Renungan Natal 2011: Hosti Kudus dan Bayi Yesus

Dalam peristiwa Natal, kita menyambut Yesus yang hadir sebagai bayi imut yang tak berdaya. Walaupun Ia adalah Tuhan, tapi sebagai seorang bayi, Yesus tentu tidak bisa apa-apa, bahkan untuk mengurus diri-Nya sendiri. Yesus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus pun mirip dengan diri-Nya dulu yang hadir sebagai bayi mungil. Yesus yang hadir sebagai roti putih mungil, juga tidak berdaya. Ia hadir dalam keheningan, diam tidak banyak bicara dalam tabernakel ataupun di monstran.

Bagi orang-orang Katolik, mungkin analogi di atas sudah akrab. Namun tidak demikian halnya dengan orang luar. Pertanyaan dan penyangkalan yang mungkin timbul dalam benak orang-orang yang bukan Katolik adalah: mana mungkin Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Bisa, Maha Segalanya justru menjadi lemah tak berdaya? Mana mungkin bayi Yesus itu Tuhan? Lebih tidak mungkin lagi: kok bisa roti kecil disebut sebagai Tuhan?

Ada banyak alasan teologis yang bisa menjadi jawaban. Saya biasanya lebih condong ke alasan yang juga mencakup kelogisan di dalamnya. Menurut saya seperti ini:

Memang benar, manusia tidak bisa jadi Tuhan, apalagi roti, memang tidak bisa jadi Tuhan. Tapi bila berhenti di situ, maka logikanya jadi salah karena tidak komplit. Logika itu menjadi salah karena hanya memandang sisi profan atau sisi duniawinya dulu, baru ditarik ke arah sisi spiritual. Kalau dilihat dari sisi lain bagaimana?

Tuhan itu Maha Kuasa. Tuhan itu Maha Berkehendak Baik. Saya kira semua orang setuju dengan hal itu. Bagaimana jika dikatakan demikian: Karena Tuhan itu Maha Kuasa dan Maha Berkehendak, maka Tuhan bebas memilih untuk menjadi Maha Tidak Berkuasa, Maha Tidak Berdaya. Kalau Tuhan hanya bisa menjadi Maha Berkuasa saja, tidak bisa menjadi kebalikannya, maka Tuhan tidak bebas memilih, Tuhan tidak Maha Kuasa lagi. Dengan mengatakan Tuhan Maha Kuasa, justru kita mengamini bahwa Tuhan juga bisa menjadi Maha Tidak Berkuasa. Maka dapat kita katakan, Tuhan adalah Maha Bisa Menjadi Segalanya, Maha Bisa Menjadi Dalam Kondisi Apapun. Dalam bahasa alkitab, Tuhan telah menghampakan diri dalam rupa hamba, bahkan rela menderita sampai mati dengan hukuman sekelas penjahat.

Dengan demikian, maka bisa kita katakan bahwa bayi mungil tak berdaya bernama Yesus itu adalah Tuhan. Roti kecil putih yang tidak ada rasanya yang dipajang di monstran itu juga Tuhan.

Lalu, mengapa Tuhan mau menjadi tak berdaya seperti itu? Renungan pribadi saya membuahkan beberapa alasan.

Alasan pertama adalah supaya manusia tidak takut untuk mendekat pada-Nya. Ada cerita demikian: ketika para peneliti dan ahli satwa Cina akan mendekati bayi panda di hutan, mereka akan memakai kostum panda dan menyemprotkan badan mereka dengan bau khas panda sehingga bayi panda tidak akan takut ketika mereka mendekat. Demikian pula dengan Tuhan. Ketika akan mendekati manusia, Ia memilih menjadi hal yang akrab dengan manusia: bisa menjadi manusia sendiri, bisa menjadi roti. Karena manusia melihat Tuhan dalam wujud yang dikenali, maka manusia tidak takut mendekat.

Di masa Perjanjian Lama, manusia sangat takut untuk mendekat pada Tuhan. Mereka merasa begitu berdosa, sehingga bila manusia melihat Tuhan dalam segala keagungan-Nya, mereka pasti akan mati. Padahal, Tuhan sangat rindu supaya manusia mendekat pada-Nya dan mencapai kebahagiaan kekal. Maka di Perjanjian Lama, sering Tuhan berbicara tidak langsung, yaitu dengan perantaraan para nabi. Namun, manusia masih sering tidak mendengarkan para nabi. Manusia masih susah mendekat pada Tuhan. Maka, dengan segala kasih-Nya, Tuhan sendiri yang mendekat pada manusia dalam wujud yang akrab supaya manusia tidak takut. Tuhan kita begitu peduli dan solider pada kita. Manusia akrab dengan penderitaan, maka Tuhan pun rela menderita, bahkan sampai penderitaan yang paling hina!

Yang kedua, dengan menjadi tak berdaya, Tuhan mengajarkan kita supaya kita mau peduli terhadap sesama dan rela berkorban. Tuhan yang tak berdaya mengundang kita untuk merawat-Nya. Tidak hanya merawat bayi Yesus, tapi juga merawat orang-orang kecil yang menderita. Bukankah Tuhan sendiri yang berkata bahwa Ia juga hadir dalam sesama kita yang paling kecil?

Selain itu, Tuhan juga mengajar kita supaya rela berkorban dengan menjadi Hosti Suci. Seperti kata Mgr. Haryo, Hosti Suci yang telah dipilih dan diberkati, maka akan dipecah-pecahkan dan dibagi. Maka kita yang sudah terpilih dalam iman pembaptisan dan diberkati dengan Sakramen-Sakramen, harus siap dipecah dan dibagi di tengah dunia!

Berkah Dalem!
Selamat Natal dan Tahun Baru!

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Renungan Natal dan Tahun Baru dan tag , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Renungan Natal 2011: Hosti Kudus dan Bayi Yesus

  1. Thomas berkata:

    Amin………mampukan kami tuk seperti Engkau……

  2. Ping balik: Allah yang Menyapa dan Selalu Menyapa | mantancakrabyuha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s