Iman Katolik Itu Hijau

Bersama Lenka dari Czech dan Astrid dari Austria

Bersama Lenka dari Czech dan Astrid dari Austria

Artikel kali ini adalah tulisan yang saya kirim untuk dimuat pada Majalah Gemati Edisi November 2012. Majalah Gemati merupakan media komunikasi paroki St. Athanasius Agung Karang Panas Semarang. Tulisan yang saya muat di sini telah saya revisi dan saya perluas dengan beberapa diskusi baru. Semoga berguna.

Manusia Merusak Dunia

Masyarakat dunia saat ini sedang gencarnya membahas isu lingkungan yang tenar dengan nama global warming alias pemanasan global. Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C selama seratus tahun terakhir. Banyak ahli yang mengkhawatirkan bahwa pemanasan global ini akan menimbulkan efek negatif yang dahsyat, yaitu mencairnya kumpulan es di kutub-kutub bumi yang dapat mengakibatkan naiknya permukaan laut, badai, banjir dan longsor. Selain itu, pemanasan global membawa efek musnahnya keanekaragaman hayati di dunia dan juga menyebabkan penyakit lebih mudah tersebar luas. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia yang tak henti mengekploitasi sumber daya bumi sehingga mengakibatkan efek rumah kaca.

Sebagai manusia yang hidup di bumi ini, tentu kita merasa prihatin dan terpanggil untuk ikut menyelamatkan bumi kita yang sedang dilanda masalah ini. Kita memiliki kewajiban moral untuk turut serta melestarikan bumi ini, terlebih karena pemanasan global sendiri adalah anak dari ulah manusia yang terus-menerus merongrong bumi. Namun, bagaimana jika dilihat dari sudut pandang iman? Apakah iman Katolik kita juga turut mengajak kita untuk melestarikan bumi? Apa hubungan antara iman Katolik kita dengan lingkungan hidup? Dalam semangat memasuki Tahun Iman yang baru saja kita awali pada 11 Oktober 2012, mari sejenak kita lihat pandangan Kitab Suci dan Gereja mengenai masalah lingkungan hidup.

Kata Kitab Suci

Dalam buku The Catholic Way, Mgr. Ignatius Suharyo yang sekarang duduk di tahta Uskup Metropolitan Keuskupan Agung Jakarta menguraikan hubungan antara manusia dan alam lingkungannya dalam kacamata Kitab Suci sebagai berikut. Kitab Kejadian 2:15 dan 18 mengatakan bahwa “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan segala binatang yang merayap di bumi”. Dari kutipan perikop tersebut, kita dapat melihat bahwa relasi antara tugas manusia dari Allah terhadap lingkungannya memiliki dua dimensi. Dimensi yang pertama dapat kita lihat dari kata-kata mengusahakan, taklukkanlah, dan berkuasalah. Dalam  dimensi ini, Tuhan memberikan kemampuan dan kebebasan bagi manusia untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi lingkungan sekitarnya demi kepentingan hidupnya. Dimensi pertama ini dilengkapi dalam dimensi kedua yang dicerminkan dari kata memelihara. Dalam dimensi relasi antara manusia dengan lingkungannya, manusia juga memiliki kewajiban untuk memelihara lingkungan sekitarnya sehingga lingkungannya dapat lestari secara berkesinambungan.

Bila kita tilik lebih dalam, ternyata hubungan manusia dan lingkungan ini memiliki makna lebih dalam dan hakiki daripada sekedar tugas memanfaatkan dan memelihara. Dalam Kitab Kejadian 1: 26, dilukiskan dengan indah bahwa Allah menciptakan manusia menurut “gambar dan rupa” Allah sendiri. Apa maksudnya bahwa manusia adalah gambar Allah? Di dunia Perjanjian Lama, kata “gambar” digunakan untuk mengacu pada patung raja yang dikirim ke segala penjuru kerajaan di mana raja tidak bisa hadir secara langsung. Dengan kehadiran “gambar” itu, maka seolah-olah raja hadir di tempat itu. “Gambar” menjadi wakil raja di tempat itu. Dengan menggunakan istilah manusia sebagai “gambar” Allah, Kitab Kejadian berusaha mengungkapkan bahwa manusia adalah menjadi wakil Allah di bumi. Hal ini ditegaskan dengan tugas ilahi yang dikenakan kepada manusia untuk mengusahakan, menaklukkan, berkuasa, dan memelihara bumi. Sebagaimana Allah memerintah alam surgawi, begitu pula manusia memerintah alam duniawi sebagai wakil Allah. Dapatlah kita simpulkan bahwa tugas memanfaatkan dan melestarikan bumi justru merupakan sifat hakiki yang luhur dari martabat manusia sebagai “gambar dan rupa” dari Allah sendiri.

Namun demikian, seringkali manusia hanya ingat kepada dimensi tugasnya yang pertama dan melupakan yang kedua, padahal sebenarnya kedua dimensi itu saling melengkapi. Manusia hanya mau memanfaatkan saja, tapi lupa untuk menjaga dan melestarikan bumi. Manusia kemudian menjadi egois dan serakah. Segala tindakannya di bumi semata-mata menjadi antroposentris, menjadi terpusat pada pemenuhan kebutuhannya sendiri. Manusia telah jatuh dalam dosa yang disebut oleh Paus Yohanes Paulus II sebagai “dosa ekologis”, dosa yang berbentuk keserakahan dan ketidakpedulian manusia pada lingkungan yang semata dilakukan atas nama kepuasan duniawi.

Seruan Para Gembala Gereja

Isu mengenai lingkungan telah menjadi keprihatinan Gereja Katolik sejak lama. Dengan lugas, Paus Yohanes Paulus II telah menyerukan bencana pemanasan global dalam ensiklik Centessimus Annus yang dikeluarkan pada tahun 1991 dengan mengatakan bahwa manusia telah “membangkitkan pemberontakan alam” akibat dari tindakannya terhadap alam yang “tidak diaturnya tetapi justru disiksanya” (Centessimus Annus 37). Pemanasan global yang kita alami sekarang ini adalah perlawanan balik dari alam yang telah kita eksploitasi secara semena-mena. Bak bumerang, tindakan manusia yang sewenang-wenang terhadap alam justru berbalik menyerang dirinya sendiri. Hal ini yang telah diwanti-wanti oleh Paus Paulus VI dalam ensiklik Octogesima Adveniens pada tahun 1971 dengan mengatakan bahwa dengan menghancurkan alam, manusia justru “menjadi korban pengrusakan itu sendiri”. Lebih lanjut, Paus Paulus VI menyerukan pada seluruh umat Kristiani untuk memperhatikan lingkungan dengan “bersedia bertanggung jawab bersama dengan semua pihak lain, guna membangun masa depan yang sejak sekarang dihadapi bersama” (Octogesima Adveniens 21).

Gembala utama Gereja Universal kita yang sekarang, Paus Benediktus XVI bahkan sangat peduli pada masalah lingkungan hidup, bahkan Beliau dijuluki sebagai “Paus Hijau” karena perhatiannya yang sangat besar pada ekologi. Dalam Ensiklik Caritas In Veritate yang dikeluarkan pada tahun 2009, Paus Benediktus XVI mempersembahkan satu bab dalam ensikliknya, yaitu bab 4, untuk secara khusus untuk membahas masalah ekologi. Dalam ensiklik ini, Paus Benediktus menekankan sifat alam lingkungan sebagai pernyataan “cinta dan kebenaran” dari Allah sendiri sebab alam menceritakan kepada kita tentang kebesaran Sang Pencipta (bandingkan Roma 1: 20) serta kasihnya terhadap manusia. Manusia memiliki “kewajiban pelayanan terhadap alam”  untuk melindungi alam demi kepentingan “keseluruhan keluarga manusia” yang ada di bumi dengan cara mengubah gaya hidup manusia menjadi lebih menghormati alam, dan dengan demikian alam pun akan menghormati manusia. Dengan demikian, sebagai kumpulan manusia beriman, Gereja juga memiliki panggilan untuk melestarikan alam lingkungan. Paus Benediktus juga mengangkat masalah sumber daya energi yang terbarukan dan berkesinambungan serta pentingnya kerjasama antara berbagai negara di seantero dunia untuk menggalang solidaritas ekologis (Caritas In Veritate, 43-52).

Gereja Katolik Indonesia juga mengungkapkan keprihatinan mengenai lingkungan. Dalam dua Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) yang terakhir, yaitu pada tahun 2005 dan 2010, selalu ditegaskan komitmen Gereja Katolik Indonesia untuk selalu berupaya memelihara lingkungan hidup. Secara khusus, Keuskupan kita tercinta, Keuskupan Agung Semarang juga membangun komitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan dengan mencantumkan pelestarian keutuhan ciptaan sebagai salah satu prioritas Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang (ARDAS KAS) tahun 2011-2015. Yang dimaksudkan dengan keutuhan ciptaan dalam ARDAS KAS adalah keseluruhan hidup dan relasi yang harmonis yang terjadi dan berkembang di antara manusia dengan ciptaan lainnya. Perhatian yang besar terhadap pelestarian keutuhan ciptaan dalam ARDAS KAS ini didasari oleh iman dan keyakinan bahwa pada awal mula, Allah menciptakan segala sesuatu baik adanya (bandingkan Kej 1). Kalau ciptaan Allah yang baik adanya itu sekarang rusak oleh ulah manusia, maka sudah menjadi tugas kita untuk ikut memulihkannya.

Pertobatan Ekologis

Sekarang kita tahu bahwa iman Katolik kita ternyata sangat “hijau”, sangat peduli pada kelestarian lingkungan. Namun, iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak 2:26). Apa yang dapat kita lakukan sebagai orang beriman Katolik untuk melestarikan keutuhan ciptaan? Jawabannya adalah kita harus bertobat dari dosa ekologis; kita harus berani melakukan pertobatan ekologis yang mengubah paradigma lingkungan yang bersifat antroposentris menjadi biosentris.

Koordinator Gerakan Hidup Bersih dan Sehat Keuskupan Agung Jakarta yang juga pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Romo Al. Andang L. Binawan, SJ, menjelaskan dalam Majalah Hidup Edisi Maret 2012 bahwa ada dua pemahaman dasar tentang pertobatan ekologis. Pertama, manusia harus mengatasi kemalasan dan keserakahannya. Manusia harus berusaha untuk tidak lagi menempatkan dirinya sebagai pusat ciptaan. Pertobatan berarti menghargai makhluk lain, juga bumi, bukan sekadar sebagai alat bagi manusia, tetapi sebagai ciptaan Tuhan yang menjadi anugerah bagi manusia dan harus dijaga. Kedua, menjaga keseimbangan. Maksudnya, setiap ciptaan Tuhan, baik makhluk hidup maupun tidak hidup, telah disusun saling berkait dengan sempurna. Keserakahan manusia bisa menyebabkan keseimbangan kehidupan menjadi rusak. Karena itu, pertobatan manusia berarti juga mengembalikan keseimbangan ini.

Pertobatan ekologis ini harus diwujudnyatakan dalam tindakan konkret secara berkesinambungan. Romo Andang menjelaskan bahwa bentuk nyata pertobatan ini dapat dilakukan dalam tiga segi:

Pertama, pertobatan personal. Pertobatan ini dilakukan secara pribadi berdasar niat pribadi. Lebih peduli pada sampah dengan tidak membuang sembarang, melainkan menaruh dan memilah sampah adalah salah satu contoh. Yang diharapkan bukan sekadar pertobatan yang sekali-sekali saja dilakukan, tetapi diharapkan membentuk habitus atau suatu kebiasaan yang mendarah daging.

Kedua, pertobatan struktural. Artinya, pertobatan yang dilakukan suatu komunitas, entah itu komunitas kecil atau besar, baik lingkungan maupun paroki, bahkan juga keuskupan. Contoh lain adalah suatu paroki yang menyediakan tempat sampah dan ‘kontrol’ yang lebih ketat tentang pengelolaan sampah di kompleks gereja. Kerjasama yang intensif tentang kepedulian ini dengan komunitas lain, asal berkelanjutan, bisa juga jadi contohnya.

Lalu, ketiga, bentuk pertobatan yang lebih bersifat simbolis. Membuat pohon atau kandang Natal dengan botol minuman bekas adalah contoh bentuk ini. Hal ini lebih bersifat mengingatkan dan menggugah kesadaran. Bahkan, menanam pohon di kompleks gereja pun bisa masuk kategori simbolis, karena yang diharapkan adalah dampak yang lebih luas, tidak dibatasi oleh waktu dan tempat.

Pertobatan ekologis perlu menindaklanjuti masalah kontekstualisasi. Artinya, bagaimana menemukan bentuk pertobatan yang paling sesuai dengan konteks setempat. Usaha bertobat pada Masa Prapaskah untuk mengurangi polusi dengan memakai kendaraan umum mungkin tidak terlalu relevan di daerah pedesaan terpencil yang lebih membutuhkan kepedulian pada usaha pelestarian hidup agraris yang berkesinambungan. Diharapkan, pilihan nyata pertobatan itu bisa berdampak secara nyata.

Kita memiliki teladan yang baik dalam melakukan pertobatan ekologis ini. Teladan kita adalah Santo Fransiskus dari Asisi. Dalam semangat persaudaraan yang luhur, dia menganggap semua hal di dunia ini sebagai saudara sesama ciptaan Tuhan. Dia menyapa matahari sebagai saudaranya, bulan sebagai saudarinya, dan semua makhluk ciptaan sebagai keluarganya. Bahkan dengan tanpa ragu, Santo Fransiskus dari Asisi pun memanggil kematian sebagai saudarinya. Kita patut meniru Santo Fransiskus dari Asisi dengan memperlakukan lingkungan sesuai dengan harkat dan martabatnya, yaitu sebagai saudara kita sesama ciptaan Tuhan. Kita manusia, yang di mata Tuhan dipandang “sungguh amat baik” (Kej 1: 31) justru harus mampu mengayomi semua saudara ciptaan Tuhan yang berkali-kali dipandang Tuhan dengan penuh sayang: “semuanya itu baik” (Kej 1: 4, 10, 12, 18, 21, 25). Mari kita belajar pula dari umat Buddha yang sungguh menyayangi semua ciptaan dengan salam doa: “Sabbesatta bhavantu sukhitatta”, yang artinya kurang lebih adalah: “semoga semua makhluk hidup berbahagia”.

Inilah panggilan iman kita sebagai orang Katolik yang perlu diwujudnyatakan dalam tingkah hidup sehari-hari. Mari kita bergandengan bersama, tua muda, miskin dan yang kaya, bersama dengan semua orang lain yang berkehendak baik untuk melakukan pertobatan ekologis. Sedikit menyitir kutipan terkenal yang konon katanya diucapkan Aa’ Gym, untuk memulai pertobatan ekologis, diperlukan tiga hal: harus dimulai dari diri sendiri, harus dimulai dari hal-hal yang kecil, dan harus dimulai dari sekarang!

Berkah Dalem.

Dipublikasi di Tentang Hidup, Tentang Iman | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Selingan: Aransemen Lagu PORSENIMAN Sekevikepan Semarang

Gereja tercinta

Sudah lama saya menelantarkan blog ini. Sekarang, sebagai selingan, saya ingin berbagi dua buah tata suara (aransemen) lagu yang saya tulis. Tata suara ini saya buat untuk Mudika (OMK) Gereja St. Athanasius Agung Karangpanas dalam rangka mengikuti lomba PORSENIMAN (Pekan Olah Raga, Seni, dan Iman) Sekevikepan Semarang Tahun 2012 yang diadakan di Gereja St. Petrus Sambiroto, Semarang (kuasi-paroki dari Paroki Mater Dei Lampersari, Semarang). Puji Tuhan, Mudika Gereja kami mendapat juara I dalam lomba futsal, juara II dalam lomba menari, dan juara III dalam lomba grup vokal.

Lagu-lagu yang saya unggah di sini adalah dua lagu yang dipakai dalam lomba grup vokal PORSENIMAN tersebut. Lagu pertama adalah Mars Kaum Muda Katolik berjudul “Hai Semua Kaum Muda” (Syair: Sunar Wibawa & Agus Tridiatno; Lagu: Agus Tridiatno). Lagu ini adalah lagu wajib dalam lomba. Saya menyusun tata suara lagu ini dibantu dengan Mbak Rosa, salah satu organis terbaik yang kami banggakan di Gereja kami.

Sedangkan lagu kedua adalah lagu “Yo Prakanca” yang digabungkan dengan lagu “Cublak-Cublak Suweng”. Perlu saya ungkapkan di sini, lagu kedua ini bukan merupakan 100% karya asli saya. Untuk lagu ini, saya mengambil beberapa bagian dari karya Bapak Paul Widyawan dan Bapak V. Simangunsong dengan sedikit perubahan di sana-sini; serta menambahkan beberapa bagian yang memang adalah karya asli saya.

Silakan melihat-lihat kedua lagu ini. Saya sangat berterima kasih atas kritik dan saran yang membangun dari para pembaca.

Berkah Dalem.

Ini tautan untuk lagu-lagunya. Semuanya dalam format PDF. Silakan diklik.

HAI SEMUA KAUM MUDA

YO PRAKANCA DITABRAK CUBLAK SUWENG

Dipublikasi di Lagu, Sahabat Cakrabyuha, Tentang Hidup | Tag , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Oleh-oleh Benang Ruwet dari Jayapura

Sedikit Cerita

Saya baru saja pulang dari Jayapura. Berhubung saya hanya dua hari di sana dan juga tidak banyak menjelajah kebudayaan Papua, saya tidak bisa bercerita banyak mengenai pengalaman perjalanan saya. Dalam tulisan ini, saya ingin menceritakan pemikiran yang hinggap dan mengganjal di kepala saya selama bepergian di sana.

Kota Jayapura adalah kota yang indah, terletak di teluk Samudra Pasifik dan berbukit-bukit seperti di kota kelahiran saya, Semarang. Sewaktu saya berangkat ke sana, saya sudah berekspektasi akan menemui rumah adat honai di mana-mana dan dihuni oleh penduduk asli yang memakai koteka dan rumbai-rumbai. Ternyata setibanya di sana, justru saya merasa tiba kembali di Semarang. Saya lupa bahwa Jayapura adalah ibukota provinsi, jadi kelihatannya sedikit banyak (di mata saya: sangat banyak) sudah berubah menjadi kota modern. Dalam perjalanan saya yang amat singkat di sana, saya hanya melihat beberapa saja budaya asli Papua yang masih menunjukkan jejaknya di kota Jayapura. Mungkin karena saya berkunjung dalam waktu yang teramat singkat dan tidak sempat pergi berwisata, saya hanya melihat sedikit saja. Bila ada kesempatan lain ke sana, saya berharap dapat lebih dalam menggali kebudayaan Papua.

Satu hal yang saya perhatikan di sana adalah: di Jayapura ada banyak sekali gereja. Baik Gereja Katolik maupun Gereja Protestan dengan berbagai denominasinya, semua tumbuh subur di sana. Ada banyak juga sekolah tinggi teologi di Jayapura. Di jalan-jalan Jayapura, banyak orang Papua dengan bangga mengenakan Rosario di leher mereka. Di toko batik Papua tempat saya mampir membeli oleh-oleh, ada spanduk bertuliskan kata-kata ini (saya menyayangkan kesalahan tata bahasa di ucapan spanduk tersebut, tapi demikianlah yang tertulis di sana):  “selamat hari jadi Kota Jayapura ke-102 dan memperingati 157 tahun masuknya Injil di Tanah Papua”. Hal yang paling menakjubkan bagi saya adalah adanya salib di mana-mana, bahkan landmarks yang menonjol di kota Jayapura adalah rangka salib besar berneon merah yang terletak di pulau kecil di teluk Jayapura dan  bersanding dengan tulisan ”Jayapura City”, juga dalam rangka logam berneon merah.

Saya merasa sedikit gegar budaya-agama di sana. Saya terbiasa dengan budaya-agama di Jawa: banyak masjid, suara adzan senantiasa berkumandang di mana-mana. Saat berada di Jayapura, suasananya sungguh berbeda. Saya harus jujur. Sebagai orang Katolik, saya merasakan sebersit perasaan senang dan akrab di hati. Apakala di berita nasional sarat dengan berita pelarangan beribadah bagi jemaat Kristen seperti HKBP Filadelfia Bekasi serta Keuskupan Agung Semarang tempat tinggal saya sendiri sedang gundah akibat berbagai kejadian yang merusak perdamaian antaragama seperti perusakan Gua Maria di Sendang Pawitra Tawangmangu dan penolakan warga atas Gua Maria di Giri Wening Gunungkidul, berada di tanah Jayapura yang kental suasana Kristianinya membuat hati saya sedikit merasa damai.

Entahlah mengapa saya merasa begitu. Mungkin memang sudah sifat manusia untuk merasa senang berkumpul dengan sesamanya yang juga memiliki banyak kesamaan dengannya. Mungkin perasaan saya sama seperti orang Indonesia di luar negeri yang merasa senang bertemu dengan orang Indonesia lainnya. Bahkan burung pun senang berkumpul dengan burung lain yang warna bulunya sama. Atau mungkin saja, saya sedang merasa lelah menjadi anggota agama minoritas di tengah negara yang mayoritasnya beragama lain. Apalagi ketika di berbagai tempat di Indonesia sering agama minoritas ditekan oleh mayoritas, seperti yang sudah saya sebut sedikit sebelumnya. Entahlah. Mungkin saja hal yang lain.

Ketika saya kembali ke tanah Jawa, saya sempat bermalam di tempat om saya di Tangerang sebelum kembali ke Semarang. Saya sudah sering pergi ke tempat om saya di Tangerang ini. Tapi kali ini, saya memperhatikan sesuatu yang sebelumnya hanya saya lihat sepintas lalu. Mungkin saya baru memperhatikan akibat pengalaman saya di Jayapura. Saya mendapati, ternyata Kota Tangerang sangat bernuansa Islami. Motto Kota Tangerang adalah kota ber-akhlakul karimah. Di sepanjang marka jalan pembatas antara jalur kanan dan jalur kiri di Jalan Cikokol Tangerang, dipasang kotak-kotak lampu bertuliskan asmaul husna atau nama-nama Allah yang menggambarkan sifat-sifat ilahi dari Allah menurut ajaran Islam. Kembali saya mengalami gempa budaya-agama; setelah dari Jayapura yang liat suasana Kristen, saya masuk ke kota Tangerang yang sarat budaya Islami.

Beberapa Pertanyaan yang Terpikirkan

Saya menjadi bertanya-tanya sendiri. Mengapa di Jayapura bisa dipasang landmark berbentuk salib; dan juga di Tangerang, bahkan pemerintah kota sendiri menempatkan kotak-kotak bertuliskan asmaul husna di marka jalan? Kalau pemerintah lokal dengan mantapnya menjadikan salah satu agama mayoritas seolah menjadi “agama resmi” pemerintah lokal tersebut, sebenarnya, Indonesia ini negara agama atau negara sekuler? Apakah agama itu menjadi satu dengan pemerintahan, atau sama sekali di luar pemerintahan? Mengapa di banyak daerah bermunculan peraturan daerah yang diskriminatif terhadap agama dan pada imbasnya juga bias pada gender?

Pikiran saya makin jauh berkelana, bertanya makin jauh. Mengapa salah satu agama yang dominan di suatu daerah lantas masuk merasuk bahkan ke dalam sistem tata negara dan administrasi negara secara nasional? Mengapa kita punya Pengadilan Agama dan Kantor Urusan Agama yang hanya mengurusi warga negara beragama Islam? Mengapa namanya tidak diubah saja menjadi Pengadilan Agama Islam dan Kantor Urusan Agama Islam? Mengapa instansi tersebut memakai nama hipernim “agama” padahal yang diurus tidak semua agama? Mengapa warga negara beragama bukan Islam jika berperkara dalam bidang agama atau mengurus perkawinan masuknya ke yurisdiksi Pengadilan Negeri dan Kantor Catatan Sipil? Mengapa misalnya, tidak ada Pengadilan Agama Buddha, atau Kantor Urusan Agama Hindu?

Mengapa di Gereja, setelah menikah secara Katolik, masih harus digelar lagi upacara nikah negara dengan petugas dari Kantor Catatan Sipil; padahal di Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 tahun 1974 pasal 2 ayat (1) jelas dikatakan bahwa “Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu”? Apakah dengan demikian, pernikahan di Gereja itu dinilai belum sah oleh negara?

Mengapa organisasi macam FPI yang katanya berprinsip nahi munkar tapi nyata-nyata bertindak munkar masih saja dibiarkan oleh pemerintah, bahkan seolah para aparat tak kuasa menahan aksi anarkis mereka? Mengapa diskusi Irshad Manji beberapa waktu lalu berkali-kali dipaksakan batal hanya karena ancaman anarkis, padahal Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pasal 28E ayat (3) jelas melindungi kebebasan berpendapat? Mengapa rakyat Indonesia menjadi sok suci dengan mengecam konser Lady Gaga, padahal orkes dangdut di kampung-kampung justru sering lebih erotik daripada Lady Gaga? Mengapa Ahmadiyah dipaksa bubar? Mengapa HKBP Filadelfia dilarang beribadah, padahal sudah dimenangkan lewat jalur hukum? Mengapa Gua Maria diserang dan ditolak? Mengapa masih saja rumah ibadah diteror bom, seperti di GBIS Kepunton Solo tahun 2011 lalu?

Dengan sedikit ngeri, tibalah saya pada pertanyaan yang menakutkan ini: apakah toleransi di Indonesia telah menjadi barang langka? Apakah perdamaian agama yang sepertinya kita lihat di permukaan sekarang sebenarnya hanyalah perdamaian semu yang teramat rentan? Apakah suasana tenteram adem ayem antaragama hanyalah merupakan kedok dari genjatan senjata dari agama mayoritas dengan agama minoritas?

Pergulatan Pribadi Saat Mencari Jawaban – Yang Justru Menggandeng Pertanyaan Baru

Seperti biasanya, ketika pikiran saya mencetuskan pertanyaan macam ini, saya lalu berusaha mencari jawabannya. Tapi kali ini, saya harus jujur. Saya digelayuti rasa malas yang aneh saat sedang mencari jawaban dari pertanyaan saya kali ini. Saya tidak merasa menjadi diri saya sendiri kali ini. Saya seakan mati rasa ketika berusaha menjawab pertanyaan saya sendiri. Rasa-rasanya, saya sedang dihinggapi sentimen negatif apatisme seorang rakyat yang sudah putus asa dan muak atas penyelenggaraan negara dan penegakan hukum yang saya rasa sudah sedemikian buruknya, bahkan sampai saya sudah tidak peduli lagi. Bahkan untuk menjawab pertanyaan ini pun, saya merasa gundah. Apakah ketika saya sudah menemukan jawaban dari pertanyaan ini, hati dan pikiran saya akan menjadi lebih tenteram? Atau justru saya akan makin resah dan bersedih karena ternyata das sein (yang senyatanya) ternyata sudah terlalu jauh menyimpang dari das sollen (yang seharusnya), bahkan sudah mencapai point of no return? Apa gunanya saya mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya kalau ternyata di kenyataan, sulit sekali tercipta keadaan yang lebih baik yang saya dambakan? Mengapa kondisi damai yang saya bayangkan dan saya idam-idamkan justru terasa seperti realisme utopian yang mustahil terwujud?

Saya ceritakan perjuangan saya saat mencoba menjawab pertanyaan saya yang pertama saya sebutkan: apakah Indonesia negara agama atau negara sekuler? Bila dilihat dari segi hukum, Indonesia bukanlah keduanya. Indonesia bukan negara agama, pun bukan negara sekuler. Indonesia bukan negara agama karena tidak memiliki agama resmi sebagai agama negara. Indonesia juga bukan negara sekuler yang memisahkan sama sekali antara agama dan negara. Buktinya, Indonesia memiliki Kementerian Agama, dan kebebasan beragama dilindungi dan dijamin oleh konstitusi negara, yaitu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pasal 28E ayat (1) dan pasal 29 ayat (2) beserta undang-undang di bawahnya (seperti UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM). Resminya menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pasal 29 ayat (1), Indonesia adalah negara yang “berdasar atas Ketuhanan yang Maha Esa”. Bisa saya katakan, Indonesia adalah negara religius.

Namun setelah mendapat jawaban ini, pikiran saya ini justru melahirkan banyak pertanyaan baru. Mengapa di Indonesia yang menjamin kebebasan beragama, nyatanya hanya mengakui enam agama: Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddhisme, dan Konghucu? Bahkan nyatanya, agama Konghucu baru mendapat pengakuan sebagai agama semasa pemerintahan Gus Dur alias Abdurrahman Wahid. Mengapa misalnya, agama animisme dan dinamisme yang telah menjadi agama lokal di Indonesia seperti Kejawen, Saminisme Sedulur Sikep, Kaharingan Suku Dayak, dan Marapu di Sumba tidak mendapat pengakuan sebagai agama di Indonesia, namun hanya dikatakan sebagai “kepercayaan”? Apakah misalnya, orang-orang dari manca yang beragama lain dari yang diakui di Indonesia seperti Sikh, Yahudi, Tao, Shinto, Baha’i, dan Jainisme lantas dikatakan tidak beragama? Mengapa Indonesia, yang di konstitusinya sendiri menjamin kebebasan beragama, ternyata tidak memperlakukan semua agama sederajat? Mengapa aliran Ahmadiyah ditentang oleh banyak orang di Indonesia?

Memang kebebasan beragama tidak tak terbatas karena harus dijaga supaya tidak berbenturan antara satu kepentingan agama dengan kepentingan agama lain. Pemerintah Indonesia juga harus mencegah munculnya agama-sekte-kultus berbahaya seperti sekte bunuh diri (seperti sekte People’s Temple di Amerika tahun 1978 yang mengadakan bunuh diri massal lebih dari 900 orang, termasuk di antaranya 300 anak-anak), sekte kekerasan dan terorisme (seperti gerakan Al Qaeda dan gerakan Aum di Jepang), dan sekte-sekte berbahaya lain seperti sekte pemakai obat-obatan terlarang secara eksesif, sekte penyiksaan diri dan orang lain, sekte pendukung seks bebas, sekte penyiksa binatang secara tidak manusiawi, dan banyak lagi. Tapi bagaimana misalnya dengan gerakan-gerakan baru yang bisa kita katakan aneh, ganjil, dan tidak biasa, namun tidak mengganggu orang lain seperti gerakan New Age, Scientology, sampai pada agama luar biasa aneh yang percaya bahwa alien adalah dewa? Biasanya kita, orang Indonesia akan mengambil langkah ultra preventif dengan melarang segala jenis sekte baru (seperti sektenya Lia Eden) dengan alasan penistaan agama.

Saya berandai-andai lagi, mengapa Indonesia tidak bisa bersikap toleran seperti Evelyn Beatrice Hall yang menulis dalam biografinya tentang Voltaire: “I disapprove of what you say, but I will defend to the death your right to say it” yang kira-kira berarti “saya tidak setuju dengan perkataan Anda, namun saya akan membela sampai mati hak Anda untuk berkata demikian”. Saya bayangkan, alangkah indahnya bila Indonesia bisa menghidupi semangat Evelyn Beatrice Hall itu. Akankah bayangan saya ini hanya menjadi angan-angan kosong belaka? Ataukah semangat ini hanya ada di awal berdirinya republik kita ini dengan semangat berbesar hati para tokoh pendiri negara yang beragama Muslim yang setuju dengan perubahan sila pertama dalam Piagam Jakarta yang semula berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi bentuk yang lebih universal yang sekarang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan kita kenal dalam Pancasila?

Saya mencoba mencari semangat ini di zaman sekarang ini. Saat saya mencoba mencari di mesin perambah Google dengan kata kunci “kebebasan beragama di Indonesia”, semua hasil pencarian yang tertampil di halaman pertama hasil pencarian ternyata menunjukkan hasil yang mencemaskan dan menciutkan hati. Saya hanya bisa berpikir, apakah sekarang kita telah masuk ke dalam “kala bendu”, zaman serba edan? Tanpa sadar, saya mendengar diri saya sendiri berujar lirih: “Astaga, Indonesia…”

Mari Berdiskusi

Kali ini, saya harus mengaku saya tidak mampu mengurai benang ruwet ini sendirian. Dan sepertinya Tuhan sendiri menuntun saya sendiri dalam permasalahan ini. Beberapa hari yang lalu, seorang blogger mengikuti blog saya ini, dan ternyata blog Beliau ini adalah blog yang berspesialisasi pada masalah toleransi. Nama blogger ini adalah Bapak Muhammad Hafiz dan alamat blognya adalah membumikantoleransi.wordpress.com. Silakan Anda menjelajah tulisan-tulisan Bapak Muhammad Hafiz di blog tersebut. Saya sendiri merasa sangat terbantu untuk menjawab berbagai pertanyaan saya di atas.

Satu artikel yang menarik hati saya dalam blog Pak Muhammad Hafiz tersebut adalah tentang dialog. Pak Muhammad Hafiz melakukan “otak-atik gathuk” dari kata dialogue dan menghasilkan rangkaian kata dia-lo-gue. Ternyata, untuk menyatukan saya, Anda, dan dia untuk menjadi satu “kita”, perlu ada perekat yang bernama dialog. Dialog ini harus dilaksanakan dalam kejernihan dan kehendak baik. Dialog yang berbuah baik tidak akan pernah terjadi bila sebelumnya masing-masing pihak yang berdialog sudah berangkat dengan prasangka dan curiga.

Saya pun sadar, bahwa saya tidak akan pernah bisa menjawab pertanyaan ini sendirian. Saya juga butuh berdialog untuk mendapat jawaban atas banyak pertanyaan saya. Kalau saya hanya menjawab sendirian, hasilnya justru adalah benang ruwet seperti di atas. Jadi, saya mengundang Anda yang sudah membaca tulisan saya ini untuk ikut berdialog dan bersama-sama membangun Indonesia yang lebih baik. Saya berharap dan percaya bahwa kita semua yang sudah berkehendak baik dan memulai langkah yang baik, pasti akan dibantu Tuhan mewujudkan niatan baik kita. Ijinkan saya mengutip dari Kitab Suci yang saya yakini untuk menutup tulisan ini: Allah yang memulai pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (bandingkan Filipi 1:6).

Berkah Dalem.

Dipublikasi di Sahabat Cakrabyuha, Tentang Hidup | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Allah yang Menyapa dan Selalu Menyapa

Pengantar

Setelah jeda beberapa lama dan beberapa tulisan, akhirnya saya mampu menyelesaikan tulisan ini, yang sebenarnya sudah lama saya niatkan untuk saya tulis. Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan saya yang berjudul “Usaha Manusia yang Mencoba Mengenal Tuhan”. Dalam tulisan sebelumnya, saya membahas mengenai manusia yang dengan akal budinya mencoba mengenal Tuhan dan menggali hubungannya sebagai pribadi dan seluruh kemanusiaan secara utuh dengan Tuhan. Tulisan tersebut berakhir dengan sebuah pernyataan bahwa diskusi hubungan antara manusia dan Allah Tuhannya belumlah selesai karena baru membahas dari segi usaha manusia yang pasti takkan sempurna. Saya katakan demikian: “Namun perlu diingat, segala pendekatan akal budi untuk mengenal Tuhan tetaplah berasal dari manusia yang rapuh, manusia yang hidupnya selalu goyah. Akal budi kita tentu tidak dapat mengenali Tuhan jikalau Tuhan sendiri tidak memperkenalkan Diri-Nya pada kita dan membantu kita untuk mengenali-Nya.”

Tulisan saya kali ini berusaha untuk melengkapi dialektika hubungan manusia dengan Tuhan yang baru dibahas dari satu sisi dalam tulisan saya sebelumnya. Kali ini, saya membahas tindakan Tuhan Allah yang tiada henti selalu menyapa dan memperkenalkan diri-Nya kepada manusia. Tulisan saya kali ini lebih panjang dari tulisan-tulisan saya sebelumnya karena cukup banyak diskusi yang saya bahas. Mohon pengertian dari para pembaca.

Saya perlu mengulang beberapa catatan tambahan yang sudah saya muat di tulisan sebelumnya. Pembahasan mengenai manusia yang berusaha untuk mengenal Allah dan Allah yang mengenalkan diri-Nya pada manusia ini sebenarnya adalah bagian awal yang sangat penting dari Katekismus Gereja Katolik. Maka dari itu, untuk mendapatkan pembahasan yang lengkap dan menyeluruh, saya sarankan bagi Anda untuk membaca Katekismus Gereja Katolik, minimal Kompendium atau ringkasannya (Anda dapat mengunduh berkas pdf Kompendium di tautan ini). Kerinduan manusia akan Allah dibahas dalam Katekismus Gereja Katolik nomor 27-49, sedangkan mengenai Allah yang mewahyukan diri-Nya dibahas dalam Katekismus Gereja Katolik nomor 50-73. Dalam hal tafsir Kitab Suci, saya menggunakan acuan buku Tafsir Alkitab Perjanjian Lama dan Tafsir Alkitab Perjanjian Baru, keduanya merupakan kumpulan tulisan para ahli Kitab Suci (editor: Dianne Bergant, CSA, dan Robert J. Karris, OFM) dan diterjemahkan oleh Lembaga Biblika Indonesia dan diterbitkan Penerbit Kanisius (2002).

Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas lebih dalam mengenai hubungan antarmanusia karena hal ini sudah di luar topik bahasan yang berusaha saya angkat. Namun demikian, saya tidak bisa menghindari menyebutkan hubungan antarmanusia dalam tulisan ini karena beberapa bahasan seperti komunikasi dan dosa tidak hanya berarah vertikal antara manusia dan Tuhan, namun juga horisontal antarmanusia sendiri. Jadi, bila Anda menemukan saya menyebutkan hubungan antarmanusia dalam beberapa bagian tulisan ini, saya sarankan untuk membaca tentang Teologi Tubuh yang dikemukakan oleh mendiang Beato Paus Yohanes Paulus II. Anda bisa membaca lebih lanjut tentang Teologi Tubuh dalam buku-buku karangan Rm. Deshi Ramadani, SJ yang berjudul Lihatlah Tubuhku – Membebaskan Seks Bersama Yohanes Paulus II (Kanisius, 2009) dan Adam Harus Bicara – Sebuah Buku Lelaki (Kanisius, 2010). Rm. Deshi adalah pakar yang mumpuni dalam bidang teologi tubuh dan buku-buku karyanya mengungkapkan bahasan ini dengan lengkap dan jelas.

Dalam tulisan ini, saya hanya sebatas menyajikan prinsip-prinsip secara umum dan menambahkan beberapa pemikiran saya pribadi. Perlu diingat kembali, saya hanyalah seorang awam yang tidak berpendidikan teologi. Tujuan saya menulis di blog ini hanya sebagai sarana untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan, bukan untuk mengajar layaknya kuasa Magisterium Gereja. Jadi, sangatlah mungkin bahwa tulisan ini (dan tulisan-tulisan saya yang lain) mengandung kesalahan, apalagi karena saya berusaha membahas doktrin iman (lex credendi) di mana saya tidak memiliki pendidikan yang memadai. Koreksi, kritik, dan saran dari pembaca akan sangat saya hargai.

Awal Mula

Di bagian pertama tulisan saya, saya sama sekali tidak mengacu Kitab Suci karena saya memang berusaha untuk membahas murni dari sudut pandang akal budi manusia. Sebaliknya, untuk memulai pembahasan di bagian ini, kita harus kembali ke Kitab Suci yang menceritakan awal mula segala sesuatu: peristiwa penciptaan di Kitab Kejadian. Mari kita simak Kejadian bab 1. Di situ, kita akan melihat suatu rangkaian teks yang tersusun indah bagaikan suatu teks liturgis yang disusun rapi. Banyak ahli Kitab Suci yang mengajukan hipotesis bahwa kitab Kejadian bab 1 sedikit banyak berkarakter liturgis karena memang adalah tulisan dari seorang imam dan termasuk dalam sumber Kitab Suci yang biasa dikenal dengan sumber P (P berasal dari singkatan bahasa Inggris untuk imam, yaitu Priest). Kemungkinan sumber P ini ditulis ketika Yudea masih menjadi jajahan bangsa Persia, sekitar lima abad sebelum Masehi.

Salah satu ciri sumber P adalah tulisannya seringkali bersifat puitis dan repetitif. Hal ini dapat kita lihat dengan jelas di Kitab Kejadian bab 1. Di dalam perikop tersebut, terpampang suatu pola yang jelas dalam kisah Penciptaan. Semua karya Allah dalam tiap-tiap hari selama enam hari Penciptaan dikemas dan disajikan dengan gaya yang sama. Penuturan kisah tiap hari selama Penciptaan memiliki pola indah sebagai berikut: pertama diceritakan mengenai peristiwa Penciptaan dalam hari terkait yang diawali dengan pemberitahuan (dicirikan dengan kata-kata “berfirmanlah Allah ….”), lalu dilanjutkan dengan perintah (dicirikan dengan kata-kata Allah “Jadilah ….”). Setelah peristiwa dalam hari itu diceritakan, disambung dengan laporan (dicirikan dengan kata-kata “maka terjadilah ….”) dan disambung dengan evaluasi (dicirikan dengan kata-kata “Allah melihat semuanya itu baik”), dan ditutup dengan bingkai waktu yang berbentuk refren “maka jadilah petang dan pagi, itulah hari ke-…”. Pola yang bagaikan madah lagu ini diulang sebanyak enam kali.

Lebih jauh, perhatikan kata-kata “Allah melihat semuanya itu baik”. Kata-kata tersebut diucapkan tujuh kali oleh Tuhan dalam proses Penciptaan. Kata-kata itu diucapkan sekali di tiap hari Penciptaan, kecuali di hari kedua di mana sumber P tidak menuliskan kata-kata ini, dan di hari ketiga dan keenam justru disebutkan dua kali. Mari menyempitkan fokus kita ke penyebutan terakhir kata-kata ini di hari keenam, ketika Tuhan sudah menciptakan manusia yang secitra dengan-Nya. Di situ, Tuhan tidak hanya melihat bahwa “semuanya itu baik”, namun Tuhan melihat ciptaan-Nya manusia sebagai “sungguh sangat baik”. Ada penekanan dengan kata-kata penyangatan (superlative) di kata-kata Tuhan ini, yaitu dengan menambahkan kata-kata “sungguh sangat”.

Kita, manusia, adalah ciptaan yang “sungguh sangat baik” karena kita sendiri adalah gambaran dan citra Allah (Kej 1:27). Menurut Gereja, konsekuensi kita menjadi citra Allah adalah bahwa kita dibekali dengan suara hati, kehendak bebas, dan akal budi (bandingkan dengan beberapa sumber, seperti Katekismus Gereja Katolik nomor 1706 dan 1730, Kitab Putra Sirakh 15:14, dokumen Konsili Vatikan II Gaudium et Spes 17, dan tulisan para kudus seperti misalnya tulisan karya Santo Ireneus, Santo Augustinus, dan Santo Thomas Aquinas). Dengan berbekal akal budi, manusia dengan kehendak bebasnya selalu rindu untuk mendengarkan dan menemukan Tuhan sendiri yang suara-Nya selalu bergema dalam suara hati manusia. Dengan kata-kata yang indah namun lugas, Kompendium Katekismus Gereja Katolik nomor 2 menyimpulkan demikian:

“Allah, dalam menciptakan manusia menurut citra-Nya, telah mengukirkan dalam hati manusia kerinduan untuk melihat Dia. Bahkan walaupun kerinduan ini diabaikan, Allah tidak pernah berhenti menarik manusia kepada DiriNya karena hanya dalam Dialah manusia dapat menemukan kepenuhan akan kebenaran yang tidak pernah berhenti dicarinya dan hidup dalam kebahagiaan. Karena itu, menurut kodrat dan panggilannya, manusia adalah makhluk religius yang mampu masuk ke dalam persekutuan dengan Allah. Hubungan akrab dan mesra dengan Allah mengaruniakan martabat kepada manusia.”

Dapat kita lihat di sini: bahkan sebelum Tuhan memulai memperkenalkan Diri-Nya pada kita, dengan Kebijaksanaan dan Kemurahan-Nya yang tak terhingga, Ia telah memberi kita bekal supaya kita sendiri dapat mengenali dan menanggapi-Nya. Jelaslah di sini bahwa inisiatif komunikasi antara manusia dan Allah berasal dari Allah terlebih dahulu dengan memberikan ketiga bekal dalam diri manusia. Allah juga selalu senantiasa memanggil kita manusia untuk selalu makin dekat dengannya. Dalam surat ensiklik Deus Caritas Est, Paus Benediktus XVI menjelaskan dengan gamblang bahwa cinta Tuhan tidaklah hanya cinta yang memberi dan bergerak keluar dari diri Allah (agape), tetapi juga cinta yang menarik manusia kepada Allah (eros). Hal ini dilakukan Tuhan bukan karena Tuhan membutuhkan cinta kita, tapi justru karena Tuhan menginginkan kita menemukan kebahagiaan puncak dalam diri Tuhan. Kebahagiaan puncak, sejati, dan definitif memang hanya ada pada Tuhan (bandingkan dengan Katekismus Gereja Katolik nomor 1).

Allah mulai memperkenalkan diri pada nenek moyang kita, Adam dan Hawa, dengan cara yang intim dan pribadi. Allah menampakkan Diri-Nya pada Adam dan Hawa, bercakap-cakap secara langsung, dan membimbing nenek moyang kita dengan memberikan perintah (Kej 1: 28-30) dan larangan (Kej 2: 16-17). Masa-masa awal ini sebenarnya adalah gambaran ideal komunikasi, baik antara manusia dengan Tuhan maupun antarmanusia sendiri. Komunikasi ini masih penuh dengan kepercayaan, hormat, dan kasih antara Allah dan manusia serta penuh penghargaan antarmanusia sendiri. Hal ini jelas terlihat dalam hubungan yang komunikasi antara Tuhan dan manusia, serta antarmanusia sendiri.

Mari kita menelaah lebih jauh tentang hubungan awal antara Tuhan dan manusia. Lihatlah saat Tuhan Allah sendiri memberikan perintah dan larangan yang diceritakan kitab Kejadian bab 1 dan 2. Di situ Tuhan berbicara secara intim dan langsung dengan manusia ciptaan-Nya. Ia tidak memakai perantaraan malaikat, berbicara dalam mimpi, ataupun melalui penglihatan nubuat (vision). Dalam ilmu komunikasi bisa dikatakan bahwa penyampaian komunike (pesan atau message) antara komunikator (penyampai, dalam hal ini Tuhan sendiri) dan komunikan (penerima, dalam hal ini adalah manusia) terjadi melalui kanal (sarana) yang langsung. Terlihat jelas bahwa Tuhan sangat mencintai dan menghargai makhluk ciptaan-Nya yang “sungguh sangat baik” dan merupakan gambaran citra-Nya sendiri.

Bila kita renungkan lebih dalam, puncak penghargaan dari Tuhan kepada manusia justru tampak sangat nyata dengan adanya pohon pengetahuan dan larangan untuk memakan buahnya (Kej 2:17). Memang jika dipandang sekilas, adanya pohon pengetahuan di taman Firdaus itu seolah bersifat paradoksal: apakah Tuhan dengan sengaja menempatkan godaan untuk menguji manusia ciptaan-Nya? Kita memang tidak akan pernah tahu pasti apa sebenarnya tujuan dari Tuhan menempatkan pohon itu. Mari kita mencoba menelusuri hal ini dari sudut pandang yang lain. Mungkin alasan Tuhan menempatkan pohon pengetahuan di taman Eden adalah karena Tuhan sangat menghargai kita manusia, citra-Nya sendiri. Kita, makhluk yang “sungguh sangat baik” dan merupakan citra Allah sendiri sudah dibekali dengan suara hati dan akal budi, jadi seharusnya kita sudah tahu untuk bersikap terhadap larangan dari Allah. Tuhan menghargai kita sebagai citra-Nya, jadi kita tidak diprogram seperti robot yang otomatis melakukan perintah dan menjauhi larangan. Kita memiliki kehendak bebas, jadi kitalah yang menentukan langkah kita sendiri. Tuhan memberi kepercayaan penuh pada manusia: bahwa dengan suara hati dan akal budi tersebut, kita mampu untuk membedakan mana yang benar dan yang salah; dan dengan kehendak bebas yang kita miliki, kita akan memilih untuk melakukan yang benar daripada yang salah.

Dosa Pertama

Namun ternyata, manusia menyalahgunakan kepercayaan penuh Allah. Manusia menyelewengkan kehendak bebas yang ia miliki dengan menuruti si ular jahat untuk memakan buah terlarang dari pohon pengetahuan (Kej 3: 1-6). Inilah dosa pertama yang dilakukan umat manusia. Dalam dosa pertama ini, tampaklah jelas ciri utama dosa yang paling mematikan: dosa menjauhkan manusia dari Tuhan, sang Sumber Bahagia sendiri. Dosa inilah yang merusak komunikasi yang agung dan indah antara manusia dan Tuhan serta antarmanusia sendiri. Manusia bersembunyi dari Allah dan mereka malu satu sama lain (Kej 3: 7-8).

Inilah yang diperingatkan Tuhan ketika melarang manusia makan buah pohon pengetahuan: manusia akan mati (Kej 2: 17). Bukan dalam arti mati kehilangan nyawa fisik atas nafas dan degup jantung, tapi mati karena jatuh dalam kuasa maut (baca: dosa). Manusia jatuh dalam perangkap si jahat dalam bentuk ular. Manusia jatuh dalam dosa dan akhirnya menjauh dari Tuhan sendiri, sang Pencipta dan Sumber Kehidupan. Keadaan jauh dari Tuhan inilah yang bisa kita katakan sebagai mati. Tuhan adalah Sumber Kehidupan, Sumber Kebahagiaan, Sumber Segalanya bagi ciptaan-Nya. Makin jauh ciptaan dari Penciptanya yang menjadi sumber segalanya bagi ciptaan, akan makin hancur gugurlah ciptaan itu. Mungkin tidak akan langsung berujung pada mengalami mati fisik, tapi yang jelas akan mati rohani.

Pembaca yang kritis dengan dialektika mungkin akan mengajukan keberatan berikut: bukankah dengan makan pohon pengetahuan itu manusia justru bisa membedakan mana yang benar dan salah? Dalam Kitab Suci sendiri, Allah mengatakan bahwa pohon pengetahuan itu adalah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (Kej 2: 9, 17). Apakah Tuhan tidak ingin manusia menjadi bijaksana dan dewasa yang mampu membedakan mana yang benar dan mana yang jahat?

Jawaban atas pertanyaan ini dapat kita lihat dari beberapa segi. Pertama, mari kita lihat jawaban dari buku Tafsir Alkitab Perjanjian Lama (hal. 41) berikut:

”…. Allah memberi batas bagi manusia. Manusia dapat mengetahui banyak hal, tetapi siapakah yang memutuskan apa yang terbaik bagi manusia: Allah yang menciptakan manusia atau ciptaan yang diciptakan-Nya. …. Persoalannya adalah manusia melewati batas yang ditentukan oleh Allah dan mengambil pengetahuan itu. Sekarang manusia dalam posisi menentukan apa yang terbaik bagi dirinya. Ini berarti pemberontakan melawan sang Pencipta.

Manusia memang menjadi seperti Allah dalam arti bahwa ia sekarang menentukan apa yang terbaik bagi dirinya. Tetapi, ia mengambil keputusan-keputusan itu selaku ciptaan, tanpa kebijaksanaan dan pandangan sang Pencipta. Siapakah yang mengetahui apa yang paling baik bagi ciptaan, yang menciptakan atau ciptaan itu sendiri? Manusia menentukan keputusannya sendiri, akan tetapi keputusan itu tanpa keluasan dan kedalaman kebijaksanaan Allah.”

Singkatnya, walaupun manusia mampu mengetahui mana yang baik dan yang jahat, tapi manusia tidak akan mampu untuk memanfaatkan informasi ini karena manusia tidaklah memiliki kebijaksanaan yang memadai seperti Allah untuk memanfaatkan informasi yang benar dan yang salah ini dengan bijak. Memang, kita ini adalah citra Allah dan dibekali dengan akal budi dan suara hati. Namun jangan lupa: kita ini hanya citra, bukan Allah sendiri. Sesempurna apapun akal budi kita dan sejernih apapun suara hati kita, kita tidak akan mampu menyamai kebijaksanaan ilahi Tuhan sendiri. Maka, pengetahuan benar dan salah dari pohon pengetahuan yang diperoleh manusia ibaratnya sepucuk pistol yang diberikan ke anak remaja ingusan: hasil akhirnya justru menjadi berbahaya.

Hasil menyimpang dari kepemilikan pengetahuan ini sudah tertulis pula dalam Kitab Suci. Manusia menjadi sadar bahwa dirinya telanjang (Kej 3: 7). Namun bukannya merasa menjadi bijaksana ataupun makin dewasa, manusia hanya merasakan malu atas ketelanjangannya itu. Mereka justru menutupi ketelanjangan mereka dan bersembunyi dari Tuhan (Kej 3: 8). Mereka malu pada Tuhan dan malu pada satu sama lain.

Saya menambahkan sedikit diskusi. Bila manusia memang akan memperoleh pengetahuan akan yang baik dan yang jahat dengan makan buah terlarang, maka akan tercipta paradoks di sini. Manusia berusaha mendapat pengetahuan yang benar dengan cara yang salah. Sudah jelas bahwa buah itu dilarang oleh Tuhan, namun justru manusia mengabaikan larangan itu. Jadi, apapun hasil baik yang akan diperoleh dari makan buah itu akan selalu dicemari oleh kenyataan tercela bahwa hasil tersebut diawali oleh perbuatan yang salah. Kata ahli moral dan etika: tujuan tidaklah menghalalkan cara.

Reaksi Tuhan atas Dosa Pertama

Bagaimana reaksi Tuhan setelah manusia melakukan dosa pertama itu? Reaksi Tuhan ternyata bisa kita lihat sedikit aneh: Tuhan seolah tidak tahu apa yang telah terjadi. Tuhan justru bertanya pada manusia tentang apa yang telah mereka perbuat (Kej 3: 11, 13), bahkan Ia bertanya di mana mereka ketika mereka bersembunyi (Kej 3: 9). Kita tahu Tuhan itu Maha Segalanya, Ia Maha Kuasa, Maha Tahu. Mengapa Ia harus bertanya pada manusia?

Tindakan Tuhan yang bertanya ini sebenarnya adalah upaya Allah untuk menghargai manusia yang, walaupun telah berbuat dosa, tetap dikasihi-Nya. Ia tidak langsung mendatangi manusia dan berkata: “Aku tahu apa yang kamu lakukan!”. Ia mendekati manusia dalam suasana yang santai, ketika Tuhan sedang berjalan-jalan saat suasana sejuk (Kej 3: 8). Ia lalu bertanya pada manusia: “di manakah engkau?”. Kita dapat melihat bahwa Tuhan saat itu sedang menyapa, mencari, dan mengundang manusia untuk datang kepada-Nya, mengaku berbuat salah, dan bertobat. Ia masih menghargai kehendak bebas manusia dengan mengundang untuk secara dewasa mengaku dan bertobat.

Namun ternyata, dosa pertama yang asali ini begitu membutakan mata mereka. Dosa asali ini begitu merusak komunikasi antara manusia dengan Tuhan. Manusia menjadi gagal untuk mengenali dan menanggapi sapaan Tuhan. Pertama-tama, lihatlah jawaban Adam atas panggilan Tuhan yang mencari dia. Pertanyaan Tuhan adalah “di manakah engkau?”, tetapi Adam justru menjawab dengan menjelaskan alasan mengapa ia bersembunyi: ”karena aku telanjang”. Sepintas memang bisa kita katakan telah terjadi miskomunikasi antara Tuhan dan Adam, bahkan Adam bisa dikatakan salah dua kali. Salah menjawab pertanyaan Allah, dan salah kondisi dalam ketelanjangannya karena kita membaca bahwa sebenarnya Adam tidaklah telanjang sepenuhnya. Ia telah membuat pakaian cawat dari daun ara. Namun ternyata jawaban Adam tidaklah salah, walaupun tidak tepat menjawab pertanyaan. Dalam kaitannya dengan Allah, Adam memang telanjang. Hubungannya dengan Allah menjadi terganggu, dan hal ini diungkapkannya dengan konsep ketelanjangan. Sejak awal mula, Adam dan Hawa tidak berbusana di hadapan Allah, namun mereka tidak malu (Kej 2: 25). Mereka tidak mengenal konsep ketelanjangan. Justru karena dosa, manusia mengenal ketelanjangan. Kesadaran akan ketelanjangan inilah yang ditekankan Adam. Kesadaran ini yang membawa konsekuensi ia tidak lagi dapat berkomunikasi dengan benar kepada Allah karena dosa.

Mari kita lihat adegan selanjutnya. Tuhan kembali bertanya, kembali menyapa manusia dan mengundang manusia untuk bertobat. Tapi, apa jawaban manusia atas pertanyaan Allah? Mereka justru saling menyalahkan (Kej 3: 12-13), tidak ada yang mau mengaku salah dan lantas bertobat. Bahkan, secara tidak langsung Adam juga menyalahkan Tuhan atas kejadian itu. Lihatlah jawabannya di Kej 3: 12. Ketika ia menyebutkan Hawa, ia menyebutnya “perempuan yang Kau tempatkan di sisiku”, seolah-olah Allah pun bertanggung jawab atas dosa manusia karena Ia menciptakan dan menempatkan Hawa sebagai pendamping Adam. Lihatlah betapa rusak hubungan antara manusia dengan Tuhan dan antarmanusia yang telah terjadi. Ini semua terjadi karena dosa.

Cerita di kitab Kejadian 3: 14-19 mengungkapkan hukuman-hukuman yang dijatuhkan Allah. Ahli Kitab Suci menjelaskan bahwa sebenarnya kejadian ini tertulis bukan karena Tuhan marah dan lantas menghukum manusia. Tulisan ini sepertinya ditulis karena latar belakang sumber dari bab tersebut. Kitab Kejadian bab 2 dan 3 diduga bersumber dari tulisan yang berbeda dengan Kitab Kejadian bab 1 yang bersumber dari sumber P. Kitab Kejadian bab 2 dan 3 bersumber dari tulisan lain yang disebut sumber Y atau sumber Yahwis. Sumber Yahwis mendapat namanya karena dalam sumber tulisan ini, Allah diacu dengan sebutan YHWH. Ciri khas sumber ini adalah ditulis dengan gaya cerita rakyat yang hidup dan lebih bersifat lokal.

Dalam kaitannya dengan hukuman Allah dalam Kej 3: 14-19, sepertinya penulis sumber Yahwis lebih berusaha menceritakan etiologi masalah-masalah sehari-hari yang biasa dihadapi oleh orang Israel di zamannya. Penulis sumber Yahwis mencoba mencari penjelasan atas masalah seperti mengapa perempuan harus kesakitan saat melahirkan, mengapa para pria harus berjuang bertani di tanah Palestina yang berbatu-batu, dan mengapa ular menjadi binatang yang mematikan bagi manusia. Namun, cerita ini tidak ditutup dengan kesengsaraan belaka. Perempuan bernama Hawa itu akan menjadi ibu dari seluruh bangsa manusia. Kendati ada dosa dan seluruh konsekuensinya, kehidupan akan terus berlangsung.

Manusia dalam kondisi dosa akan terus telanjang di hadapan Allah. Manusia sendiri tidak dapat memulihkan kesalahan dan rasa malunya akibat dosa. Hanya Tuhanlah yang mampu memperbaiki kondisi manusia ke dalam martabatnya sebagai citra Allah yang “sungguh sangat baik”. Maka lihatlah, kembali Tuhan yang berinisiatif. Tuhan tidak pernah berhenti mencintai manusia meskipun manusia telah berdosa. Dalam kondisi telanjang yang memalukan, Tuhan Allah lantas menciptakan pakaian yang lebih baik bagi mereka dari kulit binatang, menggantikan pakaian seadanya dari daun ara yang dibuat oleh manusia sendiri (Kej 3: 21). Akan kita lihat bahwa inisiatif dari Allah untuk membawa kembali manusia ke pangkuannya seperti yang sudah kita bahas akan terus ada di sepanjang kisah Kitab Suci dan akan berpuncak dalam diri Yesus Kristus.

Allah Menyapa Umat Perjanjian Lama

Jatuhnya manusia dalam dosa membawa manusia makin jauh pada Tuhan. Ajaran Gereja Katolik dalam Kompendium Katekismus Gereja Katolik nomor 77 mengatakan bahwa “sebagai konsekuensi dosa asal, kodrat manusia terluka dalam kekuatan alamiahnya tanpa menjadi rusak secara total. Karena dosa asal ini, muncullah kebodohan, penderitaan, kekuasaan maut, dan kecenderungan terhadap dosa. Kecenderungan ini disebut konkupisensi.”

Kecenderungan ini terlihat jelas kala kita menelusuri kisah Kitab Suci. Tepat setelah menceritakan dosa asal dilakukan Adam dan Hawa, Kitab Suci menceritakan dosa Kain yang membunuh adiknya, Habel (Kej 4: 1-16). Inilah pembunuhan pertama di dunia. Dan kembali kita lihat pola yang mirip dengan adegan di Kej 3. Setelah Kain berbuat dosa berat dengan membunuh adiknya, Habel, Allah kembali bertanya, menyapa, mengundang Kain untuk bertobat dan menyesal. Tuhan bertanya: di mana adikmu, Habel? (Kej 4: 9). Kain mengulang kesalahan yang sama dengan orangtuanya, ia tidak mau mengaku. Ia justru menjawab dengan ketus dan egois: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” (Kej 4: 9). Kembali lagi Tuhan yang berinisiatif, Ia justru melindungi Kain supaya jangan dibunuh dengan memberi tanda di dahinya (Kej 4: 15).

Penulis sumber Yahwis bahkan menuliskan secara superlatif bahwa karena manusia sudah terlalu melekat dengan dosa, Allah menyesal telah menciptakan manusia (Kej 6: 6). Hal ini seolah dibuktikan dengan bencana air bah di zaman Nuh (Kej 6:1 – 9:29). Penjelasan tafsir atas bencana air bah terlalu rumit dan panjang untuk dijelaskan di sini karena di perikop ini sumber P dan sumber Y bercampur. Namun kita dapat menyimpulkan bahwa Allah tidak bermaksud membinasakan seluruh umat manusia. Ia bahkan menjanjikan penebusan bagi seluruh keturunan manusia (sebagaimana terlihat dalam gaya renungan Yahwis di Kej 8: 20-22 maupun gaya formal sumber P di Kej 9:1-17).

Selanjutnya, selama berabad-abad Allah kembali berusaha menyapa manusia. Namun karena manusia sudah masuk jauh dalam dosa, Allah menyapa manusia melalui para malaikat dan perantaraan nubuat para nabi. Untuk membahas kisah-kisah tersebut satu persatu adalah suatu pekerjaan yang sungguh besar dan tidak mungkin saya lakukan dalam tulisan singkat ini. Saya menggarisbawahi saja beberapa tokoh yang menanggapi sapaan Allah yang disebutkan secara khusus dalam Katekismus Gereja Katolik karena perannya yang besar (Katekismus Gereja Katolik nomor 59-64). Tokoh-tokoh tersebut adalah Abraham yang dijadikan Allah sebagai ”bapa banyak bangsa” (Kej 17:5), Nabi Musa yang membebaskan Israel dari perbudakan Mesir dan memberikan hukum-Nya kepada mereka di gunung Sinai (lihat kisahnya yang mengagumkan di Kitab Keluaran), dan para nabi yang membawa harapan bagi bangsa Israel dan bangsa-bangsa lain dengan memaklumkan penebusan bagi seluruh umat dan penyelamatan bagi segala bangsa dalam sebuah perjanjian yang baru dan kekal.

Allah Menyapa dengan Hadir Sebagai Yesus

Cobalah Anda lihat foto di bawah ini.

Sumber foto dan berita lengkap mengenai foto ini dapat Anda lihat dengan membuka tautan ini.

Foto ini bukan kelakar biasa. Para peneliti ahli konservasi di Cina menyadari bahwa jika mereka mendekati bayi panda yang sudah pernah diasuh oleh induk panda dengan penampilan manusia normal, bayi panda akan sering menolak kehadiran para peneliti. Bayi panda akan merasa asing dengan bentuk dan bau yang berbeda dengan induknya. Bahkan jika bayi panda sudah terbiasa dengan kehadiran manusia dengan penampilan normal, hal ini justru akan membawa dampak lebih buruk. Bayi panda justru akan menjadi terlalu terbiasa dengan manusia dan menjadi tergantung pada manusia. Jika bayi panda yang diasuh manusia dengan cara ini dilepas ke alam liar, bayi panda itu akan tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan baru dan kelompok panda liar di lingkungan itu. Hal ini terbukti di tahun 2006 ketika surat kabar Washington Post melaporkan bahwa seekor bayi panda yang dilahirkan dan diasuh manusia di pusat pengembangbiakan ternyata justru ditolak dan dibunuh secara tragis oleh kawanan panda liar ketika panda remaja itu dilepaskan ke alam liar. Maka para ahli mendapat solusi cerdas yang lucu tapi serius: mereka harus berkostum dan berbau seperti panda ketika mereka melakukan kontak dengan bayi panda yang mereka asuh di pusat konservasi. Dengan langkah ini, para ahli berharap bayi panda akan lebih mampu mengembangkan kemampuan mempertahankan diri di alam liar dan tidak terlalu terkontaminasi dengan keakraban pada manusia.

Kita melihat di cerita panda di atas bahwa ternyata komunikasi antara bayi panda dan manusia menjadi lebih lancar dan berbuah baik justru ketika para ahli menyesuaikan diri dengan berkostum dan memakai bau alami panda. Bayi panda akan merasa akrab dan mampu segera menerima kehadiran para ahli. Para ahli juga akan mampu lebih dekat dengan panda tanpa merusak kemampuan bertahan hidup panda di alam liar. Pendekatan ini ternyata digunakan oleh Allah ketika Ia memutuskan untuk menyapa manusia dengan lebih intim lagi: Ia menjelma menjadi manusia untuk mendekati manusia. Allah yang menjelma menjadi manusia itu kita kenal dengan nama Yesus.

Kok bisa Allah menjelma menjadi manusia? Anda bisa coba melihat pendapat saya di tulisan saya sebelumnya yang bertajuk “Renungan Natal 2011: Hosti Kudus dan Bayi Yesus”.

Umat Israel pada zaman Yesus sudah kenyang pengalaman baik dan buruk setelah melalui masa Perjanjian Lama. Tapi ternyata, walaupun mereka telah sering mendengar suara Tuhan dalam nubuat para nabi Perjanjian Lama, umat Israel tidak pernah mau bangkit dari dosa (bandingkan dengan Luk 16: 31). Mereka terus menjauh dan makin jauh dari Tuhan yang sangat menyayangi dan merindukan manusia kembali pada-Nya. Bahkan, sosok Tuhan Allah berkembang menjadi sangat menakutkan di mata umat Israel.

Dalam paham Perjanjian Lama, manusia takut melihat Allah. Mereka merasa sangat berdosa sehingga kalau mata duniawi mereka melihat Allah dalam segala kemuliaan-Nya, manusia pasti langsung mati. Setelah bergumul dengan Allah, Yakub berkata, “Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong! (Kej 32:30)”. Dalam kepercayaan orang Yahudi, bahkan malaikat pun tidak tahan melihat kemuliaan Allah. Maka terlebih lagi, celakalah manusia yang melihat Tuhan dalam keadaannya yang berdosa. Dalam penglihatannya, Yesaya melihat malaikat serafim memiliki enam sayap; dua sayap untuk menutupi muka, dua sayap untuk menutupi kaki, dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang (Yes 6:2). Malaikat serafim yang melayani Tuhan sampai harus menutupi muka mereka dengan sayap karena cahaya kemuliaan Tuhan. Maka ketika Yesaya melihat Tuhan, ia berkata, “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam (Yes 6:5).”

Kondisi dan situasi umat Israel yang makin jauh dari Tuhan karena dosa dan justru dikompori untuk makin berdosa oleh para pemuka agama Yahudi sendiri (ahli Taurat dan orang Farisi) inilah yang menjadi suasana ketika Allah memutuskan untuk menjadi manusia dalam diri Yesus. Kita lihat, sekali lagi Allah yang mengambil inisiatif lebih dulu untuk mendekatkan diri pada manusia dan menarik manusia kembali pada-Nya. Allah, seperti peneliti di Cina, mengambil langkah dramatis untuk menjadi manusia, yaitu dengan menjelma menjadi manusia. Karena Allah menjelma menjadi bentuk yang dikenal oleh manusia, manusia akan tidak takut lagi untuk mendekati Allah dan Allah juga akan makin dekat dan lebih akrab dengan kita. Kita tidak akan lari menjauh karena Allah hadir dalam bentuk, rupa, bau, suara, dan semua yang tidak asing dengan panca indra dan pemahaman kita.

Mari kita lihat di seluruh keempat Injil Perjanjian Baru. Kita melihat banyak sekali upaya Allah untuk menyapa manusia. Kita melihat Allah dalam diri Yesus menyapa kita dalam kata-kata pengajaran-Nya, mukzizat-Nya, dan dalam sikap perilaku-Nya selama di dunia. Memang banyak orang yang menjadi percaya pada-Nya. Tapi ternyata ada banyak orang pula yang sudah terlalu menuruti konkupisensi dalam diri mereka dan menjadi buta terhadap Allah yang telah hadir di depan mata mereka sendiri. Orang macam inilah yang kemudian menolak dan bahkan menyalibkan Allah Pencipta mereka sendiri di kayu salib, hukuman mati paling rendah bagi penjahat di masa Romawi dulu. Di mata manusia, tindakan Allah sepertinya justru menemui jalan buntu. Hendak menyapa manusia, tapi kok justru ditolak dan disalibkan oleh manusia? Di mata manusia, inilah kebodohan salib.

Tapi Allah melebihi manusia biasa dalam akal budi dan kebijaksanaan. Allah yang Maha Kuasa sudah mengetahui sejak semula bahwa manusia akan menolak Dia. Maka, Allah justru memanfaatkan kebodohan salib menjadi sarana terbaik untuk menyelamatkan manusia dari jurang maut dosa. Yesus, sang Tukang Kayu Ilahi, dengan gemilang mampu menyelamatkan manusia hanya dengan dua palang kayu berbentuk salib dan tiga paku sederhana. Penyelamatan manusia mencapai mahkotanya ketika Yesus bangkit dengan jaya dari maut. Kutukan kematian dalam dosa yang dulu diperoleh seluruh umat manusia akibat leluhur Adam dan Hawa makan buah terlarang kini telah hilang sirna. Dengan cerdas, madah Exultet yang selalu kita nyanyikan dalam Ekaristi Malam Paskah menangkap esensi penyelamatan ini dengan menyebut dosa Adam adalah dosa yang menguntungkan karena mendatangkan Penebus semulia ini. Bila Adam yang lama mendatangkan dosa, maka Yesus adalah Adam baru yang menghapus dosa lama.

Saya pernah punya pertanyaan seperti ini: apakah Allah memang membiarkan manusia ciptaan-Nya jatuh dalam dosa, dan ketika Allah melihat bahwa ketika manusia terlalu jauh terjerumus dalam jurang maut dosa, barulah Allah bertindak dengan turun ke dunia? Mengapa Allah hanya menyapa manusia dengan cara minimal pada masa Perjanjian Lama, dengan cara tidak langsung melalui malaikat atau nubuat? Mengapa tidak dulu-dulu Tuhan Allah menjadi Yesus dan menyelamatkan manusia?

Setelah saya renungkan, cara pikir saya itu ternyata salah. Allah memang sungguh Bapa yang baik. Ia sejak awal mula sadar bahwa anak-anak manusia ciptaan-Nya itu akan mengalami kesulitan dan akan menjauh dari-Nya. Kita dapat mengibaratkan Allah Bapa seperti seorang ayah yang sedang mengajari anaknya naik sepeda. Kita semua pasti tahu bahwa proses untuk bisa naik sepeda pasti melibatkan pengalaman sakit jatuh dari sepeda. Seorang ayah yang baik akan membantu anaknya belajar dan mengajari bahwa pengalaman jatuh dan sakit dalam belajar naik sepeda adalah bagian dari proses belajar. Demikian pula Allah Bapa mengajari manusia, anak-anak yang dikasihi-Nya. Memang manusia akan jatuh dalam proses belajar menjadi bijaksana, tapi pasti Allah Bapa akan selalu siap sedia untuk membantu manusia untuk bangun. Untuk kejatuhan manusia yang pertama dalam dosa pun, Allah telah siap sedia untuk memberikan Putra-Nya sebagai Penebus. Bahkan Allah sendiri berbela rasa dengan manusia yang mengalami jatuh dan bangun. Kita saksikan sendiri Yesus yang juga jatuh ketika memikul salib-Nya, namun Ia selalu bangun kembali dan dengan tabah memikul salib. Sekali lagi, esensi ini sudah tertuang dalam sebuah madah kuno karya Santo Venantius Fortunatus yang hidup di abad keenam Masehi. Madah itu berjudul Crux Fidelis. Terjemahan lagu itu sudah menjadi bagian dalam buku lagu Puji Syukur dengan judul Salib Suci Nan Mulia (Puji Syukur No. 509). Berikut lagu aslinya yang ditulis dengan neume. Tambahan: apa itu neume? Baca tulisan saya yang berjudul ”Ayo Belajar Membaca Not Kotak-kotak Lagu Gregorian” untuk belajar membaca not neume yang dipakai di lagu berikut.

Mari kita lihat terjemahan lagu itu di Puji Syukur No. 509. Coba Anda perhatikan bait 2-4. Bait-bait tersebut berbunyi sebagai berikut:

2. Waktu leluhur tertipu makan buah celaka, jatuh dalam jerat maut, berdukalah Pencipta. Lekas ditunjuk-Nya kayu menjadi pohon hidup.

3. Sungguh Maha Bijaksana siasat karya Tuhan. Jika liku jalan musuh, akhirnya jadi buntu, maut hasil tipu musuh membuka pintu hidup.

4. Maka sesudah tibalah waktu yang ditentukan, diutuslah Putra Bapa menjadi manusia: Pencipta semesta alam lahir dari perawan.

Kata-kata dalam bait kedua dan keempat menyimpulkan dengan indah apa yang tadi telah kita bahas. Allah Bapa sudah menyiapkan rencana keselamatan bagi manusia sejak manusia jatuh dalam dosa. Kata-kata “kayu menjadi pohon hidup” mengacu kepada kayu salib yang membawa kehidupan karena memang menghapuskan dosa maut yang mendera umat manusia. Pada bait keempat diceritakan bahwa rencana keselamatan itu dilaksanakan pada “waktu yang telah ditentukan”. Dalam hal ini, kita bisa berpendapat bahwa waktu yang telah ditentukan itu adalah ketika umat Israel sudah sangat jauh menyimpang dari Tuhan karena dosa. Sedangkan bait ketiga mengidungkan kebodohan salib yang justru diubah Tuhan sendiri menjadi pintu keselamatan.

Penutup: Allah yang Terus Menyapa

Apakah di zaman sekarang ini Tuhan berhenti menyapa kita? Apakah setelah masa hidup Yesus diakhiri dengan gemilang dalam peristiwa wafat, kebangkitan, dan kenaikan-Nya ke surga lalu Tuhan berhenti menyapa kita? Anda dan saya pasti sudah tahu jawaban dari pertanyaan ini: tentu saja Allah masih terus menyapa kita. Ada banyak sekali sapaan bagi Tuhan bagi kita. Ada yang terdengar jelas, ada yang sayup-sayup.

Allah menyapa kita kala kita membaca Kitab Suci. Saat kita membaca Kitab Suci, kita tidak sekadar membaca kata-kata yang tercetak di dalamnya, namun kita sungguh mendengar Allah sendiri berbicara kepada kita. Kita tidak hanya mendengar sisa-sisa dari gaung Sabda Allah yang berbicara di masa lalu, namun kita sungguh-sungguh mendengar Allah sendiri yang berbicara pada kita melalui Kitab Suci.

Allah menyapa kita dalam dan melalui Gereja. Gereja dalam bimbingan Roh Kudus sendiri menghadirkan sakramen yang menjadi tanda dan sarana bagi Allah untuk menyapa kita. Dalam Gereja, Allah menyapa manusia melalui Sakramen-Sakramen suci, dan berpuncak pada persatuan antara kita yang fana dengan Allah yang ilahi dalam Ekaristi. Allah menyapa kita dalam Gereja melalui Tradisi Suci. Bapa menyapa dan mengajar anaknya dalam Gereja-Nya melalui Kuasa Mengajar Gereja (Magisterium) untuk menuntun dan membimbingnya memiliki dan memelihara iman dalam hidup.

Allah menyapa kita dalam hati kita melalui suara hati kita. Suara hati kita adalah bisikan samar dari suara Allah sendiri. Namun ternyata, sering kita justru tuli terhadap suara hati kita dan lebih memilih menuruti konkupisensi. Memang, kita perlu mengasah batin kita untuk lebih mampu mendengar suara Allah sendiri melalui suara hati kita.

Allah menyapa kita melalui sesama kita, baik sesama yang membantu kita dalam persoalan hidup maupun sesama yang justru harus kita bantu ketika menempuh jalan yang berat. Ada banyak sekali pengajaran tentang hal saling bantu-membantu dalam kasih Kristus di dalam seluruh Kitab Suci. Orang yang membantu sesamanya akan melihat Allah dalam mata sesama yang dibantunya, dan orang yang dibantu akan melihat perwujudan kasih Allah yang selalu mengasihi anak-Nya dalam sosok orang yang menolongnya.

Allah menyapa kita dalam peristiwa hidup harian kita. Dalam kacamata iman, semua peristiwa hidup yang sepele pun dapat menjadi peristiwa iman. Orang beriman tidak akan melihat peristiwa sebagai suatu kebetulan belaka, namun melihat bahwa berbagai peristiwa dalam hidupnya adalah bagian dari rancangan indah Penyelenggaraan Ilahi.

Allah menyapa kita dalam seluruh karya ciptaan-Nya. Matahari yang bersinar lembut membelai pipi Anda, kupu-kupu yang mengepak indak di taman, rumput hijau yang lembut bila Anda memegangnya, gunung megah menjulang sampai ke angkasa, lumba-lumba yang melompat riang di laut. Bila sungguh-sungguh mendengarkan, semuanya itu menyanyikan sapaan Allah bagi Anda dan saya.

Hal ini membawa kita menuju pada diskusi di akhir tulisan saya sebelumnya. Tuhan kita tidak bersifat transenden semata. Setelah kita menyadari bahwa Allah selalu menyapa manusia, kita bisa melihat bahwa Tuhan tidak jauh, Ia justru sangat dekat. Bahkan suara-Nya selalu menggema di suara hati kita. Tuhan kita adalah Tuhan yang imanen, yang secara harfiah berarti Tuhan yang “tinggal di dalam”. Tuhan kita transenden, Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Besar, Mengatasi Segala Sesuatu; namun Ia juga Tuhan yang Imanen, Maha Dekat dengan kita. Tuhan yang sangat dekat ini kita sebut sebagai Bapa (bandingkan dengan Roma 8: 14-17, Galatia 4: 4-7) di dalam doa kita (doa Bapa Kami yang diajarkan Tuhan sendiri dalam Mat 6: 9-13). Tuhan yang Maha Dekat ini juga hadir dalam rupa yang akrab dengan kita dalam diri manusia Yesus (bandingkan Flp 2: 7). Dan secara mendalam, Tuhan imanen ini hadir dalam hembusan Roh Kudus di hati kita (bandingkan 2Tim 1: 14).

Pertanyaan terakhir dalam diskusi kita adalah: bagaimana kita menanggapi sapaan Allah? Kali ini, saya tidak akan berusaha memberikan penjelasan jawaban atas pertanyaan ini. Andalah yang akan menjawab pertanyaan ini sendiri. Lagipula, Allah secara pribadi menyapa Anda dengan akrab dan intim, bukan? Maka biarlah tanggapan Anda atas sapaan Allah tidak berasal dari orang lain, namun murni berasal dari kedalaman hati Anda sendiri. Saya hanya akan mengiringi Anda mendengarkan dan menanggapi sapaan Allah dengan lagu karangan Martin Runi berikut.

Bila Tuhan Menyapa

Tuhan menyapa setiap manusia, tanpa bicara, tanpa berbahasa.

Bagai mentari, menyapa alam, kasih Ilahi menyapa kita.

Tuhan yang s’lalu menyapa kita, dengan kasiNya yang paling indah.

Yang tak mau seorangpun binasa, namun berbahagia.

Hai manusia, apa jawabmu, bila padamu Tuhan menyapa.

 

Buka dirimu untuk sesama, buka hatimu untuk mencinta,

ulurkan tanganmu ‘tuk selamatkan yang tersesat.

Hai manusia, apa jawabmu, bila padamu Tuhan menyapa, bila padamu Tuhan menyapa.

 

Indahnya alam, pesona cintaNya, hati nurani, gema suaraNya.

Lewat sesama yang menderita, kasih Ilahi menyapa kita.

Dengarkanlah getar sapaanNya, lembut halus menggema di kalbu.

Yang menyapa lewat sesama, yang menderita.

 

Berkah Dalem.

Dipublikasi di Tentang Hidup, Tentang Iman | Tag , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar

Hidup Teh Es!

Es teh! Mulai dari warung nasi kucing, warteg, restoran sederhana, sampai bistro berbintang lima pasti menyediakan minuman yang sering kita sebut dengan nama es teh ini. Kalaupun tidak tersedia es teh yang dibuat sendiri oleh pemilik tempat makan, pasti akan disediakan teh botol produksi pabrik. Es teh itu hukumnya fardhu! Tempat makan pasti akan merugi bila tidak menyediakan es teh. Alasannya sederhana: bisa dipastikan bahwa sebagian besar orang yang jajan akan memesan es teh untuk mengguyur tenggorokan setelah menikmati makanan.

Mungkin hanya bahasawan yang tidak sudi memesan es teh, mereka hanya akan mau memesan teh es. Memang jika ditilik dari bentuk kata benda dalam bahasa Indonesia yang berciri D-M, maka frasa es teh itu salah kaprah. Seharusnya, benda yang kita terangkan (dalam hal ini: teh) harus diletakkan lebih dulu sebelum kata yang menerangkannya (dalam kasus ini: es). Kata bahasawan, frasa es teh itu berarti cairan teh yang dibekukan sehingga menjadi es. Sedangkan bila yang kita maksud adalah cairan teh yang dijadikan dingin dengan diberi es, seharusnya kita sebut dengan nama teh es. Sengaja di awal tulisan ini saya memakai bentuk yang salah dengan frasa es teh untuk menunjukkan letak kesalahan dalam kebiasaan. Di sisa tulisan ini saya akan mencoba memakai frasa yang benar, yaitu teh es.

Memang kelihatannya ini permasalahan yang sepele, hanya persoalan nama minuman. Masalah remeh seperti ini terlihat hanya menjadi sebatas obrolan para bahasawan ketika mereka sedang istirahat makan siang dan kebetulan memesan teh es. Tapi ternyata bila kita gali, sebenarnya persoalan teh es ini lebih kompleks daripada yang kita duga. Berikut adalah beberapa pemikiran saya setelah menyeruput teh es yang manis dan menyegarkan.

Teh Es dan Pancasila

Jika ditanya, para bahasawan mungkin menjawab bahwa permasalahan bahasa seperti ini bukan permasalahan sepele. Permasalahan ini bahkan menyentuh ke sumber hukum dari segala sumber hukum di Indonesia, yaitu dasar negara kita: Pancasila. Pembahasan berikut saya ambil dari sebagian pembahasan dalam tulisan karya Berthold Damshauser yang dimuat di Majalah Tempo edisi 8 Agustus 2011. Berthold Damshauser adalah Kepala Program Studi Bahasa Indonesia Universitas Bonn, Jerman,  dan permasalahan yang ditemukan dalam bahasa yang digunakan dalam Pancasila justru ternyata dilihat secara kritis oleh mahasiswa-mahasiswa Jerman. Artikel lengkapnya dapat Anda lihat dalam tautan ini.

Coba kita ambil saja salah satu sila, yaitu sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa. Masalah pertama adalah istilah “Ketuhanan”. Ada banyak kebingungan dalam kata ini. Keterangan di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengenai kata ini (ke·tu·han·an n 1 sifat keadaan Tuhan; 2 segala sesuatu yg berhubungan dng Tuhan: hal-hal ~ , yg berhubungan dng Tuhan) tak banyak membantu, malah memperparah kebingungan. Lebih baik mengingat fungsi utama imbuhan ke-an, yakni membentuk kata benda abstrak. Maka, “Ketuhanan” akan dipahami sebagai padanan kata Inggris “divinity“. Namun timbul pertanyaan, mengapa “Ketuhanan” yang dianggap esa, bukan “Tuhan” saja. Yang esa itu Tuhan, mengapa harus “Ketuhanan”?

Masalah kedua yang muncul yakni “Maha Esa”. Bukan karena ejaan istilah itu tidak sesuai dengan KBBI (“maha” merupakan “bentuk terikat”, sehingga ejaan bakunya seharusnya “Mahaesa”). Kita tentu paham bahwa para pendiri bangsa perumus teks Pancasila ketika itu belum diberkahi KBBI yang memperjuangkan kebakuan ejaan bahasa nasional. Yang menjadi masalah justru semantika dan logika istilah itu. Esa adalah sifat yang mahajelas, karena artinya tak lain dari ‘satu’, tak tertingkatkan dengan tambahan ‘maha’ yang hiperbolis dan redundan. Maka muncul pertanyaan, mengapa tidak diganti rumusannya dengan menjadi rumusan yang singkat dan jelas seperti ”Keesaan Tuhan”?

Hal seperti inilah yang menyebabkan mengapa prinsip kebahasaan yang benar dan baku menjadi sangat penting. Dalam proses penyusunan peraturan (legal drafting), bahasa yang digunakan haruslah disusun sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan pertanyaan dan bahkan memunculkan celah hukum yang dapat digunakan oleh orang-orang yang ingin mencari keuntungan diri sendiri. Maka menjadi keprihatinan kita sendiri bahwa minat terhadap bahasa Indonesia yang baik dan benar dewasa ini sudah sangat berkurang.

Kita sudah menginsyafi dan memaklumi bahwa bahasa lisan informal di Indonesia, terlebih di kota besar macam Jakarta, telah menjadi sangat jauh dari bentuk formal bahasa Indonesia. Bentuk informal yang tidak baku ini justru telah menjadi berterima umum di Indonesia berkat gempuran media yang menggelontorkan begitu banyak acara dan liputan dari Jakarta. Memang hal ini menjadi semacam gejala umum bahasa di dunia, tidak hanya di Indonesia. Di banyak negara lain, bahasa lisan telah menjadi sangat informal dan tidak baku, sementara bahasa yang baku dan formal hanya terdapat dalam tulisan resmi dan pidato resmi. Ternyata hal ini membawa dampak yang menyedihkan. Generasi muda sekarang ini sudah menyepelekan bentuk baku bahasa Indonesia yang benar. Terbukti pada beberapa tahun belakangan ini, nilai ujian nasional untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia tingkat SMP dan SMA selalu mengalami penurunan. Padahal, kita sudah berjanji untuk menjunjung tinggi bahasa nasional kita dalam Sumpah Pemuda tahun 1928. Jangan-jangan besok ketika generasi muda sekarang menduduki jabatan pemerintahan, mereka tidak akan mengucapkan sumpah, tapi ngomongin suer samber gledek.

Teh Es dan KKN

Selain dari segi teknis masalah kebahasaan yang telah saya sebutkan di atas, dari teh es yang keliru disebut es teh, kita juga lantas tahu bahwa ternyata yang biasa kita gunakan atau kita lakukan belum tentu adalah hal yang benar. Suatu hal yang terlihat membudaya belumlah tentu menjadi tamadun. Mari kita lihat kasus KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) di bangsa kita Indonesia yang sudah mendarah dan mendaging. Terlihat jelas bahwa KKN seperti sudah membudaya di Indonesia. Bahkan dari segi bahasa, berkembang bentuk bahasa amelioratif untuk berbagai tindak KKN seperti salam tempel, uang pelicin, bahkan sampai kode terbaru apel Washington (uang dalam dolar Amerika) dan apel Malang (uang dalam rupiah) yang dipakai oleh Angelina Sondakh dan kroni-kroninya untuk menutupi tindak pidana yang mereka lakukan. Lalu pertanyaannya, apakah bisa kita katakan bahwa korupsi sudah menjadi budaya di Indonesia?

Arti budaya atau tamadun sendiri mencakup spektrum yang sangat luas dan definisi dari budaya dari para ahli sangat berlimpah. Coba saja Anda cari pengertian budaya dengan bantuan mesin perambah seperti Google. Anda akan tercengang dengan begitu banyaknya pengertian budaya dan aspek-aspek yang dicakupnya. Dalam hubungan dengan tulisan ini, saya ingin menambah ramai rimba pendapat tentang budaya dengan mendefinisikan budaya sebagai suatu hasil olah budi dan daya yang membentuk tata keseluruhan dari sistem nilai dan simbol, struktur sosial, dan karya-karya fisik yang bersifat unik dan khas sehingga dapat digunakan sebagai penanda untuk membedakan suatu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lain. Berangkat dari pengertian budaya ini, saya dapat dengan tegas menyimpulkan bahwa KKN sama sekali bukan bentuk budaya. KKN adalah tindak pidana yang bersifat kriminalistik, dan yang namanya tindak kriminal tidak pernah dapat menjadi budaya. Tindak kriminal justru menjadi perusak budaya. Entah dengan para negarawan terhormat yang duduk di kursi kekuasaan, tapi saya tidak akan pernah rela jika orang menyebut bahwa KKN adalah budaya bangsa Indonesia. Saya tidak mau bangga dengan kenyataan bahwa ciri khas dan unik dari negara Indonesia adalah tingkat KKN yang tinggi (walau sedihnya, kenyataannya memang tingkat KKN di Indonesia sudah sangat parah). Saya yakin, Anda yang masih memiliki hati nurani pasti akan sepaham dengan saya.

Sudah sejak dulu kita bangga menyebut diri sebagai bangsa timur yang berbudaya santun dan berbudi. Tapi sekarang, citra itu justru rusak dengan KKN. Padahal, banyak ahli hukum berpendapat bahwa KKN adalah kejahatan bertaraf internasional dan bersifat sebagai kejahatan luar biasa terhadap kemanusiaan (extraordinary crime against humanity). Bahkan, sering KKN disetarakan dengan kejahatan kemanusiaan dalam perang.

KKN sudah mencapai taraf keprihatinan internasional karena bahkan negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa bersepakat dalam Konvensi PBB Anti Korupsi Tahun 2003. Indonesia sendiri telah meratifikasi Konvensi tersebut dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2006 Tentang Pengesahan United Nation Convention Against Corruption, 2003 (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Anti Korupsi, 2003).

KKN disebut sebagai kejahatan luar biasa terhadap kemanusiaan karena KKN tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga telah merupakan pelanggaran terhadap hak-hak asasi sosial dan ekonomi masyarakat secara luas yang memiliki dampak amat merugikan baik di masa kini maupun masa depan (bandingkan dengan konsideran huruf a Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi). KKN adalah kejahatan kemanusiaan, maka yang menjadi korban kejahatan adalah manusia. Namun tepatnya, siapa korban dari KKN? Ada banyak sekali korban KKN. Yang pertama dirugikan adalah yang berkaitan langsung secara moneter, yaitu negara dan para pembayar pajak. Negara kehilangan sumber pendapatan, dan uang para pembayar pajak dicuri. Namun, yang menderita lebih parah adalah masyarakat luas, apalagi masyarakat yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Seharusnya kelompok masyarakat ini menikmati manfaat pembangunan yang dapat diraih dengan pemanfaatan pajak. Tapi nyatanya, lintah penjahat-penjahat kerah putih yang menamakan diri sebagai pejabat negara justru mengisap habis kehidupan masa depan dari masyarakat dengan KKN.

Saya sungguh tidak rela bila kejahatan kemanusiaan yang keji ini dikatakan sebagai bagian dari budaya bangsa Indonesia. Bila KKN benar-benar telah menjadi budaya bangsa Indonesia, saya yakin bahwa bangsa kita akan mencapai titik nadirnya: berubah dari bangsa beradab menjadi bangsa biadab. Saya dan Anda benar-benar tidak ingin hal ini terjadi.

Teh Es dan Penegakan Hukum

Prinsip teh es juga membawa saya masuk ke dalam ranah praktis. Ketika saya mengetahui bahwa frasa yang benar adalah teh es dan bukan es teh, saya berusaha untuk konsisten memakai frasa teh es. Kesulitan segera muncul, karena ternyata otak saya biasa berpikir, mulut saya biasa berujar, dan tangan saya biasa menulis frasa yang lama: es teh. Namun, perubahan radikal haruslah saya ambil bila ingin menggunakan bahasa yang baku dan benar.

Prinsip teh es juga membawa saya pada pemikiran berikut. Kejahatan luar biasa harus diatasi dengan langkah luar biasa. Maka, mungkin yang kita perlukan adalah perubahan kebudayaan yang radikal. Kebudayaan kita harus menjadi kebudayaan yang sadar, taat, dan patuh pada hukum yang benar. Substansi hukum kita menurut saya sudah cukup baik. Kita punya banyak ahli hukum yang bisa merumuskan undang-undang dengan baik. Yang menjadi perhatian bagi saya adalah perlunya ditingkatkan upaya pengembangan hukum yang tidak hanya bersifat represif, namun juga preventif dan detektif.

Zaman sekarang ini yang menjadi masalah adalah budaya penegakan hukum kita masih amburadul. Coba kita lihat contoh berikut. Pengadilan Negeri Serang Banten pada tanggal 5 Juli 2007 mengeluarkan putusan terhadap kasus pidana pencurian sepuluh kilogram bawang merah dengan memidana pelaku pencurian yakni dua orang kuli panggul bernama Saprudin (umur 18 Tahun) dan Mulyadi (umur 23 Tahun) selama delapan bulan penjara. Di hari yang sama, Pengadilan Negeri Serang juga mengeluarkan putusan atas kasus korupsi APBN tahun 2003 senilai Rp 14 miliar yang dilakukan secara bersama-sama oleh beberapa mantan anggota DPRD propinsi Banten dengan menjatuhkan pidana penjara selama 15 bulan. Jelaslah sulit bagi akal sehat dan hati nurani kita untuk menerima preseden ini. Sebuah pencurian yang dilakukan oleh orang “berada dan mapan” alias anggota DPRD dengan nilai fantastis 14 miliar memperoleh putusan pidana yang nyaris sama (hanya selisih beberapa bulan saja) dengan putusan pidana atas pencurian 10 kg bawang merah yang paling-paling bernilai Rp 60 ribu oleh mereka yang masih berpikir tiap hari: “Besok bisa makan atau tidak?”.

Penegakan hukum haruslah kembali kepada hakikat hukum yang harus mempedulikan tiga pilar hukum: keadilan hukum, kepastian hukum, dan kemanfaatan hukum. Terlihat jelas bahwa putusan pengadilan yang saya sebutkan di atas baru memperhatikan segi kepastian hukum. Kejahatan semata-mata dihukum karena peraturan yang ada mengatakan seperti itu. Sama sekali tidak ada unsur keadilan hukum dan kemanfaatan hukum. Preseden seperti itu harusnya justru menjadi cambuk bagi pemerintah yang mengingatkan bahwa masih banyak rakyat yang hidup susah dan terpaksa mencuri untuk bertahan hidup. Pemerintah seharusnya justru malu, dan dengan belajar malu, pemerintah terpacu untuk makin memperbaiki pelayanannya kepada masyarakat.

Saya mendukung pendekatan hukum progresif yang dikemukakan oleh almarhum Prof. Satjipto Rahardjo. Hukum progresif adalah hukum yang membebaskan. Hukum seharusnya ditujukan untuk manusia, bukannya manusia ditujukan oleh hukum. Maka apabila terjadi hambatan-hambatan terhadap pencapaian keadilan hukum, kepastian hukum, dan kemanfaatan hukum, maka seharusnya dilakukan pembebasan-pembebasan, baik dalam berilmu, berteori, dan berpraktik. Perspektif hukum progresif tidak bersifat kaku terhadap peraturan (rule-bound) yang menggarap hukum semata-mata menggunakan “rule and logic” atau rechtdogmatigheid, dengan alur berpikir linier, marginal, dan deterministik seperti pada kasus di Serang, Banten di atas. Paradigma hukum progresif akan berpola mematahkan aturan (rule-breaking). Dalam pola pikir hukum progresif, kita harus berani untuk tidak selalu tunduk dan mengikuti alur linier, marginal, dan deterministik. Perlu disadari bahwa hukum bukanlah institusi yang absolut dan final, melainkan hukum selalu dalam proses menjadi (law as process atau law in the making). Hukum progresif tidak bermaksud untuk menghapus hukum itu sendiri, namun mendorong kreatifitas dalam memberi penafsiran dan membaca hukum secara progresif. Implementasi hukum progresif justru menjadikan hukum menjadi lebih agung karena hukum menjadi lebih manusiawi dengan menempatkan kemanusiaan di atas peraturan yang kaku. Hukum progresif tetaplah berangkat dan berpijak pada aturan hukum, namun tidak lantas tenggelam di dalamnya.

Jadi, penegakan hukum haruslah efektif dan efisien, harus mencabut dari akar permasalahan dan menyelesaikan permasalahan sampai tuntas. Haruslah sering-sering ditinjau, apakah politik pemidanaan yang sesuai adalah penal (lewat jalur pengadilan) atau nonpenal (di luar jalur pengadilan). Untuk pemidanaan KKN khususnya, haruslah dikejar supaya diperoleh efek jera bagi pelaku dan upaya-upaya pengembalian kerugian negara yang hilang akibat KKN dengan semaksimal mungkin. Pemberian pidana juga tidak semata bersifat balas dendam, tapi bisa juga dengan menambah hukuman yang bertujuan untuk mempermalukan pelaku. Beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, Timur Tengah, New Zealand, Australia, Amerika dan negara-negara Eropa menerapkan sangsi hukum yang tegas bagi para pelaku kejahatan. Salah satunya bagi setiap pelaku kejahatan tidak dapat mengganti hukuman pidana penjara dengan uang, bila sudah di penjara akan sulit mencari pekerjaan, dan tidak bisa dilindungi oleh pejabat atau keluarga yang memiliki kedudukan penting dalam suatu negara. Ada banyak cara yang bisa ditempuh dalam upaya penegakan hukum secara efektif dan efisien yang masih berada dalam batasan koridor peraturan yang berlaku.

Teh Es, Pengawasan, dan Pencegahan

Ternyata teh es di dalam gelas juga bisa berbahaya! Teh es standar biasanya dilengkapi dengan dua peranti berikut: sendok untuk mengaduk gula dan sedotan. Bila kita tidak hati-hati, ternyata sendok dan sedotan ini bisa melukai kita. Caranya? Bila kita tidak hati-hati mengarahkan sendok dan sedotan di gelas saat hendak minum, bisa-bisa sendok dan sedotan itu menusuk mata kita! Mata kita yang seharusnya mengawasi arah sendok dan sedotan justru bisa tertusuk oleh keduanya. Hal sendok dan sedotan ini membawa saya pada sebuah pemikiran lain, yaitu tentang pengawasan dan pencegahan KKN.

Ada sebuah pepatah bahasa Latin yang merumuskan secara tepat permasalahan lain dalam penegakan hukum di Indonesia. Pepatah itu berbentuk pertanyaan berikut: quis custodiet ipsos custodes? Artinya adalah: siapa yang akan mengawasi para pengawas? Dulu di Indonesia satu-satunya pengawas KKN adalah kepolisian. Karena dianggap tidak becus dalam bekerja dan di dalam tubuh kepolisian sendiri ada banyak KKN, maka didirikanlah komisi yang khusus untuk pemberantasan korupsi yaitu KPK. Tapi ternyata KPK sendiri sering dirundung masalah dan tidak dapat lepas pula dari jerat KKN (ingat kasus Anggodo?). Sekarang para ahli tata negara mengatakan bahwa terjadi tumpang tindih kewenangan akibat terlalu banyak pengawas. Seharusnya mana yang benar? Menurut hemat saya, pengawasan terhadap para pengawas haruslah dilaksanakan antarlembaga dan pengawasan dari bawah oleh masyarakat. Perlu dibuka saluran pengawasan yang lega bagi pengawasan silang antarlembaga dan pengawasan dari masyarakat. Prinsip transparansi dan akuntabilitas lembaga pengawasan haruslah dilaksanakan dengan tepat.

Untuk mengatasi kejahatan KKN, diperlukan pula sistem pencegahan dini agar di masa depan aparat penegak hukum lebih mudah melaksanakan penegakan hukum dan mengadili seadil-adilnya. Pencegahan yang dapat dilakukan yaitu peningkatan kualitas moral, peningkatan jaminan sosial dan kesejahteraan, peningkatan stabilitas dan peningkatan sangsi hukum.

Peningkatan kualitas moral dapat dilakukan dengan pendidikan agama, pendidikan etika di sekolah dan di rumah, program media yang berkualitas, serta teladan dari para pemimpin. Pendidikan agama yang kuat akan membentuk karakter seseorang sehingga menimbulkan rasa takut dan gentar dari dalam apabila melakukan suatu kejahatan. Pendidikan etika di sekolah dan di rumah juga mempertebal iman dan ketaatan terhadap hukum baik hukum agama, hukum moral maupun hukum pemerintah. Hukum agama akan mengajarkan manusia mentaati Tuhan sebagai Sang Penguasa, hukum moral mengajarkan manusia takut dan jera bila diasingkan oleh masyarakat dan kelompoknya, dan hukum pemerintah membuat efek jera bagi pelaku dengan rasa malu dan terasingkan. Program media baik cetak, elektronik maupun luar ruang ternyata memiliki efek yang cepat bagi para pemirsa maupun pembacanya. Media yang mendidik dan mengajarkan kebenaran akan membentuk masyarakat yang taat dan patuh terhadap peraturan dan perundang-undangan yang ada. Dan yang terpenting adalah teladan dari pemimpin baik pemerintah dari pusat ke daerah, pemimpin agama dan pengajar, serta keluarga di rumah yaitu orang tua.

Peningkatan jaminan sosial kesejahteraan akan mengurangi orang berbuat jahat. Salah satu penyebab kejahatan adalah masalah ekonomi rumah tangga yang penuh dengan kekurangan sehingga pada saat tertentu dan terpojok orang dapat melakukan kejahatan yang tidak pernah dilakukan. Beberapa negara maju, sangat menekankan hal ini khususnya di bidang sandang, pangan, papan, dan kesehatan. Pertanian, peternakan, dan kehutanan yang baik akan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Program kesehatan dari pemerintah serta jaminan asuransi juga melindungi masyarakat dari kejadian yang tidak terduga. Pemerintah wajib memberi santunan dan kesempatan kerja bagi masyarakat yang masih kekurangan maupun menganggur. Masyarakat sejahtera akan menurunkan tingkat kejahatan.

Stabilitas baik politik, ekonomi dan keamanan sangat mempengaruhi tindak kejahatan. Negara yang tidak stabil, penuh peperangan dan ketidakpastian akan mengubah mental, karakter dan sifat seseorang, sehingga orang yang awalnya baik, peramah, jujur, dan sabar akan berubah menjadi brutal, tega, sadis dan penuh trik untuk melakukan tindak kejahatan. Perubahan harga, nilai mata uang, maupun suku bunga yang fluktiatif akan menimbulkan berbagai dampak bagi kemampuan ekonomi masyarakat. Kondisi ekonomi yang stabil akan menimbulkan rasa aman dan tenang bagi masyarakat dan dapat menekan pertumbuhan kejahatan.

Teh Es, Yesus, dan Gereja

Refleksi saya yang terakhir terkait teh es tidak berasal dari teh es itu sendiri. Saya merenungkan makna teh es ini ketika saya sedang menikmati teh es di Pertapaan Santa Maria Rawaseneng, Temanggung tempat para rahib Trappist hidup dan berkarya. Maka, refleksi saya pun akhirnya bermuara kembali kepada Tuhan. Pendekatan hukum progresif dan tindakan-tindakan preventif yang saya sebutkan di bagian sebelumnya sebenarnya sudah akrab dalam ajaran Katolik. Dua ribu tahun sebelum Profesor Satjipto Rahardjo mencetuskan teori hukum progresif, Yesus sendiri sudah mengatakan intisari hukum progresif dalam Injil Markus 2:23-28 dengan berkata “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat”. Inti ucapan Yesus sama persis dengan maksud dari Prof. Tjip, yaitu hukum untuk manusia, dan bukan manusia untuk hukum. Hal yang sama juga disebutkan dalam berbagai dokumen Gereja, seperti misalnya dalam Konstitusi Gaudium et Spes hasil Konsili Vatikan II. Ajaran Gereja Katolik juga mendukung tindakan-tindakan preventif yang saya sebutkan sebelumnya. Tindakan-tindakan preventif tersebut pada intinya bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia melalui pendidikan dan peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi. Hal ini sehati dengan Ajaran Sosial Gereja yang bertujuan untuk “memanusiakan manusia”.

Setetes Teh Es Terakhir

Manusia adalah makhluk yang selalu memberi dan mengaitkan makna. Saya sendiri misalnya, belajar banyak hanya dari segelas teh es. Saya lalu membayangkan, alangkah lebih baiknya Indonesia bila para petinggi negara, para penguasa, para pejabat, dan orang-orang yang duduk “di atas” mau meluangkan waktu sejenak untuk melihat makna di sekelilingnya, terlebih melongok ke bawah kepada sesamanya yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel. Andaikan saja para petinggi itu dengan tulus mau meluangkan waktu sejenak menatap mata sesama mereka yang kuyu dan sayu akibat beban kehidupan dan kemudian berusaha merefleksikan semuanya itu. Saya yakin, mereka akan tidak akan sekedar melongok lagi ke bawah dari kursi kekuasaan bak tahta dari gading. Mereka justru akan turun dari tahta gadingnya, lalu berjalan berdampingan menuntun sesamanya yang menderita, karena di mata sesamanya yang menderita itu ternyata mereka melihat Tuhan berdiam di dalamnya. Semoga!

Hidup teh es!

Berkah Dalem.

Dipublikasi di Tentang Hidup | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Dari Minimalis Menjadi Optimalis

Basa-basi yang Benar-benar Tidak Perlu Dibaca

Sedikit catatan basa-basi pendahuluan: Mungkin Anda akan melihat saya menulis tulisan ini dengan gaya bahasa yang berbeda dengan karakteristik gaya saya yang normal.  Sedikit cerita, saya baru saja membaca beberapa karya Umberto Eco, tepatnya tiga novel berikut: The Name of The Rose, Baudolino, dan Foucault’s Pendulum. Sepertinya saya tidak kuasa untuk mencegah beberapa gaya bahasa Beliau mempengaruhi saya dalam tulisan ini. Gaya tulisan saya kali ini juga rasa-rasanya terimbas kultur pop terbaru yang tersebar luas dalam jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook, maupun dalam percakapan di Blackberry Messenger yang sering menambahkan tags dan emoticon yang berkaitan (ataupun tidak) dengan subjek bahasannya, seperti #ndakpentingbangetsihtulisanini ataupun *apa-apaansihini*. Omong-omong, saya sendiri tidak punya akun twitter maupun facebook, jadi tidak usah repot-repot mencari (#sekalilagindakpentingbanget).

Jadi, maafkan saya dalam penggunaan gaya bahasa dalam tulisan ini yang mungkin bagi Anda memenuhi kriteria redundansi. Maksud saya menggunakan gaya ini adalah untuk mengejar makna semantik yang dapat menggambarkan secara tepat apa yang saya maksud. Dalam ilmu semantik, tidak ada yang namanya redundansi kan? Mungkin saya sedang berada dalam kondisi euforia menulis. Dan omong-omong soal redundansi, sebenarnya catatan pendahuluan ini sama sekali tidak penting dan tidak relevan untuk dibaca. Saya cuma ingin usil dalam menulis dengan sengaja menulis berpanjang-panjang dan bertele-tele. Bahkan ternyata saya baru mengetahui bahwa ternyata menulis basa-basi macam ini ternyata menyenangkan! Entah karena saya suka mengeksplorasi berbagai hal yang tidak penting, atau seperti kata Durrahman sang munsyi di libretto karya Remy Sylado berjudul Sang FX, saya ini menghayati sifat orang Melayu yang suka berbasa-basi. Jadi jika Anda membaca paragraf ini sampai tuntas, Anda benar-benar pembaca yang sudah terbukti kegigihannya. 😀

Catatan tambahan: mohon jangan marah terlebih mendendam pada saya atas keusilan saya ini. Saya juga baru kena keusilan Om Umberto Eco. Di novel The Name of the Rose, Beliau menguji kesabaran pembacanya dengan menulis basa-basi penuh rincian detail yang tidak penting dan membosankan dalam seratus halaman pertama novelnya. Anggap saja Anda beruntung karena saya hanya mengusili Anda di dua paragraf awal (dan juga paragraf ini, yang sama tidak pentingnya dengan paragraf di atasnya). Lagipula, di subjudul awal kan sudah saya beri peringatan untuk tidak usah repot-repot membaca bagian ini. :-p

Maafkan Saya atas Basa-basinya. Sekarang Masuk ke Topik Bahasan.

Di Gereja paroki saya, Gereja Katolik Santo Athanasius Agung Karangpanas Semarang, selalu disediakan lembaran teks misa. Sudah beberapa lama, di akhir lembaran misa sekarang disediakan kolom rubrik khusus untuk membahas berbagai hal seputar iman, Gereja, maupun berbagai bahasan lain seputar kehidupan menggereja dan bermasyarakat. Beberapa waktu yang lalu di rubrik ini, Romo paroki saya membahas beberapa pertanyaan dari umat seputar misa (tulisan Romo paroki saya yang juga blogger ini, Rm. Dominikus Donny W., Pr. bisa dilihat di sini). Ada beberapa pertanyaan dan komentar dari umat yang menggelitik seperti ini:

  • Apakah kalau saya terlambat datang dalam misa, saya masih boleh menerima Komuni? Sejauh mana saya boleh terlambat supaya tetap diperbolehkan menerima komuni?
  • Saya setelah komuni langsung pulang. Yang penting kan saya sudah menerima Tubuh Kristus. Tidak apa-apa kan tidak menerima berkat dan pengutusan? Kan saya sudah diberkati dengan menerima hosti suci.
  • Saya sering terlambat misa, biasanya saya baru datang pada saat telah dimulai homili. Untuk menebusnya, saya biasanya lalu mengikuti misa yang berikutnya. Lalu setelah selesai bacaan Injil di misa kedua ini, saya pulang. Saya menghitungnya sebagai impas, saya sudah nomboki (menambah kekurangan) di misa pertama. Apakah hal ini boleh?

Saat saya membaca rubrik ini, saya tidak dapat menahan diri untuk tertawa kecil. Ada-ada saja akal manusia zaman ini, bahkan untuk urusan menghadap Tuhan saja bisa diakali. Saya teringat pada lelucon kecil yang pernah saya baca. Perarakan masuk dalam misa itu urut-urutannya: misdinar, lektor, pemazmur, prodiakon, Romo, dan umat yang celingak-celinguk mencari tempat duduk karena datang terlambat. Perarakan keluar urut-urutannya justru dibalik, didahului dengan umat yang berlomba ke parkiran supaya bisa keluar dengan mudah.

Saya sepintas berandai-andai usil: mungkin orang yang bertanya itu terilhami oleh break event point (titik impas) dari ilmu dagang ya? Atau mungkin mengandalkan prinsip ekonomi yang mengejar supaya semuanya mangkus dan sangkil? Omong-omong, kedua kata yang baru saya sebut itu sebenarnya adalah padanan kata bahasa Indonesia untuk efektif dan efisien. Yang terpenting adalah pengorbanan sekecil-kecilnya untuk manfaat sebesar-besarnya. Jadi, yang penting itu menerima Komuni. Tidak usah berkorban waktu banyak untuk ikut misa dari awal sampai akhir. Apakah benar demikian?

Dan ternyata juga, pertanyaan ini juga tidak timbul di Gereja paroki saya saja. Coba lihat di laman ini (silakan klik tautannya).

Jawaban dari Aspek Liturgis

Jawaban dari aspek rubrik liturgis sudah dibahas oleh Romo paroki, yang pada intinya mengatakan bahwa Ekaristi itu adalah satu kesatuan integral yang tak terpisahkan. Dalam Ekaristi, Kristus tidak hanya hadir dalam Komuni. Memang, persatuan kita dengan Kristus paling tampak nyata dan agung dalam Komuni. Namun demikian, Kristus hadir dalam seluruh Perayaan Ekaristi. Kehadiran Kristus tampak dalam: 1) diri imamnya; 2) secara khusus dalam rupa roti dan anggur; 3) dalam sabda Allah (bacaan-bacaan Kitab Suci); 4) dalam jemaat yang berkumpul (coba buka Katekismus Gereja Katolik nomor 1088). Dengan demikian, bila kita terlambat datang misa, kita tidak akan mampu untuk menerima Kristus dalam hati kita dengan baik.

Seluruh perayaan Ekaristi dirancang setahap demi setahap supaya pada puncak perayaan, kita siap untuk menyambut Tuhan dalam komuni (lihat grafik ritus Ekaristi yang bergerak memuncak yang saya muat dalam tulisan saya “Menyanyikan Misa”). Bahkan sebelum misa, kita juga harus sudah menyiapkan diri kita dengan berpuasa satu jam sebelumnya, kecuali untuk minum air atau obat-obatan (lihat Kitab Hukum Kanonik di kanon nomor 919). Saya tidak yakin dengan umat yang sering terlambat datang misa, apakah saudara kita itu sudah berpuasa satu jam sebelum misa. Logika saya: kalau datang misa saja sering telat dan tidak bisa menyiapkan diri dengan datang lebih awal minimal sepuluh menit sebelumnya, mana mungkin menyiapkan diri dengan berpuasa satu jam sebelumnya?

Masih banyak aspek liturgi lain yang bisa digali dalam misa, Anda bisa melihatnya dalam tulisan-tulisan di situs Katolik. Saya menyarankan untuk membaca artikel mengenai liturgi Ekaristi di katolisitas.org yang ditulis oleh sumber-sumber yang dapat dipercaya dalam bidang liturgi. Situs tersebut juga menyediakan banyak artikel lain yang bermanfaat bagi pengembangan iman kita.

Menjelajah Makna Lebih Jauh

Dalam tulisan ini, saya ingin lebih menyoroti aspek penghayatan kehidupan iman yang dapat kita pelajari dari sikap umat yang sering terlambat datang misa. Pertama-tama, saya perlu menegaskan bahwa saya tidak berusaha menghakimi bahwa saudara kita yang sering terlambat datang misa ini bertabiat jelek. Tuhan Yesus sendiri sudah mengingatkan kita supaya jangan menghakimi (coba lihat di Mat 7:1-2). Saya hanya ingin membagi pengalaman pembelajaran yang saya miliki setelah merefleksikan pertanyaan umat tersebut. Pemikiran saya ini sendiri berangkat dari homili-homili oleh Rm. Purwo Hadiwardoyo, MSF, seorang moralis terkenal yang sangat cerdas dan saya kagumi.

Pemikiran saya berangkat dari rangkaian Khotbah di Bukit oleh Tuhan Yesus yang secara lengkap ditulis di Matius bab 5-7. Mari kita fokuskan diri pada Matius 5: 21-48 (ayo benar-benar dilihat, jangan malas membuka Kitab Suci ya).

Di situ kita bisa melihat suatu pola dari ucapan Yesus. Pertama-tama, Yesus menyebutkan aturan dari Hukum Taurat dengan awalan kata-kata “kamu telah mendengar” atau “telah difirmankan”. Lalu, Tuhan mengucapkan kalimat berikut: “tetapi, Aku berkata kepadamu”, dan kemudian mengucapkan prinsip aturan yang jika dilihat lebih berat dan mendasar dari aturan hukum Taurat yang disebutkan sebelumnya. Coba lihat di tabel ringkasan dari perikop 5: 21-48 berikut:

Bila kita amati dengan cermat pola tersebut, kita akan melihat pola ini: hukum Taurat yang disebut oleh Tuhan Yesus mengatur hal-hal yang mendasar dan minimalis, sedangkan prinsip yang dikemukakan Yesus bersifat optimal. Apa maksudnya?

Coba kita lihat aturan Taurat yang berbunyi “jangan membunuh”. Bila dilihat, peraturan ini hanya mengatur batas yang minimal sekali mengenai nyawa seseorang, yaitu jangan sampai kita berbuat sesuatu yang sampai menghilangkan nyawa seseorang. Dengan demikian, orang yang suka mencari celah hukum (yang ada banyak sekali di Indonesia ini) akan berkata bahwa kita masih boleh menyakiti orang yang membuat marah atau menjengkelkan kita. Boleh saja kita memukulinya sampai babak belur, asalkan tidak sampai mati. Bahkan, kita boleh membalas dendam dengan peraturan “mata ganti mata, gigi ganti gigi”. Peraturan ini bahkan justru membolehkan kita membalas dendam dengan menyakiti secara fisik. Apa jadinya bila orang-orang menaati peraturan ini dengan hanya menjaga batas minimalnya? Tentunya akan ada banyak “koboi palmerah” yang muncul!

Sekarang mari kita lihat sikap Tuhan Yesus. Tuhan Yesus justru menetapkan batasan yang optimal. Tuhan memberikan pada kita standar terbaik yang bisa kita lakukan alih-alih sekedar batasan minimal ala hukum Taurat. Jadi, Tuhan justru menantang kita untuk memberikan sikap dan tindakan kita yang terbaik. Tuhan menantang kita bersikap optimal, memberikan yang terbaik tanpa memaksakan diri harus menjadi yang paling baik. Mari kita lihat contohnya.

Terhadap aturan Taurat “jangan membunuh”, Tuhan Yesus menetapkan batasan optimal yang justru menyentuh dan mengeliminasi penyebab munculnya aturan Taurat tersebut: bahkan jangan sampai marah pada sesamamu. Bila kita bisa menahan marah, kita akan bisa hidup berdampingan dengan damai. Tidak akan ada balas dendam, tidak akan ada pembunuhan. Dengan aturan optimal dari Tuhan Yesus, aturan lama Taurat “jangan membunuh” sudah tidak berlaku lagi. Tidak berlaku bukan karena aturannya salah, namun semata karena aturan itu sudah tidak diperlukan lagi. Maka benarlah kesimpulan dari St. Thomas Aquinas: et antiquum documentum, novo cedat ritui (surut sudah hukum lampau, tata baru tampillah). Kesimpulan inilah yang biasa kita nyanyikan dalam lagu Tantum Ergo.

Maka, menjadi orang Katolik itu seharusnya menjadi orang yang optimalis, bukan sekedar minimalis. Kita tidak boleh puas hanya dengan sekedar mematuhi aturan dasar, tapi kita harus berlomba-lomba dalam iman untuk menjadi optimal (lihat Ibrani 12:1). Dengan menjadi orang Katolik yang optimalis, maka pertanyaan-pertanyaan yang diajukan umat di atas tidak akan pernah muncul. Demikian pula pertanyaan seputar hal-hal minimal lain semacam: apakah boleh SMS-an atau BBM-an di misa, apakah boleh memakai pakaian minim di Gereja, apakah boleh makan dan minum selama misa, dan pertanyaan sejenis lainnya. Justru bila kita benar-benar menghayati menjadi orang Katolik yang optimalis, akan muncul pertanyaan yang kira-kira macam ini: apakah boleh saya mengajak umat berhimpun setengah jam sebelum misa dan berdoa rosario bersama di Gereja, apakah boleh saya mengajak Romo yang sedang luang untuk misa di daerah terpencil, dan pertanyaan lain yang sejenis.

Makin Dalam dan Luas

Orang Katolik yang optimal akan merasa bahwa Ekaristi menjadi suatu kebutuhan, bukan sekedar kewajiban. Bahkan, ia akan terus mencoba mengembangkan dirinya untuk mampu menghayati dan mengamalkan semangat Ekaristi dalam seluruh aspek hidupnya. Menjadi orang Katolik yang optimalis tentu tidak hanya di Gereja. Ada empat pilar aspek hidup orang Katolik yang disebutkan dalam Katekismus Gereja Katolik: lex credendi (hukum iman kepercayaan), lex celebrandi (hukum perayaan ibadat), lex vivendi (hukum kehidupan), dan lex orandi (hukum doa). Menjadi orang Katolik sejati adalah juga menjadi optimal di semua bidang itu. Bahasan di atas adalah menjadi optimal di bidang lex celebrandi. Di aspek-aspek yang lain, saya bayangkan sebagai berikut:

  • Orang Katolik optimalis tidak hanya akan belajar mengenai imannya dari homili-homili Romo saat ia mengikuti misa. Ia akan rajin memperdalam imannya melalui retret, rekoleksi, bacaan rohani, diskusi, dan segala macam hal lain. Ia akan menempuh banyak cara untuk membentuk iman yang mendalam dan tangguh. Dan tidak hanya pengetahuan imannya yang bertambah, ia akan makin mampu menghayati imannya itu dalam doa, ibadah, dan hidup sehari-hari.
  • Orang Katolik sejati yang optimalis tentunya tidak akan pernah korupsi. Dalam hidup berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, ia akan berusaha untuk menjadi pribadi yang jujur, bersih, dapat dipercaya, dan terpercaya. Bahkan di tengah arus korupsi berjamaah yang menjadi tren di Indonesia, ia tidak akan hanyut. Ia akan selalu peduli pada sesamanya. Seperti kata tema Prapaskah 2012 lalu di Keuskupan Agung Semarang: orang Katolik sejati selalu peduli dan berbagi.
  • Orang Katolik yang optimal tidak hanya akan berdoa di Gereja. Doa akan menjadi warna yang selalu menghiasi kehidupan sehari-harinya. Tak akan pernah ia beranjak dari tempat tidur dan kembali terlelap di tempat tidurnya tanpa doa. Tiap tindakannya ia akan selalu ingat pada Tuhan dan mempersembahkan seluruh usahanya dalam hari itu kepada Tuhan.

Aspek-aspek di atas tentunya adalah bayangan optimal saya mengenai orang Katolik sejati. Tentunya Anda akan mempunyai bayangan optimal yang mungkin lain atau mungkin mirip dengan bayangan saya. Di sini, saya tidak berusaha menggurui Anda mengenai bagaimana menjadi orang Katolik yang optimal. Saya sadar sesadar-sadarnya bahwa saya juga belumlah menjadi orang Katolik yang sungguh optimal. Saya justru mengajak Anda berlomba dalam iman! Ayo menjadi orang Katolik yang optimal! Tentunya perlombaan yang sportif, tidak saling menjatuhkan dan menjelek-jelekkan.

Mari berlomba dalam iman!

Berkah Dalem.

Dipublikasi di Tentang Doa, Tentang Hidup, Tentang Iman, Tentang Perayaan Ibadat | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Ayo Belajar Membaca Not Kotak-kotak Lagu Gregorian!

Kalau kita membicarakan tentang musik liturgi Gereja Katolik, pasti kita akan bersinggungan dengan yang namanya lagu Gregorian. Kalau Anda pernah berkunjung ke biara Rawaseneng, Gedono, atau di Lamanabi, tentu Anda akan mendengarkan keindahan musik Gregorian. Di buku lagu liturgi seperti Puji Syukur dan Madah Bakti, ada beberapa lagu Gregorian yang dicantumkan dengan menggunakan not angka. Namun, bila kita hendak menggali lebih jauh tentang lagu Gregorian, kita akan disuguhi sederetan not kotak-kotak yang berkesan luar biasa antik dan sama sekali berbeda dengan not balok modern. Kebanyakan orang yang pertama kali berhadapan dengan not kotak-kotak ini, bahkan jika ia seorang musisi, akan kebingungan membacanya. Memang, not kotak-kotak bernama neume ini tidak pernah diajarkan di sekolah modern. Dalam tulisan ini, saya berusaha mengambil andil dalam pengembangan liturgi Gereja sekaligus meramaikan Bulan Katekese Liturgi 2012 dengan berbagi pada para pegiat musik liturgi tentang bagaimana cara membaca not neume. Berhubung saya bukan ahli dalam not neume, isi tulisan ini bukan ide saya sendiri. Tulisan ini adalah hasil saduran bebas dari beberapa sumber, seperti artikel karya Arlene Oost-Zinner dan Jeffrey Tucker yang berjudul ”An Idiot’s Guide to Square Notes” (dimuat di www.crisismagazine.com edisi Mei 2006), edisi Liber Usualis bahasa Inggris tahun 1934, serta beberapa sumber lain.

Berjumpa dengan Not Kotak-kotak

Cobalah membaca contoh not neume di atas. Ada dua reaksi umum yang biasa muncul saat menghadapi not neume untuk pertama kali. Orang yang ambisius akan mencoba-coba membaca not neume seperti membaca not balok modern, dan sebagian besar usaha ini akan berujung pada kesia-siaan belaka. Reaksi lain adalah menyerah, menganggap not neume terlalu kuno dan sulit. Daripada belajar versi baru dari lagu peringatan pembaptisan Vidi Aquam atau Asperges Me, lebih baik memakai lagu Syukur Kepadamu Tuhan dari Puji Syukur nomor 592. Buat apa belajar not kotak-kotak kuno?

Menurut saya pribadi, tidak ada salahnya bila kita menggunakan lagu-lagu modern. Namun jangan lupa, lagu-lagu Gregorian adalah warisan berharga Gereja. Bahkan, penggunaan langgam Gregorian kini dirasakan makin penting dan sering dianjurkan oleh mendiang Beato Paus Yohanes Paulus II dan penggantinya, Paus Benediktus XVI. Lagu Gregorian adalah kekayaan Gereja yang berharga. Dengan menghargai dan menggunakan baik lagu modern maupun lagu Gregorian, khasanah musik Gereja Katolik akan menjadi sungguh indah dan berwarna bak taman bunga indah yang penuh kembang warna-warni. Sungguh sia-sialah bila kita tidak menggunakan lagu Gregorian, dan cara terbaik untuk menggunakan lagu Gregorian adalah dengan menyanyikannya dalam not neume.

Mengapa Harus dalam Not Neume?

Hampir semua pustaka musik lagu Gregorian ditulis dalam not neume. Apakah kita harus menunggu orang lain membaca dan menerjemahkan not neume itu? Bila kita tidak mengetahui cara membaca not neume, ibaratnya kita dihadapkan pada pintu menuju ruangan penuh berisi harta karun namun kita tidak punya kunci untuk membukanya. Menunggu orang lain yang punya kuncinya akan sangat merepotkan. Kita bisa mengeksplorasi lagu Gregorian sendiri bila kita bisa membaca not neume. Kemampuan membaca not neume juga akan menghemat tenaga dan waktu. Bila kita mampu membaca not neume dengan lancar, kita tidak perlu menerjemahkan not neume ke dalam not modern dahulu sebelum menyanyikannya. Sekali disodori lagu dengan not neume, kita bisa langsung menyanyikannya.

Namun, ada isu yang lebih mendasar. Banyak orang menganggap bahwa not neume sudah kuno. Not balok modern adalah not yang lebih canggih daripada neume, sama seperti flashdisk lebih canggih daripada disket dan CD lebih canggih daripada kaset. Sebenarnya tidak demikian. Not neume sungguh sangat tepat dan berguna dalam membaca lagu Gregorian. Memang, lagu Gregorian bisa ditranslasikan dalam not balok modern ataupun dalam not angka seperti di Puji Syukur. Namun, pengalihan notasi neume akan memunculkan beberapa masalah. Seperti yang sudah diamati oleh para musikolog, lagu Gregorian yang dinyanyikan dalam not modern tidak akan pernah bisa terdengar tepat. Frasering (phrasing) atau pemenggalan suku kata dalam lagu dan infleksi (lagu kalimat) tidak akan sama dalam not modern. Tempo lagu juga bisa melambat, bahkan lagu Gregorian bisa terdengar membosankan. Ujung-ujungnya lagu Gregorian justru tidak akan terdengar seperti langgam aslinya, melainkan seperti lagu modern yang dibawakan dengan sangat jelek. Para musikolog sepakat bahwa menyanyikan lagu Gregorian dalam not neume akan menghasilkan musik yang paling mendekati kondisi asli lagu Gregorian pada awal penggunaannya dalam sejarah Gereja.

Perkenalan Pertama

Nama neume (dibaca “num” atau “nyum”) berasal dari bahasa Yunani pneuma yang memiliki arti “nafas”. Not neume adalah notasi yang menjadi cikal bakal not balok modern. Namun, tidak seperti not balok modern yang ditulis dalam lima garis paranada, not neume hanya ditulis dalam empat garis paranada. Alasannya adalah not neume ditulis pertama-tama untuk lagu Gregorian yang selalu dinyanyikan dengan suara manusia yang memiliki jangkauan suara (ambitus) yang terbatas dibanding dengan instrumen musik. Empat garis paranada sudah mencukupi karena kebanyakan lagu Gregorian memang tidak membutuhkan garis yang banyak. Not neume juga tidak memiliki tanda tempo ataupun kunci nada. Selain itu, prinsip not neume sama dengan not balok modern. Bila notnya bergerak ke atas, maka nada lagunya bergerak ke atas, dan sebaliknya. Not neume juga dibaca dari kiri ke kanan.

Membaca not neume lebih mudah bila kita memakai sistem solfege (sistem Do-Re-Mi) daripada sistem kunci (sistem C-D-E-F-G-A-B-C). Prinsip sistem solfege akan selalu kita pakai, yaitu jarak antarnada dari Do sampai ke Do atas adalah 1 – 1 – ½ – 1 – 1 – 1 – ½. Bagi yang belum terbiasa dengan jarak nada ini, artinya jarak antara nada Do dan Re adalah satu. Di antara nada Do dan Re, terdapat nada tengahnya yaitu nada Di (nada Do yang dinaikkan setengah) yang nilainya setara dengan nada Ra (nada Re yang diturunkan setengah). Jarak antara nada Mi dan Fa serta antara nada Si dan nada Do adalah setengah, jadi tidak ada nada di antara masing-masing pasang nada tersebut. Mari kita lihat cara membaca neume dari awal.

Di tiap awal not neume, terdapat simbol klef. Perhatikan simbol klef berikut:

Klef ini menunjukkan letak nada Do. Tanda ini selalu terletak di garis paranada. Dengan demikian, jarak antara di bawah garis paranada yang memuat klef ini selalu dibunyikan setengah lebih rendah dari nada Do, yaitu nada Si. Dengan merunut sistem solfege, maka not neume dapat dibaca sebagai berikut:

Prinsip yang sama juga berlaku untuk simbol klef berikut. Klef ini adalah klef Fa:

Simbol klef Fa menunjukkan di mana letak nada Fa. Simbol klef Fa juga selalu terletak di garis paranada.

Kedua klef ini berfungsi sebagai penanda bagi kita untuk menemukan melodi. Klef ini dapat muncul di semua garis paranada, namun tanda klef tidak menjadi nada pusat atau sentral dari lagu yang ditulis. Fungsi klef sangat sederhana: hanya menunjukkan di mana nada Do atau nada Fa.

Mengapa dipakai dua klef? Masing-masing klef mengindikasikan jangkauan nada yang berbeda yang diminta dalam masing-masing lagu. Hal ini akan sangat membantu karena langgam Gregorian memiliki banyak modus lagu yang berbeda (mengenai modus atau mode akan kita bahas di lain kesempatan). Dengan bantuan klef yang sesuai dengan modus lagu, seluruh not neume dalam lagu dapat kita baca dengan mudah.

Sedikit petunjuk: jangan terjebak dengan pola kunci (C, D, E, F, G, A, B, dan C). Lebih mudah menggunakan pola klef sebagai klef Do dan klef Fa daripada menganggapnya sebagai klef C atau klef F. Tidak seperti notasi modern, Anda bebas menempatkan not neume dalam jangkauan nada menyanyi yang nyaman bagi Anda. Penempatan nada Do ataupun nada Fa untuk masing-masing klef dapat dimulai di mana saja, atau dengan kata modern, Anda dapat dengan bebas menentukan nada dasar berdasarkan jangkauan nyanyiannya: Do=C, Do=D, Do=E, dan seterusnya. Sedikit catatan tambahan untuk pemusik: nada tonika tidak selalu ditentukan oleh klef. Tonika bisa berupa nada awal lagu, namun lebih sering di nada akhir lagu.

Melangkah Lebih Jauh

Dalam lagu Gregorian, terdapat pulsa (pulse atau beat) dasar yang selalu konstan di sepanjang melodi. Pulsa ini tidak berwujud dalam ketukan yang dapat kita dengar, kita hanya dapat merasakannya dalam hati.

Sedikit catatan: Dalam tulisan ini, saya mempertahankan menggunakan kata pulsa daripada menggunakan istilah “ketukan” karena istilah ketukan lebih sering diasosiasikan dengan ritme yang jelas dan tegas dalam musik modern. Istilah pulsa saya gunakan untuk memberikan gambaran luas bahwa lagu Gregorian harus dinyanyikan dengan lancar dan mengalir, tidak terjebak pada ritmis konstan yang metris. Selain itu, tulisan ini hanya akan membahas beberapa simbol neume dasar yang berguna untuk membaca lagu Gregorian. Masih ada banyak simbol neume lain yang lebih kompleks dengan nama yang keren, namun simbol-simbol tersebut kebanyakan adalah penggabungan dari simbol-simbol neume dasar yang akan dibahas dalam tulisan ini. Bila Anda sudah menguasai simbol-simbol dasarnya, saya yakin Anda tidak akan kesulitan melangkah ke not neume yang lebih kompleks.

Mari kita mulai dengan beberapa contoh.

Lagu di atas memuat beberapa simbol ritme dasar sebagai berikut:

Beberapa aturan tambahan: Not dengan tanda titik di sebelah kanannya dinyanyikan senilai dua pulsa. Contohnya dapat dilihat lagu di atas. Suku kata –bis dalam kata nobis, suku kata –o dalam tuo, serta suku kata –lem dalam Jerusalem dinyanyikan senilai dua pulsa. Aturan lain, not dengan garis di atasnya (dinamakan episema, dan bisa juga muncul di bawah not) dinyanyikan dengan ditahan sedikit lebih lama. Dalam lagu di atas, not episema terdapat pada suku kata ­no dalam kata nobis, serta suku kata tu dalam kata tuo.

Beberapa tanda kecil yang dapat membantu: tanda garis yang terlihat seperti tanda petik tunggal di garis paranada paling atas dinamakan ictus dan berfungsi untuk mengorganisasikan ritme. Perhatikan pula tanda kecil yang terlihat di akhir baris pertama. Tanda ini bernama custos dan tidak bernilai apapun. Tanda ini tidak dinyanyikan dan semata-mata berfungsi untuk menunjukkan posisi di mana not pertama di baris selanjutnya akan bermula.

Sekarang cobalah membaca lagu di atas. Lagu tersebut akan berbunyi sebagai berikut (sengaja saya tuliskan solfege secara hurufiah supaya makin jelas) :

  do    do    do   do   doredo      dosido                                                                                                Con – fir – ma  hoc     De      –      us

  do     do  do    do     do   la  do  sila   sol                                                                                  Quod  o – pe – rat – us  es  in   no – bis,

sol     sol       solla      fa       la  dosi  sol                                                                                             A      temp  –  lo       sanc – to  Tu  –  o

  la       do    si   do   la     sol     sol                                                                                                Quod  est   in   Je – ru –  sa – lem.

(Arti lagu tersebut: Nyatakanlah, Ya Tuhan, karya-Mu pada kami, dari bait-Mu yang agung yang terletak di Yerusalem.)

Mari kita lihat contoh lain. Berikut adalah lagu Da Pacem yang ditulis dalam klef Fa:

(Arti lagu tersebut: Berilah damai, Ya Tuhan, di hari ini: karena tidak ada siapapun yang akan membela kami selain Engkau, Tuhan kami.)

Ada tanda lain yang terlihat seperti tanda mol (flat) modern:

Tanda ini memang adalah tanda mol yang berfungsi seperti tanda mol modern, yaitu menurunkan nada Si sebanyak ½ sehingga menjadi nada Sa. Dalam lagu Gregorian, hanya nada Si yang bisa diturunkan ½ dengan mendapat tanda mol, sedangkan nada lain tidak bisa diturunkan. Tanda ini berlaku untuk not sampai pada garis birama selanjutnya. Dalam langgam Gregorian, tidak ada tanda kres (sharp) dalam lagu.

Ada beberapa simbol lain yang perlu diperhatikan:

Di dalam penulisan lagu Gregorian dengan not angka di buku Puji Syukur, not quilisma ini ditulis sebagai kelompok not dengan huruf “w” di atasnya. Perlakuan untuk not ini persis seperti yang biasa kita praktikkan: panjangkan not pertama, lalu lanjutkan ke not lanjutannya dengan berenergi.

Ada pula simbol neume yang bernama not liquescent. Not ini terlihat seperti not yang berbentuk lebih kecil yang melekat pada not yang lebih besar, seperti misalnya pada bentuk liquescent pada podatus berikut:

Not yang bentuknya lebih kecil menandakan perlakuan khusus pada huruf di mana not itu dinyanyikan.  Berikut contoh not liquescent di dalam lagu Sanctus (Kudus) yang biasa kita nyanyikan:

Huruf “n” pada kata “hosanna” harus dinyanyikan tepat pada saat Anda mencapai not yang lebih kecil dari dua not dalam suku kata “san”. Prinsip yang sama juga berlaku pada suku kata “cel” dalam kata “excelsis”: pada saat Anda menyanyikan not yang lebih kecil, Anda sudah harus mencapai dan mengucapkan huruf “l” pada suku kata “cel”.

Pada bagian “n” di suku kata “san”, nyanyikanlah huruf “n” tersebut dengan merdu dan nyaring (sonoritas maksimal), tanpa merusak kualitas nyanyian secara keseluruhan. Bayangkan dengan menaruh lidah Anda di langit-langit mulut dan nyanyikan bunyi “nnnnn” yang jernih dan megah. Prinsip yang sama juga berlaku untuk huruf “l” dalam suku kata “cel”, walaupun di bagian ini Anda harus menempatkan bagian dari lidah Anda di tempat yang lebih jauh di langit-langit mulut Anda.

Not liquescent juga dapat muncul pada suku kata yang mengandung diftong (dua huruf vokal yang dikombinasikan) seperti pada kata alleluia, autem, dan eius. Pada vokal diftong seperti ini, pengucapan diftong harus diusahakan lebih mengalir, ringan, dan lancar sehingga didapat kesan bahwa vokal diftong itu tidak berhenti maupun kehilangan tempo saat dinyanyikan.

Anda perlu sedikit latihan untuk menemukan pengucapan not liquescent yang paling tepat. Perlu diingat bahwa not liquescent tidak hanya muncul pada bentuk podatus. Berhati-hatilah dan teliti dalam menyanyikan not neume supaya tidak melewatkan not kecil ini, dan perhatikan perlakuan huruf untuk menyanyikan not ini.

Simbol neume terakhir yang perlu diperhatikan adalah not neuma yang bernama punctum inclinatum yang berbentuk seperti lambang wajik dalam permainan kartu. Coba perhatikan bagian penutup misa pada masa Paskah di bawah ini:

(Dalam liturgi misa di Indonesia: Misa sudah selesai, alleluia, alleluia. Dan dijawab dengan: Syukur kepada Allah, alleluia, alleluia.)

Perhatikan not neume di suku kata “le” pada kata “alleluia” yang kedua. Di situ terdapat bentuk podatus yang diikuti dengan beberapa punctum inclinatum (bentuk gabungan ini dinamakan pes subpunctis). Pada bagian ini, Anda harus menyanyikan not yang ada di depan rangkaian not punctum inclinatum dengan memberi tekanan lebih, lalu menyanyikan not punctum inclinatum dengan ringan, mengalir, dan cepat. Tiap not dalam punctum inclinatum tidak memiliki nilai pulsa yang spesial, namun harus diperlakukan seolah menjadi pengiring not sebelumnya yang ditekan.

Dengan demikian, pada suku kata “le” tersebut, ketika Anda sampai pada not Do, Anda harus lebih memberi penekanan pada nada Do, lalu diikuti dengan not Si-La-Sol yang lebih ringan dan cepat. Ketiga nada Si-La-Sol berfungsi untuk memberi “ekor” pada nada Do yang ditekan.

Saatnya Berlatih Giat

Seluruh dasar membaca not neume sudah saya ungkapkan di atas. Sekarang saatnya bagi Anda untuk mulai berlatih membaca not neume dengan baik. Ada banyak situs yang menyediakan lagu-lagu Gregorian dalam not neume. Situs yang saya sarankan adalah www.sanctamissa.org karena selain menyediakan pustaka-pustaka lagu yang lengkap, situs tersebut juga menyediakan berbagai artikel, video, dan berbagai macam hal lain yang membantu kita memahami liturgi kudus.

Di bawah ini, saya juga mengunggah buku lagu misa Jubilate Deo terbitan tahun 1974. Di dalamnya terdapat banyak contoh lagu Gregorian dalam not neume yang dapat menjadi bahan latihan bagi Anda. Di lain kesempatan, saya akan mencoba membahas mengenai pembawaan lagu Gregorian, pengucapan, dan modus yang ada dalam langgam Gregorian.

Silakan klik tautan di samping untuk mengunduh buku Jubilate Deo: jubilate

Selamat menikmati pengalaman bersama not neume! Mari kita rayakan kekayaan musik liturgi Gereja Kita!

Berkah Dalem.

Dipublikasi di Tentang Perayaan Ibadat | Tag , , , , , , , , , , , , , , | 4 Komentar