Jangan Takut untuk Berkata: YA!

Doa rosario adalah sebuah devosi yang teramat indah. Dalam Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi, disebutkan bahwa Rosario adalah salah satu doa yang paling ulung kepada Bunda Allah. Gereja Katolik amat menyadari keindahan doa Rosario, maka bulan Oktober dipersembahkan sebagai bulan Rosario. Dalam bulan ini, kita diajak untuk semakin dalam merenungi makna dari rosario. Mari kita masuk ke dalam rangkaian peristiwa yang pertama, peristiwa Gembira.

Rangkaian peristiwa Rosario yang pertama adalah peristiwa Gembira. Dalam rangkaian peristiwa ini, kita dapat menarik suatu benang merah dalam kelima peristiwa tersebut. Rangkaian peristiwa Gembira adalah rangkaian peristiwa tentang perjumpaan, tentang pertemuan. Dalam kelima peristiwa pertemuan itu, Maria selalu terlibat di dalamnya. Maka saat mendaraskan Rosario dalam peristiwa-peristiwa Gembira, kita diajak oleh Maria untuk menapaki kembali berbagai perjumpaannya dengan berbagai tokoh yang berperan dalam rencana keselamatan. Dalam peristiwa pertama, kita melihat Maria berjumpa dengan malaikat Gabriel yang menyampaikan bahwa Maria akan mengandung atas kuasa Roh Kudus (Luk 1:26-38). Dalam peristiwa kedua, kita melihat Maria berjumpa dengan saudarinya, Elisabet (Luk 1: 39-56). Dalam peristiwa ketiga, Maria berjumpa pertama kali dengan Yesus dalam rupa manusia. Maria juga berjumpa dengan para gembala dan orang-orang Majus (Mat 1:18-2:12, Luk 2: 1-20). Dalam peristiwa keempat, Maria berjumpa dengan Hana dan Simeon di Bait Allah (Luk 2:21-40). Dalam peristiwa kelima, Maria berjumpa kembali dengan Yesus setelah Ia “melarikan diri” tiga hari lamanya di Bait Allah (Luk 2:41-52).

Mari kita mulai menapaki langkah Maria dalam peristiwa Gembira yang pertama. Dalam peristiwa ini, kita diajak untuk melihat suatu perjumpaan yang mulia dan agung antara dua makhluk Allah yang sama-sama murni dan tidak berdosa. Bedanya adalah yang satu bernama Gabriel yang adalah seorang malaikat, dan yang satu lagi adalah Maria, perempuan yang dikandung tanpa dosa. Ketika itu Maria sedang berada dalam ruangan terkunci di rumahnya. Dalam kisah tradisi yang ada di ritus Timur, diceritakan bahwa kedua orangtua Maria, St. Yoakim dan St. Anna, telah mempersembahkan Maria untuk menjadi gadis penenun selubung Bait Allah sejak Maria masih sangat muda belia. Sebagai seorang gadis penenun selubung, Maria selalu dijaga ketat dan harus selalu bersikap suci murni seperti yang telah ditetapkan dalam Taurat Musa. Maka dari itu, Maria pun dilindungi dalam ruangan terkunci di rumahnya.

Maka, dalam ruangan terkunci itulah Maria dikunjungi oleh malaikat Gabriel. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan (Luk 1: 28-33).”

Sepertinya para malaikat dalam Kitab Suci punya salam standar bagi orang-orang yang dijumpai untuk menerima pesan dari Allah yang Maha Tinggi. Para malaikat saat pertama kali berjumpa dengan manusia, seringkali berkata: “Jangan takut!”. Malaikat yang diceritakan dalam Perjanjian Lama mengatakan “jangan takut”, misalnya kepada Gideon (Hak 6:23). Dalam Perjanjian Baru, malaikat berkata “jangan takut” kepada imam Zakharia (Luk 1:13) dan kepada Bunda Maria (Luk 1:30). Sepintas, kata-kata “jangan takut” itu sama. Namun, Bunda Maria menerima salam itu dalam kondisi yang berbeda. Mari kita lihat perbedaannya.

Dalam paham Perjanjian Lama, manusia takut melihat Allah. Mereka merasa sangat berdosa sehingga kalau mata duniawi mereka melihat Allah dalam segala kemuliaan-Nya, manusia pasti langsung mati. Setelah bergumul dengan Allah, Yakub berkata, “Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong! (Kej 32:30)”. Dalam kepercayaan orang Yahudi, bahkan malaikat pun tidak tahan melihat kemuliaan Allah. Maka terlebih lagi, celakalah manusia yang melihat Tuhan dalam keadaannya yang berdosa. Dalam penglihatannya, Yesaya melihat malaikat serafim memiliki enam sayap; dua sayap untuk menutupi muka, dua sayap untuk menutupi kaki, dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang (Yes 6:2). Malaikat serafim yang melayani Tuhan sampai harus menutupi muka mereka dengan sayap karena cahaya kemuliaan Tuhan. Maka ketika Yesaya melihat Tuhan, ia berkata, “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam (Yes 6:5).”

Dalam terang Kitab Suci, dapat kita lihat bahwa malaikat adalah pembawa pesan bagi Tuhan. Dalam mimpinya, Yakub melihat bahwa para malaikat naik turun tangga yang terbentang antara bumi dan surga untuk menyampaikan Sabda Tuhan (Kej 28:12). Malaikat telah berkali-kali menyampaikan Sabda Allah kepada orang-orang pilihan Tuhan untuk mewartakan Rencana-Nya yang agung. Dalam Perjanjian Lama misalnya, tokoh-tokoh besar seperti Abraham, Yakub, Elia, dan Yesaya; semuanya sudah mengalami pertemuan dengan malaikat yang mewartakan Rencana Tuhan bagi mereka (beberapa contoh tersebut dapat dilihat dalam Kej 22: 11-18, Kej 28: 12-15, 2Raj 1:3-4, Yes 6:1-13). Malaikat adalah pembawa Sabda. Malaikat adalah representasi dari Tuhan sendiri. Hal ini berdampak pula mereka takut melihat representasi Allah. Mereka takut bahwa jika mereka mendengar Sabda Allah, mereka juga akan mati. Gideon yang melihat malaikat Tuhan pun ketakutan dengan berkata, “Celakalah aku, Tuhanku ALLAH! sebab memang telah kulihat Malaikat TUHAN dengan berhadapan muka (Hak 6:22).”

Ada alasan tambahan mengapa manusia takut kepada malaikat. Dalam gambaran Kitab Suci, malaikat bukanlah seperti makhluk-makhluk tinggi semampai yang manis dan cantik. Bukan pula seperti bayi-bayi mungil gemuk bersayap. Itu adalah rekaan para artis di zaman Renaissance yang mencoba menggambarkan malaikat seperti para dewa Yunani. Malaikat dalam Kitab Suci digambarkan seram dan mengerikan (Hak 13:6), bahkan dengan membawa senjata pedang api yang bernyala-nyala (Kej 3:24). Nabi Yehezkiel menggambarkan malaikat dengan wujud yang seram (Yeh 1:5-11). Ia menggambarkan malaikat memiliki empat kepala: kepala singa, kepala elang, kepala lembu, dan kepala manusia.

Mari kita bayangkan diri kita menjadi orang Israel zaman Kitab Suci. Kita menyembah Tuhan yang bahkan Nama-Nya tidak kita sebut. Kita takut kepada malaikat. Lalu, di tengah-tengah kesibukan kita, saat kita berada dalam ruang terkunci seperti Maria, tiba-tiba malaikat berwujud seram menampakkan diri kepada kita. Reaksi kita pastilah akan merasa sangat kaget dan takut. Oleh sebab itu, wajarlah malaikat mengatakan “jangan takut” kepada manusia sebagai salam pembuka.

Dalam kondisi seperti itulah Maria menerima kabar dari malaikat Gabriel. Gabriel pun mengucapkan salam “jangan takut” kepada Maria. Namun, lihatlah lebih teliti mengenai salam Gabriel tersebut. Dalam kisah-kisah sebelumnya, sebelum malaikat berkata apapun, manusia sudah ketakutan melihat malaikat. Dalam kondisi yang ketakutan itulah manusia menerima salam malaikat: “jangan takut”. Salam itu diucapkan malaikat untuk meredakan ketakutan manusia.

Berbeda dalam kisah Maria. Salam pertama Gabriel adalah “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Salam pertama itu bukan “jangan takut”. Tidak seperti leluhurnya, dalam perjumpaan yang pertama dengan malaikat, Maria tidak takut. Maria yang dikandung tanpa dosa telah menjalani hidup yang bebas dan transparan akan kehendak Allah. Maria tidak perlu takut kepada Allah yang telah mengaruniakan keselamatan dan anugerah padanya.

Maria yang selalu taat kepada hukum Taurat Musa pasti telah akrab dengan kisah-kisah pengutusan para nabi atas perintah Tuhan yang disampaikan melalui malaikat. Maka dari itu, Maria pasti sadar bahwa jika malaikat menampakkan diri padanya, pastilah Tuhan mempunyai rencana perutusan bagi dirinya. Hal inilah yang disadari Maria saat ia melihat Gabriel. Saat Maria mendengar salam Gabriel, Maria terkejut dan bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Dengan bertanya mengenai arti salam itu dalam hatinya, Maria sudah bertanya mengenai tugas perutusan apa yang akan ia terima. Ia bersikap sebagai murid Tuhan yang sejati, telinganya siap mendengarkan Sabda Tuhan (bandingkan Yes 50:4-5).

Maria tidak takut kepada perutusan yang akan ia terima. Namun, malaikat Gabriel tetap mengatakan “jangan takut” kepada Maria. Gabriel mengatakan “jangan takut” bukan bermaksud meredakan dan menenangkan ketakutan seperti leluhur Maria. Gabriel berkata “jangan takut” untuk menguatkan hati Maria dalam menerima perutusannya. Walau dikandung tanpa dosa, tidak berarti bahwa Maria tidak memerlukan Tuhan. Justru dalam tugas perutusannya yang maha besar, Maria paling membutuhkan penguatan dan pendampingan Tuhan. Tuhan tidak menginginkan hati Maria dinodai kekuatiran dalam perutusannya. Oleh karena itu, Tuhan menguatkan Maria melalui Gabriel dengan berkata: “jangan takut”. Dalam salam itu, seolah Tuhan mengajarkan pada Maria dengan berkata, “Jangan takut untuk menyerahkan seluruh hidupmu dalam Rencana-Ku. Aku, Tuhan Allah, akan setia mendampingimu”. Dengan dikuatkan oleh salam “jangan takut” itu, Maria kemudian mendengarkan Rencana Tuhan dalam sikap siap, pasrah, dan percaya.

Mari kita lihat kejadian berikutnya. Maria bertanya kepada Gabriel, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami? (Luk 1:34)”. Pertanyaan ini mirip dengan pertanyaan imam Zakharia yang menanyakan bagaimana mungkin istrinya yang mandul dan lanjut usia akan mampu mengandung seperti yang telah difirmankan Tuhan (Luk 1:18). Kedua pertanyaan itu mirip, namun Tuhan menanggapi dengan berbeda. Imam Zakharia menanyakan perasaan itu dengan penuh keragu-raguan, sedangkan Maria menanyakan pertanyaannya dengan penuh rasa pasrah dan percaya. Maka, untuk menunjukkan kepada Zakharia mengenai kekuasaan Tuhan yang Maha Luar Biasa, Zakharia dibuat bisu. Maria tidak perlu diberikan pengajaran seperti itu. Sejak semula, ia telah percaya, maka Gabriel pun menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang dibutuhkan oleh Maria. Gabriel berkata demikian, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” Maria pun dikuatkan kembali dengan perkataan Gabriel selanjutnya yang menyatakan bahwa kuasa Tuhan yang luar biasa sedang terjadi pula pada saudarinya Elisabet yang mengandung di usia tua. Maria dikuatkan dengan bukti nyata atas kehendak Tuhan yang luar biasa. Maria juga mendapat teman seperjalanan dalam rencana Tuhan: seorang ibu yang juga mengandung karena rencana Tuhan yang luar biasa. Dalam peristiwa Gembira yang kedua, kita akan melihat Maria, yang memiliki semangat berbagi yang luar biasa, mengunjungi Elisabet.

Dengan semua Sabda yang menguatkan tersebut telah diterima Maria, Maria lalu mengucapkan fiat-nya yang terkenal. Maria berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Maria siap diutus oleh Tuhan. Maria menggemakan semangat nabi Yesaya setelah menerima Sabda Tuhan: “Ini aku, utuslah aku! (Yes 6:8)”.

Dengan berkata demikian, Maria menyatakan “ya” atas kehendak Tuhan. Sr. Martha Driscoll, OCSO mengaitkan “ya” Maria dengan “ya” Yesus secara indah. Ada “ya” dobel yang ditujukan sebagai reaksi atas kehendak Bapa. Sejak sebelum awal waktu, Yesus telah berkata “ya” pada Bapa-Nya untuk menyelamatkan manusia. “Ya” Maria inilah yang memungkinkan “ya” Yesus memasuki kurun waktu dan menyelamatkan seluruh umat manusia. “Ya” Maria adalah pintu gerbang bagi “ya” Yesus. “Ya” Maria dan “ya” Yesus selalu bersama dan tak terpisahkan sampai Yesus menuntaskan “ya”-Nya di kayu salib sebagai penyerahan kurban yang sempurna kepada Bapa.

Dalam tiap doa Salam Maria yang kita ucapkan saat mendaras Rosario, kita mengulang perkataan Gabriel: Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Dengan mengucapkan salam Gabriel itu, kita mengenangkan rahmat terbesar umat manusia. Kita tidak lagi takut untuk memandang Tuhan. Melalui dobel “ya” kepada Bapa yang diucapkan Yesus dan Maria, kita mampu memandang Tuhan yang menjadi serupa dengan kita. “Ya” Maria telah menjadi pintu bagi Yesus untuk menjadi manusia sehingga kita mampu memandang wajah Allah dalam diri Yesus. Berkat dobel “ya” itu, kita mendapat rahmat luar biasa: Penyelamat yang Ilahi. “Ya” Maria itu pula yang sekarang memampukan kita untuk memandang Tuhan Yesus dalam Ekaristi. Dalam Adorasi Ekaristi, kita mampu memandang Tuhan yang Maha Kuasa yang hadir dalam kesederhanaan hosti yang kecil dan rapuh. Kita dapat melihat Tuhan dengan mata duniawi kita karena Tuhan telah menghapus dosa kita melalui kurban salib. Tuhan telah menghapus dosa nabi Yesaya dengan bara api yang menyentuh bibirnya (Yes 6:7). Dengan menerima Tubuh dan Darah Kristus melalui bibir kita, dosa kita pun telah Dia hapus.

Dengan bercermin pada Maria, kita pun belajar mengucapkan salam itu dalam kaitannya dengan tugas perutusan kita. Setelah mendengar salam Gabriel, Maria siap diutus dengan berkata “ya”. Tuhan juga telah mengutus kita. Setelah kita menerima Tubuh Kristus dalam Misa Suci, kita diberkati oleh Tuhan dan diutus. Dengan mengucapkan salam itu dalam Rosario, kita diajak untuk mendengarkan Sabda Tuhan dan menjawab “ya” atas tugas perutusan kita di dunia. Kita diajak supaya “jangan takut” terhadap berbagai masalah yang menghadang dalam tugas perutusan kita di dunia ini. Kita diajak bersama Maria untuk melangkah pasrah dalam kedahsyatan rencana Tuhan. Bersama Maria, kita diajak untuk membuang kekuatiran kita dalam hidup. Bersama Bunda Maria, kita diajak untuk “jangan takut” mengatakan “ya” pada kehendak Tuhan. Bersama Bunda Maria, kita semua berseru: “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Renungan Rosario Peristiwa Gembira dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s