Kita belajar bersama Bunda Maria untuk menjadi murid-murid Yesus Kristus yang dapat mempertanggungjawabkan iman kita. Devosi kepada Bunda Allah ini sangat jitu untuk mengantar kita menghayati makin dalam Sakramen-Sakramen agung Gereja. St. Louis-Marie Grignion de Montfort mengatakan bahwa “bila kita menyebarluaskan ibadat yang bermutu kepada Santa Maria, maka itu hanya dilakukan untuk menyediakan suatu sarana yang mudah dan pasti untuk menemukan Yesus Kristus.”

Seri renungan Rosario ini berangkat dari renungan pribadi Rosario yang saya jadikan sebagai latihan-latihan untuk mengarahkan hati kepada Tuhan. Tentu saja, sebagai seorang yang sedang belajar dalam latihan, saya butuh banyak bantuan dan teladan. Dalam tulisan ini, saya banyak mengutip renungan dari tokoh-tokoh Gereja yang saya jadikan contoh dan teladan. Tokoh yang sangat sering saya kutip adalah Sr. Martha E. Driscoll, OCSO, abdis Biara Trappist Bunda Pemersatu di Gedono. Seperti tulisan di gerbang Gua Maria Kerep Ambarawa yang berbunyi PER MARIAM AD JESUM, banyak tulisan renungan Beliau yang menginspirasi saya untuk terus melangkah maju bersama Maria menuju Yesus. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Beliau dan sekaligus mohon izin untuk banyak mengutip renungan Beliau dalam tulisan saya.

Renungan pribadi ini tentu saja masih jauh dari sempurna. Saat saya menulis renungan ini, saya baru lima tahun dibaptis menjadi Katolik. Saya juga tidak memiliki dasar pengetahuan teologis yang memadai untuk dapat mempertanggungjawabkan tulisan saya ini secara ilmiah. Posisi saya bukan sebagai seorang penulis yang menggurui pembacanya. Saya tidak lebih banyak tahu ataupun lebih beriman daripada para pembaca. Saya hanya seorang umat yang juga sedang belajar. Renungan ini murni saya tulis sebagai sarana pribadi untuk berbagi kepada sesama umat Allah yang juga sedang belajar. Maka dari itu, segala saran dan kritikan yang membangun akan sangat membantu saya untuk memperbaiki tulisan saya ini. Harapan saya sederhana: semoga renungan ini dapat membantu para pembaca untuk belajar mengarahkan hati kepada Tuhan dalam Rosario. Untuk mendukung maksud ini, saya membagi renungan peristiwa Rosario ini dalam tulisan-tulisan pendek yang dapat dibaca secara terpisah untuk membantu renungan dalam berdoa Rosario. Semoga Tuhan selalu memberkati kita semua dalam usaha baik kita! Amin.

Rubiah Trappist

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Renungan Rosario dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s